Novel berantai.
1 JODOH AISYAH.
2 JANJI ANISSA.
3 ZAHIRA UNTUK YUSUF
Juwita adalah gadis non muslim. Suatu hari takdir mempertemukannya dengan pemuda muslim bernama Syakir. Juwita mengagumi Syakir dan agamanya.
Kehidupannya bersama sahabat sahabatnya memberikannya suatu pelajaran hidup. Hingga suatu hari iya ingin mengucapkan syahadat, iya ingin menjadi seorang mualaf dibantu oleh Syakir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat
Sore itu, Juwita sedang serius belajar bersama ustadzah Ulfi di rumahnya. Kebetulan ustad Azam sedang keluar. Zahira pun ikut menemani.
"Nanti selain gerakan shalat, kau pun harus menghafal bacaan bacaannya" ucap ustadzah Ulfi. Juwita pun mengangguk. Juwita pun belajar mengaji dari iqro 1.
"Hafal kan huruf Hijaiyahnya ya. Jangan malu jika yang lain sudah hatam Al Qur'an, kau baru belajar. Yang semangat saja, nanti kau juga bisa seperti mereka" tutur ustadzah Ulfi. Juwita kembali mengangguk.
"Kau masih mending Juwi, baru beberapa hari jadi mualaf kau sudah hafal huruf Hijaiyah meski baru separo. Ibu ku yang usianya setengah abad lebih, dulu ditanya ustad Usman di suruh nyebutin huruf Hijaiyah jawabnya A B C D E F G samai Z" tutur Zahira.
"Tidak boleh bicara seperti itu Ira" pinta ustadzah Ulfi.
"Maaf umi, aku bukannya ngomongin ibu, tapi hanya sekedar menceritakan" ucap Zahira kembali.
"Bukannya ngomongin orang sama menceritakan orang itu kakak beradik ya" ucap Juwita.
"Sssttthhh"
"Ira umi tanya, pas Ira datang ke pesantren, Ira sudah sampai mana belajar ngajinya?" tanya ustadzah Ulfi.
"Dulu sih waktu kecil pernah diajarin ngaji sama ayah Fiqri, tapi lupa lagi hingga ka Riziq membawaku kesini aku baru mulai lagi dari nol. Saat ustad Soleh tanya aku udah sampai iqro berapa, aku jawabnya sudah hatam iqro 7. Sejak itulah ustad Soleh menjebloskan ku ke kelasnya Syifa. Dan saat aku tidak sengaja melihat ka Riziq menggoda ka Aisyah, sejak saat itu pula aku dijebloskan ke asrama putri oleh ka Riziq" tutur Zahira. Juwita dan ustadzah Ulfi sudah menunduk menahan tawanya.
"Juwi, kau boleh cerita sedikit tidak, kenapa kau ingin jadi seorang mualaf?" tanya ustadzah Ulfi. Juwita pun terdiam.
"Banyak sekali alasannya ustadzah" Juwita pun menjelaskan kenapa iya sangat ingin menjadi seorang mualaf. Ustadzah Ulfi dan Zahira pun merasa sangat kagum pada Juwita.
Setelah selesai memberi pelajaran pada Juwita, mereka pun mengobrol ngobrol.
"Juwi, sudah berapa lama kau mengenal Syakir?" tanya Zahira. Juwita pun tersenyum ketika mendengar nama Syakir.
"Aku bertemu Syakir pertama kalinya saat dia tidak sengaja menabraku setelah dia pulang dari masjid. Dia menatapku heran ketika aku tidak menjawab salamnya. Namun saat aku bilang kalau aku non muslim, barulah dia mengerti. Di Jakarta dia banyak menolongku. Aku salut padanya, dia tidak memandang perbedaan diantara kami, meskipun pada saat itu kami berbeda agama. Dia yang selalu memberiku semangat untuk menjalani hidup. Dulu aku sempat depresi hingga melakukan percobaan bunuh diri. Tapi Syakir selalu menolong dan menyadarkan ku" tutur Juwita. Ustadzah Ulfi pun tersenyum.
"Waaah keponakanku yang durhaka itu sudah seperti pahlawan bertopeng ya. Duuh hebat ya, gak kaya bapaknya, mingkeeem doang" ucap Zahira.
Tiba tiba datanglah Fawwaz.
"Assalamualaikum, mommy umi, nenek umi"
"Waalaikum salam"
Fawwaz pun mencium tangan Zahira dan ustadzah Ulfi. Fawwaz pun menatap Juwita.
"Hai kakak cantik" sapa Fawwaz.
"Hai tampan"
"AZ sayang yang paling cantik disini cuma mommy umi doang, jadi panggil dia Kaka Juwi" protes Zahira.
"Iya mommy" Fawwaz mengalah.
Fawwaz pun melihat Juwita memegangi Iqro satu dan beberapa bacaan huruf Hijaiyah.
"Ka Juwi, ngajinya masih Iqro 1?" tanya Fawwaz. Juwita pun mengangguk.
"Aku udah hatam Al Qur'an beberapa kali ya Mi" ucap Fawwaz. Zahira pun mengangguk.
"Meskipun Fawaaz imut menggemaskan sepertiku, dan sipatnya pun mirip denganku, tapi Alhamdulillah kecerdasannya mirip ka Yusuf, he he" batin Zahira.
Setelah selesai belajar, Juwita pun izin pulang ke asrama.
"Ustadzah saya pulang dulu ke asrama, sepertinya hari semakin sore, asalamualaikum" pamit Juwita.
"Waalaikum salam"
"Kakak Juwi mau AZ antar?" tanya Fawwaz. Juwita pun tersenyum.
"Tidak usah AZ, ka Juwi pulang sendiri saja" jawab Juwita. Fawwaz pun mengangguk.
"Jangan AZ sayang, nanti pulangnya kau sendirian, Mommy umi takut kau ada yang nyulik" ucap Zahira.
"Emangnya kenapa kalau aku ada yang nyulik Mi?, bukankah kata mommy di culik itu menyenangkan" ucap Fawwaz.
"Yang punya gelar diculik itu cuma punya Mommy umi seorang" tegas Zahira.
"Fawwaz, mengalahlah sama Umi mu" ucap ustadzah Ulfi sambil menahan tawanya.
Juwita pun berjalan pulang sendirian. Langkah demi langkah iya lalui hingga tiba tiba iya menghentikan langkahnya karna mendadak lupa jalan pulang menuju asrama.
"Duuh, lewat mana ya jalannya, ko aku lupa lagi" batin Juwita.
Juwita sudah celingak celinguk, iya pun tersenyum ketika melihat Dewi berjalan kearahnya sambil membawa beberapa rantang pesanan ketring.
"Asalamualaikum"
"Waalaikum salam. Juwi, kau sedang apa disini?" tanya Dewi.
"Aku habis belajar dari rumahnya ustadzah Ulfi, tapi aku lupa jalan pulang Tante" jawab juwita. Dewi langsung mengernyit.
"Duuh sebenarnya Tante Dewi ingin mengantarmu pulang, tau sayang Tante Dewi harus mengantarkan pesanan ketring, kebetulan masih banyak. Eh ngomong ngomong Juwi, Tante Dewi minta maaf ya, soal cek yang ketelen Tante kemarin" tutur Dewi.
Sebenarnya Juwita bingung, kenapa bisa Dewi tiba tiba menelan cek yang berupa kertas itu, namun Juwita mencoba memahami saja, tidak mau ambil pusing.
"Tidak apa apa Tante Dewi, Syifa sudah cerita sama aku" ucap Juwita.
"Ya sudah kalau kau mau pulang ke asrama, Tante Dewi kasih tau arahnya. Dari sini kau jalan lurus, nanti ada pohon mangga kau belok kanan, lalu jalan tiga langkah belok lagi kekiri, abis itu kau belok kanan lalu luruuuus, nah disitu ada kursi di pinggir jalan, kau boleh duduk dulu kalau cape. Lalu lanjut lagi belok kanan, nanti ada masjid besar kau luruuuus, pas pertigaan kau belok kiri, nanti disana kau boleh jingkrak jingkrak dulu kalau kakimu pegel, setelah itu baru kau belok kiri sampai deh" tutur Dewi.
Juwita sudah menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal, iya merasa pusing dengan penjelasan Dewi hingga iya memutuskan untuk mengangguk saja.
"Iya Tante Dewi, terima kasih atas petunjuknya" ucap Juwita. Dewi pun kembali melanjutkan perjalanannya. Juwita sudah mengernyit.
"Perasaan tadi waktu dari asrama ke rumahnya ustadzah Ulfi tidak seribet itu jalannya" batin Juwita bingung.
Juwita pun kembali melanjutkan perjalanan yang diberi petunjuk Dewi hingga iya benar benar tersesat.
"Ko aku jadi ada disini???"
Juwita kini berada ditepi lapangan. Tiba tiba,
BUUUKH.
"Aww" Juwita meringis saat ada bola mengenai pundaknya. Juwita pun membalikan badannya. Dilihatnya banyak santri putra yang sedang bermain bola. Adam (17 tahun) sepupunya Syakir berlari mendekati untuk mengambil bola itu.
"Maaf kakak tidak sengaja. Tapi kalau kakak mau marah, marah saja sama ka Syakir, dia yang nendang" ucap Adam sambil berlari kembali ke tengah lapangan setelah berhasil mengambil bola. Juwita sudah memicingkan matanya pada Syakir. Syakir hanya tersenyum senyum saja.
"Maaf tidak sengaja" teriak Syakir yang kini berada ditengah lapangan. Tiba tiba ada yang berdehem dibelakangnya Juwita.
"Ehem"
Juwita pun terdiam.
"Duuh siapa yang ada di belakangku?, ko perasaanku tiba tiba gak enak begini?" batin Juwita.
"Ehem ehem"
Juwita pun perlahan membalikan badannya, dilihatnya ustad Usman sedang berdiri dibelakangnya sambil berkacak pinggang.
"Duuh ini kan ayahnya si Fadil, kenapa dia kelihatan marah begitu" batin Juwita.
Syakir yang melihat pun langsung berlari mendekati.
"Kenapa kau berada di lapangan Juwita?, disini tidak ada panggung. Kau mau menggoda santri santri ku ya?" ucap ustad Usman. Juwita langsung mengernyit.
"Kenapa ayahnya si Fadil selalu menyamakan aku dengan penyanyi dangdut itu???" batin Juwita.
"Maaf ustad, aku tersesat" ucap Juwita.
"Jadi kau tersesat???"
Juwita mengangguk.
"Tadi aku habis belajar dari rumahnya ustadzah Ulfi. Pas pulang aku lupa jalan, terus ketemu Tante Dewi, dia yang memberi petunjuk jalan hingga aku sampai disini" tutur Juwita. Ustad Usman langsung mengernyit. Sementara Syakir sudah menunduk menahan tawa.
"Si Dewi ngasih petunjuk bikin orang tersesat. Hati hati kalau nanya si Dewi, yang ada dipikirannya cuma, bakakak ayam, SOP buntut, oseng tempe, tumis kangkung sama sambal goreng doang. Jadi si Dewi kalau ngasih jawaban gak nyambung, otaknya belibet sama makanan" tutur ustad Usman. Juwita malah tertawa.
"Juwita biar aku saja yang antar ke asrama" ucap Syakir. Ustad Usman langsung memicingkan matanya pada Syakir.
"Kau mau modus ya?" ucap ustad Usman curiga.
"Nggak"
"Kalau kau pulang mengantarkan si Juwi, pusiiiing pala barbie. Nanti kalian langsung diseret ke KUA" gerutu ustad Usman.
"Juwi, besok sore kau dan Dewi temui aku di sini ya, aku ingin memberi kalian hadiah" ucap ustad Usman. Juwita langsung mengernyit.
"Ayahnya si Fadil baik banget ya, aku sama ka Dewi mau dikasih hadiah" batin Juwita. Syakir sudah menahan tawanya melihat reaksinya Juwita. Ustad Usman memanggil AL (15 tahun).
"AL sini"
Teriak ustad Usman. Akmal putranya ustad Ibrahim pun berlari mendekati.
"Iya ustad"
"Kau kanan ingin menjadi seorang polisi, ini ka Juwita tersesat. Antarkan ka Juwita ke asrama putri, ajak salah satu temanmu untuk menemanimu" pinta ustad Usman.
"Siap laksanakan ustad Usman"
Juwita pun pulang ke asrama diantar AL dan salah satu temannya.