Seorang wanita yang hidup mewah pada masa 2030 dengan berbagai teknologi pintar berkembang pesat. Wanita itu adalah Ria yang dijuluki seoang pembisnis dan desainer terkenal. Banyak orang iri dengan dirinya. Di saat mendapatka penghargaan desainer terbaik terjadi sebuah kecelakaan menyebabka Ria tewas ditempat. Tapi saat dia bangun dia melihat lingkungan berbeda. Tepat di depan ada sebuah kalender lama pada tahun 1997 bulan agustus. Ria yang tidak percaya segera keluar dari ruangannya melihat pemandangan yang asing dan belum berkembang berbeda dengan dia lahir sebelumnya. Ria binggung menatap ke segala arah hingga datang ibunya bernama Ratri. Dia memanggil nama Valeria kenapa kamu diam saja sini bantu ibu memasak. Ria menoleh dengan wajah binggung hingga Ratri datang memukul kepala Valaria. Ria merasakan sakit tidak percaya kalau dia merasa sakit. Valaria bertanya ini dimana. Ratri binggung membawa Valaria ke dalam aku ibumu. Kamu ini lupa atau hanya tidak mau membantu saja. penasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Gerbang Hijau 30: Jejak Penulis di Ambang Badai
Pagi itu, Desa Pandan terasa sedikit berbeda. Matahari memang masih bersinar cerah, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah-celah daun jati di sepanjang jalan utama. Namun, ada semacam ketegangan tak kasat mata yang menyelimuti udara, menyerupai bau mesiu yang samar setelah sebuah ledakan besar berlalu.
Valaria duduk di teras depan rumahnya yang masih terasa sejuk oleh sisa embun. Di depannya, secangkir teh mengepulkan uap tipis, tetapi perhatiannya tidak tertuju pada minuman itu. Matanya terpaku pada lembaran surat kabar yang baru saja ia beli dari loper yang lewat. Kertas koran itu terasa kasar di ujung jarinya, menebarkan aroma tinta yang kuat sebuah kontras tajam dengan harum bunga melati yang merambat di pagar rumahnya.
Jantung Valaria berdebar kencang. Bukan karena efek kafein, melainkan karena perpaduan rasa penasaran yang mendesak dan kecemasan yang menghimpit. Ia membalik halaman demi halaman dengan tangan sedikit gemetar. Ia mencari namanya; mencari kolom sastra tempat ia mengirimkan naskahnya beberapa pekan lalu. Ia sangat berharap tulisan pertamanya di masa lalu ini sudah mendapatkan tempat.
Tiba-tiba, tangan Valaria terhenti di halaman utama. Di sana, terpampang berita besar dengan tajuk utama yang tegas disertai foto-foto hitam-putih yang kontras.
Seketika, suasana di sekitar Valaria berubah drastis. Kehangatan teh dan indahnya pagi seolah lenyap, digantikan oleh keseriusan dan kecemasan historis yang ia kenali dari ingatannya tentang masa depan. Tepat di bawah tajuk utama mengenai penganugerahan pangkat Jenderal Besar (Bintang Lima) kepada tiga tokoh militer Soeharto, Jenderal Sudirman, dan Abdul Haris Nasution dalam rangka HUT ke-52 ABRI, terselip sebuah laporan kecil yang membuat darah Valaria berdesir dingin.
Ia membaca dengan mata melebar, menelusuri setiap baris tentang "hilangnya beberapa orang".
“Pada masa ini, terutama menjelang Pemilu 1997, terjadi serangkaian peristiwa hilangnya sejumlah aktivis...”
Valaria menggigit bibir bawahnya. Tulisan itu memang tidak merinci nama-nama korban secara gamblang, tetapi ingatan masa depannya melengkapi kepingan teka-teki tersebut. Gelombang emosi, antara sedih dan marah, menghantam dadanya. Ia tahu betul siapa saja yang hilang, dan betapa gelapnya periode tersebut bagi gerakan demokrasi di Indonesia. Di koran itu, ia tidak sekadar melihat berita; ia melihat bayangan masa lalu yang menyakitkan sebuah pertanda bahwa tahun-tahun kritis sudah berada di ambang pintu.
"Ini bukan lagi sekadar tentang membangun usaha atau bertahan hidup. Ini tentang sejarah yang akan segera berulang," batin Valaria sembari menahan napas.
Ia membalik lembaran berikutnya, dan berita yang ia temukan tak kalah mencekam: krisis moneter. Namun, sebagaimana ingatannya, media massa kala itu masih menuliskan laporan yang samar. Hanya ada peringatan-peringatan kecil yang dibalut dengan bahasa optimisme palsu dari para pejabat. Valaria menghela napas panjang. Ia tahu betapa parah dampak krisis yang akan menghantam, betapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan, tabungan, dan harapan.
Lelah dengan beban berita yang seolah menghimpit pundaknya, Valaria membalik halaman koran dengan tergesa, ingin melarikan diri dari realitas politik yang menyesakkan.
Tiba-tiba, mata Valaria terpaku pada sudut halaman yang lebih tenang. Di antara iklan baris dan berita seputar pedesaan, terdapat sebuah kolom bertajuk: Cerita Kita.
Jantungnya berdebar, kali ini dengan harapan murni yang sudah lama ia rindukan. Di sana, terselip sebuah cerita pendek dengan judul yang dicetak miring: Sebuah Perpisahan di Tepi Kali. Meski dicetak dengan huruf kecil, nama Valaria tertulis jelas di bawahnya sebagai penulis.
Valaria tersenyum lebar. Senyuman itu tulus, melunturkan semua ketegangan yang tadi sempat merasuki pikirannya. Ia meraih cangkir teh yang mulai dingin, menyesapnya perlahan, dan merasakan kebahagiaan kecil yang begitu murni. Ini adalah pencapaian nyata pertamanya setelah terlempar kembali ke masa lalu. Ia berhasil membuktikan bahwa suaranya bisa didengar.
Setelah menggunting kolom cerpen tersebut dengan rapi untuk disimpan, Valaria segera bergegas ke ruang kerjanya yang sederhana. Inspirasi mengalir deras seperti air bah. Jika satu cerita pendek sudah berhasil menembus redaksi, artinya gaya penulisannya dapat diterima. Ia tidak boleh berhenti sekarang.
Valaria mengambil buku catatan baru bersampul gambar bunga teratai. Ia duduk di dekat jendela, membiarkan cahaya matahari pagi menyinari meja kayunya yang dipenuhi pena dan kertas. Dengan nama pena yang sama, ia mulai merangkai imajinasi. Ia ingin menciptakan tulisan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyisipkan pengetahuan alam secara halus.
Ia mulai menuliskan sebuah kisah tentang anak kecil bernama Arka:
Suatu sore di bawah naungan pohon kamboja yang rimbun, Arka melihat sesuatu yang janggal. Seekor kupu-kupu yang biasanya terbang lincah kini diam membatu di atas bunga yang mulai layu. Sayapnya tidak lagi mengepak dengan gembira.
Arka mendekat perlahan, lututnya menyentuh rumput yang masih basah oleh sisa hujan. Ia menyadari bahwa salah satu sayap kupu-kupu itu robek, meninggalkan lubang kecil yang membuat bentuknya tak lagi simetris. Wajah bocah itu langsung ditekuk, kesedihan polos terpancar dari matanya yang bulat. Ia berpikir, kupu-kupu itu takkan pernah lagi bisa menari bersama angin.
"Kasihan sekali, ya?"
Suara lembut neneknya terdengar dari belakang. Arka menoleh dengan mata berkaca-kaca.
"Nenek, lihat. Sayapnya rusak. Apakah dia akan mati? Dia tidak bisa terbang lagi, kan?" tanya Arka sedih.
Nenek berjongkok di samping cucunya, kerutan di wajah tua itu membentuk senyum penuh kasih. "Dia sedang beristirahat, Nak. Sayap yang robek memang tidak bisa kembali utuh. Tapi tahukah kamu? Kupu-kupu ini sudah menyelesaikan tugas besarnya."
"Tugas besar? Tugas apa, Nek?" Arka mengernyit bingung.
"Tugas untuk memberi kehidupan. Dia telah membantu banyak bunga di kebun ini untuk mekar, membawa serbuk sari dari satu kelopak ke kelopak lain. Sayapnya yang rusak bukanlah tanda kegagalan, melainkan bekas perjuangan yang mulia."
Arka terdiam, menatap kupu-kupu itu dengan cara pandang yang berbeda. Bukan lagi dengan kasihan, melainkan dengan rasa hormat. Ia belajar bahwa keindahan tidak selalu harus utuh; bahwa dalam luka pun terdapat cerita tentang pengabdian.
Valaria mengakhiri cerita anak itu dengan perasaan puas. Baginya, kisah itu adalah metafora untuk dirinya sendiri yang sedang berjuang di tengah keterbatasan zaman.
Belum puas mengekspresikan diri, Valaria beralih ke halaman kosong lainnya. Ia merasa jiwanya membutuhkan sesuatu yang lebih puitis untuk menyeimbangkan kabar buruk yang ia baca di koran tadi. Ia menuliskan sebuah puisi, sebuah refleksi tentang awal yang baru.
Mekar di Pagi Hari
Kelopakmu merekah, menyapa pagi, Menari lembut diembus angin sepi. Warnamu cerah, peneduh hati, Wangimu harum, abadi di memori.
Bukan hanya rupa, namun esensi, Yang kujaga, agar tak lekang dimakan waktu ini.
Sambil menatap pohon beringin tua di kejauhan, Valaria juga menuliskan beberapa bait pantun sebagai bentuk kecintaannya pada budaya lokal:
Daun hijau di pohon beringin, Dipetik adik di tepi kolam. Daun kering gugur ke tanah, Menambah indah halaman rumah.
Pohon jambu berdaun rimbun, Tempat burung membuat sarang. Daun pandan harum baunya, Membuat kue jadi istimewa.
Sore harinya, saat Valaria baru saja merapikan alat tulisnya, pintu depan rumah diketuk dengan keras. Raka, adiknya, muncul dengan wajah kemerahan karena berlari, tangannya menggenggam sepucuk amplop besar.
"Kakak Valaria! Ada surat! Dari alamat yang sama dengan tempat Kakak mengirim naskah itu!" seru Raka dengan napas terengah-engah.
Valaria dengan cepat menyambar amplop itu. Jantungnya berpacu lebih kencang dari saat ia membaca koran tadi pagi. Ia merobek segelnya dan membaca barisan kata di dalamnya dengan teliti.
"Naskah novel dan buku pengetahuan yang Anda kirimkan telah kami evaluasi dengan hasil yang sangat baik. Berdasarkan keputusan dewan editorial, naskah Anda akan segera masuk tahap pracetak. Kami mengundang Anda untuk mendiskusikan kontrak hak cipta dan royalti..."
"Raka!" teriak Valaria, wajahnya bersinar terang. "Raka, lihat! Mereka akan menerbitkan buku Kakak!"
Raka yang hendak berbalik keluar kamar segera berhenti. Matanya membulat tak percaya. "Benarkah, Kak? Buku yang tebal itu?"
Valaria menghampiri adiknya dan memeluknya erat-erat. Air mata haru yang tidak bisa dibendung lagi akhirnya membasahi pipinya. "Iya, Raka. Sekarang kita punya cara lain untuk bertahan. Selain sapu tangan yang kita jahit dan warung kecil kita, kita punya buku! Kakak benar-benar akan menjadi penulis, Raka!"
Dalam pelukan itu, Valaria merasakan harapan yang begitu kuat. Di tengah badai sejarah dan krisis ekonomi yang siap menerjang bangsanya, ia telah menanam sebuah benih yang kokoh. Ia tahu masa depan tidak akan mudah, tetapi setidaknya kini ia memiliki senjata berupa kata-kata untuk menghadapinya.