Isabella Catherine Davis, dikhianati oleh pria yang ia cintai dan saudari angkatnya. Di penjara, di siksa hingga meninggal. Saat dia menganggap itu adalah akhir segalanya. Ternyata keajaiban yang tak pernah terbayangkan terjadi padanya. Dia mengulang kembali waktu ke masa lalu dan dia bersumpah akan membalas setiap pengkhianatan, tetes air mata dan penderitaan yang ia alami pada mereka yang sudah berkhianat. Lalu apakah Isabella akan berhasil mengubah segalanya? Atau kelahirannya hanya akan mengulang luka lama terbuka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hamzari20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Gaun Yang Hilang
Tiga hari kemudian.
Restoran ternama di salah satu pusat kota terlihat ramai. Sosok Isabella masuk bersama kedua temannya yang juga datang setelah mendapatkan undangan.
Isabella sudah kembali dari perjalanan bersama Arion. Mereka menginap dan menikmati waktu berdua hanya untuk saling mengenal sebelum pertunangan digelar.
"Jadi berita itu beneran? Kamu mau bertunangan sama Arion?" Raisa melontarkan pertanyaan itu karena dia benar-benar tak begitu yakin dengan berita yang beredar.
" Iya, makanya aku mau mengantarkan undangan ini secara khusus untuk kalian berdua!" katanya, meletakkan dua undangan di atas meja.
Nayla dan Raisa saling tatap, bukannya mereka tak bahagia. Namun, ini justru terasa aneh saat melihat Isabella begitu bersemangat untuk pertunangannya. Karena keduanya jelas tahu bagaimana Isabella tak menyukai Arion sejak dulu.
"Kenapa sih? Mukanya kaya orang yang tidak bahagia?" tanya Isabella, suaranya pelan.
Raisa dan Nayla terkejut, mereka langsung menarik kursi untuk mendekat pada Isabella yang berwajah sedihh.
"Hey! Kami bahagia hanya saja terasa aneh saat kamu bilang mau bertunangan dengan Arion, padahal jelas-jelas sejak dulu kamu kesal padanya, kan?" jelas Nayla.
"Iya aku hanya merasa tidak ada salahnya menyenangkan kedua orang tuaku kali ini. Lagipula pilihan keduanya tidaklah buruk tentang Arion, putra De Luca," jelasnya, berusaha membuat kedua sahabatnya itu percaya.
Nayla dan Raisa menarik napas pelan, perlahan mereka segera memeluk Isabella dan mengucapkan selamat karena bagaimana pun kali ini pilihan Isabella adalah yang paling tepat dan benar.
Sedangkan di sisi lain.
"Jadi undangan ini benar?" suara berat Darel terdengar saat Lyra datang dengan satu undangan di tangannya.
"Iya, bahkan pestanya akan di adakan minggu ini. Sekarang bagaimana. Kak?" tanya Lyra, dia tak tahu kalau keputusan sebesar ini adalah pilihan Isabella yang tak melibatkan dirinya di dalamnya.
"Brengsek! Kenapa Isabella melakukan ini?" umpat Darel, di merasa di khianati.
"Kak, apa mungkin Kak Isabella sengaja?" tebaknya yang membuat Darel menoleh cepat.
"Maksud kamu?" tanyanya penasaran.
"Kak, selama ini kan Kakak trlalu cuek dan agak dingin pada Kak Isabella, apa mungkin dia menerima perjodohan dan pertunangan ini karena ingin membuat Kakak cemburu dan mrasa bersalah?" tebaknya, dia membeberkan apa yang ia tahu. Tebakan itu membuat Darel merasa di atas angin.
"Apa mungkin begitu? Aku tahu Isabella paling mencintai aku dan aku yakin kalau dia sengaja melakukan ini hanya karena ingin mencari perhatian," ucapnya. Mempercayai setiap ucapan dari Lyra.
Lyra mengangguk, dia tersenyum samar akan ia tanamkan kekesalan jtu pada Darel dan akan dia buat pria itu semakin menjauhi Isabella hingga akhirnya hanya aku pilihannya.
"Benar, pasti begitu! Jadi apa Kakak akan mencoba membatalkan pertunangan itu?" tanya Lyra.
"Tentu saja tidak! Dia akan membatalkan sendiri pertunangan itu dan merangkak kembali padaku saat aku semakin tak peduli!"
Lyra mengangguk, dia segera memeluk Darel dan mengecup pipi pria itu dengan senang hati.
"Lalu bagaimana dengan uang bisnis Kakak? Kak Isabella menolak membantu," katanya.
"Tenang, dia akan bantu jika aku tak menghiraukan undangan pertunangan itu."
"Kakak memang yang paling pintar!" puji Lyra.
Darel mengeratkan pelukannya pada Lyra, dia memang ingin Isabella hanya karena wanita itu keturunan Davis. Tapi jelas hatinya tetap memilih Lyra sebagai pasangannya sejatinya.
Sedangkan Isabella yang jelas tahu rencana mereka hanya tersenyum samar. Dia tak tahu jika selama ini memelihara ular berbisa dan ya memberi makan pada seseorang yang tak tahu diri.
"Tidak apa, nikmati saja selagi bisa, setelah ini kalian berdua akan lebih menderita dari pengemis di jalanan!" gumamnya.
***
Acara pesta pertunangan bagi putra dan cucu De Luca di gelar meriah. Semua tamu datang menggunakan pakaian yang sesuai dengan dresscode yang sudah di pilih.
"Ini beneran wanita angkuh dan terlihat tak suka kamu itu mau menerima perjodohan ini?" suara Anashela terdengar agak ketus. Dia adalah sepupu Arion dari pihak Ibu.
"Iya, perjodohan sudah di atur dan mungkin dia mau karena takut fasilitasnya di ambil," kata Arion, mencoba menjelaskan apa yang mungkin saja terjadi.
Anashela mendengus dingin, dia hanya kembali menikmati minuman di tanganya dengan mata liar melihat beberapa tamu yang mulai hadir.
Sedangkan di rumah Davis.
"Sayang, kenapa belum siap?" tanya Melody saat dia masuk dan mendapati sang putri belum siap.
"Aku tengah mencari Paperbag gaun ku. Ma, yang jelas belum aku buka sejak datang hari itu," adunya panik.
"Tenang! Kita cari Sama-sama!" ucap Melody berusaha membuat sang Putri tenang.
"Ma, aku meletakkan itu di sini dan tak akan mungkin ada yang berani mengambil, kan?" keluhnya, dia benar-benar takut.
"Ini Paperbag?" tunjuk Melody pada Paperbag di atas meja.
"Ma, ini aku beli untuk Lyra, sebagai hadiah dan permintaan maaf!" ungkapnya.
Melody dan Isabella kembali mencari dan berusaha menemukan Paperbag yang ada gaun mahal untuk acara malam ini.
Keduanya terus mencari dan berusaha menemukan gaun itu. Namun, sudah tiga puluh mencari mereka tak juga menemukan Paperbag itu.
"Kak, Ma, apa yang kalian cari?" hingga suara itu membuat keduanya mendongak.
DEGH!
"Gaun ku!" pekik Isabella dan itu membuat Lyra terkejut.
DRAP!
DRAP!
Langkah Isabella tegas mendekat pada Lyra yang terdiam dan tak mengerti apa-apa.
"Kenapa kamu pakai gaun ku?" tanya Isabella dengan nada menuduh.
"Hah? Maksudnya apa, Kak?" Lyra yang tak mengerti Apapun hanya terdiam bingung.
"Ini yang kamu pakai itu gaun ku. Lyra!" ketusnya.
"Hah? Bukan Kah Ka—"
"Kamu berniat menggantikan aku bertunangan dengan De Luca?" tuduh Isabella dan itu membuat Lyra terkejut.
DEGH!
"Kak, kenapa bicara seperti itu? Ak—aku benar-benar tidak mencuri gaun ini," protesnya.
"Bohong!" sembur Isabella. "Buktinya gaun ini di gunakan oleh mu!" tuduhnya marah.
Lyra tak bisa mengatakan apapun, dia hanya menatap Isabella dengan kilatan tak berdaya seolah memohon.
"Aku sudah memberikan kamu gaun lain Lyra, lalu kenapa mencuri gaunku?" tanya Isabella dengan nada serak dan tak percaya.
"Kak, ini benar-benar aku tidak mencurinya. Lagipula bukankah Kak—"
"Lihat itu!" sela Isabella. "Itu Paperbag gaunmu kenapa ada di kamar ku, kamu pasti menukarnya, kan?" tuduhnya.
"Kak ak—"
"Sudah hentikan itu! Lepas gaun mu Lyra! Karena itu milik Isabella," tegasnya tanpa mau mendengar alasan apapun.
Dengan hati kesal dan menahan marah. Lyra akhirnya mengalah dan segera melepaskan gaun itu walaupun sebenarnya enggan.