NovelToon NovelToon
KOBENG

KOBENG

Status: tamat
Genre:Horor / Mata Batin / Dunia Lain / Roh Supernatural / Anak Lelaki/Pria Miskin / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

TERBIT CETAK
NOVEL BISA DIDAPATKAN DI GRAMEDIA

Laki-laki biasa yang ingin hidup biasa-biasa saja, harus mengalami sederet kejadian di luar nalar. Saat isterinya tengah hamil tua, tiba-tiba saja dia merasa tinggal di tempat yang asing. Tempat tinggalnya bernama Desa Ebuh. Anehnya, tak ada satu pun warga desa yang dia kenali.

KOBENG adalah dialeg dari wilayah tempat tinggal penulis. Artinya apa? Akan kalian temukan jika membaca kisah ini sampai tuntas.

Baca juga kisah horor misteri
1. Rumah di tengah sawah
2. Rumah Tusuk Sate
3. Rumah Tepi Sungai
karya bung Kus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Wolulas

Rumah Mbah Modo terletak di kaki bukit ujung desa Ebuh. Setelah melewati pasar desa, Purbo menapaki jalan yang tersusun atas bebatuan lintang yang beraneka warna. Kiri kanan jalan tumbuh rumpun bambu petung yang sangat lebat berayun ayun setiap angin bertiup.

Bangunan rumah joglo bercat hijau nampak berdiri gagah di ujung jalan. Ada dua pohon beringin besar di sisi rumah, dengan akar nafas bergelayut memanjang hingga menyentuh permukaan tanah. Pagar bambu mengelilingi rumah dengan halaman berupa tanah merah.

Angin sepoi sepoi bertiup perlahan, menerpa tengkuk Purbo yang hanya mengenakan kaos putih tipis. Sensasi dingin membuatnya merinding. Kabut tetap menjadi suguhan utama di sepanjang jalan desa Ebuh.

"Mbah Modo tinggal sendirian di rumah itu Yang?" tanya Purbo sambil mengusap usap tengkuknya.

"Ada rewang nya Mas. Yang bantu bantu masak, beberes, dan pekerjaan rumah lainnya. Nah itu rewangnya Mbah Modo," Dini menunjuk sosok laki laki yang memakai ikat kepala berwarna hitam.

"Namanya Japra," lanjut Dini.

Japra terlihat membungkuk menyambut tamu majikannya.

"Mbah Modo ada kan?" tanya Mak Nah.

"Ada Mak. Njenengan semua sudah ditunggu," jawab Japra, sesekali mencuri pandang pada Purbo. Purbo sadar sedang diperhatikan oleh laki laki berbadan tambun itu.

Mak Nah berjalan mendahului, sedangkan Purbo dan Dini berjalan beriringan mengekor Mak Nah. Halaman rumah Mbah Modo berupa tanah yang berwarna merah maroon, serupa dengan warna batu bata.

"Hei, kamu udah janjian kah sama Mbah Modo kalau mau berkunjung?" tanya Purbo sambil memperhatikan langkahnya.

"Nggak lah Mas," bantah Dini.

"Kok kata rewangnya tadi, Mbah Modo sudah nungguin kita? Tahu darimana kita akan berkunjung?" tanya purbo penasaran.

"Ya Mbah Modo memang seperti itu Mas. Weruh sakdurunge Winarah. Tahu sebelum ada yang memberi tahu," jawab Dini sambil tersenyum.

"Hah? Bisa begitu ya," Purbo garuk garuk kepala.

"Itu namanya waskita Mas. Individu yang sudah pada tingkatan tinggi secara ilmu dan kebatinan," sambung Dini.

"Eh, ngomong ngomong rewangnya Mbah Modo, siapa tuh namanya? Japra ya? Kok melihat aku kayak gitu Yang? Aneh," ucap Purbo setengah berbisik.

"Anehnya gimana Mas?" tanya Dini.

"Ya kayak lihat orang asing. Kayak aku tuh dari planet lain gitu, se aneh itu ya rupa wajahku?" Purbo mengusap usap wajahnya sendiri. Dini hanya tersenyum.

Mak Nah, Purbo dan Dini sampai di teras rumah Mbah Modo. Pintu utama nampak gagah, tinggi dan lebar dengan ukiran bergambar dua ekor harimau. Mak Nah melepas alas kakinya, diikuti oleh Purbo dan Dini.

Mak Nah mendorong pintu perlahan. Pintu tidak dikunci dan langsung terbuka, menunjukkan kondisi ruang tamu sang pemimpin desa Ebuh.

"Kok main buka pintu, tanpa mengucap salam sih Yang?" tanya Purbo memprotes.

"Sstt. . .Mas ngikut saja!" Dini meletakkan telunjuk di bibirnya, meminta Purbo untuk diam.

Bangunan yang mirip dengan rumahnya sendiri, itulah kesan Purbo saat melihat ke dalam ruang tamu. Empat pilar penyangga berbahan kayu jati berdiri kokoh di tengah ruangan. Kursi yang juga terbuat dari kayu jati, dengan busa tebal di bantalan duduknya.

Seorang laki laki duduk di salah satu kursi, menatap kedatangan Mak Nah, Purbo dan Dini. Laki laki itu memakai baju lurik gelap dengan celana hitam. Blangkon berwarna cokelat terpasang di kepala, sementara tangan kanannya menggenggam tongkat kayu dengan pegangan bergambar harimau.

"Sugeng enjing Mbah Modo. Ngaturaken sembah pangabekti kawula," Mak Nah berjongkok mencium punggung tangan laki laki yang duduk santai di kursi ruang tamu itu.

Purbo cukup kaget dengan apa yang dilihatnya. Orang yang dipanggil Mbah Modo itu, sang pemimpin desa Ebuh tak sesuai dengan bayangan di benak Purbo. Awalnya Purbo mengira Mbah Modo seorang kakek tua renta dengan kumis dan jenggot yang panjang.

Ternyata orang yang dipanggil Mbah Modo itu belum terlalu tua. Dari yang terlihat, mungkin usianya tak lebih dari 50 tahun. Bahkan jika diperhatikan, masih nampak lebih tua Mak Nah daripada Mbah Modo.

"Apa kamu heran, orang yang dipanggil Mbah ternyata belum cukup tua di penglihatanmu?" Mbah Modo terkekeh menatap Purbo yang diam mematung. Suara Mbah Modo terdengar serak dan parau seperti seorang kakek kakek.

"Mas, salim," perintah Dini yang sudah selesai mencium punggung tangan Mbah Modo.

Purbo tersenyum kikuk, kemudian meniru Mak Mah dan Dini, bersalaman dan mencium punggung tangan sang pemimpin desa Ebuh.

"Mari silahkan duduk," ucap Mbah Modo pada para tamunya.

Mak Nah mengambil duduk di dekat Mbah Modo. Sementara Purbo dan Dini duduk berderet agak jauh dari kepala desa itu.

"Nduk, gimana dengan kehamilanmu? Lancar kan?" tanya Mbah Modo pada Dini.

"Lancar Mbah, dedeknya makin pinter. Seringkali nendang nendang," jawab Dini dengan mata berbinar.

Purbo diam saja. Indera penciumannya menghirup aroma wangi yang aneh. Hidung Purbo kembang kempis, berusaha menebak aroma apa itu. Dan akhirnya dia ingat. Aroma itu tak lain adalah wangi daun pandan.

"Ngger, aku dengar kamu tiba tiba saja lupa dengan kehidupanmu. Benarkah itu?" tanya Mbah Modo beralih menatap Purbo.

"Ah iya Mbah. Aku hanya mengingat istriku saja. Selain itu, aku lupa semuanya," jawab Purbo sedikit gelagapan.

"Ngger, hidup itu dimulai dari ketidaktahuan dan lambat laun akan menjadi tahu. Tidak perlu mencari tahu apa yang sudah terlupa. Yang penting sekarang adalah menciptakan kebahagiaan untuk orang orang terkasih di sekitarmu," ucap Mbah Modo kalem. Suaranya terdengar menentramkan dan merasuk ke dalam hati.

"Mbah mohon maaf, kedatangan kami kemari sebenarnya ingin meminta tolong agar Mbah Modo berkenan memberi pageran pada Tuan Purbo," ucap Mak Nah.

"Apakah ada yang mengganggumu Ngger?" tanya Mbah Modo masih menatap Purbo.

"Beberapa kali aku merasa asing, aneh, dan ada suara suara di kepalaku Mbah. Bahkan aku melihat penampakan penampakan yang entah bagaimana hanya aku yang mengalaminya," jelas Purbo.

Mbah Modo segera berdiri menggenggam tongkatnya. Dengan tubuh yang gemetar Mbah Modo mendekati Purbo. Aroma pandan semakin menyengat menusuk hidung Purbo kala sang pemimpin desa berdiri di hadapannya.

Sebuah cincin dengan batu akik berwarna hijau tersemat di jari telunjuk kiri Mbah Modo. Perlahan, Mbah Modo menyentuhkan batu akik itu ke dahi Purbo. Sensasi dingin langsung terasa. Purbo pasrah dengan perlakuan dari Mbah Modo.

"Semua itu hanya prasangka Ngger. Nanti malam akan kubuatkan pageran padhang ati. Besok biar Japra antarkan ke tempatmu," ucap Mbah Modo sambil tersenyum.

Dini menoleh pada Mak Nah, dibalas anggukan kepala yang entah apa maksudnya.

"Kalau begitu, saya dan Mas Purbo mohon pamit ya Mbah," ucap Dini kemudian.

"Oh iya Nduk," sahut Mbah Modo.

Purbo yang sedikit bingung, kenapa tiba tiba istrinya berpamitan hanya bisa diam dan menurut. Purbo membungkuk menyalami Mbah Modo dan berjalan keluar rumah.

"Kenapa buru buru Yang?" bisik Purbo ketika sudah sampai di luar rumah.

"Aku lapar Mas," jawab Dini beralasan.

Japra terlihat berdiri mematung di halaman depan. Saat Purbo dan Dini berjalan melewatinya, laki laki itu terus memperhatikan Purbo dengan tatapan yang aneh. Dia terus mengamati Purbo dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Sementara itu setelah Purbo dan Dini pergi, Mak Nah segera bersimpuh di bawah kaki Mbah Modo.

"Bagaimana kondisi janin itu Mak?" tanya Mbah Modo. Raut wajah yang awalnya terlihat kalem kini berubah menyeramkan.

"Baik Mbah. Selama perasaan perempuan itu betah dan bahagia disini saya pikir semua akan lancar," jawab Mak Nah dengan tertunduk.

"Ada yang berusaha mengganggu. Laki laki itu sepertinya bukan keturunan orang sembarangan," Mbah Modo menghentakkan tongkatnya. Terlihat dari sorot matanya, sang kepala desa tengah diliputi perasaan cemas.

Bersambung___

1
Aris Satria
ceritanya top markotop bikin adrenalin terpacu
Alexander
sedangkan mbah modo berpesan agan purbo dan mbah kusworo jangan pernah kembali lagi ke desa ebuh.
Alexander
masalahnya tidak ada pesan supaya oleh oleh itu hanya boleh dimakan hasan.
Alexander
padahal tidak sepenuhnya begitu. dini hanya numpang ikut.
Alexander
pisangnya sudah diberikan, walau bukan ke sani tapi ke hasan. kalau hasannya mau ngasih itu ke temennya berarti bukan berati temen hasan memakan yang bukan haknya. emang demit ahlinya melintir fakta. menjebak manusia.
Alexander
rupanya ceking bermaksud baik.
Alexander
bukannya mbah yon sudah pernah ketemu purbo ?
Alexander
bukankah rambut mbah yon masih berwarna hitam di usia senjanya ? ini mbah yon yang menyapu di halaman belakang rumah purbo kan ?
Alexander
pencahayaan dari petromax itu cukup terang, apalagi untuk area seukuran tenda camping.
Alexander
di dalam tenda camping, tidak bisa sampai berdiri.
Alexander
dini kuntiilanak yang mencoba berubah jadi manusia 🤣
Alexander
mandi air panas ?
Alexander
hujan deras ? bukankah kemarin hanya mendung tebal saja yang menggantung, tanpa hujan ?
Alexander
Astaghfirullah .. sejak kapan ada jamu amnesia terbuat dari darah
Alexander
jangan jangan memang kampung demit
Alexander
apakah purbo sebenarnya belum menikah ? dia mengalami kecelakaan lalu diperdaya oleh demit wanita bernama dini.
Alexander
sampai sini aku menduga purbo mengalami kecelakaan bersama istrinya. lalu tersesat di dunia lain
Alexander
mencurigakan.
Alexander
rumah kayu jati di tengah hutan yang didominasi mahoni, sengon dan akasia.
Alexander
kenapa kelebihan uangnya untuk membeli mobil ? alangkah baiknya untuk menambah membeli tanah di wilayah yang tidak terlalu terpencil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!