Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Usai mendapatkan penanganan dari dokter klinik, pergelangan kaki kiri Ji-eun sudah terbalut rapi dengan perban elastis. Beruntung, cederanya tidak terlalu parah, hanya terkilir ringan yang membutuhkan kompres dingin serta istirahat total selama beberapa jam. Dokter menyarankan agar Ji-eun tidak ikut serta dalam aktivitas fisik outdoor sisa hari itu dan merekomendasikannya untuk beristirahat tenang di dalam kamar.
Mengingat kondisi Ji-eun yang stabil dan tidak mengkhawatirkan, agenda retret staf hotel tetap dilanjutkan sesuai jadwal. Gelak tawa dan sorak-sorai riuh dari area lapangan pantai luar masih terdengar samar-samar menembus dinding kamar bernomor 308.
Ji-eun berbaring santai di atas peraduan empuknya, menopang kaki kirinya dengan bantal tinggi. Ia menghela napas lega, bersyukur karena insiden tadi pagi tidak sampai merusak acara besar yang telah disiapkan Tae-jun. Namun, di dalam hatinya, Ji-eun terus teringat raut wajah tegang Tae-jun saat berdiri kaku di atas tribun tadi. Ia tahu betul betapa frustrasinya pria itu ketika terpaksa menahan diri untuk tidak langsung mendekat di depan ratusan pasang mata staf.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan halus pada pintu kamar mendadak memecah keheningan ruangan.
Ji-eun menoleh terkejut ke arah pintu. "Siapa ya?" panggilnya lembut.
Tak ada jawaban suara, hanya tiga kali ketukan pelan kembali terdengar.
Ji-eun menegakkan duduknya. Dengan sedikit kesulitan dan rasa nyut-nyutan yang masih menjalar di angkelnya, ia menurunkan kakinya perlahan dari kasur. Menggunakan dinding dan meja nakas sebagai penopang, Ji-eun melangkah pincang menyusuri lantai karpet menuju pintu depan.
Cklek.
Ji-eun memutar gagang pintu dan membukanya perlahan.
Begitu pintu terdorong sedikit, sosok Seo Tae-jun mendadak muncul di hadapannya. Pria itu berdiri di lorong kamar yang sepi, masih mengenakan kaus polo hitamnya. Kacamata hitam yang tadi pagi menutup matanya kini sudah terselip di saku baju, memperlihatkan sepasang iris mata yang memancarkan kecemasan luar biasa, rasa bersalah, sekaligus dorongan protektif yang teramat pekat.
Sebelum Ji-eun sempat mengucapkan sepatah kata pun, Tae-jun melangkah masuk dengan cepat, menutup pintu kamar rapat-rapat, lalu menguncinya dari dalam.
Tanpa membuang waktu, lengan kokoh Tae-jun langsung terulur merengkuh tubuh Ji-eun ke dalam pelukannya yang teramat erat. Pria itu menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Ji-eun, menghirup aroma wangi rambut kekasihnya dengan helaan napas panjang yang memburu.
"Tae-jun-ssi..." bisik Ji-eun terkejut, namun dengan senang hati melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.
"Maafkan aku," suara berat Tae-jun terdengar bergetar tepat di dekat telinga Ji-eun. "Maafkan aku karena hanya bisa berdiri diam seperti orang bodoh saat kau jatuh dan kesakitan tadi."
Ji-eun mengukir senyum hangat. Ia mengusap punggung Tae-jun lembut, merasakan betapa cepat detak jantung pria di dalam dekapannya ini.
"Kenapa harus minta maaf? Kau sudah melakukan hal yang benar," tutur Ji-eun penuh pengertian. "Kalau kau melompat turun dan membopongku di depan semua staf, rahasia kita pasti terbongkar saat itu juga."
Tae-jun melepas pelukannya sedikit, memegang kedua bahu Ji-eun dan menatap langsung ke dalam matanya.
Tae-jun mengusap pipi Ji-eun dengan ibu jarinya, menyatukan kening mereka berdua dalam kehangatan yang intim. Pendar frustrasi yang menyiksa dadanya sejak pagi baru benar-benar meluruh begitu ia bisa menyentuh dan memastikan keadaan perempuan itu secara langsung.
"Kau benar-benar penyiksa yang hebat, Han Ji-eun," gumam Tae-jun lirih seraya menundukkan kepala, mendaratkan ciuman lembut namun sarat akan rasa rindu dan cemas yang membara di atas bibir Ji-eun.
Ji-eun memejamkan mata, membalas ciuman hangat itu dengan seluruh kelembutan yang ia miliki. Rasa nyeri di kakinya mendadak menguap, berganti dengan luapan kebahagiaan manis yang memenuhi dadanya. Pria yang dikenal dingin dan tak tersentuh oleh ratusan karyawan di luar sana, kini sedang bersimpuh penuh rasa cemas hanya untuk dirinya di dalam ruangan sunyi ini.
Setelah perlahan melepaskan pertautan bibir mereka, Tae-jun menunduk menatap perban elastis yang membalut kaki kiri Ji-eun. Tanpa ragu, pria itu berlutut di lantai karpet di hadapan Ji-eun.
"A-apa yang kau lakukan?" panggil Ji-eun kaget.
Tae-jun tidak menjawab. Dengan gerakan yang sangat telaten dan hati-hati, ia mengangkat tubuh Ji-eun kembali ke dalam bopongannya, kali ini tanpa ada hambatan atau rasa takut akan tatapan orang lain. Ia melangkah menuju tempat tidur, membaringkan Ji-eun dengan kelembutan ekstra, lalu merapikan posisi bantal penopang di bawah kaki Ji-eun.
"Dokter bilang apa?" tanya Tae-jun seraya duduk di tepi kasur, memegangi jemari tangan Ji-eun erat-erat.
"Hanya terkilir ringan," jawab Ji-eun terkekeh pelan melihat keposesifan manis kekasihnya. "Dua hari lagi juga sudah bisa dipakai jalan normal. Kau tidak perlu secemas ini, Direktur Seo."
Tae-jun mendesah pelan, menyandarkan kepalanya di tepi peraduan dekat jemari Ji-eun. "Aku tidak pernah bisa tenang jika itu menyangkut dirimu. Sisa acara hari ini, kau harus diam di kamar. Aku akan menyuruh koki resor memasakkan sup ayam herbal paling berkalori tinggi untuk makan siangmu."
"Tae-jun-ssi, itu berlebihan..."
"Tidak ada bantahan untuk perintah Direktur Utama," potong Tae-jun dengan tatapan mata yang tak bisa diganggu gugat, meski sudut bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat menawan.
Ji-eun menggelengkan kepala terkekeh geli, mengacak rambut rapi Tae-jun dengan jemarinya yang bebas. Di balik pintu kamar yang terkunci rapat dari hiruk-pikuk acara kantor di luar, ketegangan dan rasa frustrasi yang sempat mengepung mereka pagi tadi akhirnya meluruh sepenuhnya, berganti menjadi hembusan kasih sayang yang kian mengakar kuat di antara mereka berdua.
...****************...