NovelToon NovelToon
MENG LIN DI ERA 1970 AN

MENG LIN DI ERA 1970 AN

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Meng Lin, seorang gadis modern yang baru menyelesaikan pendidikan S2 di bidang sains, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena sebuah novel.

Suatu malam, ia tertidur saat membaca novel berlatar tahun 1974. Ketika terbangun, ia justru mendapati dirinya berada di dalam novel tersebut—menjadi Meng Lin, gadis berusia sembilan belas tahun yang memiliki nama sama dengannya.

Meng Lin asli adalah gadis cantik, baik hati, dan lemah lembut. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia tinggal bersama paman, bibi, dan sepupunya, Meng Wan. Meski memiliki nilai sekolah terbaik, kesempatan kerja justru diberikan kepada Meng Wan. Tanpa pilihan lain, Meng Lin dikirim ke desa sebagai pemuda terpelajar.

Lebih menyedihkan, kekasihnya, Tang Qi, perlahan terlibat dengan Meng Wan. Dalam cerita asli, Meng Lin akhirnya menghilang dari kisah, sementara Meng Wan dan Tang Qi menikah.

"Hmm.. Karakter Utama itu akan menjadi milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23. Makan Bersama

Saat masakan Meng Lin selesai disiapkan, suara langkah kaki mulai terdengar dari arah halaman luar.

Delapan pemuda terpelajar yang sejak pagi pergi bekerja akhirnya kembali ke asrama untuk masak lalu makan siang.

Pakaian mereka sedikit berdebu, sementara beberapa orang tampak mengusap keringat di dahi. Setelah bekerja sejak pagi, mereka hanya ingin segera makan dan beristirahat sebentar sebelum kembali menjalankan tugas.

Begitu memasuki halaman, aroma masakan yang menguar dari dapur membuat langkah mereka sedikit melambat.

“Wah, siapa yang memasak hari ini? Baunya enak sekali!” seru seorang pemuda.

“Entahlah. Mungkin anak-anak baru,” jawab rekannya.

Mereka berjalan mendekati dapur. Saat itulah Meng Lin keluar sambil membawa semangkuk besar mi berbumbu.

“Sudah pulang? Kalian pasti lelah. Cepat cuci tangan, sebentar lagi kita makan.”

Sapaan itu membuat beberapa pemuda terdiam sesaat. Pagi tadi, ketika rombongan pemuda terpelajar yang baru datang tiba di asrama, mereka hanya sempat memperhatikan sekilas sebelum buru-buru berangkat bekerja.

Sekarang, setelah melihat Meng Lin dari dekat, barulah mereka menyadari betapa cantiknya gadis itu.

"Siapa gadis cantik ini? Apa dia tersesat?"

Tubuhnya tinggi dan ramping. Kulitnya cerah, rambut hitamnya tergerai rapi, dan ketika berbicara, lesung pipit terlihat di bawah sudut bibirnya.

Seorang pemuda yang sedang menggulung lengan bajunya bahkan sempat lupa melanjutkan gerakannya.

"Cantik sekali...!"

Namun, Meng Lin sama sekali tidak memperhatikan reaksi mereka. Ia hanya meletakkan mangkuk besar di atas meja dan kembali ke dapur untuk mengambil peralatan makan.

Seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun kemudian melangkah maju. Rambutnya pendek, kulitnya sedikit gelap akibat sering terpapar matahari, dan sikapnya terlihat lugas. Dibandingkan para pemuda yang masih memperhatikan Meng Lin, wanita itu jauh lebih tenang.

“Namaku Xia Ning. Aku pemimpin para pemuda terpelajar yang tinggal di sini.” Ia tersenyum kepada rombongan pendatang baru.

“Kalian pasti sudah lelah setelah perjalanan jauh. Kalau ada yang belum kalian pahami mengenai kehidupan di sini, kalian bisa bertanya kepadaku.”

Meng Lin mengangguk sopan. “Salam kenal, Kak Xia. Namaku Meng Lin.”

“Namaku Yan Rao,” sambung Yan Rao.

Satu per satu, para pendatang baru memperkenalkan diri. Zhang Wei dan empat pemuda lainnya juga menyebutkan nama mereka, sehingga kedua kelompok bisa saling mengenal dengan lebih baik.

Setelah perkenalan selesai, Meng Lin menunjuk meja panjang di dekat dapur. “Kak Xia, kalian pulang untuk masak dan makan siang, bukan? Kebetulan kami memasak cukup banyak. Bagaimana kalau kita makan bersama?”

Xia Ning baru hendak menjawab ketika aroma masakan kembali tercium dari dapur. Ia melirik mangkuk-mangkuk yang sudah tersusun di atas meja.

Mie putih yang masih mengepulkan uap disiram bumbu sederhana, dengan taburan telur dan daun bawang di atasnya. Aromanya bahkan sudah tercium ketika mereka baru memasuki halaman tadi.

Jujur saja, setelah bekerja sepanjang pagi, perutnya langsung terasa semakin lapar.

Namun, Xia Ning tetap menggeleng pelan.

“Tidak perlu, kalian makan saja. Kalian baru datang dan persediaan kalian juga terbatas. Kami bisa kembali ke kamar dan makan makanan yang biasa kami siapkan.”

Beberapa pemuda di belakangnya tampak sedikit kecewa, tetapi tidak ada yang berani menyela.

Meng Lin justru tersenyum tipis. “Kak Xia, jangan sungkan. Aku memang sengaja memasak lebih banyak.”

“Tapi—”

“Anggap saja ini permintaan maaf dariku.” Meng Lin melanjutkan dengan tenang. “Tadi aku mengambil beberapa batang daun bawang dari kebun kecil di belakang tanpa meminta izin lebih dulu. Aku baru tahu kebun itu milik kalian. Jadi, biarkan aku mentraktir kalian makan siang kali ini.”

"Benar.. Kami juga tadi meminjam sapu dan pengki..!" timpal Yan Rao.

Xia Ning tertegun sejenak. Ia menoleh ke arah kebun di belakang, kemudian kembali memandang Meng Lin.

“Hanya beberapa batang daun bawang. Itu bukan masalah besar. Kamu tidak perlu sampai memasak sebanyak ini. Tidak masalah kalau kalian pinjam, tapi harus disimpan kembali ke tempatnya!"

"Kak Xia tenang saja. Kami langsung simpan kembali setelah memakainya!" seru Yan Rao.

“Bahan-bahannya juga sudah digunakan. Kalau kalian menolak, aku justru akan merasa tidak enak.”

Meng Lin tidak berbicara dengan nada memaksa. Ia hanya berdiri di sana sambil menunggu jawaban, tetapi sikapnya menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh ingin berbagi makanan.

Xia Ning kemudian memandang orang-orang di belakangnya.

Mereka semua tampak kelelahan. Ada yang terus mengusap keringat, ada yang diam-diam melirik mangkuk mi di atas meja, dan ada pula yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya.

Setelah mempertimbangkan sejenak, Xia Ning akhirnya menghela napas. “Baiklah. Kalau begitu, kami tidak akan menolak kebaikanmu. Tetapi lain kali, kamu tidak perlu terlalu sungkan. Kita tinggal bersama di sini. Kalau membutuhkan sesuatu, katakan saja.”

Meng Lin tersenyum. "Baik, Kak Xia.”

Suasana yang semula sedikit canggung segera mencair. Para pemuda mencuci tangan secara bergantian, lalu membantu membawa mangkuk dan sumpit ke meja. Karena jumlah orang cukup banyak, mereka duduk berdesakan, sebagian bahkan harus menarik bangku tambahan dari kamar.

Begitu mi dibagikan, seorang pemuda langsung mengambil sumpitnya. “Kalau begitu, aku tidak akan sungkan lagi!”

Ia mencicipi sesuap mi, lalu matanya langsung berbinar. “Enak sekali!” Ucapan itu membuat yang lain segera ikut mencicipi.

“Benar! Bumbunya pas, dan mie-nya juga kenyal.”

“Sudah lama aku tidak makan mie dari tepung putih seperti ini.”

“Adik Meng Lin, ternyata kamu pandai memasak!”

Pujian datang silih berganti. Bahkan beberapa pemuda yang awalnya masih menjaga sikap kini mulai mengobrol sambil menikmati makanan mereka.

Xia Ning juga mengambil sedikit mie. Setelah mencicipinya, ia mengangguk puas.

“Masakanmu memang enak. Kamu tidak perlu merasa bersalah hanya karena mengambil daun bawang. Kebun kecil itu memang untuk digunakan bersama. Selama tidak mengambil semuanya sekaligus, kalian boleh memetiknya kapan saja.”

Meng Lin meletakkan sumpitnya sejenak dan mengangguk. “Terima kasih, Kak Xia. Kalau begitu, lain kali aku akan sungkan lagi..”

“Tidak perlu terlalu formal. Kita semua tinggal di tempat yang sama. Kalau ada masalah, bicarakan saja baik-baik.”

“Baik.”

Percakapan berlanjut di antara suara sumpit dan mangkuk yang beradu pelan. Para pemuda yang baru kembali dari pekerjaan mulai menceritakan keadaan di lapangan, sementara para pendatang baru mendengarkan dengan saksama.

Bagi mereka yang baru tiba, kehidupan di pedesaan masih terasa asing. Banyak hal yang perlu dipelajari, mulai dari pembagian pekerjaan hingga cara mendapatkan poin kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Makan siang sederhana itu menjadi kesempatan bagi kedua kelompok untuk saling mengenal.

Meng Lin sendiri tidak banyak bicara. Ia makan dengan tenang, sesekali menjawab ketika seseorang mengajukan pertanyaan kepadanya.

Ia tidak berusaha menjalin hubungan dengan semua orang dalam waktu singkat. Baginya, tinggal bersama dengan damai dan saling membantu ketika diperlukan sudah cukup.

Setidaknya, hari pertama mereka di tempat ini dimulai dengan cukup baik.

.

.

.

.

1
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat
yang banyak update nya Thor 👍😀
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Didi Wahyudi
niubi
nengnong
meng Lin ke kota cuma mau beli kemoceng 🤔🤦
nengnong
💪💪
Musdalifa Ifa
klo boleh request Thor tolong upnya dibanyakin🙏🤭🤭🤭
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
terus sehat n lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangat
next double up ya Thor 😁
Musdalifa Ifa
tambah up Thor 🙏
Kia Zahra
tes dulu
Fauziah Daud
lanjuttt
Heni Setiyaningsih
tolong tambah lagi upload nya kurang klo 1 bab
Andira Rahmawati
thorr knp up nya cuma satu eps aja..double up lagi dong thorrr👍👍🙏💪
Fauziah Daud
terus sehat
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt
update nya kurang banyak Thor 😀👍
Kusii Yaati
kurang banyak Thor 🤗
Fii
maaf jarang update. kurang sehat 🙏🙏
Musdalifa Ifa: semoga cepat sembuh thor💪
total 1 replies
Fauziah Daud
trusemangattt
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat biar bisa update setiap hari 😍😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!