Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Proyek yang Gagal
Angga berharap laporan baru dari bagian keuangan akan memberinya kabar yang lebih baik. Namun Bu Lestari sudah menunggunya di ruang rapat dengan setumpuk dokumen dan wajah yang sulit dibaca.
“Klien proyek Sentra Niaga mengirim surat resmi,” katanya. “Mereka menunda pembayaran tahap kedua sampai revisi pekerjaan selesai.”
Angga membuka surat itu. “Revisi apa? Tim kita sudah menyelesaikan sesuai kontrak.”
“Klien menilai beberapa bagian belum memenuhi spesifikasi. Mereka meminta perbaikan tanpa biaya tambahan.”
“Apakah mereka menyebutkan bagian mana yang tidak sesuai?”
Bu Lestari menyerahkan laporan teknis. Di beberapa halaman, ada catatan merah dari tim klien. Angga membacanya cepat, lalu lebih lambat. Sebagian keluhan tampak masuk akal. Yang lain terasa seperti perubahan permintaan yang baru muncul setelah pekerjaan hampir rampung.
“Kenapa saya baru menerima ini sekarang?”
“Tim proyek sudah mencoba menyelesaikannya secara langsung. Mereka berharap masalahnya bisa dibereskan sebelum dibawa ke rapat.”
“Siapa yang memutuskan itu?”
Pintu terbuka. Dimas masuk bersama kepala proyek, Pak Rudi. Wajah Rudi menunjukkan ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.
“Saya yang meminta tim menangani dulu,” katanya. “Saya pikir kita bisa menjaga hubungan dengan klien tanpa membuat persoalan ini membesar.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang mereka menahan pembayaran dan mengancam memutus kontrak kalau revisi tidak diselesaikan sesuai permintaan.”
Angga meletakkan surat itu. “Kita sudah mengerjakan proyek ini berbulan-bulan. Berapa banyak biaya yang sudah keluar?”
Bu Lestari menyebutkan angkanya. Nilainya membuat ruangan sejenak hening. Proyek itu menjadi salah satu yang paling besar bagi perusahaan tahun ini. Angga telah mengandalkan pembayaran berikutnya untuk menutup sebagian kewajiban kepada pemasok dan menjaga proyek lain tetap berjalan.
“Kalau kita kerjakan semua revisi, berapa tambahan biayanya?”
“Belum bisa dipastikan,” jawab Rudi. “Tapi cukup besar. Ada pekerjaan yang harus dibongkar dan dipasang ulang.”
“Kalau kita menolak?”
“Mereka bisa memutus kontrak, menahan pembayaran, lalu meminta ganti rugi karena proyek terlambat.”
Angga menyandarkan tubuh. Ia memandangi dokumen di hadapannya, mencoba menemukan jalan keluar yang tidak membuat perusahaan kehilangan uang lebih banyak. Namun untuk pertama kalinya, semua pilihan tampak buruk sejak awal.
“Bawa tim teknis ke lokasi,” katanya. “Catat mana yang benar-benar kesalahan kita dan mana yang termasuk perubahan permintaan. Jangan mengakui biaya yang bukan tanggung jawab kita.”
Rudi mengangguk. “Baik.”
“Dan jangan menjanjikan tenggat baru sebelum kita tahu pekerjaan yang harus dilakukan.”
Kali ini Dimas yang menyahut. “Kita juga perlu meninjau kontraknya bersama bagian hukum. Kalau catatan mereka menunjukkan spesifikasi yang berubah, kita harus punya dasar sebelum bernegosiasi.”
Angga mengangguk. Sejak beberapa hari terakhir, ia mulai belajar bahwa keyakinan tidak bisa menggantikan bukti. Tapi pelajaran itu datang terlambat: proyek telah berjalan jauh, biaya sudah dikeluarkan, dan klien kini memegang kendali atas pembayaran yang mereka butuhkan.
Menjelang siang, Angga dan Dimas bertemu perwakilan klien melalui panggilan video. Pihak klien berbicara tenang, seolah keputusan mereka sudah dibuat sebelum rapat dimulai.
“Kami ingin proyek ini selesai dengan baik,” kata perwakilan itu. “Namun hasil yang kami terima belum sesuai kebutuhan.”
“Sebagian catatan yang Anda kirim tidak tercantum dalam spesifikasi awal,” jawab Dimas. “Kami bersedia memperbaiki bagian yang menjadi tanggung jawab kami. Untuk perubahan di luar kontrak, perlu ada kesepakatan biaya dan waktu.”
Perwakilan klien menghela napas. “Kami sudah mengalokasikan anggaran untuk proyek ini. Kami tidak bisa menambah biaya.”
“Kalau begitu, kita perlu meninjau kembali ruang lingkup pekerjaan,” kata Angga. “Kami tidak bisa menanggung perubahan tanpa batas sambil tetap diminta memenuhi tenggat semula.”
“Kalau perusahaan Anda tidak dapat menyelesaikan sesuai kebutuhan kami, kami akan mempertimbangkan penyedia lain.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ancaman terbuka, tetapi cukup jelas. Angga menatap layar. Ia ingin mengatakan bahwa perusahaan sudah memberikan banyak waktu dan tenaga. Ia ingin mengingatkan klien tentang semua pekerjaan yang telah selesai. Namun ia tahu hal itu tidak menjawab masalah yang ada di depan mereka.
“Kami akan mengirimkan evaluasi teknis dan pilihan penyelesaian besok,” katanya akhirnya. “Setelah itu, kita bisa menentukan bagian mana yang perlu diperbaiki dan bagaimana jadwalnya.”
Panggilan berakhir tanpa keputusan.
Sore harinya, laporan dari lokasi datang. Ada dua bagian yang memang dikerjakan tidak sesuai standar. Kesalahan itu bermula dari perubahan instruksi yang disampaikan melalui pesan singkat, tanpa pembaruan dokumen resmi. Tim Angga mengikuti arahan terbaru, sementara klien menganggap spesifikasi awal tetap berlaku.
Kesalahpahaman itu bukan sepenuhnya milik satu pihak. Tetapi kontrak yang ditandatangani mencatat spesifikasi awal sebagai acuan. Di mata hukum, posisi perusahaan Angga jauh lebih lemah daripada yang ia kira.
Dimas membacakan ringkasan dari bagian hukum. “Kita bisa bernegosiasi, tetapi kalau mereka memutus kontrak, kemungkinan kita kesulitan menagih sisa pembayaran. Sengketa juga akan menyita waktu dan biaya.”
“Berapa lama perusahaan bisa bertahan kalau pembayaran itu tidak masuk?” tanya Angga.
Bu Lestari menatap catatan di tangannya. “Dengan kewajiban yang sudah ada, kita harus menunda beberapa pembayaran lain. Mungkin dua sampai tiga minggu sebelum dampaknya terasa langsung.”
Angga menoleh ke luar jendela. Di bawah sana, para pegawai masih bekerja. Mereka belum tahu satu proyek besar yang mereka kerjakan berbulan-bulan kini bisa berubah menjadi beban yang mengancam pekerjaan lain.
“Jangan sampaikan kabar ini ke seluruh tim dulu,” katanya. “Kita belum tahu hasil negosiasinya.”
Dimas tidak membantah, tetapi sorot matanya menunjukkan ia memahami betapa tipis jarak antara menenangkan orang dan menyembunyikan keadaan.
Malamnya, klien mengirim keputusan resmi. Mereka menghentikan sementara proyek sampai perusahaan Angga menyetujui seluruh daftar revisi. Pembayaran berikutnya juga ditahan. Jika tak ada kesepakatan dalam lima hari kerja, kontrak akan diputus.
Angga membaca surat itu sendirian di ruangannya. Tak ada suara selain pendingin udara dan notifikasi yang sesekali masuk. Di antara angka-angka pada laporan, ia melihat satu nama proyek yang selama ini dianggapnya sebagai sandaran.
Kini sandaran itu telah berubah menjadi lubang.
Ia mengambil ponsel dan membuka percakapan dengan Rara. Jarinya sempat berhenti di atas layar. Ia ingin bercerita, ingin mendengar seseorang berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Namun ia teringat berapa kali ia telah menyuruh dirinya sendiri bertahan dengan kalimat yang sama.
Akhirnya, ia tidak mengirim apa pun.
Di meja, surat pemutusan sementara itu tergeletak di samping laporan arus kas. Investor belum memberi kepastian. Klien-klien lain menunda pembayaran. Dan sekarang proyek yang seharusnya menyelamatkan perusahaan justru menahan uang yang paling dibutuhkan.
Angga menutup berkas itu.
Besok ia harus bernegosiasi, mencari jalan agar proyek tetap berjalan, dan menjelaskan kepada tim mengapa mereka tidak bisa menerima pembayaran yang sudah mereka tunggu.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa kehilangan sebuah proyek bukan hanya berarti kehilangan keuntungan.
Itu berarti setiap keputusan berikutnya akan dibuat dengan ruang gerak yang semakin sempit.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....
lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....