Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang kampung
Setelah selesai shalat Shubuh, Zain dan Tiyas siap-siap untuk berangkat pulang kampung. Kali ini mereka akan naik pesawat. Jadi mereka pergi ke Bandara diantar supir.
Sebelum berangkat mereka berpamitan kepada orang rumah. Kebetulan saudara Zain masih menginspirasi di rumah itu. Jadi selain keoada orang tua Zain, mereka juga pamit kepada saudara Zain.
"Hati-hati ya, salam untuk Indri dan keluarganya." Ujar ummi.
"Iya, ummi. InsyaAllah akan disampaikan."
"Tante, aku pingin sekali ikut tapi sekolahku masuk. Pingin main-main di sungai, lari-lari di pinggir sawah, pasti seru." Sahut anak Alya.
"Iya kapan-kapan kalau begitu ya. "
"Iya tante. "
Setelah berpamitan, mereka keluar rumah. Yang lain ikut mengantar sampai depan rumah.
Singkat cerita, Zain dan Tiyas sudah berada di dalam pesawat. Untuk kali ini Tiyas sudah mulai terbiasa dibandingkan saat pertama kali naik pesawat.
Satu jam kemudian, pesawat langsung di Bandara Semarang. Mereka turun dari pesawat sekitar jam 7.30. Mereka dijemput oleh Pak Jali. 30 menit yang lalu Pak Jali sudah sampai di Bandara. Setelah mengambil tas dan kopernya, Zain dan Tiyas pun keluar. Nampak dari kejauhan Pak Jali melambaikan tangan. Mereka pun menghampirinya.
"MasyaAllah, apa kabar mas Zain, mbak Tiyas?"
"Alhamdulillah kami sehat, Pak. "
"Wah, sepertinya angin Surabaya cocok buat mbak Tiyas. Buktinya mbak Tiyas sekarang tambah isi. Benar tudak?"
"Nggih, Pak. Tapi lebih tepatnya saya berada dalam keluarga yang penuh kasih sayang, masyaAllah." Ujar Tiyas dengan penuh semangat sambil melirik suaminya. Zain pun mengulum senyum.
"Alhamdulillah kalau begitu. Bapak ikut senang."
Mereka berjalan ke parkiran dan masuk ke dalam mobil. Pak Jali melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
2 jam kemudian.
Mereka akhirnya sampai di kampung Tiyas. Rasa haru mulai terasa dalam diri Tiyas. Ia tidak menyangka akan meninggalkan tempat kelahirannya itu untuk hidup barunya. Namun ia juga senang karena bisa kembali dengan keadaan yang lebih baik.
Di rumah Tiyas sudah ada Indri dan ibunya yang sedang menunggu. Mereka sudah diberitahu oleh Tiyas bahwa dirinya akan pulang hari ini. Indri dan ibunya sangat senang saat melihat mobil datang. Tiyas dan Zain turun dari mobil.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. "
Lantas Tiyas langsung memeluk Indri. Dua sahabat itu kini sedang melepas rindu. Hampir satu bulan mereka tidak bertemu. Setelah melepas pelukannya, Tiyas mencium punggung tangan ibu Indri lalu memeluknya juga.
"MasyaAllah, yas. Bibi kira tadi bukan kamu lho."
"Dikira siapa, bi'? "
"Istrinya Bupati."
"Bibi bisa saja. Masa' iya toh?"
"Lho tenan kok. Tambah gemuk, tambah bersih dan cantik. Pasti hidupmu enak."
"Alhamdulillah, bi."
Zain juga menyapa Indri dan ibunya.
"Oh ya mari duduk dulu, pak Jali. Kami sudah buatkan minum."
"Oh iya, bu. Wah memang kebetulan saya haus, hehe... "
Mereka pun duduk di teras. Indri membawa minuman dan jagung rebus ke teras.Zain membawa masuk koper dan tas bawaannya. Tiyas ikut masuk melihat keadaan rumahnya. Ia sangat merindukan rumah itu. Rumahnya terlihat bersih dan rapi. Itu berarti Indri dan ibunya benar-benar merawat dan menjaganya.
"Indri, bibi, makasih ya kalian sudah membantuku merawat rumah ini. Meski tidak ditinggali, rumah ini terlihat bersih dan rapi berkat kalian."
"Iya yas, sama-sama. Kami juga berterima kasih karena sudah diberi kepercayaan untuk menjaga rumah ini. Toh kami juga dibayar sama kamu. Jadi kami merasa punya tanggung jawab penuh atas tugas kami. Anggap saja ini pekerjaan kami." Sahut Ibu Indri.
"Iya, yas. Padahal nggak usah dikasih uang pun, kami akan tetap menjaga rumah ini lho." Sahut Indri.
"Hem... ndak pa-pa, itu bonus dari suamiku."
"Cie... yang udah cinta sama suaminya."
"Apaan sih." Tiyas tertunduk malu karena dilirik suaminya.
Tidak lama kemudian Pak Jali pamit pulang karena masih ada urusan. Zain mengucapkan terimakasih kasih kepada Pak Jali.Zain masuk ke dalam rumah karena ia ingin memberi waktu kepada istrinya bersama sahabatnya melepas rindu. Meski Tiyas akan menginap beberapa hari di sini, namun Zain tahu waktu yang akan Riyas habiskan dengan Indri tidak akan cukup.
Karena asiknya bercerita, tidak terasa Adzan Dhuhur berkumandang. Indri pamit pulang kepada Tiyas. Ia juga tidak enak berlama-lama di rumah Tiyas karena sekarang status Tiyas sudah berbeda.
Setelah Indri pulang, Tiyas masuk ke dalam. Ia melihat suaminya susah rapi memakai sarung dan kemeja lengan pendek.
"Mau shalat, mas?"
"Iya ke masjid."
"Ndak pa-pa sendirian?"
"Ya nggak pa-pa lah. Aku masih ingat jalannya kok. Kamu takut ada yang culik aku?"
"Ah ndak juga. Lagian mas sudah besar, siapa yang mau menculik?"
Zain terkekeh.
"Ya sudah aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum.. "
"Wa'alaikum salam."
Sambil menunggu suaminya pulang, Tiyas membereskan barang-barangnya. Sebelumnya ia sudah menanak nasi. Sedangkan untuk lauk pauknya ia tidak memasak siang ini karena dibawakan ummi beberapa lauk seperti abon daging, sambal goreng tempe kering dan sambal cumi.
15 menit kemudian, Zain datang dari Masjid. Karena cuaca cukup panas, Zain minum sisa es yang dibuatkan ibu Indri tadi.
"Mas, ganti baju dulu lalu makan. Aku akan menyiapkan makanan nya."
"Siap! "
Zain masuk ke dalam kamar lalu mengganti kemejanya dengan kaos. Setelah itu ia keluar lagi. Mereka berdua menikmati makan siang sambil melihat pemandangan sawah hijau di depan sana.
Di Surabaya.
Zean sedang makan siang di ruangannya. Hari ini ia malas keluar karena cuacanya sangat panas. Tiba-tiba handphone nya bunyi. Ternyata Pak Hilman yang menghubunginya. Jelas Zean lansung mengangkatnya. Ternyata Pak Hilman mengundang Zean dalam acara tasyakuran umroh sekaligus ulang tahun Rafli. Undangan tersebut adalah permintaan dari Rafli.
"Hanya acara kecil-kecilan saja, Pak. Semoga bapak bisa menghadirinya."
"InsyaAllah, Pak. Kapan acaranya? "
"Besok besok malam, pak."
"Baik, pak Hilman, Terima kasih sidang mengundang saya."
"Sama-sama, pak."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Belum juga Zean bergerak namun Allah sudah menggerakkan orang lain untuk mendekatkannya dengan Hilda.
"Yes yes yes, Zean ini kesempatanmu."
Akhirnya saat pulang dari kantor Zean mampir ke sebuah toko mainan untuk membeli kado yang akan ia bawa besok malam. Ia sengaja mebelinya hari ini, karena besok ia tidak mungkin bisa. Zain memilih beberapa mainan sekalian dibungkus. Total mainan yang ia beli hampir dua juta rupiah. Setelah selesai belanja mainan, ia meninggalkan toko tersebut dan masuk ke dalam mobil.
"Semoga Rafli dan bundanya suka. Rafli suka mainannya, dan bundanya suka yang bawa mainan. Haha.... bisa saja aku ini."
Zean tancap gas menuju jalan pulang.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...