Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biaya Persalinan
Adrian masih terpaku di tempatnya, memperhatikan Alya yang berjemur di depan kontrakan sambil mengerjakan sesuatu, sepertinya sedang melukis.
Sudut bibirnya tersenyum melihat mantan istrinya hidup jauh lebih baik sekarang.
Ia merogoh saku jasnya ketika merasakan getaran ponsel.
"Apa susahnya mengabariku bahwa mas lagi dinas keluar kota!" Suara bentakan itu terdengar ketika Adrian menjawab telepon dari istrinya.
Pantas, Safira sangat pantas marah padanya. Kemarin dia berjanji untuk menemani wanita itu ke rumah sakit, tetapi dia malah ke Bandung hanya karena merindukan Alya.
Dan sampai sekarang dia tidak memberikan kabar pada istrinya padahal dia melihat semua pesan dan panggilan tidak terjawab.
"Maaf, aku terlalu sibuk. Lain kali aku usahakan untuk mengabarimu."
"Mas pulang kapan?"
"Belum pasti. Kalau pekerjaannya selesai, aku langsung pulang."
Adrian memutus sambungan teleponnya ketika melihat Alya memasuki rumah membawa peralatan melukis.
Namun, Adrian tidak kunjung pergi. Dia masih di sana. Entah apa yang ada dalam pikirannya sehingga enggang beranjak meski penghuni kontrakan tidak lagi terlihat.
"Sebaiknya kita pergi sekarang Pak, takut Pak Ardana tahu keberadaan kita," bisik asistennya yang turun dari mobil karena Adrian terlalu lama.
Adrian mengangguk, bergegas memasuki mobil.
"Tunggu." Adrian mencegah mobil melaju melihat Alya keluar rumah dengan pakaian lebih rapi. "Ikuti taksinya, saya takut terjadi sesuatu padanya," ujarnya dan dijawab anggukan oleh sang asisten.
Mobil bergerak secara perlahan dan sangat berjarak agar Alya tidak menyadari bahwa sedang diikuti.
"Kamu bisa pergi sekarang," ujar Adrian pada asistennya setelah turun dari mobil. Kini dia ada di sebuah klinik karena mengikuti Alya.
***
"Mama nggak sabar mengetahui jenis kelaminmu Nak," lirih Alya mengelus perutnya setelah turun dari taksi.
Dia terlalu bersemangat memeriksakan diri sekaligus usg untuk tahu jenis bayi dalam perutnya. Dan klinik yang dia datangi adalah rekomendasi dari Pradipta.
Alya mengantri seperti pasien lainnya, duduk sembari membaca panduan ibu hamil yang dia baca tanpa bosan. Padahal buku itu sudah selesai dia baca.
Di belakangnya ada Adrian, tetapi belum disadari oleh Alya yang terlalu fokus mendengarkan nama dan nomor antriannya. Dan pria itu menyipitkan matanya ketika mendengar ponsel Alya berdering.
"Mbak kemana? Kok nggak ada di rumah?" tanya Sena di seberang telepon ketika Alya menjawab panggilan.
"Ke klinik buat periksa sekalian USG Na. Dan kenapa kamu tahu kalau aku nggak ada di rumah?"
"Soalnya aku ada di rumah. Mampir karena ada pekerjaan di sekitar rumah. Ada pak Dipta sama Arkana juga."
"Loh? Akhir-akhir ini kamu sering sama mereka. Pekerjaan kamu sebenarnya dibagian apa?"
"Sekarang diangkat jadi sekretaris pak Dipta."
"Serius?"
"Iya, gajinya lumayan Mbak."
"Enak ya baru beberapa bulan sudah naik jabatan." Alya tertawa dan itu tidak luput dari perhatian Adrian.
Bahkan pria itu tanpa sadar tersenyum menyaksikan kebahagian mantan istrinya. Padahal di kota lain, ada istri yang menunggunya. Istri yang hampir stres setiap bulan memeriksakan diri ke dokter hanya untuk memastikan hamil atau tidak.
"Mbak dari klinik mau langsung pulang?"
"Nggak, mau belanja bulanan sama belanja sedikit keperluan bayi. Nyicil biar nanti nggak terlalu berat."
"Oke Mbak."
Sambungan terputus berbarengan antrian Alya di sebut. Wanita itu memasuki ruangan untuk pemeriksaan, sedangkan Adrian, dia maju menuju resepsionis menanyakan keluhan atas nama Alya Zahira dan berapa biaya yang harus dibayarkan.
"Maaf pak, tapi kami nggak bisa memberikan informasi pasien kepada orang lain."
"Saya suaminya."
"Saya butuh bukti Pak."
Adrian tampak berpikir, sampai dia teringat pada foto di dompetnya. Foto pernikahannya dengan Alya yang sengaja dia cuci ukuran 3x4 agar bisa dia bawa kemana-mana.
"Apakah bukti ini sudah cukup?" Memperlihatkan foto tersebut.
Akhirnya Adrian mendapat akses mengetahui kondisi Alya dan membayar biaya pemeriksaan.
"Apakah istri saya berancana untuk melahirkan di sini?"
"Iya Pak, bu Alya sudah membicarakannya kepada kami minggu lalu."
"Saya ingin menyelesaikan semua admistrasi. Tapi tolong jangan katakan padanya. Kami sedang bertengkar dan dia kabur dari rumah."
Dan bagian admintrasi lagi-lagi mengangguk. Selain percaya begitu saja, dia adalah karyawan baru.
Usai menyelesaikan pembayaran, Adrian segera bersembunyi sebab Alya keluar dari ruang pemeriksaan dengan wajah sumbringan.
Wanita itu menuju admistrasi seperti biasa. Dan dia terkejut mengetahui semuanya telah lunas hingga persalinan.
"Mungkin ada kesalahan Mbak, saya belum membayar apapun. Hanya berencana," ujar Alya.
"Nggak salah Mbak."
"Boleh saya tahu siapa yang membayarnya?"
"Maaf Mbak, tapi kami dilarang memberitahukan."
"Tapi saya harus tahu. Nggak mungkin orang iseng kan? Secara jumblahnya ...."
"Kenapa Mbak?" Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Alya.
"Ini katanya admistrasinya sudah selesai bahkan sampai persalinan, padahal aku belum bayar apapun," jawab Alya tanpa menoleh, dia tahu itu Sena hanya dari suaranya saja.
Sena yang mendapatkan jawaban, melirik Pradipta yang berdiri di belakang Alya. Dan pria itu mengeleng.
"Beri tahu saya siapa orangnya, atau saya akan menuntut anda atas kebocoran privasi pasien!" Ancam Alya dengan wajah seriusnya.
Tampak petugas admistrasi itu ketakutan. "Suami Mbak, katanya dia suami mbak Alya. Dia menyuruh saya menyembunyikannya karena katanya kalian bertengkar."
Alya menghela napas kasar. "Terimakasih dan maaf jika saya terlalu keras tadi." Dia meninggalian klinik dengan perasaan campur aduk. Melihat kanan kiri demi memastikannya secara langsung bahwa Adrian ada di sekitarnya.
Namun, dia tidak menemukan jejak mantan suaminya meski sedikit saja.
"Masuklah, saya akan mengantarmu," ujar Dipta yang sudah dari tadi membukakan pintu untuk Alya, tetapi tatapan wanita itu masih liar kanan-kiri.
"Nggak perlu Mas, saya bisa pulang sendiri." Tolak Alya harus.
"Mbak ...."
"Kalau begitu kabari jika terjadi sesuatu, kami masih ada urusan di kantor," ujar Pradipta tanpa bertanya perihal kemana Alya akan pergi.
Ini urusan antara mantan suami dan mantan istri, ada masa lalu yang harus diselesaikan dan tidak boleh ada campur tangan orang baru. Terlebih Alya masih terikat dengan adanya kehidupan di dalam perutnya.
Mobil Arkana perlahan meninggalkan klinik, tetapi berhenti setelah cukup jauh dan tidak terlihat oleh Alya.
"Kalian kembalilah ke kantor," ujar Pradipta.
Tanpa bertanya, Arkana dan Sena segera turun dari mobil. Memesan taksi untuk kembali ke Golden Promise. Padahal rencananya mereka menjemput Alya untuk menemaninya belanja kebutuhan bayi.
Arkana mengetuk kaca mobil.
"Kenapa?" tanya Dipta.
"Semangat Pak."
Dipta memutar bola mata malas dan menaikkan kaca mobilnya. Dia mengira Arkana mempunyai informasi penting.
Pria itu terus menatap jalanan, menunggu Alya muncul sebab dia tahu dimana keberadaan Adrian.
Di depan sana, tidak jauh mobilnya terparkir, ada mobil Adrian, dan Alya baru saja menghampirinya dengan langkah pelan.
.
.
.
Kira-kira Alya bakal ngapain ya?
Sudah vote? Kalau belum dan votenya masih aman langsung saja ya, takutnya lupa lagi🤭. Dukungan kalian semangat author
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya