NovelToon NovelToon
Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Jangan Paksa Suamiku Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mandul / Konflik etika
Popularitas:622
Nilai: 5
Nama Author: Vitamaya

Vonis dokter menjadi titik balik dalam hidup Zulfa dimana dirinya hanya bisa memiliki anak melalui program bayi tabung. Di tengah harapan yang rapuh, sang ibu mertua yang selama ini tampak penuh dukungan, diam-diam menyusun rencana yang mengguncang, ia menyuruh Arslan, putra semata wayangnya, untuk berselingkuh.

Arslan menolak keras tunduk pada keinginan ibunya. Ia tetap berdiri di sisi sang istri, menguatkan setiap langkah Zulfa meski harapan berkali-kali runtuh. Namun, konflik tak berhenti di sana. Sang ibu sengaja menghadirkan masa lalu Arslan ke permukaan, mengancam keutuhan rumah tangga yang mereka bangun dengan susah payah.

Di tengah tekanan, air mata, dan kegagalan program bayi tabung yang terus menerpa, Zulfa dihadapkan pada pilihan paling sulit dalam hidupnya, antara terus berjuang atau berhenti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vitamaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak perlu dikasihani

"Kapan acaranya?" tanya Arslan.

"Malam ini."

Arslan langsung mengangkat alis.

"Wah... kenapa mendadak sekali?"

"Om Anton bilang dia minta maaf karena lupa mengirim undangannya lebih awal."

Zulfa masih membaca pesan yang dikirim paman suaminya itu. Beberapa kali matanya menyusuri layar ponsel sebelum melanjutkan.

"Biasanya kalau sampai lupa ngundang, artinya kita nggak dianggap terlalu penting." Arslan mendengus pelan. Zulfa spontan menoleh.

"Ih, jangan suudzon begitu, dong." Arslan hanya mengangkat bahu.

"Ya, siapa tau aja."

"Belum tentu. Bisa jadi Om Anton memang benar-benar lupa. Masa, sih, keponakannya sendiri dianggap nggak penting? Mungkin beliau lagi sibuk mengurus persiapan acara atau fokus mengundang relasi bisnisnya terlebih dahulu. Baru setelah itu menghubungi keluarga dan kerabat."

Meski sedang gelisah, Zulfa tetap berusaha berpikir positif. Selama ini, Om Anton selalu memperlakukannya dengan baik. Ia tidak ingin buru-buru menilai buruk seseorang hanya karena sebuah undangan yang terlambat dikirim.

Arslan tersenyum tipis melihat istrinya yang selalu berusaha melihat sisi baik dari orang lain.

"Terus gimana? Kamu mau datang?"

"Tentu saja. Kalau diundang, ya sebaiknya datang. Kita harus menghargai orang yang punya acara. Lagi pula, setiap tuan rumah pasti berharap tamu undangannya bisa hadir." Ucap Zulfa mantap.

Arslan menatap wajah istrinya beberapa saat. Tatapan itu seolah mencoba membaca sesuatu yang berusaha disembunyikan Zulfa.

"Yakin nggak keberatan?"

Pertanyaan itu membuat senyum Zulfa sedikit goyah. Namun hanya sesaat. Ia segera mengulas senyum yang lebih lebar dan mengangguk.

"Insyaallah nggak."

Kemudian Zulfa buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Udah, cepat habiskan makanannya. Hari ini kita pulang lebih awal. Waktunya mepet, tahu. Aku juga harus siap-siap."

Zulfa melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore.

"Iya, iya... istri solehaku." Nada manja yang sengaja dibuat Arslan berhasil mengundang senyum kecil di wajah Zulfa.

Padahal, jika saat itu Zulfa berkata jujur bahwa dirinya keberatan datang, Arslan pasti tidak akan memaksanya. Bahkan mungkin akan langsung membatalkan kehadiran mereka. Namun Zulfa memilih diam. Ia tidak ingin Arslan mengkhawatirkannya.

Lebih dari itu, ia ingin menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Bahwa ia masih nyaman berada di tengah keluarga besar suaminya. Meski kenyataannya, bayangan tentang ucapan ibu mertuanya masih tersimpan jelas di dalam benaknya.

***

Sesampainya di rumah, Arslan dan Zulfa segera bersiap untuk menghadiri acara grand opening restoran milik Pamannya. Setelah selesai bersiap, Arslan menunggu di ruang tamu.

Duduk di sofa sambil sesekali melirik jam tangan, ia menunggu kemunculan wanita yang hingga hari ini masih mampu membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Tak lama kemudian, suara langkah pelan terdengar dari lantai atas.

Arslan refleks mengangkat kepala.

Di sana, Zulfa sedang menuruni anak tangga dengan hati-hati. Sepatu hak tinggi yang dikenakannya membuatnya tak bisa bergerak cepat. Ditambah lagi rok gamis yang menjuntai lebar membatasi geraknya agar tidak bisa terburu-buru.

Namun justru pemandangan itulah yang membuat Arslan terpaku.

Senyum lebar perlahan terukir di wajah tampannya.

Pandangannya tak beralih sedikit pun dari sosok sang istri.

Bagi Arslan, Zulfa selalu cantik. Namun malam ini, wanita itu tampak berbeda. Anggun, lembut, dan terlihat memikat.

Begitu tiba di anak tangga terakhir, Zulfa berjalan menghampiri suaminya. Arslan segera bangkit dari duduknya dan melangkah menyambut.

"MasyaAllah... Cantik sekali kamu, Sayang." Arslan menatap istrinya tak berkedip.

Kalimat itu bukanlah sesuatu yang baru bagi Zulfa. Entah sudah berapa ribu kali Arslan mengucapkannya selama sepuluh tahun pernikahan mereka.

Namun anehnya, pujian yang sama tidak pernah kehilangan daya tariknya. Setiap kali mendengarnya, jantung Zulfa tetap berdebar. Kedua pipinya tetap menghangat. Dan ia tetap menjadi wanita yang salah tingkah di hadapan tatapan suaminya. Padahal yang memuji adalah laki-laki yang setiap hari tidur dan bangun di sampingnya.

"Masih aja lihatnya begitu..." gumam Zulfa pelan sambil menghindari tatapan Arslan. Justru reaksi itulah yang membuat Arslan semakin gemas. Ia terkekeh lalu meraih tangan istrinya.

"Kamu memang sengaja ya, bikin aku jatuh cinta terus setiap hari."

"Enak aja nuduh." Zulfa mendelikan matanya. Ujung jarinya lalu mencubit pelan lengan binsep suaminya.

"Aduh..." Arslan meringis dramatis seolah baru saja diserang benda tajam.

"Lebay ..." Zulfa memutar bola matanya malas.

"Galak banget, sih." Arslan mengusap lengannya pura-pura kesakitan.

"Sering muji istri itu pahalanya besar, lho. Makanya aku mau terus muji kamu dalam keadaan apa pun."

"Dalam keadaan apa pun?" Zulfa mengernyit curiga.

"Iya dalam keadaan apapun, misalnya dalam keadaan kamu gak layak dipuji pun aku tetep mau muji kamu terus."

"Ihh mulai ngeselin lagi deh.." Zulfa mengerucutkan bibirnya, tanda kesal. Arslan pun tertawa lalu melanjutkan ucapannya.

"Perempuan kalau lagi pake daster, rambut digulung dalam keadaan badan bau asem kecut kena keringet bercampur masakan itu kan gak layak dipuji. Tapi di mata aku kamu tetap layak dipuji karna tetep keliatan cantik walau pesonanya kayak ibu-ibu warteg yang lagi sibuk ngitung duit kembalian." Arslan kembali meledakan tawanya. Selalu saja tiap kata-kata pujiannya selalu di ikuti kalimat ledekan yang menciptakan rasa kesal di hati istrinya.

"Puas ketawanya!"gerutu Zulfa sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Arslan langsung merapat.

"Jangan ngambek."

"Aku nggak ngambek."

"Bohong."

"Nggak."

"Kalau nggak ngambek, coba senyum."

Zulfa berusaha mempertahankan wajah kesalnya. Sayangnya, sudut bibirnya sudah lebih dulu terangkat. Arslan langsung tersenyum puas.

"Nah, gitu dong."

"Kamu memang nyebelin."

"Tapi tetep sayang, kan?" Zulfa menggeleng sambil tertawa kecil.

Kadang-kadang, suaminya itu memang luar biasa menyebalkan. Namun di saat yang sama, dialah orang yang paling tahu cara mengembalikan senyum di wajahnya.

"Sudah, ayo berangkat, Kalau lanjut drama terus, kita bisa kemalaman."

"Siap, Nona cantik."

Arslan menawarkan lengannya, lalu Zulfa menyambutnya dengan senyum yang kini jauh lebih tulus. Mereka berjalan berdampingan menuju pintu depan.

Tuhan memang belum menitipkan seorang anak untuk hadir di tengah rumah tangga mereka. Mungkin masih ada doa-doa yang harus menunggu waktu terbaik untuk dikabulkan. Namun bukan berarti hidup mereka kehilangan kebahagiaan.

Sebab terkadang, Tuhan menghadirkan kebahagiaan dalam bentuk yang berbeda. Dalam bentuk pasangan yang tetap saling mencintai setiap hari. Dalam bentuk tawa-tawa sederhana yang mengisi rumah. Dan dalam bentuk cinta yang, meski telah melewati sepuluh tahun bersama, namun masih terasa hangat seperti pada awal mereka jatuh cinta.

***

Dengan mengendarai SUV mewah berwarna putih, Arslan melaju membelah jalanan ibu kota menuju restoran baru milik pamannya yang berada di kawasan elite Bintaro.

Lampu-lampu kota mulai bermunculan, menghiasi jalanan yang masih dipadati kendaraan. Di dalam mobil, Arslan dan Zulfa sesekali mengobrol ringan untuk mengusir kebosanan selama perjalanan. Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di lokasi acara.

Begitu turun dari mobil, pandangan Zulfa langsung tertuju pada deretan kendaraan yang memenuhi area parkir. Berbagai merek mobil kelas atas berjejer rapi, menciptakan pemandangan yang tak biasa.

Hanya dari kendaraan para tamu saja, sudah terlihat jelas bahwa orang-orang yang hadir malam itu bukanlah kalangan sembarangan.

Pemilik restoran tersebut, Anton Wilaga, adalah adik dari Ardi Wilaga, ayah Arslan. Namanya cukup dikenal di dunia bisnis kuliner. Selama bertahun-tahun, ia berhasil membangun sejumlah restoran fine dining yang tersebar di berbagai kota besar di negri ini.

Keluarga besar Wilaga memang identik dengan dunia usaha. Hampir setiap anggota keluarganya memiliki bisnis sendiri dengan skala yang tidak kecil. Kekayaan yang mereka miliki telah menempatkan keluarga itu dalam jajaran konglomerat ternama. Kehidupan yang serba berkecukupan membuat sebagian dari mereka terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan dengan mudah. Tak heran juga jika terkadang mereka suka bertingkah seenaknya. Karna merasa punya kuasa.

Arslan dan Zulfa kemudian melangkah memasuki bangunan restoran yang berdiri megah di hadapan mereka.

Begitu memasuki area lobi, Zulfa tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Lampu-lampu gantung berdesain artistik menggantung indah di langit-langit tinggi, memancarkan cahaya keemasan yang membuat ruangan terlihat semakin eksklusif.

Arslan menyerahkan kartu undangan kepada salah seorang resepsionis yang berjaga di pintu masuk. Setelah memeriksa data tamu, resepsionis tersebut segera tersenyum ramah.

"Silakan, tuan Arslan. Meja Anda sudah kami siapkan."

Mereka pun diantar menuju area khusus yang diperuntukkan bagi keluarga dan tamu-tamu VIP. Di sepanjang perjalanan menuju meja, Zulfa memperhatikan suasana di dalam restoran.

Berbagai menu tersaji begitu cantik layaknya karya seni. Aroma rempah dan hidangan yang baru dimasak memenuhi udara, membuat siapa pun yang menciumnya langsung merasa lapar.

Perut Zulfa yang tadi masih baik-baik saja mendadak ikut bereaksi. Ia menelan ludah pelan. Sepertinya, Om Anton benar-benar tidak main-main dalam mempersiapkan acara malam ini, batinnya.

Bukan hanya itu saja, beberapa diantara mereka yang menyadari kehadiran Arslan dan Zulfa juga menatap kagum kearah mereka yang terlihat begitu serasi dan sempurna. Mereka berdua bagaikan definisi sempurna dari pasangan berparas menawan, namun sayangnya belum ada keturunan yang mewarisi pesona mereka.

Miris. Yah ... begitulah kira-kira isi pikiran mereka. Selalu dikasihani hanya karna belum memilki keturunan. Padahal mereka hanya belum memiliki keturunan bukan tidak memiliki uang, kenapa juga harus dikasihani?!

Kesal sekali Zulfa jika dirinya dikasihani hanya karna itu. Mengapa mereka tidak mengasihani diri mereka sendiri yang terlilit hutang pinjol hanya untuk memenuhi gaya hidup?!

Arslan dan Zulfa mengambil tempat di meja yang telah disediakan khusus untuk keluarga inti. Dari posisi mereka, panggung utama terlihat jelas tanpa terhalang oleh para tamu yang lalu-lalang. Tak lama kemudian, sorotan lampu mulai mengarah ke area backstage.

Anton dan istrinya muncul berjalan berdampingan menuju panggung yang telah disiapkan untuk memberi sambutan. Tepuk tangan para tamu pun perlahan memenuhi ruangan.

Setelah sesi sambutan berakhir, suasana acara berubah menjadi lebih santai. Alunan musik live mulai mengisi ruangan, menciptakan atmosfer hangat dan elegan. Zulfa menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memperhatikan sekeliling. Matanya menangkap beberapa wajah yang terasa familiar.

Barulah ia menyadari bahwa sebagian pengisi acara malam itu adalah musisi papan atas yang namanya cukup sering menghiasi berbagai acara televisi dan konser besar.

Tak heran jika banyak tamu yang hadir berasal dari kalangan selebritas, publik figur, hingga para pengusaha ternama. Sebagian besar dari mereka merupakan relasi bisnis Anton yang telah terjalin selama bertahun-tahun.

Pandangan Zulfa kemudian beralih ke arah Yevi yang tampak begitu akrab berbincang dengan seorang aktris terkenal yang wajahnya sering muncul di layar televisi. Mereka tertawa bersama seolah sudah berteman dekat sejak lama. Zulfa sempat mencoba mengingat nama aktris itu, tapi ternyata ingatan bermasalah. Ia memang tidak terlalu mengikuti dunia hiburan.

Dibandingkan menonton sinetron atau mengikuti gosip para artis, Zulfa lebih senang menghabiskan waktu dengan membaca buku, menikmati novel favoritnya, atau menonton film untuk melepas penat setelah menjalani hari yang panjang.

"Maaf ya Arslan, Om lupa ngundang kamu, jadi mendadak gini ngundangnya." Anton dan istrinya menghampiri Arslan dan juga Zulfa

"Iya Om nggak apa-apa. Arslan maklum kok, Om kan udah tua jadi wajar kalau Om lupa ngundang kita." Tanpa rasa sungkan Arslan berkata seperti itu sebab Arslan sudah menganggap pamannya seperti ayahnya sendiri.

"Masa sih Om udah keliatan tua?" Sambil melirik istrinya seakan tak terima dibilang tua oleh keponakannya.

"Enggak kok sayang, kamu nggak tua cuma banyak uban aja." Sontak saja mereka semua tertawa.

"Ah kamu sama aja ngeselinnya kayak Arslan." Keluh Anton.

"Yaudah kalian langsung makan aja ya. Nikmati semua masakan yang ada di restoran ini. Om jamin semuanya enak."

"Kamu juga Zulfa makan yang banyak, jangan kurus-kurus biar keliatan berisi. Masa perutnya rata terus." Tiba-tiba saja Yevi berceletuk yang langsung membuat ulu hati Zulfa terasa tertusuk duri tajam. Zulfa tau kalau orang ini sedang menyindirnya. Dan ini bukan pertama kalinya Zulfa mendapat sindiran pedas dari wanita itu.

"Zulfa emang kayak gini tante, Dia mau makan sebanyak apapun juga tetep kurus. Mending tante aja yang banyakin olahraga biar kurus. Inget te, Obesitas itu nggak baik buat kesehatan loh .." Arslan pun tak kalah menyindir. Ia tau kalau istrinya tersinggung dengan ucapan tantenya oleh sebab itu Arslan membalasnya dengan kalimat yang halus.

Yevi yang merasa tersindir pun tak berani membalas kalimat Arslan. Karna ia sadar dirinya memang terlalu gemuk dan kadang membuat suaminya juga merasa tak nyaman.

Tak selang berapa lama kemudian Zulfa melihat kehadiran mertuanya yang terlambat datang. Sebagai menantu yang baik tentu Zulfa ingin segera menyambut kehadiran mertuanya itu dengan bersalaman walau debaran jantungnya kian meroket, terlebih saat Zulfa harus mengingat-ingat kembali percakapan antara Arslan dan Ibunya malam itu.

Rasa-rasanya ingin sekali Zulfa berkata langsung kepada ibu mertuanya untuk memastikan kalau itu semua hanya gurauan semata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!