Rama dan Ayana dulunya adalah sahabat sejak kecil. Namun karena insiden kecelakaan yang menewaskan Kakaknya-Arsayd, membuat Rama pada saat itu memutuskan untuk membenci keluarga Ayana, karena kesalahpahaman.
Dalih membenci, rupanya Rama malah di jodohkan sang Ayah dengan Ayana sendiri.
Sering mendapat perlakuan buruk, bahkan tidak di akui, membuat Ayana harus menerima getirnya hidup, ketika sang buah hati lahir kedunia.
"Ibu... Dimana Ayah Zeva? Kenapa Zeva tidak pelnah beltemu Ayah?"
Zeva Arfana-bocah kecil berusia 3 tahun itu tidak pernah tahu siapa Ayah kandungnya sendiri. Bahkan, Rama selalu menunjukan sikap dinginya pada sang buah hati.
Ayana yang sudah lelah karena tahu suaminya secara terbuka menjalin hubungan dengan Mawar, justru memutuskan menerima tawaran Devan-untuk menjadi pacar sewaan Dokter tampan itu.
"Kamu berkhianat-aku juga bisa berkhianat, Mas! Jadi kita impas!"
Mampukah Ayana melewati prahara rumah tangganya? Atau dia dihadapkan pada pilihan sulit nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Di Paviliun,
Ayana berdiri kaku di ambang pintu samping. Ia tatap ruangan klasik di setiap sudut ruang itu. 'Terimakasih!' satu kalimat itu menggema penuh haru memenuhi relung hatinya. 3 tahun lebih sudah berlalu, dan hanya rumah kecil itu yang memeluk Aya dari pedihnya kehidupan.
Langkah kecilnya kembali bergerak. Disana-tepatnya didepan tv, Bu Ratih masih tampak tenang menikmati siaran tv pagi itu. Aya menoleh kesamping-dan putranya sedang asik bermain.
Dengan suara bergetar, Ayana memanggil ibunya. "Bu....."
Bu Ratih menolehkan badan. Wajah tuanya mengukir senyum tipis penuh rasa tertekan.
"Hari ini kita akan pindah!" suara Ayana begitu lirih, nyaris menjadi bisikan.
Bu Ratih terperanjat. Ia tak begeming, lalu menjawab, "Kita mau pindah kemana, Aya?"
Aya tersenyum sambil memegang kedua tangan Ibunya. Ia masih menekuk lututnya, menatap kuat meskipun kedua matanya sudah berair.
"Tuan Ibrahim sudah menyiapkan rumah untuk kita. Dan... Ibu akan aman disana!"
Tatapan Bu Ratih jatuh kearah Zeva yang masih sibuk bermain, "Ibu mau! Tapi... Itu berarti Zeva tidak akan lagi bertemu Ayahnya?!"
Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang membuat Ayana harus sadar, karena pada akhirnya Ayah dan anak itu akan berpisah.
"Mas Rama tidak dapat memutus hubunganya dengan Mbak Mawar, Bu! Tidak ada harapan lagi pada pernikahan kita. Dan mulai detik ini... Aya pasrahkan semuanya pada Allah! Setidaknya... Aya akan lebih tenang hidup bersama Ibu dan Zeva."
Bu Ratih sudah menangis. Ia dekap tubuh putrinya sembari mengusapkan tangan keriputnya pada kepala Ayana.
"Maaf, Ibu selalu merepotkanmu, Aya... Ibu belum dapat melindungi kalian," ucap serak Bu Ratih.
Ayana menggelengkan kepala lemah. Air matanya juga ikut menetes satu persatu. "Ibu sudah lebih cukup memberikan yang terbaik pada Aya dan Zeva! Jika tidak ada Ibu... Aya tidak mungkin sekuat sekarang."
Suasana rumah kecil itu mendadak hening, dan menyisakan rasa sesag bagi penghuninya.
Beberapa menit setelah itu, sebuah mobil berhenti tepat didepan Paviliun.
Tok!
Tok!
Ayana segera membukakan pintu.
Ceklek!
"Non, sudah siap?" tanya Pak Amir sopir pribadi rumah utama.
Ayana mengangguk. Namun sebelum itu ia menoleh ke rumah utama dengan wajah cemasnya.
Seakan tahu, Pak Amir menyeletuk, "Non nggak perlu khawatir! Tuan sedang keluar mengajak Nyonya dan putrinya. Den Rama juga sudah berangkat sejak tadi."
"Bik Siti dan Lastri, Pak?" Ayana takut, jika Pelayan gila itu akan megadukan pada Bu Anita tentang kepergiannya.
"Mereka ada di belakang, sudah saya kasih tugas buat kuras kolam ikan, Non!"
Barulah Ayana dapat tersenyum lega.
"Sebentar Pak, saya ambilkan barang-barang saya."
Begitu Ayana sudah keluar membawa dua koper besar, dan satu tas ransel, Pak Amir langsung saja memasukan barang-barang miliknya kedalam bagasi mobil.
Di dalam, Bik Sumi sudah menangis sambil membantu mendorong kursi roda Bu Ratih. Pelayan tua itu merasa kehilangan, apalagi Ayana sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Non... Baik-baik ya disana! Jangan lupa kabarin Bibi terus," pinta Bik Sumi sambil mengusap lengan Ayana.
Ayana mengangguk. Ia memeluk Bik Siti sekilas sebagai bentuk perpisahan mereka. "Bibi juga jaga diri Bibik, ya! Ayana pasti akan kangen sama Bibi terus."
"Ayana pamit ya, Bik!" seru Ayana kembali.
Pak Amir menuntun Bu Ratih untuk masuk kedalam mobil. Zeva dan Ayana juga ikut masuk kedalam.
Dint!
Bik Sumi hanya mampu melambaikan tangan lemah dengan deraian air mata.
Ayana tersenyum, juga melambaikan tangan kepada pelayan kesayanganya itu.
"Ibu... Kenapa Bik Sumi nggak di ajak? Kasian dia sendilian di lumah," celetuk Zeva yang masih belum tahu mau kemana mobil itu.
Ayana tersenyum nanar, "Sayang... Mulai sekarang, Zeva akan punya Rumah sendiri! Zeva dapat bermain dengan bebas tanpa takut sama siapapun."
Dua kornea kecil itu mengerjab berbinar. "Yeayy, asik....." Namun, dalam sekejab itu Zeva tampak berpikir.
"Kenapa, Sayang?"
"Ibu... Apa di lumah balu nanti juga ada Paman Lama dan Kakek?"
Dada Ayana terguncang mendengar pertanyaan polos dari Putranya. Dan memang benar, akhir-akhir ini Rama sudah menunjukan sikap hangatnya kepada sang Putra. Sehingga, hal itu membuat Zeva seolah dijanjikan separuh dunia dari sikap itu.
"Ayana... Yang sabar, ya! Saya turut prihatin," ucap Pria muda dibalik kemudi.
Mendengar suara yang tidak asing lagi, membuat Bu Ratih terperanjat. Wanita tua itu memajukan setengah badanya, lalu menepuk pundak pria muda tadi.
"Dika....? Ini benar suara kamu?" suara Bu Ratih bergetar.
Ayana juga tersadar. Wajahnya sudah antusias menunggu pria muda itu berkesiap.
"Benar, Bu... Saya masih hidup! Saya selama ini berada didekat kalian, namun Tuan Ibrahim merahasiakan keberadaan saya," ucap Dika dengan mata berkaca.
"Ya Allah, Nak Dika... Ibu sangat bersyukur kamu sehat-sehat selama ini," Bu Ratih menangis kembali meluapkan rasa syukur dalam hatinya.
Ayana tersenyum penuh syukur. Memang benar yang dikatakan Tuan Ibrahim, jika Dika selama ini masih hidup.
"Bu Ratih... Non Aya... Nanti Dika yang akan menemani kalian di rumah. Dan... Tuan Ibrahim juga sudah menyiapkan satu pelayan untuk membantu Non Aya bersih-bersih!" seru Pak Amir.
"Terimakasih banyak, Ya Pak! Dan saya minta tolong... Rahasiakan semua ini dari siapapun-termasuk Mas Rama!" pinta Ayana memohon.
Pak Amir menoleh sebatas bahu sambil mengangguk, "Semuanya aman, Non!"
Setelah menempuh watu 1 jam lebih, mobil yang dikendarai Dika sudah memasuki sebuah komplek rumah dengan penjagaan ketat.
Disana, rumah yang diberikan Tuan Ibrahim menempati nomor urut 12 dengan nama Perumahan Saung Merpati.
"Sudah sampai, dan ini rumahnya, Non! Mari, turun!" ucap Pak Amir sambil membuka pintu mobil.
Dika membantu Bu Ratih keluar dan menuntun wanita tua itu berjalan pelan. Bukanya terpana melihat rumah baru yang akan ia tempati, Bu Ratih malah menangis lagi ketika menatap wajah Dika yang begitu sehat dan berdiri tegap didepannya.
"Ibu jangan menangis lagi... Sekarang ayo masuk!" gumam Dika sambil mengusap air mata Bu Ratih.
Ayana terpukau dengan rumah dua lantai itu. Rumah itu tidak semewah rumah utama, tidak juga kecil seperti paviliun. Rumah itu berdiri kokoh seolah tengah mengucapkan selamat datang atas kehadirannya.
Zeva turun dengan perasaan bahagianya. Rumah itu bagaikan pelabuhan terakhirnya untuk dapat bermain dengan tenang.
Barang-barang Ayana sudah dibawa masuk kedalam oleh Pak Amir dan Dika.
"Dika... Saya titip Non Aya dan Bu Ratih! Kalau begitu saya pamit dulu!" Pak Amir menepuk bahu Dika sekilas.
"Hati-hati, Pak Amir! Terimakasih banyak!" ucap Bu Ratih.
Pak Amir mengangguk. Ia segera berjalan keluar meninggalkan rumah baru Ayana.
"Ya udah, ayo masuk lagi, Bu!" Dika mengajak kedua wanita itu masuk untuk di tunjukan dimana letak kamar masing-masing.
*** ***
Perusahaan Jayantaka Group.
Waktu sudah menunjukan pukul 11.30 wib.
Namun tampaknya Rama masih belum berniat keluar untuk makan siang. Sejak tadi pagi, pria itu hanya duduk lesu dengan pikiran kalutnya.
Kalimat Ayana pagi tadi, kini berputar bagaikan kaset rusak dalam kepalanya. Ia merasa kesulitan untuk memilih kepastian dalam hidupnya. Beberapa kali Rama mendesah dalam, memikirkan semuanya tanpa tahu jawaban seperti apa yang ia mau.
Tok!
Tok!
"Masuk!"
Deril masuk kedalam dan langsung duduk didepan meja utama.
"Bagaimana, Deril?"
"Pak Rama... Menurut informasi dari cctv tempat Non Aya dan Devan bertemu, mereka tengah membahas kerja sama, yang menyatakan Non Aya bersedia menerima sejumlah uang sebagai pasangan kontrak saat pesta itu," papar Deril.
Rama mengerutkan dahinya, mencoba mengingat pertemuanya dengan Ayana ketika sang Istri tengah pulang membawa beberapa paperbag.
Dada Rama sudah bergemuruh menahan cemburu yang kini merajam hatinya. Tangan Rama terkepal erat, hingga...
Brak!
"Brengsek!" umpat Rama dalam.
Deril terperanjat. Ia mengusap dadanya, hingga pandanganya terbuka lebih kuat. "Pak Rama, Anda mau kemana?"
"Saya akan menghajar pria itu! Saya tidak peduli meksipun dia teman saya sekalipun," kesal Rama kembali melanjutkan jalannya.
Deril juga ikut bangkit. Ia segera mengejar Tuannya, ketika Rama baru saja menarik handle pintu itu.
"Pak Rama... Tunggu sebentar! Jangan kegabah karena emosi Anda."
Rama terdiam kembali. Kedua alisnya saling bertaut menahan rasa geram dalam hati yang membuncah.
"Pak, jika memang Anda berniat menemui Dokter Devan, maka Anda harus bersiap mengakui Non Aya sebagai Istri Sah Anda!"
"Saya tidak peduli, Deril! Biar sekalian dia tahu kalau Ayana sudah bersuami!" Seolah tengah di bulatkan tekad, Rama langsung saja melenggang keluar tanpa peduli resiko yang ia dapat nanti.
*
*
"Ayana... Kamu dimana? Kenapa ponsel kamu nggak aktif?"
Devan sejak tadi mondar mandir di dalam ruanganya, menahan cemas sebab Ayana sejak malam itu tidak ada lagi kabarnya. Apalagi sekarang nomor wanita cantik itu sudah tidak aktif.
Cukup lelah, Devan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Pria itu menunduk lesu, menyunggar kepalanya kuat.
Ceklek!
"Maaf, permisi Dok... Ada pasien yang sedang ingin memeriksakan kondisi tulangnya," ucap suster-asisten Devan.
Devan menoleh, "Suruh masuk saja, Sus!"
Suster itu tampak mempersilahkan seseorang, hingga pria itu bersiap masuk sambil menarik kedua kerah jasnya.
"Mari, silahkan dud-" Devan membuka kuat matanya, ketika yang masuk saat ini adalah Rama-temannya sendiri.
Dengan senyum seringai tipis itu, Rama menghentikan langkah tegapnya di depan meja.
"Kenapa? Terkejut? Heh...." Rama tersenyum getir dengan wajah dinginnya.
Devan urungkan niatnya untuk duduk. Ia masih menyimpan beribu pertanyaan pada sikap temanya malam itu. "Baguslah kamu datang, Rama. Saya tidak perlu buang waktu untuk datang menemuimu!"
"Katakan, apa hubungan kamu pada Angel-kekasihku!" Sentak Devan kembali dengan suara menggema.
Rama bersenyum remeh, meskipun dadanya terbakar api cemburu.