NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Pertemuan Kembali di Kedai Kopi

Langkah kaki Lisa Larasati terhenti mendadak di tengah lalu lalang pengunjung pusat perbelanjaan. Tatapan matanya yang redup dan penuh keletihan perlahan terangkat, mengunci sosok pria yang berdiri tegak beberapa meter di hadapannya. Pria itu memegang tas besar berisi helm baru, mengenakan kemeja bersih yang rapi, dan memancarkan aura ketenangan yang teramat asing dibanding ingatan terakhir Lisa tentangnya.

"Kamu... Dirga?" suara Lisa terdengar serak, hampir berbisik.

Dirga menatap wanita di depannya dengan raut wajah yang tetap terkontrol. Tidak ada keterkejutan berlebihan, tidak ada pula nada menyindir dalam sorot matanya. "Selamat siang, Mbak Lisa."

Lisa mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah ingin memastikan bahwa penglihatannya tidak sedang menipunya. Wajah pucatnya merona tipis karena rasa canggung dan gejolak emosi yang mendadak membuncah di dalam dadanya.

"Bisa... bisa kita bicara sebentar?" tanya Lisa pelan, melirik ke arah sebuah kedai kopi bernuansa hangat yang berdiri tepat di samping koridor utama mal. "Ada hal yang harus saya sampaikan kepada kamu. Tolong."

Dirga mengamati raut wajah Lisa yang memelas sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik, Mbak Lisa. Silakan."

Keduanya melangkah masuk ke dalam kedai kopi tersebut, memilih sebuah meja kayu yang agak terpisah di sudut ruangan demi mendapatkan privasi. Seorang pelayan dengan cepat menghampiri dan mencatat pesanan dua cangkir kopi hangat sebelum akhirnya meninggalkan mereka dalam keheningan yang cukup panjang.

Lisa menundukkan kepalanya, mengusap jemarinya yang saling bertautan di atas meja. Keangkuhan dan dominasi yang dulu terpancar jelas saat kecelakaan di persimpangan jalan itu kini telah runtuh tak berbekas.

"Dirga," buka Lisa dengan nada suara bergetar menahan emosi. "Saya mau minta maaf. Saya sangat, sangat menyesal atas sikap dan ucapan saya saat kita pertama kali bertemu waktu itu."

Dirga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu dengan santai. "Soal tuduhan bahwa saya orang gila dan lancang, Mbak?"

Lisa mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Dirga. "Saya memaki kamu. Saya menyebut kamu liar, penipu, dan menuduh kamu punya niat buruk hanya karena kamu memperingatkan saya tentang Kamar 808 Hotel Grand Paramita. Tapi ternyata..." Lisa menelan ludah dengan susah payah, suara tangisnya hampir pecah. "...semua ucapan kamu benar seratus persen, Dirga. Tepat dua hari setelah kejadian itu, saya mendapati dia di sana... bersama wanita lain."

"Saya tahu," balas Dirga singkat dan datar. "Beritanya sempat menjadi perbincangan nasional di televisi."

"Saya sangat terpukul," aku Lisa jujur, menyapu air mata yang hampir menetes di pipinya dengan ujung jarinya. "Dunia saya serasa runtuh. Pria yang paling saya percayai dan rencanakan untuk masa depan, ternyata memanipulasi saya selama bertahun-tahun. Dan di tengah kehancuran itu, saya baru menyadari betapa bodohnya saya karena telah menghina orang yang justru mencoba menyelamatkan harga diri saya dari kebohongan itu."

"Mbak Lisa tidak perlu memohon maaf sedalam itu," sahut Dirga tenang. "Di posisi Mbak Lisa waktu itu, sangat wajar jika Mbak merasa tersinggung dan tidak percaya. Lagipula, saya tidak menyimpan dendam atas kejadian di jalanan."

Pelayan kedai kopi kembali menghampiri meja mereka, meletakkan dua cangkir kopi hitam yang masih menggepulkan uap hangat sebelum kembali beranjak pergi.

Dirga merogoh tas selempang kulit yang selalu dibawanya kemana-mana. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tertutup rapi, lalu meletakkannya di tengah meja, mendorongnya perlahan ke hadapan Lisa.

Lisa mengerutkan kening, menatap amplop tersebut dengan bingung. "Apa ini, Dirga?"

"Uang ganti rugi sebesar lima puluh juta rupiah yang Mbak Lisa berikan waktu itu," jawab Dirga tegas dan bernada formal. "Jumlahnya utuh, tidak berkurang satu rupiah pun."

Mata Lisa terbelalak kaget. Ia menatap amplop itu, lalu beralih menatap Dirga dengan tidak percaya. "Kenapa kamu mengembalikan uang ini? Bukankah motor kamu hancur karena tertabrak mobil saya? Uang ini adalah hak kamu untuk biaya pengobatan dan ganti rugi semuanya!"

"Motor saya sudah selesai diperbaiki dan dilunasi dari hasil keringat saya sendiri," tegas Dirga, suaranya mengandung bobot harga diri yang teramat kokoh. "Sejak awal, saya menolak uang ini bukan karena saya bersikap sombong, Mbak Lisa. Tetapi karena saya memiliki prinsip bahwa penderitaan dan harga diri saya tidak bisa dinilai dengan lembaran uang kasihan dari siapa pun."

"Tapi Dirga..." Lisa memotong dengan nada serak, mencoba mendorong kembali amplop tersebut ke arah Dirga. "Saya memberikan uang ini murni karena tanggung jawab saya! Kamu saat itu terluka, dan kamu..."

"Saya baik-baik saja Mbak," potong Dirga cepat namun santai, tatapan matanya mengunci Lisa dengan amat tajam. "Saya juga baru saja membeli kendaraan baru secara tunai dari hasil usaha dan investasi saya sendiri. Saya sama sekali tidak kekurangan uang, Mbak Lisa."

Lisa terpaku di tempatnya. Kalimat Dirga bagaikan tamparan tak kasat mata yang membuat dadanya sesak oleh rasa takjub. Di hadapannya kini bukan lagi seorang pengemudi ojek online lusuh yang tak berdaya, melainkan seorang pria yang berdiri di atas prinsip harga diri yang begitu menjulang tinggi.

"Kamu... kamu benar-benar mengembalikannya secara utuh?" bisik Lisa dengan nada takjub yang teramat dalam. "Di saat orang lain mungkin akan memanfaatkan situasi ini untuk memeras saya atau meminta lebih, kamu justru menyimpan uang ini dan mengembalikannya tanpa kurang sedikit pun?"

"Sesuatu yang bukan milik saya tidak akan pernah saya genggam," jawab Dirga pendek. "Jadi tolong terima kembali uang Mbak Lisa ini. Jangan pernah sodorkan uang seperti ini lagi kepada saya."

Lisa menarik napas panjang, menatap amplop cokelat di tangannya dengan jemari gemetar. Rasa kagum dan hormat yang belum pernah ia rasakan kepada pria mana pun kini memenuhi benaknya. Sosok Dirga mendadak bertransformasi menjadi figur yang begitu misterius, kuat, dan penuh wibawa di mata seorang direktur eksekutif Larasati Group tersebut.

"Baik," ucap Lisa pelan seraya perlahan memasukkan amplop itu ke dalam tas mewahnya. "Saya terima kembali uang ini. Tapi jujur, Dirga... saya betul-betul kagum dengan karakter dan harga diri kamu. Saya belum pernah bertemu orang seperti kamu seumur hidup saya."

"Terima kasih atas pujiannya, Mbak Lisa," balas Dirga sopan, lalu meraih cangkir kopinya sendiri untuk menyeruputnya pelan.

Lisa menghela napas panjang, mencoba menetralkan emosinya yang campur aduk. Ia menyandarkan siku di atas meja, meraih cangkir kopi hitam milik dirinya sendiri yang masih hangat. "Kejadian perselingkuhan itu tidak hanya menghancurkan perasaan saya, Dirga, tetapi juga mengacaukan fokus kerja saya di Larasati Group. Saat ini perusahaan keluarga kami sedang memegang beberapa proyek ekspansi bisnis yang sangat krusial, dan pikiran saya benar-benar terpecah."

Dirga memperhatikan jemari Lisa yang melingkari badan cangkir keramik tersebut. Uap panas kopi naik perlahan di antara mereka.

"Dunia bisnis memang penuh tekanan, Mbak," sahut Dirga datar. "Apalagi untuk posisi strategis seperti yang Mbak Lisa pegang."

"Benar," bisik Lisa, memutar-mutar cangkirnya pelan di atas piring alas keramik. "Kami sedang mempersiapkan langkah akuisisi besar untuk memperkuat lini bisnis korporasi. Tapi dalam kondisi mental saya yang seperti ini, saya sering merasa ragu pada keputusan saya sendiri."

Lisa menggeser cangkir kopinya sedikit ke tengah meja, hendak mengangkatnya untuk diminum. Namun sebelum cangkir itu menyentuh bibir Lisa, gerakan jemarinya membuat piring alasnya bergoyang tipis dan hampir terguling dari tepi meja.

Melihat hal itu, refleks spontan Dirga bekerja. Tangannya terulur cepat ke depan, menjangkau dan memegang pinggiran cangkir kopi milik Lisa untuk menahannya agar tidak tumpah ke atas meja.

"Hati-hati, Mbak," ujar Dirga pelan.

Kulit telapak tangan Dirga bersentuhan langsung dengan keramik hangat cangkir kopi tersebut, bersamaan dengan jemari Lisa yang masih menempel di sisinya.

Seketika itu juga, arus listrik hangat yang teramat tajam menyengat dari telapak tangan Dirga, melesat naik menembus saraf lengan dan memicu gelombang kedutan hebat di balik dahinya.

Pandangan mata Dirga mendadak membeku. Suara latar bising kedai kopi, alunan musik santai, dan denting piring di sekitarnya mendadak lenyap ditelan keheningan total.

Mata batin Dirga terbuka secara paksa.

Di dalam benaknya, sebuah visi masa depan yang teramat jernih terhampar luas. Ia melihat sebuah ruang rapat korporasi yang megah berteknologi tinggi dengan logo PT Arisandra Karya—sebuah perusahaan anak atau vendor utama yang sedang dalam proses akuisisi oleh Larasati Group. Di ujung meja rapat, tampak seorang pria paruh baya berjas abu-abu mahal dengan raut wajah licik sedang menandatangani berkas rahasia secara diam-diam. Pria itu adalah Direktur Keuangan internal yang memanipulasi laporan audit dan memalsukan pembukuan utang. Proyek akuisisi bernilai ratusan miliar rupiah tersebut dirancang sebagai jebakan sabotase internal yang akan memicu kerugian finansial fatal dan meruntuhkan Larasati Group dari dalam!

Visi itu berlangsung selama beberapa detik dengan detail angka dan dokumen yang teramat presisi sebelum akhirnya pudar.

Dirga membelalakkan matanya, menghentikan hisapan napasnya sejenak saat kesadarannya kembali menghantam alam nyata. Tangannya masih memegang erat cangkir kopi milik Lisa, sementara raut wajahnya berubah menjadi teramat serius dan dingin.

Lisa yang memperhatikan perubahan mendadak pada ekspresi wajah Dirga mendadak merasa cemas. Ia merasakan cengkeraman tangan Dirga pada cangkirnya begitu kuat dan bergetar tipis.

"Dirga?" panggil Lisa dengan suara cemas, menatap tepat ke dalam manik mata Dirga yang memancar tajam. "Kamu kenapa? Ada apa dengan kamu?"

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!