NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 3 : Perut Hutan

Tes...

Bunyi itu kecil. Hampir tidak terdengar kalau bukan karena heningnya yang tidak wajar.

Tes... tes...

Bima yang pertama sadar kalau dia masih hidup. Napasnya masih ada, tapi sesak, seperti menghirup udara di dalam toples. Senter yang ada di tangannya tadi terlepas saat mereka berlima ditarik masuk, sekarang menggelinding pelan di tanah, cahayanya berputar-putar menyapu kegelapan.

"Bima... senter..." suara Maira pelan, serak.

Bima merangkak. Tanah yang dia injak bukan tanah. Rasanya salah. Terlalu empuk. Terlalu hangat. Saat telapak tangannya menekan tanah itu untuk merangkak, tanah itu membal balik sedikit, meninggalkan bekas telapak tangan yang pelan-pelan kembali rata dengan sendirinya. Seperti menekan kulit.

Dia meraih senter itu. Jari-jarinya licin. Ada lendir tipis bening kehitaman yang menempel di bodi senter.

Senter menyala. Bima mengarahkannya ke atas.

Maira menjerit tertahan.

Atas mereka bukan langit. Bukan atap gua. Di atas mereka adalah kubah raksasa yang terbuat dari akar. Akar-akar sebesar paha orang dewasa, sebesar betis, sebesar lengan, saling melilit, saling mengikat, saling menembus satu sama lain membentuk anyaman yang hidup. Akar-akar itu warnanya coklat tua kehitaman, basah, mengkilap seperti habis disiram oli. Dan semuanya berdenyut.

Pelan.

Dug... dug... dug...

Bukan suara. Tapi gerakan. Seluruh kubah akar itu mengembang dan mengempis pelan, bersamaan, seperti paru-paru raksasa yang sedang tidur. Dari sela-sela anyaman akar itu, cairan kental berwarna kuning kehijauan menetes turun. Cairan itu tidak langsung jatuh. Dia menggantung dulu di ujung akar, mengental, baru jatuh.

Tes...

Satu tetes jatuh tepat di dekat kaki Elina.

Elina yang kakinya masih setengah masuk ke dalam tanah lunak langsung menarik kakinya, tapi kakinya tidak bisa bergerak. Dia baru sadar.

"KAKI GUE..."

Maira langsung menyorot dengan senter HP-nya yang masih ada baterai 20%. Cahaya HP menyorot ke bawah.

Tanah lunak di bawah mereka warnanya merah kecoklatan, seperti daging giling yang basah. Hangat. Dan berdenyut sama seperti akar di atas. Dari tanah itu, keluar akar-akar kecil seukuran cacing tanah, tapi warnanya putih pucat. Akar-akar itu bergerak-gerak seperti cacing yang mencium bau makanan, lalu melilit pergelangan kaki Elina. Satu, dua, tiga lilitan. Pelan, tidak menyakitkan, tapi tidak bisa dilepas. Saat Elina mencoba menarik kakinya, akar itu malah mengeluarkan cairan lengket dan mengencang.

"JANGAN DITARIK PAKSA!" Arga yang otaknya masih jalan sebagai anak Mapala langsung teriak. Dia merangkak mendekat. "Itu akar hidup! Makin lo panik, makin kenceng dia ngerespon detak jantung lo!"

Gilang yang ada di samping Elina, yang bekas hitam di keningnya masih perih bekas disentuh tangan dari dalam pintu tadi, kondisinya paling parah. Dia pucat, keringat dingin, dan tiba-tiba muntah. Bukan muntah makanan, tapi muntah air bening karena dia terlalu takut. Bau muntahannya langsung menyengat di ruangan tertutup itu.

Dan bau itu... memancing sesuatu.

Tapi Bima belum melihat ke ujung ruangan. Senternya masih fokus ke Elina. Dia, Maira, dan Arga berusaha melepaskan akar-akar cacing putih itu dari kaki Elina. Caranya bukan ditarik, tapi diusap pelan sambil ditenangkan.

"Lin, tarik napas... tarik napas... kita di sini..."

Saat Elina mencoba tenang, lilitan akar itu sedikit mengendur. Benar kata Arga. Akar itu merespon rasa takut.

Saat sedikit tenang, Bima akhirnya memberanikan diri menyapu senter ke sekeliling ruangan. Ruangan itu luasnya sekitar setengah lapangan basket. Dindingnya sama, terbuat dari akar yang berdenyut. Tidak ada pintu keluar. Gerbang kayu tempat mereka masuk tadi sudah tidak ada. Dinding akar di belakang mereka sudah rata, tidak ada bekas pintu.

Lalu cahaya senter Bima berhenti di satu titik.

Di pojok kiri ruangan, duduk bersandar pada akar besar, ada seseorang.

"ADA ORANG!" Bima teriak, suaranya pecah antara senang dan panik. "KAK! TOLONGIN KITA KAK!"

Orang itu memakai seragam Pramuka lengkap. Pramuka penegak, dengan badge dan hasduk merah putih yang masih terpasang, tapi warnanya sudah kusam dimakan waktu. Kepalanya tertunduk, topi baretnya miring.

Maira ikut berlari ke arah orang itu. "Kak! Kakak dari regu mana? Udah berapa lama di sini?"

Bima menyentuh bahu orang itu untuk membangunkannya.

Begitu disentuh, tubuh orang itu roboh ke samping dengan gerakan yang aneh. Terlalu ringan. Terlalu lemas. Seperti boneka yang tidak ada tulangnya.

Senter Bima menyorot wajahnya.

Maira langsung mundur dua langkah dan menutup mulutnya dengan kedua tangan supaya tidak menjerit.

Itu bukan orang pingsan. Kulit wajahnya kering, keriput seperti kertas yang diremas, menempel di tulang tengkorak. Matanya terbuka lebar, tapi bola matanya sudah tidak ada, hanya cekungan putih kosong yang di dalamnya ada pasir tanah. Mulutnya menganga sedikit, dan dari mulutnya keluar akar putih kecil yang tadi melilit kaki Elina. Akar itu tumbuh dari dalam mulutnya.

Dan yang paling membuat Bima ingin muntah, kaki orang itu, dari lutut sampai ujung kaki, sudah tidak ada bentuk kaki lagi. Kakinya sudah menyatu, meleleh, menjadi bagian dari tanah lunak berdenyut yang mereka injak. Seolah tanah itu adalah permen karet raksasa yang sedang mengunyah kakinya pelan-pelan selama bertahun-tahun.

Orang itu sudah mati lama. Tapi tanah tidak membiarkannya busuk. Tanah memakannya pelan-pelan, menjadikannya bagian dari hutan.

"Bukan... bukan cuma dia..." suara Arga pelan dari belakang.

Arga menyalakan senter HP keduanya dan menyapu ke seluruh ruangan.

Satu. Dua. Tiga. Empat.

Di setiap sisi ruangan, di setiap akar besar, duduk puluhan orang dengan kondisi yang sama.

Ada yang masih pakai seragam Pramuka seperti mereka, tapi modelnya lebih lama, badge-nya masih badge tahun 90-an. Ada yang pakai seragam OSIS SMA. Ada yang pakai jaket gunung tebal. Ada yang pakai seragam tentara Belanda yang sudah robek-robek dan berjamur, topinya masih ada lambang singa. Ada yang hanya pakai kain adat coklat yang sudah menyatu dengan akar.

Semuanya duduk bersandar. Mata kosong. Mulut menganga dengan akar putih keluar dari mulutnya. Kaki mereka semua sudah menyatu dengan tanah.

Mereka adalah makanan. Makanan yang belum habis dicerna.

"ITU KAK REZA..." Arga jatuh terduduk, senter HP-nya jatuh. Di dekat dinding sebelah kanan, ada sosok yang masih pakai jaket biru dongker Mapala kampus mereka, jaket yang mereka kenal betul. Jaket yang dipakai Kak Reza, senior mereka yang hilang tahun lalu saat survei jalur untuk lomba ini. Di tangan Kak Reza yang sudah kering itu masih menggenggam HT hitam yang sudah berkarat. Antenanya patah. Wajah Kak Reza kosong, sama seperti yang lain, tapi di pipinya masih ada bekas air mata yang sudah mengering menjadi kerak tanah.

Gilang yang melihat semua itu, yang dari tadi berusaha menahan muntah, akhirnya tidak tahan. Dia muntah lagi, kali ini banyak. Tubuhnya gemetar hebat. Bekas hitam di keningnya berasap tipis.

Dan saat Gilang muntah karena takut, saat Elina nangis karena kakinya terjerat, saat Maira panik, saat detak jantung mereka berlima berdetak kencang karena syok melihat puluhan mayat yang menjadi bagian dari hutan...

Dari ujung ruangan yang paling gelap, yang tidak terjangkau cahaya senter...

Terdengar sesuatu.

Bukan langkah kaki.

Tapi...

Kletak...

Jeda.

Kletak... kletak...

Seperti kuku panjang yang sangat panjang, mengetuk-ngetuk permukaan akar yang basah. Pelan. Tidak terburu-buru. Seperti seseorang yang sedang berjalan santai di dalam rumahnya sendiri, mengecek apakah makanan di kulkas sudah cukup dingin.

Lalu...

Ssshhh...

Suara napas. Bukan satu napas. Tapi banyak napas kecil yang keluar dari banyak lubang sekaligus. Napas yang menghirup dalam-dalam bau takut yang menyengat dari tubuh mereka berlima.

Bau muntahan Gilang. Bau keringat Bima. Bau air mata Elina.

Bima perlahan, sangat perlahan, mengarahkan senternya ke sumber suara -kletak- itu.

Cahaya senter menembus kegelapan sekitar 10 meter, dan hanya menangkap sekilas...

Di sela-sela akar yang berdenyut, ada siluet.

Siluet itu bongkok. Tingginya sekitar 2 meter. Punggungnya bungkuk, tapi tangannya panjang sekali, hampir menyentuh tanah. Kulitnya terlihat seperti kulit kayu lapuk yang mengelupas. Dan kepalanya... kepalanya botak, tidak ada rambut, dan di wajahnya tidak ada mata. Hanya cekungan hitam yang dalam. Dan di seluruh wajah cekungan itu, ada lubang-lubang kecil sebesar kelereng yang membuka-tutup dengan cepat, seperti hidung yang sedang mengendus rakus.

Siluet itu hanya diam. Kepalanya miring sedikit ke kiri, seolah mendengarkan detak jantung mereka yang berdebar kencang.

Cahaya senter Bima bergetar hebat karena tangannya gemetar.

Siluet itu tidak menyerang.

Dia hanya... mengamati.

Lalu, pelan-pelan, dia mundur. Masuk lagi ke dalam dinding akar yang gelap, menghilang tanpa suara. Hanya menyisakan bau kayu lapuk berjamur yang tiba-tiba menjadi sangat menyengat.

Dia pergi bukan karena takut.

Dia pergi karena dia tahu, makanannya tidak akan bisa kabur. Makanan itu sudah ada di dalam perutnya.

Dan di atas mereka, cairan kuning kehijauan menetes lagi, kali ini lebih banyak.

Tes... tes... tes... tes...

Elina yang kakinya sudah sampai lutut masuk ke dalam tanah, mulai merasakan hangatnya tanah itu bukan hanya di kaki, tapi menjalar naik ke pahanya. Hangat yang lapar.

"Ra... gue... gue nggak mau jadi kayak mereka..." bisik Elina pelan, menatap puluhan mayat kosong di sekeliling mereka.

Maira memeluk Elina erat, sambil menahan tangis, sambil menatap ke arah kegelapan tempat siluet tadi menghilang. Dia tahu, apapun yang barusan mengintip mereka, itu bukan penjaga perut ini.

Itu hanya... anaknya. Yang disuruh induknya untuk mengecek apakah makanan sudah matang.

****

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!