NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

BERMAIN API DENGAN SUAMI IBU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.

Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.

Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.

Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BISIKAN MALAM DI VILLA SEMINYAK DAN PENGAKUAN TERLARANG

Ciuman di atas tebing Uluwatu yang berangin itu menyisakan rasa terbakar yang membakar tenggorokanku bahkan hingga dua jam setelahnya.

Di dalam interior SUV hitam yang melaju membelah kegelapan malam Bali menuju kawasan Seminyak, tak ada satu kata pun yang terucap di antara kami.

Hening yang menggantung terasa jauh lebih sarat tekanan daripada saat penerbangan di jet pribadi.

Raymond duduk di sisinya, melipat tangannya di dada dengan mata terpejam dan rahang yang mengeras tegak.

Sementara aku, menatap keluar jendela memandangi pendar lampu jalanan Bali yang samar-samar, memegang bibir bawahku sendiri yang masih terasa agak panas dan bengkak akibat tekanan bibirnya.

Mobil akhirnya melambat, membelok memasuki sebuah jalan privat beraspal mulus yang diapit dinding batu ukir tinggi.

Dua pintu gerbang kayu jati raksasa terbuka secara otomatis, menyambut kedatangan kami di Perkasa Private Villa—sebuah kompleks vila mewah tersembunyi yang berdiri megah di tepi pantai Seminyak.

Pendar lampu gantung bernuansa emas hangat memantul indah di atas permukaan air kolam renang infinity yang membentang luas menghadap langsung ke arah deburan ombak samudra malam.

Pohon-pohon kamboja tua dan palem rindang menaungi area pelataran vila, menyebarkan aroma wewangian bunga malam yang pekat dan menenangkan.

"Selamat malam, Tuan Perkasa, Nona Clarissa," sapa seorang manajer vila pria berseragam tradisional Bali yang membungkuk sangat dalam di teras utama.

"Seluruh area vila utama sudah disiapkan secara privat sesuai instruksi Tuan.

Para staf dan pengawal telah mengamankan area gerbang luar."

"Terima kasih, Ketut.

Kamu bisa meninggalkan area vila sekarang," ujar Raymond datar tanpa menghentikan langkah kakinya yang tegap.

"Baik, Tuan.

Jika butuh sesuatu, saluran telepon internal siap melayani," balas sang manajer sebelum memutar tubuhnya dan melangkah pergi bersama dua pelayan lainnya, meninggalkan area vila utama sepenuhnya kosong dan terisolasi dari dunia luar.

Aku berdiri di ruang tengah vila yang berarsitektur terbuka, mengamati kemewahan di sekelilingku.

Lantai batu alam yang dingin, perabotan kayu antik berukir halus, serta sofa-sofa tebal berbalut kain katun putih.

Namun, perhatianku mendadak tertahan saat melihat Pak Herman membawa koper ku dan koper milik Raymond ke arah lorong yang sama.

"Pak Herman, di mana kamar tidurku?" tanyaku cepat sambil melangkah mendekat.

Pak Herman menghentikan langkahnya, memperlihatkan raut wajah agak serba salah sebelum menjawab sopan.

"Nona Clarissa, vila utama ini hanya memiliki satu master suite berukuran sangat besar dengan akses balkon langsung ke pantai.

Tuan Raymond mempercayakan seluruh area vila ini untuk Nona dan beliau."

Jantungku berdesir hebat seketika.

"Hanya satu kamar tidur?"

"Betul, Nona.

Tetapi di dalam master suite tersebut terdapat area ruang bersantai yang sangat luas," terang Pak Herman hati-hati sebelum meletakkan koper-koper kami di depan pintu kayu ukir raksasa di ujung lorong, lalu melangkah mundur membungkuk.

"Saya permisi mengamankan area luar bersama pengawal, Nona.

Selamat malam."

Aku membeku di tempatku.

Raymond yang baru saja selesai menuangkan air mineral di meja bar kecil melangkah mendekatiku, menggenggam gelas kristalnya dengan tenang.

"Kamu takut berada di satu kamar denganku, Clarissa?" suara bass Raymond yang rendah dan dalam bergema halus di lorong kayu yang sunyi itu.

Pria itu sudah melepas jas kasualnya, menyisakan kemeja rajutnya yang membentuk lekuk tubuh kekar nya dengan sempurna.

Aku mendongak, menyunggingkan senyuman paling berani yang bisa kupoles untuk menutupi gemuruh di dadaku.

"Takut?

Untuk apa aku takut, Raymond?

Bukankah kamu yang seharusnya takut kalau-kalau pertahanan dirimu yang tersisa hancur total malam ini?"

Raymond tertawa kecil sebuah tawa renyah yang sangat jarang terdengar, namun terdengar begitu berbahaya dan memikat di telingaku.

Ia melangkah melintasiku, mendorong pintu kayu ukir master suite hingga terbuka lebar.

"Mari kita lihat siapa yang pertahanannya akan hancur lebih dulu," bisik Raymond di dekat telingaku saat ia meletakkan tangannya di pinggangku, membimbingku melangkah masuk ke dalam kamar.

Master suite itu berukuran sangat luas, lebih menyerupai sebuah penthouse eksklusif.

Ranjang king size berkanopi kelambu putih tipis bertengger megah di tengah ruangan, menghadap langsung ke arah dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kolam renang dan lautan gelap Seminyak.

Di sudut lain, terdapat sebuah area kamar mandi terbuka berkonsep alam dengan bathtub batu marmer hitam berukuran raksasa yang dikelilingi air terjun buatan kecil.

Aroma wewangian kayu manis dan minyak esensial melati menguar hangat di seluruh ruangan, menciptakan atmosfer yang sangat intim sekaligus sarat ketegangan.

"Kamu bisa menggunakan kamar mandi lebih dulu untuk membersihkan diri," ujar Raymond tenang, meletakkan gelasnya di atas meja nakas lalu melangkah keluar menuju balkon luar untuk menerima panggilan telepon bisnis singkat.

Aku mengambil baju ganti dari koperku sebuah gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna hitam malam dengan tali spageti halus dan potongan leher rendah yang simpel.

Setelah mengunci pintu kamar mandi marmer, aku membiarkan air hangat dari shower menyiram seluruh tubuhku, membilas sisa-sisa debu tebing Uluwatu dan rasa lelah penerbangan.

Setengah jam kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan rambut basah bergelombang yang terurai melintasi bahuku.

Piyama sutra hitam itu melekat lembut di kulitku yang masih hangat dan lembap, memetakan setiap lekuk tubuhku secara gamblang di bawah pendar redup lampu tidur.

Di dalam kamar, Raymond sudah berganti pakaian.

Pria itu mengenakan celana panjang santai berwarna abu-abu gelap tanpa atasan, memperlihatkan dada bidang berototnya yang tegap, bahu lebarnya yang kokoh, serta jejak-jejak urat menonjol di lengannya.

Ia sedang berdiri di tepi balkon, membelakangiku sambil memandangi deburan ombak malam dengan segelas wiski di tangan.

Suara langkah kakiku yang bertelanjang kaki di atas lantai kayu membuat Raymond memutar tubuhnya perlahan.

Begitu matanya menangkap sosokku yang berdiri dalam balutan piyama sutra hitam dengan rambut basah, gerakan tangannya yang memegang gelas kristal mendadak tertahan di udara.

Manik mata hazel-nya memancarkan pendar pekat yang begitu liar dan lapar, menyusuri garis leherku, turun ke arah dada, hingga berhenti di kaki mulusku yang terekspos.

"Rambutmu basah," ujar Raymond dengan suara parau yang sangat rendah, hampir menyatu dengan suara deru ombak di luar.

"Kamar mandimu sangat nyaman," balasku pelan, melangkah mendekatinya hingga aku berdiri tepat di ambang pintu balkon.

Embusan angin malam Seminyak yang hangat bertiup pelan, menerbangkan helai-helai rambut basahku dan mengibarkan ujung gaun sutraku.

Raymond meletakkan gelas wiskinya di atas meja balkon tanpa berpaling dariku sedikit pun.

Ia melangkah mendekati tempatku berdiri, mengikis jarak di antara kami hingga hawa panas dari dada telanjangnya yang kokoh terpancar kuat menerpa wajahku.

"Kamu sengaja mengenakan gaun tidur seperti ini di depanku, Clarissa?" bisik Raymond, matanya menatap lurus ke dalam manik mataku dengan kedalaman intensitas yang bisa membuat lutut wanita mana pun lemas.

"Kenapa?

Apa ini mengganggu konsentrasimu, ayah tiri?" tanyaku berani, sengaja menekankan kata 'ayah tiri' untuk memancing sisa moralitas yang mungkin masih bersembunyi di kepalanya.

Namun, reaksiku salah besar jika mengira kata-kata itu akan membuatnya terpojok.

Mendengar sebutan itu, rahang Raymond makin mengeras.

Dengan gerakan yang teramat cepat dan dominan, tangan kanannya yang besar melingkar ketat di pinggang rampingku, menarik tubuhku hingga dada rapuhku menempel rapat pada dada bidangnya yang telanjang dan hangat.

Napasku terperanjat hebat saat merasakan detak jantungnya yang bergemuruh keras beradu dengan dadaku.

"Jangan pernah panggil aku dengan sebutan itu lagi," gertak Raymond rendah di depan bibirku, jemari tangannya menekan pinggangku begitu dalam seolah ingin menyatukan tubuhku ke dalam tubuhnya.

"Di dalam ruangan ini, tidak ada ayah tiri atau anak tiri.

Hanya ada aku... dan kamu."

"Raymond..." bisikku lirih, tanganku terangkat secara refleks menempel di dada bidangnya yang keras berotot, merasakan kehangatan kulitnya yang membakar jemariku.

"Bagaimana kalau ini semua hanya perangkapku?

Bagaimana kalau aku sengaja menghancurkanmu untuk membalas dendam atas apa yang terjadi pada Ayahku?"

Raymond menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan dominasi dingin.

Ibu jarinya terangkat mengusap bibir bawahku yang bengkak dengan lembut namun mengintimidasi.

"Jatuh ke dalam perangkapmu... adalah satu-satunya kekalahan yang dengan senang hati kuterima, Clarissa," jawab Raymond parau tanpa ragu sedikit pun.

Pria itu menundukkan kepalanya, menyapukan bibirnya di sepanjang garis rahangku hingga turun ke leher jenjangku yang hangat.

Sentuhan bibir dan desakan napas panasnya di leherku membuat kepalaku terkulai ke belakang secara refleks, meremas erat otot bahunya saat sengatan rasa nikmat yang terlarang menjalar hebat merayapi seluruh syaraf tubuhku.

"Aku menginginkanmu sejak detik pertama kamu menatapku dengan mata penuh kebencian itu di mansion," gumam Raymond di kulit leherku, bibirnya bergerak menelusuri tulang selangkaku saat tali gaun sutra hitamku perlahan merosot turun disingkap jemarinya.

"Dan malam ini... tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikanku untuk memilikimu sepenuhnya."

Gelombang pasang samudra Seminyak yang menghantam pantai di luar sana seakan menjadi saksi bisu saat benteng pertahanan terakhir di antara kami hancur lebur tanpa sisa di dalam kegelapan kamar vila yang membara.

1
Nda
ditunggu double upnya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!