Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Jodoh
Vivian yang baru keluar dari Hua Qing menerima panggilan dari Mike.
“Untuk apa dia menghubungiku lagi?” gumam Vivian.
Ia mengangkat telepon.
“Halo, ada apa?” tanya Vivian.
“Vivian, apakah kau sudah pulang dari Hua Qing?” tanya Mike dari seberang sana.
“Katakan saja apa maumu. Biasanya kalau menghubungiku, pasti tidak ada hal baik. Kali ini siapa lagi yang membuat masalah dan harus aku yang berkorban?” tanya Vivian ketus.
“Bukan seperti itu, Vivian. Kau salah paham. Kali ini ada hal yang menguntungkan bagimu. Ada pria kaya yang ingin mencari istri. Dia sudah melihat fotomu dan sangat menyukaimu,” jawab Mike.
“Langsung ke intinya!” ujar Vivian.
“Papa hanya ingin kau bertemu dengannya. Kalian tidak harus langsung menikah. Cukup bertemu dan berbicara dengannya. Kau juga tahu, ganti rugi yang dituntut Yang Group cukup besar. Kalau kau menikah dengan Bowie Lou, dia bersedia berinvestasi ke perusahaan kita,” jelas Mike.
“Kalau dia memang begitu kaya, kenapa bukan putri kesayanganmu saja yang menikah dengannya?” tanya Vivian.
“Kakakmu masih ingin belajar dan tidak ingin menikah. Lagi pula, dia justru tertarik padamu,” jawab Mike.
“Kalau begitu, katakan alamatnya. Aku akan pergi,” kata Vivian.
“Baiklah. Temui dia di Restoran Qing Ren,” jawab Mike.
Vivian langsung memutuskan panggilan.
“Bowie Lou? Lebih baik aku bertanya kepada Kak Jeff terlebih dahulu,” gumam Vivian sambil menekan nomor Jeff.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Halo, Vivian. Ada apa?” tanya Jeff.
“Kakak, apakah Kakak mengenal Bowie Lou?” tanya Vivian.
“Siapa yang tidak mengenalnya? Di dunia bisnis, hampir semua orang tahu siapa dia. Kenapa kau bertanya tentangnya?” tanya Jeff heran.
“Jelaskan tentang dirinya dan kelemahannya,” kata Vivian.
Jeff terdiam sejenak sebelum menjawab.
“Bowie Lou terkenal menyukai wanita cantik dan seksi. Para wanita yang pernah dekat dengannya, ada yang melarikan diri, ada yang meninggal dan ada yang koma. Sejauh yang diketahui, dia baru menikah tiga kali. Tapi ada kerabatnya yang mengatakan dia sebenarnya sudah menikah lebih dari lima kali,” jelas Jeff.
“Apa yang terjadi pada para istrinya?” tanya Vivian.
“Karena nafsu Bowie terlalu tinggi sehingga membuat mereka menderita. Vivian, kenapa kau tiba-tiba tertarik pada pria itu?”
Vivian tersenyum licik.
“Kak Jeff, aku ingin menjadikannya sebagai kakak iparku.”
“Hah? Vivian, apa yang sebenarnya kau rencanakan?”
Namun, Vivian sudah lebih dahulu memutuskan panggilan.
Beberapa saat kemudian, Vivian telah tiba di Restoran Qing Ren.
“Mike Wei dan June benar-benar tega menjodohkan orang seperti itu denganku. Kalau begitu, aku akan menjodohkan dia dengan Vivi saja,” gumam Vivian dengan senyum penuh perhitungan.
Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya bernama Bowie Lou tiba di restoran. Ia melangkah masuk sambil memandang ke sekeliling ruangan.
Vivian segera mengenalinya dari foto yang dikirim ayahnya.
Rambutnya sudah menipis, tubuhnya gemuk, dan penampilannya jauh berbeda dari foto yang diberikan Mike.
“Penampilan aslinya seperti badak. Bahkan lebih buruk daripada Mike Wei,” gumam Vivian dalam hati.
Ia kemudian tersenyum dan melambaikan tangan.
Bowie melihat Vivian dan langsung berjalan menghampirinya. Tatapan puas terlihat di wajahnya.
“Gadis ini cantik sekali,” gumam Bowie.
“Vivian Wei?” tanyanya.
“Iya, Tuan Lou. Silakan duduk,” jawab Vivian dengan ramah.
Bowie duduk di hadapannya.
“Vivian Wei, ternyata kau jauh lebih cantik daripada di foto,” ucap Bowie.
Vivian tersenyum tipis.
“Tuan Lou juga terlihat lebih tampan daripada di foto.”
“Terima kasih. Aku memang masih tampan,” jawab Bowie percaya diri. “Usia hanyalah angka. Jiwa mudaku masih membara.”
Vivian hampir tertawa mendengar ucapan itu, tetapi ia menahannya.
“Aku akan mulai memperkenalkan diriku,” kata Bowie.
“Silakan,” jawab Vivian sambil meneguk minumannya.
“Walaupun usiaku sudah lebih dari lima puluh tahun, aku masih sangat kuat. Dalam satu malam aku bisa melakukannya hingga sepuluh kali."
Mata Vivian langsung membesar.
Ia yang sedang meneguk minuman seketika tersedak.
“Uhuk! Uhuk!”
Air yang berada di mulutnya tanpa sengaja menyembur tepat ke wajah Bowie.
Bowie terdiam dengan wajah basah.
Vivian buru-buru meletakkan gelasnya.
“Maaf, Tuan Lou. Aku hanya... terlalu bangga untukmu."
Di saat yang sama, Delvin Yang melangkah masuk ke dalam restoran. Tatapannya langsung tertuju ke sudut ruangan, tempat seorang wanita cantik sedang menunggunya.
Vivian yang duduk tidak jauh dari sana menyadari kedatangan pria tersebut.
Begitu melihat Delvin, pikirannya langsung teringat kejadian semalam—saat ia tanpa sengaja melihat Delvin dalam keadaan tanpa pakaian.
Wajah Vivian seketika memanas.
“Gawat! Kenapa dia ada di sini?” gumam Vivian panik.
Ia segera menundukkan kepalanya dan berusaha menyembunyikan wajahnya.
“Jangan sampai dia melihatku!”