"Berjanjilah kau tidak akan pernah mencintai siapa pun. Cinta adalah kelemahan terbesar yang ada."
Kalimat itu diucapkan ibunya di malam terakhir sebelum wanita itu mati bersimbah darah. Sejak hari itu, Nikolai Ivanov menjadikan janji tersebut sebagai hukum. Kini, di usia tiga puluh delapan, ia menguasai kegelapan Bratva dengan tangan dingin — tak kenal ampun, tak kenal cinta.
Sampai sebuah aliansi memaksanya menikahi Helena Lombardi.
Delapan belas tahun, putri keluarga mafia Italia, dan cukup naif untuk percaya bahwa ia bisa mencairkan pria sedingin es. Helena datang dari negeri hangat menuju istana bersalju yang terasa lebih seperti sangkar emas — ditinggalkan, diabaikan, dan diperlakukan seolah sekadar bagian dari sebuah kontrak.
Namun gadis yang mereka kira lemah ini tidak menangis lalu menyerah. Ia melawan dengan caranya sendiri: dengan keheningan yang berbahaya, dengan keberanian yang menantang, dengan hati yang menolak padam.
Dan tanpa disadari sang penguasa Bratva, dinding es yang ia bangun selama tiga puluh dua tahun mulai retak — satu tatapan, satu sentuhan, satu malam pada satu waktu.
Tapi di dunia tempat cinta dianggap kelemahan, jatuh cinta bisa berarti kematian. Musuh selalu mengintai. Pengkhianatan bersembunyi di tempat yang paling tak terduga. Dan ketika masa lalu berdarah Nikolai datang menagih, ia harus memilih: mempertahankan janji lama pada mendiang ibunya… atau mempertaruhkan segalanya demi satu-satunya perempuan yang berhasil merenggut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Ketiadaan
Nikolai
Aku di klub malam.
Cahaya menyayat udara, tubuh-tubuh bergerak mengikuti irama musik, berkeringat, saling menempel, hampa. Tawa yang terlalu keras, tatapan yang tak bermakna apa pun. Semuanya berputar dalam kelebihan yang seharusnya mengalihkan perhatianku… tapi tak berhasil.
Aku minum.
Satu gelas demi satu gelas.
Alkohol itu turun membakar, dan kubiarkan. Aku ingin ia membakar. Aku ingin ia menghapus. Aku ingin merenggut Helena dari dalam sistemku seakan ia virus yang menyerbu masuk tanpa izin.
Tapi tak ada gunanya.
Di antara satu tegukan dan yang lain, kulihat wajahnya pada segala hal. Pada rambut seorang perempuan asing. Pada cara perempuan lain memiringkan kepalanya. Pada piano khayalan yang masih bergema di kepalaku.
Kuremas gelas terlalu kuat.
"Lagi," gumamku pada bartender.
Sebelum gelas itu kembali ke tanganku, seseorang mengambilnya.
Tatiana.
Ia mencengkeram pergelangan tanganku dengan mantap, tatapannya keras, tanpa kesabaran untuk sebuah pertunjukan.
"Cukup, Nikolai."
Kutarik tanganku, tapi ia tak melepaskannya.
"Kau harus pulang," ucapnya, tajam. "Sekarang."
Kulepas tawa getir.
"Rumah?" ulangku. "Tak ada rumah tanpa dirinya."
Tatiana tak berkedip.
"Yang ada adalah kau yang menghancurkan diri di sini," jawabnya. "Dan itu takkan membawa apa pun kembali."
Kupandang lagi sekeliling. Musik, orang-orang, kehampaan. Semuanya terasa terlalu palsu, terlalu jauh.
Alkohol tak menghapus Helena.
Hanya membuat ketiadaannya semakin nyata.
Kulepaskan gelas itu untuk selamanya.
Dan, untuk pertama kalinya malam itu, bukan minuman yang membebani.
Melainkan ketiadaannya.
Tatiana menyeretku menyusuri lorong Secret. Ia menutup pintu di belakang kami cukup keras untuk memutus suara klub. Keheningan yang tersisa nyaris terasa ganas.
Ia menuntunku ke ranjang bagai menangani seseorang yang terluka. Aku duduk tanpa melawan. Kepalaku berat, tubuhku berat, semuanya berat.
Ia berjongkok dan melepaskan sepatuku. Sebuah gerakan sederhana. Lama. Nyaris terlalu intim untuk malam ini.
"Aku tak tahu mengapa kau menyuruhnya pergi," Tatiana memulai, suaranya pelan, tapi sarat makna.
"Hanya untuk jadi seperti ini?"
Kuangkat wajah perlahan.
"Kau tak mengerti."
"Kalau begitu jelaskan padaku," ia menyanggah, tegas. "Karena, seperti keadaanmu sekarang, ini sama sekali tak masuk akal, Nikolai."
Kuusap wajahku dengan kedua tangan. Kurasakan kelelahan tertancap sampai ke tulang.
"Dia membohongiku."
Tatiana menegakkan tubuh, menyilangkan lengan.
"Dia melakukan kesalahan. Aku tak menyangkalnya. Tapi kau tak hanya mengusir sebuah kebohongan. Kau mengusir perempuan yang kaucintai."
Kata mencintai itu menghantam bagai pukulan.
"Aku tak seharusnya mencinta," jawabku, serak. "Ibuku membuatku berjanji."
Kulepas tawa kering.
"Aku melanggar janji itu… dan Helena menghancurkan apa yang tersisa dariku."
Tatiana mendekat, duduk di tepi ranjang.
"Tidak," ucapnya, dengan ketenangan yang keras. "Kaulah yang sedang menghancurkan dirimu sendiri sekarang."
Aku tak tahu di titik mana aku tertidur. Aku hanya terlelap. Tanpa mimpi. Tanpa bayangan. Seakan seseorang mematikan semuanya dengan paksa.
Aku terbangun dengan kepala yang terasa mau meledak. Rasa pahit alkohol masih tertahan di mulut. Cahaya yang menyusup dari celah tirai terasa terlalu kejam untuk pagi ini.
Beberapa detik kubutuhkan untuk mengingat di mana aku berada.
Secret.
Ranjang yang bukan milikku.
Kehampaan di sisiku.
Bahkan sebelum aku sempat membuka mata dengan benar, kudengar ponsel bergetar di suatu sudut. Suaranya bergema, memaksa, menembus tengkorakku.
Kucari dengan meraba-raba. Kujatuhkan sesuatu ke lantai. Ketika akhirnya kutemukan perangkat itu, panggilannya terputus.
Hening.
Layar menyala penuh notifikasi.
Natalia.
Natalia lagi.
Pesan-pesan.
Panggilan tak terjawab.
Dadaku sesak sejenak. Refleks yang bodoh. Terlalu manusiawi.
Kukunci layarnya.
Aku lebih memilih mengabaikannya.
Karena jika kudengar suaranya, ia akan menyebut nama Helena.
Dan aku tak punya tenaga untuk menyangga nama itu hari ini.
Aku duduk perlahan di ranjang. Tubuhku sakit seakan aku baru saja dipukuli. Mungkin memang. Oleh diriku sendiri.
Kusisir rambut dengan tangan, kutarik napas dalam-dalam.
Hari ini seharusnya aku merasa lega.
Ia telah pergi.
Masalahnya sudah "beres".
Tapi yang kurasakan hanyalah keheningan yang terlalu berat.
Sebuah imperium yang utuh…
Dan tak ada satu tempat pun yang ingin kutinggali.
Aku keluar dari Secret tanpa menoleh ke belakang. Lorongnya terasa lebih sempit hari ini. Udaranya berat. Setiap langkah bergema seakan tempat ini ingin mengingatkanku pada apa yang berusaha kutenggelamkan di dalamnya.
Di tempat parkir, mesin mobil meraung terlalu keras. Bagus. Suara itu membantuku untuk tak berpikir.
Bekerja.
Itulah yang kutahu cara melakukannya.
Itulah yang tak pernah meninggalkanku.
Aku sampai di kantor sebelum semua orang. Gedung itu masih tertidur, tapi aku tidak. Aku tak pernah benar-benar tidur. Kubuka ruanganku, kulempar jas ke kursi, kulonggarkan dasi, dan kunyalakan komputer.
Kontrak.
Angka.
Rute.
Muatan.
Semuanya pada tempatnya. Semuanya patuh.
Kuberi perintah singkat. Dingin. Presisi. Pada suatu titik Tatiana masuk, mengamatiku dalam diam. Ia terlalu mengenalku untuk bertanya apa kabarku.
"Aku butuh kau utuh hari ini," ucapnya, hanya itu.
Aku mengangguk.
Rapat demi rapat berlangsung. Kutandatangani dokumen tanpa membacanya dua kali. Kuperbaiki kesalahan yang tak dilihat siapa pun. Kulakukan tiga panggilan internasional. Kuselesaikan sebuah masalah di pelabuhan yang bisa berujung perang.
Berhasil.
Selama aku memegang kendali, tak ada Helena.
Tak ada Italia.
Tak ada hasil tes positif, kontrak yang dilanggar, hati yang dikhianati.
Hanya ada aku…
Dan kendali.
Tapi pada satu jeda yang terlalu singkat, ketika ruangan menjadi kosong dan telepon berhenti berdering, pandanganku jatuh pada layar ponsel yang mati.
Natalia tak menelepon lagi.
Dan, entah karena alasan bodoh apa, itu justru lebih menyakitkan daripada jika ia meneleponku.
Kukepalkan tangan kuat-kuat.
Aku kembali bekerja.
Karena merasakan…
bukanlah pilihan sekarang.