Karya ini adalah karya pertama saya. Karya ini saya ambil dengan tema kolosal dunia persilatan yang ada di daerah Nusantara.
Arga adalah seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya saat berusia delapan tahun. Arga memiliki adik bernama Ayu Ratih Permana. Arga dan Ayu berguru kepada guru dari kedua orangtuanya dan bertekad untuk membalas dendam kematian orang tuanya serta menjadi pendekar yang terkuat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran.
Karya ini hanyalah fiktif belaka, hasil khayalan dari penulis, bila ada nama/tempat/waktu yang sama itu hanyalah kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Den, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menangkap Mata-mata di Istana
Keesokan harinya, di istana terjadi kehebohan besar karena raja Kertikeyasinga memberikan perintah untuk mengumpulkan semua pejabat kerajaan, prajurit dan para tamu kerajaan serta rakyat yang berada di sekitar Kotaraja.
Selang beberapa jam, akhirnya semua orang berhasil dikumpulkan di lapangan luas halaman istana kerajaan.
Semua rakyat saling berbisik-bisik dan kebingungan menanyakan tujuan mereka dikumpulkan disana tetapi semuanya hanya menjawab tidak tahu.
Akhirnya tibalah dari dalam istana 3 orang sosok pria yang terlihat gagah serta berwibawa, tiga orang itu tidak lain adalah yang mulia raja Kertikeyasinga, pangeran Jatmiko dan Patih Angga Reksadana.
"Wah... itu yang mulia raja Kertikeyasinga, dia sangat gagah sekali." Ucap salah satu penduduk. Memang mereka sangat jarang melihat situasi seperti ini, bisa melihat wajah raja mereka dari jarak yang cukup dekat.
"Lihat...lihat...itu pangeran Jatmiko, dia tampan sekali." Ucap seorang punduduk lagi.
Memang pangeran Jatmiko selain terlihat gagah dan berwibawa juga memiliki paras yang tampan, yang membuat mata semua orang yang memandangnya akan merasakan takjub yang luar biasa. Ditambah lagi mahkota pangeran yang terpasang di kepalanya menambah kegagahan dirinya. Pangeran Jatmiko sendiri adalah putra dari permaisuri Dewi Gita, istri pertama dari raja Kertikeyasinga.
Memang raja Kertikeyasinga memliki satu permaisuri dan empat selir. Pangeran Andiko sendiri anak dari salah satu selir dari raja Kertikeyasinga.
"Yang mulia, semua sudah dikumpulkan." Ucap Tumenggung Bahurekso sambil menunduk memberi hormat kepada Raja Kertikeyasinga.
Raja Kertikeyasinga mengangguk dan mengangkat tangannya yang menandakan semua orang untuk diam.
Semua orang yang disana terdiam setelah melihat bahasa isyarat dari raja Kertikeyasinga. Memang wibawa seorang Raja seperti Raja Kertikeyasinga sangat tinggi.
"Rakyat-rakyatku sekalian, hari ini kalian saya kumpulkan disini untuk menjadi saksi sebuah kenyataan." Seru lantang dari Raja Kertikeyasinga sambil mengangkat tangannya.
Semua yang ada disana hanya saling bertatapan menandakan mereka tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh raja Kertikeyasinga.
Tetapi kebingungan mereka akhirnya terjawab setelah raja Kertikeyasinga memberikan perintah kepada Patih Angga Reksadana untuk menjelaskan semuanya.
Patih Angga mengangguk dan berjalan ke depan sambil memberi hormat kepada yang mulia raja Kertikeyasinga.
"Semuanya tenang." Seru lantang Patih Angga terdengar dari seluruh penjuru dan menggema-gema. Wibawanya tidak kalah dari Raja Kertikeyasinga.
"Semalam aku dan seorang pemuda menjebak salah satu Tumenggung kerajaan. Dia melakukan pengkhianatan, bekerja sama dengan pangeran Andiko untuk melakukan kudeta. Semalam juga aku berhasil membunuh pengkhianat itu. Dia adalah Tumenggung Prabaskara.
Hari ini kalian semua dikumpulkan disini untuk menjadi saksi kami mengadili dan menangkap semua orang yang terlibat dan bekerja sama dengan pangeran Andiko."
Setelah Patih Angga mengatakan itu, salah satu Tumenggung mengerutkan dahinya dan terlihat ketakutan di wajahnya.
Di sisi lain, prajurit-prajurit yang ingin memihak kepada pangeran Andiko juga memperlihatkan wajah yang ketakutan.
"Kami telah melakukan penyelidikan dan telah mengetahui siapa saja yang berniat memberontak serta bekerja sama dengan pangeran Andiko. Sebaiknya sebelum aku bertindak lebih jauh, yang merasa bersalah harap bersujud dan memohon ampun kepada yang mulia raja. Mungkin yang mulia tidak akan membunuh kalian."
Setelah Patih Angga berkata demikian, terlihat sekitar 1000 prajurit maju dan bersujud ke hadapan raja Kertikeyasinga.
Raja Kertikeyasinga yang melihat hal itu mengerutkan dahinya, walaupun hanya sekitar 1000 prajurit tetapi itu sudah menunjukkan kelengahan mereka.
Patih Angga maju ke hadapan salah satu prajurit itu dan bertanya kepadanya "Siapa pejabat kerajaan yang bekerja sama dengan pangeran Andiko selain Tumenggung Prabaskara?" Ucapnya sambil menaikkan alisnya.
Prajurit itu ketakutan dan hanya menundukkan kepalanya. Dia diam tidak berani menjawab atapun menatap ke arah wajah Patih Angga.
"Cepat tunjukan." Patih Angga mengangkat tangannya menandakan ingin mencekik leher prajurit itu. Akan tetapi prajurit itu masih menunduk dan tidak menjawab pertanyaan Patih Angga.
"Berdiri." Ucap Patih Angga sambil tersenyum, tetapi senyumannya itu bisa membuat anak kecil menangis sedangkan orang dewasa berlari terbirit-birit.
Prajurit itu memberanikan dirinya untuk berdiri tetapi kepalanya masih menunduk ke bawah tidak berani menatap Patih Angga.
"Krakkk." Suara leher patah terdengar oleh semua orang.
Patih Angga yang kehilangan kesabaran langsung mematahkan leher prajurit itu.
"Siapa yang tidak mau menjawab pertanyaanku, akan aku bunuh." Patih Angga menatap dingin ke arah prajurit yang bersujud dihadapannya.
Semua penduduk disana berteriak histeris karena menyaksikan semua itu. Tetapi semuanya dapat kembali tenang setelah yang mulia raja berseru lantang.
"Ini adalah contoh untuk kalian. Siapa saja yang berani memberontak dan berkhianat kepada kerajaan akan bernasib sama." Ucap raja Kertikeyasinga.
Arga dan keempat temannya hanya menggelengkan kepalanya pelan, tetapi membenarkan apa yang dilakukan oleh Patih Angga.
Akhirnya situasinya kembali tenang dan Patih Angga melanjutkan apa yang harus dilakukannya.
Patih Angga maju ke hadapan prajurit yang lainnya. Dia menanyakan hal yang sama kepada prajurit itu.
Prajurit yang ditanyai oleh Patih Angga ketakutan, tubuhnya bergetar hebat. Akhirnya karena ketakutannya itu, dia mengaku dan menunjuk seorang Tumenggung yang ada di depan.
"Ampun...ampun Gusti Patih." Prajurit itu bersujud di hadapan Patih Angga.
"Tumenggung Benggala... Tumenggung Benggala yang bekerja sama dengan pangeran Andiko." Ucap prajurit itu yang tubuhnya masih bergetar ketakutan.
"Oh begitu?!" Ucap dingin Patih Angga. Dia melirik ke arah Tumenggung Benggala dengan tatapan dingin.
Semua orang melihat ke arah Tumenggung Benggala.
Tumenggung Benggala yang sudah ketahuan kedoknya melompat dan menangkap salah satu penduduk yang berada disana.
"Jangan bergerak atau aku akan membunuh gadis ini." Ucap Tumenggung Benggala yang menodongkan sebuah pisau ke arah leher gadis itu.
Penduduk yang berada disana berteriak histeris. Salah satu kakek tua bersujud ke arah Patih Angga untuk menyelamatkan gadis itu karena dia adalah cucu dari kakek tua itu.
Patih Angga mengerutkan dahinya, dia tidak mengira bahwa Tumenggung Benggala akan melakukan hal itu.
Akhirnya semua orang diam di tempatnya termasuk raja Kertikeyasinga, pangeran Jatmiko, Patih Angga dan Tumenggung lainnya.
Hanya ada satu orang yang diam-diam berjalan pelan-pelan. Dia adalah Arga, setelah Arga melihat kejadian itu dia langsung berjalan ke arah kerumunan warga dan berjalan pelan-pelan.
Di sisi lain, Tumenggung Benggala pelan-pelan mundur dan berniat melarikan diri. Saat dia hendak membawa pergi gadis itu, tiba-tiba Arga memegang tangan Tumenggung Benggala yang sedang memegangi pisau. Lalu dia menendang dada dari Tumenggung Benggala. Tumenggung Benggala yang tidak siap menghadapi serangan Arga secara tiba-tiba itu langsung melepaskan pegangannya dari gadis yang dijadikannya sebagai sandera.
Setelah Arga mendapatkan gadis itu, dia menyuruh gadis itu untuk mundur.
Setelah gadis itu mundur Arga mulai melancarkan serangannya kepada Tumenggung Benggala.