NovelToon NovelToon
Mantan Tuan Muda

Mantan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sang tuan muda

"Tambah lagi minuman nya!" seru Tuan Muda Bayu sembari mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat kepada pelayan klub malam.

Mendengar perintah itu, teman-teman Bayu langsung bersorak riuh. Suasana meja VIP malam itu semakin memanas. Mereka saling mengangkat gelas tinggi-tinggi, berdenting di bawah temaram lampu disko.

"Hidup Tuan Muda!" seru para wanita cantik yang malam ini khusus disewa untuk menemani Bayu. Mereka menggelayut manja di lengan Bayu, mencoba menarik perhatian pemuda kaya raya itu.

Namun... Bayu tidak benar-benar larut dalam euforia tersebut.

Tatapannya dingin.

Dia melirik jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

Waktu sudah menunjukkan tengah malam.

"Kalian lanjut aja," kata Bayu datar sambil beranjak dari sofa empuknya.

"Kamu mau kemana, Bay?" tanya salah seorang temannya dengan wajah memerah akibat pengaruh alkohol.

"Aku duluan. Tenang aja, semua tagihan malam ini sudah beres. Balik dulu,"

jawab Bayu santai sembari membenahi jaketnya.

"Haha, oke, oke! Thanks, Bay! Hati-hati di jalan!" sahut yang lain, mereka tak peduli lagi karena kesenangan mereka sudah dijamin penuh oleh Bayu.

Bayu melangkah keluar, berjalan dengan santai membelah kerumunan klub hingga sampai ke area parkiran VIP. Di sana, sebuah supercar mewah miliknya sudah menunggu. Begitu mesin dinyalakan, deru garang knalpotnya langsung membelah jalanan kota yang mulai sepi pada malam itu.

Mobil melaju mulus. Namun, tepat beberapa meter sebelum pintu gerbang keluar kompleks hiburan tersebut, sorot lampu mobil Bayu menangkap sesosok siluet. Seorang wanita tampak sedang duduk sendirian di atas pembatas jalan, menekuk lututnya di bawah remang lampu jalanan.

Penasaran, Bayu memperlambat laju kendaraannya dan menepi. Dia turun dari mobil lalu menghampiri wanita itu. Saat jarak mereka mengikis, Bayu menyadari wanita itu hanya diam membisu. Di bawah sinaran lampu merkuri, Bayu bisa melihat dengan jelas ada sisa air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.

"dewi... kamu ngapain di sini?" tanya Bayu, memecah keheningan malam.

dewi tersentak dan langsung menoleh.

Ya, dia sangat mengenal suara bariton itu. Menyadari siapa yang berdiri di hadapannya, dewi mencoba memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang pucat.

Namun... Bayu tidak percaya begitu saja dengan senyum palsu itu. Dia ikut duduk di samping dewi, melipat tangannya di atas lutut.

"Katakan," ucap Bayu singkat, menuntut kejujuran.

dewi menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. "Rupanya aku memang tak bisa nyembunyiin apa pun dari kamu, Bay..." lirihnya. Ratna menunduk, meremas jemarinya sendiri.

"Ibuku masuk rumah sakit. Uangku saat ini cuma ada 100 juta."

"Kurangnya berapa?" tanya Bayu tanpa basa-basi.

"total Perlu 300 juta..." jawab dewi lirih, nyaris putus asa.

Mendengar angka yang bagi sebagian orang sangat besar itu, Bayu hanya tersenyum tipis. Dia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, dan jemarinya bergerak lincah di atas layar selama beberapa detik sebelum kembali memasukkannya ke dalam saku.

Tak lama kemudian, terdengar suara denting notifikasi dari ponsel di genggaman dewi.

Dengan bingung, dewi membuka pesan tersebut. Matanya seketika membelalak. Itu notifikasi dari bank resmi. Rekeningnya baru saja menerima dana masuk sebesar 200 juta rupiah atas nama Bayu.

"Bayu, apa-apaan ini?!" tanya dewi kaget,

menatap Bayu dengan pandangan tidak percaya.

Tanpa menunggu jawaban atau penjelasan dari Bayu, jemari dewi langsung bergerak panik di layar ponsel, berniat untuk segera mentransfer balik uang tersebut. Dia merasa tidak enak hati.

"Sudahlah," potong Bayu, menahan pergelangan tangan Ratna dengan lembut.

"Tapi ini sangat besar, Bayu..." protes dewi, suaranya bergetar menahan tangis yang siap pecah lagi.

"Cuma uang saku," sahut Bayu enteng, seolah uang ratusan juta itu tak ada artinya.

"Ya... syukur-syukur kalau bisa bantu kamu."

Mendengar ketulusan dan kepedulian yang begitu besar dari pria di hadapannya, pertahanan dewi runtuh. Tanpa berkata-kata lagi, dia langsung menghambur dan memeluk Bayu dengan erat. Tangisannya pecah malam itu, semakin kuat dan meluapkan seluruh rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya.

Bayu menepuk-nepuk pundak Ratna dengan pelan. "Sudah, sudah... ibumu perlu kamu sekarang.

Lebih baik sekarang kamu urus dia."

Ratna melepas pelukannya perlahan, menghapus air mata di pipinya sambil menatap ponselnya lagi. "Lalu... uang ini gimana?"

"Gak perlu dipikir," jawab Bayu tegas.

Bayu pun berdiri dan berjalan kembali menghampiri mobilnya. Dia membuka pintu, lalu menoleh sekilas ke arah Ratna yang masih terpaku. "Cepatlah pergi ke rumah sakit. Tak baik anak gadis malam-malam sendirian," sambung Bayu yang mulai menghidupkan kembali mesin supercar-nya.

"Makasih banyak, Bayu..." lirih Ratna, suaranya bergetar di antara deru mesin mobil yang menderu halus. Dia menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk. Bagi Bayu, itu mungkin hanya uang saku, tetapi bagi Ratna, itu adalah keajaiban untuk menyambung nyawa ibunya.

Bayu hanya memberikan anggukan singkat dari dalam kabin. Kaca hitam mobilnya perlahan naik, menutup paras tampannya yang tetap tenang tanpa beban. Tanpa membuang waktu lagi, supercar itu melesat cepat membelah keheningan malam, meninggalkan area gerbang dalam hitungan detik.

dewi menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai dirinya. Rasa putus asa yang sejak sore tadi menggerogoti pikirannya kini berganti menjadi sebersit harapan besar. Dia segera berdiri, merapikan pakaiannya, dan bergegas mencari taksi untuk menuju rumah sakit. Pikirannya sekarang hanya satu: menyelamatkan sang ibu.

Sementara itu, di dalam kabin mobil kemudinya, Bayu menyandarkan punggung dengan santai sembari satu tangannya mengendalikan setir. Ponselnya yang tergeletak di dasbor sesekali menyala, menampilkan rentetan pesan dari grup obrolan teman-temannya yang masih berpesta, memuji-muji kebaikannya malam ini.

Namun, Bayu sama sekali tidak peduli dengan semua pujian kosong itu. Baginya, malam ini baru terasa benar-benar berarti setelah dia bisa menolong seseorang yang tulus membutuhkannya. Mobil mewah itu terus melaju menembus dinginnya malam, membawa sang Tuan Muda kembali ke dunianya yang sunyi namun penuh kuasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!