Seorang anak perempuan bernama Aira harus menelan kenyataan pahit saat orang tuanya memutuskan untuk memasukkannya ke pesantren. Di usianya yang masih belia, ia belum siap berpisah dari rumah, dari kenyamanan, dan dari kasih sayang yang selama ini selalu dekat.
Hari pertama di pesantren menjadi awal dari luka yang tak terlihat. Di balik seragam rapi dansenyum yang dipaksakan, Aira menyimpan tangis yang ia pendam setiap malam. Rasa rindu, kesepian, dan ketakutan perlahan menggerogoti hatinya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyerah dan pulang.
Namun, di tengah air mata itu, Aira mulai menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—ketenangan dalam doa, kekuatan dalam ilmu, dan arti dari sebuah perjuangan. Ia belajar bahwa tidak semua perpisahan adalah kehilangan, dan tidak semua tangisan adalah kelemahan.Perjalanan Aira di pesantren bukan hanya tentang menuntut menuntut ilmu, tetapi tentang menemukan jati diri, menguatkan hati,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tangisan pilu
Selesai shalat Magrib dan mendengarkan nasihat dari Ustadz Furqon, rombongan santriwati perlahan berhamburan keluar dari masjid.
Ukhty Maya berdiri di pelataran masjid sambil mengibaskan jilbabnya pelan, mengumpulkan kembali tujuh anak baru kamar Khadijah. Di sampingnya, Kak Nisa dan Kak Ririn sigap memastikan tidak ada anak bimbingan mereka yang tercecer di antara kerumunan mukena putih.
"Anak-anak, sebelum kembali ke kamar, kita ke dapur umum dulu untuk makan malam, ya," ujar Ukhty Maya dengan nada tegas namun penuh perhatian. "Di pesantren, makan harus tepat waktu supaya badan tetap fit dan semangat beribadah."
Aira dan Najwa saling pandang, lalu mengekor di belakang Ukhty Maya. Rasa lapar yang tadinya tertutup oleh rasa sedih kini perlahan mulai terasa.
Di ruang makan yang luas, riuk suara piring nampan alumunium dan canda tawa santri senior memenuhi udara. Kak Nisa dengan telaten mengajari santri-santri baru cara mengantre nampan dan mengambil porsi makan. Saat Aira menerima porsinya, Kak Ririn menyenggol lengannya pelan seraya tersenyum, "Makan yang banyak, Aira. Lauh-nya enak kok malam ini."
Aira duduk melingkar bersama teman-teman se-kamar Khadijah. Untuk pertama kalinya hari ini, ia makan tanpa disuapi atau didampingi ibunya. Ada rasa hampa yang menyelusup, tapi melihat Najwa dan lima anak baru lainnya yang juga belajar melahap makanan mereka dengan tenang, Aira pun mulai menyendok nasinya. Suasana kebersamaan yang hangat perlahan melembutkan rasa asing di hatinya.
"Satu jam lagi azan Isya menggema," tutur Ukhty Maya usai membersihkan nampannya. "Setelah makan, langsung kembali ke kamar Khadijah. Ambil wudhu kembali, bersiap pakai mukena, dan kita berangkat ke masjid bersama-sama lagi. Jangan ada yang terlambat."
"Siap, Ukhty!" sahut anak-anak kamar Khadijah kompak.
Langkah kaki Aira menuju kamar terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya. Makanan yang hangat, bimbingan para kakak senior, dan kebersamaan di kamar Khadijah perlahan menjadi penawar rindu yang paling ampuh. Malam pertama di pesantren ini masih panjang, namun kini Aira tahu, ia punya keluarga baru yang akan menuntun tiap langkahnya.
-------
Gema perbincangan hangat di lorong asrama mendadak terhenti seketika.
Sebuah jeritan pilu membelah keheningan malam yang mulai merayap. Suara itu melengking, penuh ketakutan dan keputusasaan yang tak mampu lagi ditahan.
“Nggak mauuu! Aira mau pulang! Ibuuu… jemput Aira…!!”
Suara tangis yang meraung-raung itu terdengar dari arah tangga menuju kamar Ummu Salamah. Seorang anak baru tampak terduduk di lantai, meremas-remas mukenanya sendiri seraya memberontak saat beberapa kakak pengurus mencoba merangkulnya. Tubuhnya berguncang hebat, napasnya memburu di antara sedu-sedan yang memilu hati siapa saja yang mendengarnya.
Jeritan itu memantul di sepanjang lorong, seolah memanggil kembali rasa sakit dan kerinduan yang tadi siang sempat terkubur di dada para santri baru lainnya. Suasana mendadak hening mencengkam. Beberapa anak baru yang sedang berjalan menuju kamar langsung berhenti melangkah, mata mereka kembali berkaca-kaca, terancam runtuh untuk kedua kalinya.
Aira menggenggam erat ujung mukenanya. Dada gadis kecil itu mendesir tajam—suara jeritan itu terasa begitu dekat, menyenggol luka yang baru saja mencoba ia sembuhkan.
Namun, sebelum rasa panik dan sedih kembali menguasai suasana, Ukhty Maya bergerak cepat.
Sebagai bagian Ubudiyah sekaligus mudabbirah yang sigap, Ukhty Maya tidak membiarkan ketakutan itu menular. Ia berbalik menatap tujuh anak baru kamar Khadijah, berdiri kokoh membentangi mereka dari kepanikan.
"Nisa, Ririn, bawa anak-anak langsung masuk ke kamar Khadijah. Kunci pintunya pelan-pelan, dampingi mereka," perintah Ukhty Maya singkat, tegas, namun suaranya tetap terkontrol.
"Baik, Ukhty!" Kak Nisa langsung merangkul pundak Aira dan Najwa, merapatkan barisan anak-anak kamar Khadijah untuk segera masuk. Kak Ririn mengawal dari belakang, mengalihkan perhatian anak-anak agar tidak terus menatap ke arah tangga.
Ukhty Maya sendiri melangkah cepat menuju sumber suara, mendatangi pengurus kamar Ummu Salamah untuk membantu menenangkan anak yang sedang histeris tersebut dengan ketenangan khas seorang pengasuh.
Di dalam kamar Khadijah, pintu tertutup rapat.
Suara jeritan di luar perlahan terdengar makin samar, tapi dampaknya masih tersisa di dalam ruangan. Najwa menunduk dalam-dalam, matanya basah lagi. Beberapa anak baru lainnya duduk terdiam di pinggir kasur, memeluk lutut masing-masing.
Kak Nisa duduk di tengah-tengah mereka, tersenyum tulus tanpa sedikit pun nada menghakimi.
"Nggak apa-apa... itu wajar kok," ucap Kak Nisa pelan, memecah keheningan kamar Khadijah. "Malam pertama memang selalu jadi malam yang paling berat. Tapi ingat kata Ustadz Furqon tadi, kan? Kita di sini saling menjaga."
Aira menghembuskan napas pelan. Ia mendekati Najwa dan meremas jemari teman barunya itu lembut, menyalurkan kekuatan yang baru saja ia dapatkan dari ceramah di masjid tadi.
Malam pertama di pesantren baru saja dimulai, dan guncangan demi guncangan masih akan terus menguji keteguhan hati mereka. Tapi di dalam kamar Khadijah yang hangat itu, Aira tahu... mereka akan melewati malam ini bersama-sama.
-------
Suara jeritan yang membelah keheningan lorong asrama itu ternyata memanggil nama "Aira"—nama yang sama persis dengan nama Aira di kamar Khadijah.
Aira dan Najwa yang duduk berdampingan di tepi ranjang saling pandang dengan mata terbelalak. Keduanya refleks mendekatkan kepala, saling berbisik pelan di antara keriuhan asrama yang perlahan mereda.
"Aira... nama dia sama kaya kamu," bisik Najwa pelan, tangannya masih meremas baju dengan cemas.
Aira mengangguk pelan, matanya menatap ke arah pintu kamar Khadijah yang tertutup. "Iya... kasihan Aira yang di kamar sebelah. Pasti dia kangen banget sama orang tuanya..."
Dada Aira mendesir iba. Ia memikirkan betapa beratnya rasa sakit yang sedang menghantam anak di sebelah sana, persis seperti apa yang ia rasakan sewaktu bergelayut di baju ibunya di gerbang tadi.
Namun, di tengah keheningan kamar Khadijah saat anak-anak mendengarkan suara di luar, tiba-tiba terdengar suara isakan halus dari sudut ruangan mereka sendiri.
Suara itu tidak melengking atau histeris. Hanya bisikan tangis yang pelan, sangat pelan, namun begitu sendu hingga membuat dada siapa pun yang mendengarnya terasa sesak.
Aira dan Najwa menoleh serentak.
Di ranjang pojok dekat lemari, seorang santri baru lainnya—yang sejak tadi hanya diam menunduk—kini memeluk lututnya erat-erat. Air matanya menetes satu per satu jatuh meresap ke kain sarungnya, tubuhnya gemetar menahan agar tangisnya tidak sampai terdengar keras dan mengganggu yang lain.
Kak Nisa dan Kak Ririn yang menyadari hal itu langsung mendekat perlahan. Kak Nisa duduk di samping anak itu, menepuk-nepuk punggungnya penuh kehangatan tanpa banyak bicara, membiarkan rasa sedih itu mengalir dengan tenang.
Aira menatap teman sekamarnya itu dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Di malam pertama ini, entah di kamar Khadijah maupun di kamar sebelah, rindu pada rumah adalah rasa sakit yang harus mereka lewati bersama.