NovelToon NovelToon
SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

SISTEM PIJATAN PENAKLUK RATU IBLIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Penyelamat / Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Arya dan Vanya berjalan menyusuri jalanan kota perbatasan yang sibuk dan dipenuhi berbagai macam orang asing.

Lampu-lampu lentera mulai dinyalakan di sepanjang pinggir jalan menggantikan cahaya matahari yang hampir tenggelam sepenuhnya.

"Kaki pegal sekali setelah berjalan kaki sejauh ini," keluh Arya sambil memijit betisnya sendiri.

Vanya berjalan di sampingnya dengan jubah hitam yang menutupi separuh wajah cantiknya.

"Makanya jangan banyak mengeluh, tubuh manusia memang sangat lemah dan cepat lelah," sindir Vanya dingin.

"Iya deh yang mantan ratu iblis punya stamina tidak terbatas mah bebas," balas Arya ketus.

Mereka terus melangkah menyusuri lorong-lorong pertokoan yang mulai sepi untuk mencari tempat berteduh malam ini.

Tidak jauh dari sudut jalan utama, sebuah plang kayu tua berbunyi Penginapan Melati tampak tergantung di atas pintu reyot.

"Nah, sepertinya itu tempat penginapan murah yang kita cari," tunjuk Arya ke depan.

Vanya menatap bangunan berlantai dua itu dengan kening berkerut penuh rasa jijik.

"Tempat kumuh itu? Baunya saja sudah tercium sampai ke sini," komentar Vanya enggan mendekat.

"Sudahlah bersyukur masih ada penginapan yang mau menampung buronan tanpa tanya surat identitas," balas Arya.

Arya mendorong pintu kayu penginapan itu hingga terbuka lebar.

Seorang pria paruh baya bertubuh kurus tampak duduk terkantuk-kantuk di meja kasir depan.

"Selamat malam, Pak, masih ada kamar kosong untuk dua orang?" sapa Arya ramah.

Pria paruh baya itu membuka matanya malas lalu menatap Arya dan wanita berjubah di sampingnya.

"Satu malam sepuluh keping tembaga, di atas lantai dua nomor empat, bayar di muka," jawab penjaga itu datar.

Arya merogoh saku celananya lalu mengeluarkan sepuluh keping tembaga hasil kerjanya tadi.

"Ini uangnya, Pak, tolong kunci kamarnya ya," kata Arya menyerahkan kepingan uang tersebut.

Penjaga itu mengambil koin lalu melemparkan sebuah kunci berkarat ke atas meja kayu.

"Itu kuncinya, jangan bikin ribut malam-malam karena tetangga sebelah gampang terganggu," pesan penjaga itu.

Arya mengambil kunci tersebut lalu mengajak Vanya menaiki tangga kayu menuju lantai dua.

Langkah kaki mereka berdua berderit pelan di atas anak tangga kayu yang sudah usang.

"Nomor empat... ah, ini dia," kata Arya berhenti di depan pintu kayu berangka kusam.

Arya memasukkan kunci ke lubang gembok lalu memutarnya.

klik.

Ia membuka pintu kamar tersebut dan menyalakan lampu minyak kecil di atas meja kecil.

Di dalam kamar sempit itu hanya terdapat sebuah kasur busa tipis, jendela kecil, dan meja kusam.

Vanya melangkah masuk dengan ragu-ragu, matanya mengawasi setiap sudut ruangan dengan jijik.

"Tempat ini benar-benar tidak jauh beda dengan kandang ayam," keluh Vanya duduk kaku di tepi kasur.

"Namanya juga penginapan murah khusus pelancong kere, mau mewah ya tidur di istana sana," ledek Arya.

Vanya mendelik tajam ke arah Arya sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Awas saja kalau kasur ini membuat bajuku kotor, aku bakal bakar tempat ini sampai rata," ancam Vanya dingin.

"Iya silakan bakar sekalian kalau mau kita ditangkap penjaga kota," balas Arya santai.

Arya meletakkan tas usangnya di lantai lalu merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur tipis.

"Hah... akhirnya bisa rebahan juga setelah seharian jalan kaki," desah Arya lega.

Tiba-tiba, suara dengungan khas sistem berputar kencang di dalam kepala Arya tanpa peringatan.

[Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis mendeteksi tempat istirahat baru.]

[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +5 poin sistem total menjadi 105 poin.]

Suara dengungan sistem itu berhenti sejenak sebelum memunculkan notifikasi lanjutan di depan mata.

[Perhatian: Membuka fitur baru level 2 - Deteksi Tekanan Stres Mental Target.]

Arya mengerjap-ngerjapkan matanya dalam gelap membaca tulisan transparan dari sistem.

"Fitur baru lagi? Sistem ini makin lama makin mirip alat pemindai kesehatan," batin Arya mengeluh.

Ia melirik sekilas ke arah Vanya yang sedang duduk diam memandangi jendela kecil kamar.

Melalui fitur baru tersebut, Arya bisa melihat tingkat stres mental Vanya tampak sedikit tinggi akibat pelarian panjang.

"Yang Mulia Ratu, dari pada melamun terus, mau kupijit kepala biar nggak pusing?" tawar Arya iseng.

Vanya menoleh cepat dengan sebelah alis terangkat tinggi tanda heran.

"Memijit kepalaku? Jangan macam-macam, Arya!" tolak Vanya mentah-mentah.

"Beneran, muka kusut begitu tandanya kamu lagi stres berat gara-gara pelarian ini," bujuk Arya santai.

"Aku tidak butuh pijitan apapun dari tangan manusia!" ketus Vanya memalingkan wajah.

Belum sempat Vanya menolak lebih jauh, suara ketukan pintu kamar terdengar dari luar.

Tok... tok... tok...

Suara ketukan itu bergemuruh kasar di pintu kayu penginapan.

Arya dan Vanya langsung saling bertukar pandangan tajam di dalam kamar sempit tersebut.

"Siapa malam-malam begini bertamu ke kamar kita?" gumam Arya bingung.

Vanya menyipitkan mata merahnya, bersiap mengeluarkan aura dingin dari tangannya.

"Biar kuhabisi kalau itu pengintai kota yang mencurigai kita," desis Vanya berbahaya.

"Tunggu dulu, jangan main hantam sebelum tahu siapa orangnya," larang Arya cepat.

Arya berjalan perlahan mendekati pintu kayu lalu membukanya sedikit ke samping.

Kriet...

Bunyi engsel pintu berderit nyaring di malam hari.

Di luar berdiri seorang pria berbadan gempal dengan bau alkohol menyengat di tubuhnya.

"Heh, anak muda! Suara berisik apa yang kalian bikin di dalam sampai kedengaran ke kamarku?!" bentak pria mabuk itu kasar.

Arya mengerjap kaget, menatap pria mabuk di depannya dengan rasa heran.

"Kami dari tadi cuma ngobrol biasa, tidak bikin suara ribut sama sekali," jawab Arya tenang.

Pria mabuk itu mendengus keras lalu meludah ke lantai lorong penginapan.

"Jangan banyak alasan! Wanita yang ada di dalam itu kelihatan mahal, suruh dia temani aku minum malam ini!" teriak pria itu kurang ajar.

Vanya yang mendengar ucapan tersebut dari dalam kamar seketika memancarkan aura pembunuh yang pekat.

"Manusia busuk itu benar-benar mencari mati di hadapanku," desis Vanya dingin berdiri dari kasur.

1
gofur
mantap kaka karya kamu🥰
Anton barly
💟💟💟💟
Shinta geol
🥰🥰🥰🥰🥰
nurul khusna
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
Antoni gergio
💞💓💗💖💝
samuel df
😍🤩🤩🤩🤩
Jangkar pion
iblis yg cantik😘
yudi permana
🌟🌟🌟🌟🌟🌟
nabila
🤩🌹😘😍🥰
putri andini
😍🥰
asyifa fauziah
🌹😘🥰😘
setiawan
pijatan yang mematikan sang ratu
yani
keren kaka semangat berkarya🥰
sasa
💞💕💞💞💞💞💞
fitri
🥰😘🥰😘🥰🤩🤩
pricilia
🌹🌹🌹🌹🌹
Angel
🌟🥳🤠
clara
hebatkaka
Yono Haryono
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!