Lily seorang anak yang ditinggal berpisah oleh kedua orang tua nya. tetapi suatu saat, kedua ortunya saling menikah lagi. saat itu ia ikut dengan ibunya, suatu hal yang tak disangka oleh Lily. Ayah tiri nya ternyata mempunyai niat buruk pada nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unaa, isi konten hanya pandangan pribadi pembuatnya tidak mewakili NovelToon sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiara lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Tanah dan Kenangan Lama
Mesin mobil tua milik Ibu batuk-batuk dua kali sebelum akhirnya menyala dengan dengungan berat. Suara itu kontras sekali dengan deru halus mesin sedan mewah Ayah yang biasa mengantarkan Lily ke sekolah setiap pagi. Namun, bagi Lily, suara kasar mesin Toyota Kijang tahun 2010 itu terdengar lebih jujur. Tidak ada kepalsuan di balik kap mesin yang berkarat di beberapa bagian.
“Kamu yakin bawaanmu cukup, Lil?” tanya Ibu sambil mengecek spion samping, memastikan tidak ada barang yang tertinggal di teras rumah lama mereka. Rumah itu kini tampak kosong, jendelanya tertutup tirai putih yang kaku, seperti mata yang telah tertutup selamanya.
Lily mengangguk, merapikan tali tas ranselnya yang sudah penuh sesak. “Cukup, Ma. Aku cuma bawa baju seperlunya dan buku-buku. Sisanya… biarlah di sana.”
Ibu tersenyum tipis, senyum yang masih terlihat lelah namun mulai menemukan kembali cahayanya. Ia menepuk pipi Lily sekilas sebelum memindahkan tuas persneling. Mobil bergerak perlahan meninggalkan kompleks perumahan elit tempat mereka tinggal selama lima tahun terakhir. Semakin jauh jarak yang mereka tempuh, semakin jarang gedung-gedung tinggi muncul. Pemandangan berubah menjadi deretan ruko kecil, pasar tradisional yang mulai ramai, dan akhirnya, jalanan aspal yang berlubang-lubang dikelilingi pepohonan rindang.
Satu jam kemudian, mereka tiba di sebuah gang sempit di pinggiran kota. Di ujung gang, berdiri sebuah rumah kayu bergaya Jawa kuno dengan halaman luas yang ditanami berbagai jenis tanaman obat. Pagar bambu yang sudah menguning menyambut mereka. Ini adalah rumah Nenek Surti, ibu dari Ibu Lily. Tempat di mana Ibu menghabiskan masa kecilnya, dan tempat di mana Lily sering berkunjung saat liburan sekolah dulu—sebelum kesibukan Ayah membuat liburan pun menjadi sekadar janji kosong.
Begitu pintu gerbang dibuka, aroma khas langsung menyergap indera penciuman Lily. Campuran aroma tanah basah setelah hujan, daun pandan wangi, dan asap kayu bakar dari dapur. Aroma yang sangat berbeda dengan wangi pengharum ruangan *lavender* mahal di rumah lamanya.
“Lily! Cucu Nenek!”
Seorang wanita berusia enam puluhan dengan rambut putih yang disanggul rapi dan mengenakan kebaya sederhana berlari kecil dari teras. Wajahnya keriput, namun matanya berbinar cerah. Nenek Surti membuka pelukannya lebar-lebar.
Lily terhanyut dalam pelukan itu. Tubuh Nenek kecil dan kurus, namun pelukannya kuat dan hangat. Air mata Lily yang tadi sudah kering, kembali menggenang.
“Nenek…” bisik Lily, suaranya tercekat.
“Sudah, sudah. Jangan nangis di depan pintu,” kata Nenek sambil mengelus punggung Lily. “Masuk, masuk. Sudah lama Nenek nggak lihat kamu segendut ini. Pasti kurang makan di sana, ya?”
Ibu turun dari mobil, membawa dua koper besar. “Ma, jangan dimarahi dulu. Dia memang pilih-pilih makanan,” canda Ibu, meski nada bicaranya terdengar lega melihat interaksi antara anak dan ibunya.
Mereka masuk ke dalam rumah. Interior rumah Nenek sederhana namun tertata rapi. Lantai kayu yang dipoles hingga mengkilap, lemari kaca berisi piring-piring antik, dan foto-foto hitam putih yang tergantung di dinding. Tidak ada televisi layar lebar, tidak ada *gadget* canggih yang berserakan. Hanya ada ketenangan.
“Kamar Lily sudah Nenek siapkan di kamar belakang, dekat jendela supaya anginnya sejuk,” kata Nenek sambil menunjuk ke arah lorong. “Nenek tahu kamu suka baca buku, jadi Nenek bersihkan rak buku lama Nenek buat kamu.”
Lily mengikuti Nenek ke kamarnya. Kamar itu kecil, hanya muat untuk satu tempat tidur kayu tunggal dan meja belajar sederhana. Namun, jendela besar yang terbuka menghadap ke halaman belakang membuat ruangan terasa luas dan penuh cahaya. Angin sepoi-sepoi masuk, menerbangkan tirai tipis berwarna krem.
“Ini… bagus sekali, Nek,” ujar Lily tulus. Ia meletakkan tasnya di atas kasur yang dilapisi seprai bermotif bunga-bunga kecil. Kasurnya tidak empuk seperti kasur *spring bed* mahalnya, tapi baunya bersih dan segar.
“Bagus apanya? Ini rumah tua,” kelakar Nenek. “Tapi ingat, Lil. Rumah bukan soal seberapa mahal perabotannya. Rumah adalah tempat di mana hatimu merasa tenang. Kalau di sini kamu merasa tenang, berarti ini rumah yang bagus.”
Kalimat Nenek itu menampar kesadaran Lily. Selama ini, ia mengukur kenyamanan dari kemewahan. Kini, ia belajar bahwa kenyamanan bisa datang dari hal-hal paling sederhana: angin sore, suara burung gereja, dan kehadiran orang-orang yang benar-benar peduli.
Malam harinya, mereka makan bersama di ruang tengah. Meja makan kayu jati yang rendah menjadi pusat kegiatan mereka. Menu malam itu sederhana: nasi hangat, ikan asin goreng, sambal terasi, dan sayur bayam bening. Tidak ada steak, tidak ada pasta, tidak ada minuman bersoda.
“Enak banget, Bu,” puji Lily sambil menambah nasi untuk kedua kalinya. Perutnya yang biasanya manja dengan makanan restoran, kini menikmati rasa gurih alami dari masakan Nenek.
Ibu tersenyum, menyuapkan sedikit sayur ke piring Lily. “Makan yang banyak. Di sini kita hidup sederhana, Lil. Uang dari Papa akan Nenek simpan sebagian untuk tabungan kuliahmu nanti. Sisanya, kita gunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Kita harus belajar berhemat, tapi bukan berarti kita menderita.”
Lily mengangguk. Ia menyadari bahwa Ibunya terlihat lebih hidup. Warna merah muda kembali menghiasi pipinya, dan tawanya terdengar lebih ringan. Di rumah baru (atau sebenarnya rumah lama) ini, beban emosional yang selama ini menekan bahu ibunya seolah terangkat.
Setelah makan, mereka duduk di teras depan. Nenek Surti menyiapkan teh jahe hangat dalam gelas-gelas kaca tebal. Langit malam di pinggiran kota lebih jelas terlihat daripada di pusat kota. Bintang-bintang tampak berkelip, meski tidak sebanyak di pedesaan, namun cukup untuk memberikan harapan.
“Lily,” panggil Nenek pelan. “Nenek tahu apa yang kamu alami itu sakit. Broken home itu bukan aib, Nak. Itu hanyalah kenyataan bahwa dua orang dewasa gagal menjalankan janji mereka. Tapi kamu… kamu tidak gagal. Kamu masih punya kesempatan untuk menulis ceritamu sendiri.”
Lily menatap cangkir tehnya, uap panas mengepul membentuk pola abstrak. “Aku takut, Nek. Takut kalau nanti aku nggak bisa bahagia lagi. Takut kalau nanti aku jadi anak yang pahit dan membenci laki-laki seperti Ayah.”
Nenek tertawa kecil, lalu memegang tangan Lily. Tangan itu kasar karena pekerjaan kebun, namun lembut dalam sentuhannya. “Kebahagiaan itu pilihan, Lil. Bukan warisan. Kamu boleh sedih, boleh marah, boleh kecewa. Tapi jangan biarkan kepahitan itu memakan hatimu. Lihatlah ibumu. Dia memilih untuk bangkit, bukan untuk tenggelam. Dan kamu juga bisa.”
Ibu menyandarkan kepalanya di bahu Nenek, menutup matanya. “Kita akan baik-baik saja, Ma. Aku janji.”
Lily menatap langit malam. Ia memikirkan Ayah, yang mungkin sedang duduk sendirian di apartemen mewahnya, atau mungkin sedang bekerja lembur untuk melupakan kesepian. Lily merasa kasihan, namun ia tahu ia tidak bisa menyelamatkan ayahnya. Ia hanya bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Di sini, di rumah Nenek, dengan suara jangkrik yang bernyanyi dan aroma teh jahe yang menenangkan, Lily merasakan sesuatu yang asing baginya belakangan ini: kedamaian. Bukan kedamaian yang hampa, melainkan kedamaian yang aktif. Kedamaian yang memberinya kekuatan untuk menghadapi hari esok.
“Terima kasih, Nek. Terima kasih, Ma,” bisik Lily.
Nenek mencium kening Lily. “Selamat datang di rumah, cucuku.”
Dan untuk pertama kalinya sejak tiga bulan lalu, Lily benar-benar merasa pulang.