NovelToon NovelToon
Kenzo & Nada

Kenzo & Nada

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Dareen

Kenzo dibesarkan oleh Ibunya. Dia mempunyai teman yang bernama Nada. Nada dan Kenzo pada akhirnya menikah, bagai mana kisahnya? Dan sesungguhnya, ke mana Ayahnya Kenzo? Silakan ikutin alur ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34 (Pak Levy)

Aku memeluk ibu yang sedari tadi tertunduk dan menangis. Mungkin luka lama yang ibu rasakan kembali terkenang hingga luka yang ia kubur dalam-dalam kembali menyeruak. Goresan luka itu kembali menganga yang menggoreskan sakit yang teramat dalam.

“Maafkan Kenzo, Bu.” Ucapku yang masih memeluk ibu.

Tak ada jawaban dari ibu. Hanya tangisan yang masih membasahi bajuku.

Hening.

Tangis itu meninggalkan mata yang merah dan sembap. Bibir ibu seperti terkunci. Tak berkata apa-apa lagi.

Mungkin energi ibu telah habis untuk menceritakan luka lamanya.

“Jangan benci Bapakmu ya, Ken?” ucap ibu dengan nada lirih.

Dahiku mengernyit.

“Kenapa? Apakah salah kalau Ken benci sama Bapak?”

“Itu yang Ibu takutkan selama ini, Ken. Bapakmu tidak bersalah. Ibu yang meninggalkan Bapakmu, Kenzo?”

“Tapi kenapa, Bu?” tanyaku sambil menatap netra ibu.

“Belum saatnya Kamu tau, Nak,” ibu bangkit, lalu masuk dalam kamar.

Jawaban ibu yang mengambang, menyisakan banyak tanya dalam benakku. Jalan ibu terlalu rumit bagaikan labirin, hingga aku sulit untuk menemukan jawabannya. Terlalu banyak rahasia yang tersimpan pada diri ibu.

Mungkin ibu terlalu sakit untuk menceritakan semua ini. Sepertinya, beban hidup yang ia jalani saat ini tidak seberapa berat dibandingkan dengan menguak cerita masa lalunya.

Drett ... Drett ....

Gawaiku bergetar, membuyarkan semua anganku yang sedang menerka tentang ibu.

“Indra,” ucapku ketika membuka layar gawai dalam genggaman.

‘Hallo, Mas Bro!’

‘Iya, ada apa Bro?’

‘Malam nanti berangkat jam berapa?’

‘Biasa, habis shalat magrib.’

‘Nanti Gue ke rumah ya, Mas Bro?’

‘Oke!’

Percakapan kami dalam hand phone telah berakhir. Aku memilih masuk dalam kamar. Aku melangkahkan kaki menaiki anak tangga dengan gontai.

Hati rasa sakit. Entah, siapa yang mesti aku salahkan? Membaringkan tubuh di atas ranjang. Menghirup napas panjang dan mengeluarkan pelan.

Aku memejamkan mata, aku berharap semua ini hanya mimpi. Bangkit dari pembaringan, aku duduk sambil menyenderkan punggung pada dinding kamar.

Aku tidak mimpi, ini kenyataan. Pekik dalam hati. Haruskah aku senang dengan kabar ini? Di mana aku mendengar kalau ayah masih hidup. Entahlah, aku harus senang atau marah?

***

Tibalah kami di Kota Tua untuk mengamen mencari rezeki di sini. Aku hanya berdua dengan Indra. Lagu-lagu pun telah kami dendangkan sampai usai.

Pembawaanku yang tidak seceria biasanya menyisakan tanya pada Indra.

“Mas Bro, Lu kenapa?” tanya Indra membuka percakapan.

“Gak papa, Ndra,” ucapku.

“Tuh ... dari jawabannya aja udah beda. Lu pasti ada masalah ya, Mas Bro? Ceritalah, barangkali Gue bisa bantu,” ucap Indra.

Hening.

Indra masih duduk di depanku.

“Gue ada masalah, Bro!” ucapku.

“Tentang apa? Kalau Gue boleh tau Mas Bro.”

“Bokap.”

“Kenapa?” terlihat dahi Indra mengenyit.

“Sebenarnya bokap Gue masih hidup,” ucapku sambil menatap langit malam.

“What? Berarti selama ini Mas Bro masih punya Bokap? Sekarang di mana Mas Bro?”

Aku menggelengkan kepala.

Dahi Indra mengernyit, heran.

“Masih misteri Dia ada di mana. Mungkin Ibu belum siap untuk menceritakan ke Gue, Bro,” aku tertunduk.

“Sabar ya Mas Bro. Sebagai teman, Gue hanya bisa menjadi pendengar yang baik buat Mas Bro. Gue do’akan semoga semuanya menjadi indah pada waktunya,” Indra menepuk pundakku.

Akhirnya kami memutuskan pulang karena telah larut malam. Ada sedikit rasa plong di hati. Mungkin karena sedikit ter'curahkan.

Akhirnya motor aku parkir di pinggir pantai. Ingin menyendiri mendengar suara debur ombak yang bergemuruh.

“YA ALLAH! APA MAKSUD DARI SEMUA INI? KENAPA HIDUP GUA TERLALU RUMIT?” aku berteriak di tepi pantai.

Degup jantung yang mengencang setelah aku berteriak. Napas yang seperti maraton silih bergantian antara menghirup dan mengeluarkan napas.

Keringat mengalir deras ketika aku luapkan emosiku di tepi pantai. Ombak yang besar menggambarkan emosiku kali ini. Batu karang yang kokoh menggambarkan keingintahuan ku tentang sosok bapak. Tapi aku bisa apa? Ibu tidak mau bercerita. Aku masih menghela napas panjang.

Drett ... Drett ....

‘Ken, Kamu di mana? Kok Aku belum dengar motor Kamu masuk rumah?’ WA dari Nada.

Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.

‘Gue lagi ada urusan, Nad. Ni mau balik kok, Lu tidur aja udah jam segini,’ aku send message.

Tak ada balasan lagi dari Nada. Mungkin ia telah tidur. Aku melangkahkan kaki dengan gontai, mendekati motor yang aku parkirkan.

“Kenapa, Nak?” seorang pria paruh baya menyapaku di malam ini.

Aku mendongak, memandang laki-laki itu dengan penuh heran. Laki-laki dengan perawakan tinggi sama sepertiku.

“Anda siapa, Pak?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

“Saya Levy. Tadi Saya dengar Kamu teriak seperti ada masalah,” ucapnya tenang.

“Enggak ada apa-apa, Pak,” jawabku dan berlalu pergi.

“Nak,” pria itu memanggilku lagi.

Aku menoleh.

“Namamu siapa? Maaf, Kamu mirip sekali dengan Saya. Kalau lagi ada masalah meluapkan amarah di pantai seperti sekarang.”

Sotoy! Tapi memang bener juga sih kata si Bapak ini, Gue emang lagi kesel sekarang. Apa Gue kelihatan ya, lagi punya masalah seperti saat ini? Pekik dalam hati.

Aku terdiam. Aku duduk di pembatas pantai yang berdinding semen. Pria itu menghampiri dan duduk, tepat di sampingku.

Hening.

Pria itu masih duduk menemaniku.

“Namamu siapa, Nak?” tanya itu terulang lagi dari bibir pria paruh baya ini.

“Kenzo,” jawabku dengan wajah tertunduk.

“Kenzo?” tanya pria yang menyebutkan namanya pak Levy.

Aku mendongak dan menatap kepada pria ini. Wajahnya seperti kaget, mata sipitnya menjadi melebar. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

Sekitar dua puluh menit, aku duduk di temani oleh pria yang bernama pak Levy. Tidak banyak yang aku ceritakan, bahkan lebih banyak diam. Tapi entah kenapa, walau hanya bicara sedikit dengannya, hati ini mulai lebih lega. Mood pun berasa lebih baik.

“Pak, Saya pulang ya? Udah malem. Bapak juga pulanglah, pasti keluarga Bapak juga sudah menunggu,” ucapku.

Tiba-tiba pak Levy merogoh sesuatu dari dalam saku celananya. Benda kecil pipih berwarna hitam pun dalam genggamannya.

Ia mengangkat telefon tepat di depanku. Aku mendengar tidak terlalu jelas, yang ku dengar hannyalah seorang wanita yang menyuruhnya agar segera pulang, mungkin itu istrinya. Entahlah.

Akhirnya kami sama-sama melangkahkan kaki untuk bergegas pulang. Aku membawa motor matic dan pak Levy membawa mobil hitam pajero sport.

***

Aku memasukkan motor dalam rumah, ku ayunkan kaki menaiki anak tangga.

Aku buka handle pintu dan merambah naik ke atas ranjang. Aku membenamkan tubuhku dan memejamkan mata. Ada rasa heran dengan kejadian tadi. Di mana aku bertemu dengan pak Levy orang yang baru aku temui tapi merasa nyaman bila berada di sampingnya.

“Ken, bangun! Udah siang.”

Suara Nada mengagetkanku di pagi ini. Ia membuka jendela kamar sehingga rona sang surya menyelinap masuk ke dalam kamar. Silau.

“Apa sih, Nad? Gue masih ngantuk. Mata Gue sepet,” ucapku yang menarik selimut.

“Bangun Ken, lima belas menit lagi Kita ada kelas Pak Dosen Killer,” ucap Nada yang menarik selimutku.

“What?”

Seketika aku langsung tersadar ketika Nada menyebutkan nama dosen killer. Aku membayangkan ketika ia mengeluarkan jurus kamehame seperti Goku di film Dragon ball.

Aku langsung beranjak dari tempat tidur, menyambar handuk dan berlari menuju kamar mandi.

Sial! Kamar mandi malah isi semua. Akhirnya aku hanya cuci muka dan gosok gigi di tempat yang di sediakan untuk wudhu.

Pagi ini terasa di kejar anjing gila. Aku menaiki anak tangga, mengganti baju dan celana. Langsung ku pakai sepatu dan ku semprotkan banyak parfum pada badan.

“Ken, makan dulu!” ucap ibu.

“Gak sempet, Bu. Assalamualaikum,” ucapku sambil tancap gas bersama Nada.

.

Kami berlari di koridor kampus dan ternyata pak dosen kiler hampir masuk kelas. Kami berlari sekencang mungkin agar tidak keduluan pak dosen killer.

“Selamattt!” ucapku dan Nada.

Kami menduduki kursi dalam kelas. Kalau saja telat beberapa detik, alamat jurus kamehame keluar dari persembunyiannya. Jam pun di mulai.

***

“Temen-temen semuanya. Gue minta perhatiannya!” ucap Anton berucap di depan kelas setelah pelajaran selesai.

“Malam nanti, Gue akan ngadain pesta, selamatan di rumah Gue, Kalian semua pada datang ya? Gue tunggu!”

Undangan pun di sebar oleh beberapa kawan dalam kelas kami. Aku dan Nada juga mendapatkan undangan yang sama.

“Oh iya, masalah kostum bebas, serah Lu pada. Yang jelas Gue minta. Lu semua datang pakek topeng yang menurut kalian oke. Pahamkan?” ucap Anton.

“Oke!”

“Paham Bro!”

Ramai teman-teman yang menjawab dan antusias dengan pesta ini.

“Lu pergi, Nad?” tanyaku pada Nada.

“Entahlah, kalau Kamu berangkat ya Aku ikut. Kalau Kamu enggak berangkat Aku juga males,” ucap Nada yang sepertinya kesal kepada Anton.

“Berangkat yok? Untuk selingan,” ucapku sambil memainkan alisku.

“Lalu, Kamu libur ngamen dong?” tanya Nada.

“Iya, gak papa lah sekali-kali. Nanti Gue kasih kabar ke Indra kalo Gue libur ngamen malam ini.”

“Oh ... Ya udah, Aku ikut. Tapi, topengnya gimana?” tanya Nada lagi.

“Kita beli sekaranglah, pan masih ada waktu,” jawabku.

.

Kami melaju bersama si matic ke salah satu pusat perbelanjaan di Kota Jakarta. Kami mencari toko yang menyediakan aksesoris topeng untuk pesta.

Akhirnya kami melihat salah satu toko yang menjual banyak pilihan topeng. Aku memilih dan Nada juga sama.

Akhirnya, pilihanku jatuh kepada topeng setengah wajah berwarna hitam.

“Udah dapat, Nad?” tanyaku yang telah membawa topeng pilihanku.

“Belum,” Nada masih mencari.

“Bantuin dong, Aku bingung milih mana yang cocok buatku,” ucap Nada yang masih terus memilih.

Kami mencari.

“Yang ini gimana?” tawaranku menunjukkan topeng berwarna hitam.

“Bagus, cocok enggak?” Nada menunjukan ketika ia memakai topeng itu.

“Sip!” aku mengangkat jempol tangan.

***

Akhirnya kami pulang, mempersiapkan untuk datang ke pesta Anton. Aku pun kirim pesan pada Indra tentang malam ini yang gak bisa ngamen dulu di Kota Tua.

.

“Bu,” aku mendekati ibu yang masih menjahit.

“Iya,” jawab ibu yang masih fokus pada pekerjaannya.

“Ken izin keluar, ya?”

“Mau ke mana?” tanya Ibu lagi.

“Ke rumah Anton, teman Kenzo di Kampus. Mau ada pesta katanya. Ken dan Nada di undang ke sana. Boleh enggak?”

“Oh ... Ya udah, hati-hati ya, Nak,” pesan ibu sambil mengelus pundakku.

1
Ilham Ilham
bagus cerita ny
Rosa Rosiana
hadir
ꈊNnayy
komen
Dareen: balas😅
Terima kasih sudah, kak.
Maaf, saya aktif di platform sebelah jadi notif baru terbaca 🙏
total 1 replies
Yuyun Rohimah
ceritanya menarik,,,lanjut thorrr
Dareen: terima kasih sudah singgah, Kak Yuyun.. 🙏
Sekarang saya menggarap novel di platform sebelah🙏😅
total 1 replies
Bersama bintang
keren
Falina Adhianthi
vas bunga
Falina Adhianthi
Haruka dipanggil "Bee" itu maksudnya apa ya ?
Falina Adhianthi
by the way
Falina Adhianthi
ladies
uutarum
hanna adiknya doni tuh
Falina Adhianthi
ko jadi Lo gw lagi🤔
Falina Adhianthi
ko bs langsung pesan, ga nanya alamat rumahnya dmn
Falina Adhianthi: platform yg mb kk
total 2 replies
Falina Adhianthi
kanker
gah ara
saya juga akan marah kalau jadi nada..
gah ara
kita aja yang baca dari awal kayak merasa kehilangan juga.. kayak ngga baca novel
gah ara
ya elaaahhh,,,jadi kite ni yang di suruh berfantasi mereka ngapain... 🤭🤭🤭
Dareen: tengkyu ulasannya kak 🙏😅
total 1 replies
gah ara
serangan fajar Ken 😁🤭🤭
Asti Asyifa
jd kangen gue
Inne Saptadji
Bahasa Sunda ibunya terlalu halus untuk bicara dengan anaknya... Karena ada b.Sunda ada tingkatannya, untuk yg lebih tua, untuk yg sebaya, untuk diri sendiri, dan untuk yg lebih rendah..
Dareen: siap kak. Makasih krisannya. Kebetulan Mama ada turunan Sunda dan saya hanya ngikutin klo Mama ngomong. 🙏😅
total 1 replies
Fatimah D'Ratu
Astagfirullah, pecat saja Stevani wanita penggoda🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!