NovelToon NovelToon
Terjebak Di Sarang Serigala

Terjebak Di Sarang Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kisah seorang anak yang bernama Nina yang tinggal di desa dan bertahun-tahun di tinggal ayahnya, kemudian saat beranjak dewasa , ia di ambil kembali dan di paksa menikah untuk menggantikan saudara tirinya dengan laki-laki kejam seperti serigala.


yuk.. ikuti kisahnya... , akankah Nina bisa bertahan hidup di sarang serigala yang isinya manusia kejam berhati iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sementara itu, lift megah di penthouse berdenting pelan.

Nina melangkah keluar dengan perut yang sudah kenyang setelah menyantap semangkuk bakso pedas di pinggir jalan. Riasan eyeshadow di sudut bibirnya sudah ia hapus bersih. Wajahnya kini polos, namun matanya masih menyisakan bekas sembap yang samar.

Di ruang tengah yang luas dan dingin, Jafar duduk di sofa kulitnya. Pria itu tampak tenang, menyesap tehnya di balik masker hitam yang tak pernah lepas. Sama sekali tidak ada sambutan hangat, pelukan prihatin, atau kata-kata manis. Jafar kembali ke wujud aslinya... dingin, acuh tak acuh, dan berjarak.

"Sudah puas jalan-jalannya?" tanya Jafar datar tanpa beralih dari tablet di tangannya. Ia pura-pura tidak tahu apa-apa tentang Nina dan keluarganya.

Nina menghentikan langkahnya, menunduk sopan. "Sudah, Tuan. Maaf Nina pulang terlambat."

"Baguslah kalau tahu diri," sahut Jafar dingin. "Mandi dan istirahatlah. Jangan membawa aura muram dari luar ke dalam rumah ini."

"Baik, Tuan... permisi" bisik Nina pelan lalu berjalan menuju kamarnya.

Jafar mengawasi punggung Nina hingga pintu kamar gadis itu tertutup rapat. Begitu suasana kembali hening, jemari Jafar yang memegang cangkir porselen mendadak mencengkeram erat.

Di balik raut dingin dan pura-pura tak pedulinya, dada Jafar sebenarnya bergemuruh hebat. Rekaman video dari Dako di panti tadi terus berputar di kepalanya. Jafar sama sekali tidak menyangka bahwa takdir masa kecil Nina begitu kelam, dikhianati oleh seorang ayah yang berpaling demi wanita lain.

Kisah kelam yang ternyata sangat mirip dengan luka masa lalu orang tua Jafar sendiri, yang juga hancur berantakan akibat hadirnya orang ketiga. Pria berdarah dingin itu mengepalkan tangannya di atas meja, menahan gejolak protektif yang kini mulai tumbuh liar di dalam dadanya untuk sang istri siri.

Malam semakin larut di penthouse. Suasana begitu hening, hanya terdengar dengung halus pendingin udara yang menjaga ruangan tetap dingin dan steril.

Di dalam kamarnya, Nina berbaring miring di atas kasur empuk. Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca besar yang menampilkan gemerlap lampu kota Jakarta. Perutnya memang sudah kenyang setelah menyantap bakso pedas tadi sore, namun hatinya masih terasa kosong dan lelah. Segala emosi yang meluap di panti rehabilitasi telah menguras seluruh tenaganya. Tanpa sadar, dengan sisa-sisa napas yang berat, Nina tertidur pulas tanpa menyelimuti tubuhnya.

Pintu kamar Nina mendadak terbuka tanpa suara.

Sesosok tubuh tinggi besar melangkah masuk dengan senyap. Jafar, masih mengenakan pakaian serba hitam dan masker yang menutupi separuh wajahnya, berdiri di samping tempat tidur.

Pria itu menatap wujud Nina yang tertidur meringkuk. Wajah polos gadis itu tampak begitu rapuh di bawah temaram lampu tidur, dengan bekas sembap yang masih berjejak samar di sekitar matanya.

Jafar menghela napas sangat pelan. Jemari tangannya yang besar dan tegas perlahan terulur. Dengan gerakan yang amat lembut, berbanding terbalik dengan aura dingin yang selalu ia tampilkan, Jafar menarik selimut tebal hingga menutupi dada Nina, memastikan gadis itu tak kedinginan.

Ia mematung sejenak di sana. Tatapan matanya yang tajam melunak, dipenuhi rasa empati yang mendalam. Pengakuan Nina di panti rehabilitasi terus bergaung di pikiran Jafar. Luka akibat pengkhianatan orang tua dan kehadiran orang ketiga adalah luka yang sangat dipahami oleh Jafar, sebuah trauma masa kecil yang juga membentuk dirinya menjadi pria keras dan berdarah dingin seperti sekarang.

Sebelum berbalik pergi, Jafar meletakkan sebuah gelas berisi air putih,lalu vitamin di atas meja samping tempat tidur Nina, lengkap dengan selembar kertas kecil bertuliskan pesan singkat dengan tulisan tangan yang tegas..

"Minum ini kalau terbangun. Jangan sakit."

Jafar melangkah keluar dan menutup pintu dengan sangat pelan, meninggalkan Nina yang tertidur lelap dalam perlindungan diam-diam yang tak pernah gadis itu duga sebelumnya.

____

Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta yang kumuh dan gelap...

Anggun, Faris, dan Hazel duduk berdampingan di atas kasur lantai yang tipis di dalam kamar kontrakan kecil mereka. Di tengah ruangan, sebuah lampu bohlam kuning berdaya rendah berkedip-kedip pasrah. Uang lima juta rupiah pemberian Nina tergeletak di atas lantai semen, menjadi satu-satunya penyambung asa mereka saat ini.

Faris menatap uang itu, lalu beralih menatap Anggun dan Hazel bergantian.

"mulai besok..." suara Faris terdengar begitu berat, parau, dan tanpa sisa keangkuhan. " "uang ini... harus kita pakai sehemat mungkin untuk bertahan hidup."

Hazel menundukkan kepala dalam-dalam. "Pa... Hazel minta maaf. Hazel janji mulai besok Hazel bakal cari kerja apa saja. Hazel tidak akan gengsi lagi..."

Anggun menggenggam jemari Hazel dan Faris erat-erat, mengangguk pelan dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya. Kehancuran ini memang pahit dan kejam, namun di dalam ruangan sempit yang lembap itu, untuk pertama kalinya, keluarga yang dulu hanya disatukan oleh harta dan gengsi tersebut... akhirnya saling merengkuh sebagai keluarga yang sesungguhnya.

____

Keesokan harinya, matahari pagi menusuk lorong-lorong sempit pemukiman padat. Suara bising kendaraan dan aroma sampah menyapa Faris dan Hazel saat melangkah keluar dari kontrakan. Tanpa kemeja sutra atau mobil mewah, keduanya menyusuri jalanan kota dengan pakaian seadanya demi mengumpulkan rupiah.

Faris melangkah ke area pasar induk yang riuh. Pria yang dulu terbiasa duduk di kursi direktur itu kini memberanikan diri mendekati deretan kios sayur dan buah.

"Pak... ada pekerjaan yang bisa saya bantu?" tanya Faris pelan, menahan rasa malu yang membakar dadanya. "Angkut karung atau bersih-bersih... apa saja, Pak."

Pemilik kios melirik Faris dari atas ke bawah, menatap tangan Faris yang halus, tangan yang tak pernah menyentuh pekerjaan kasar.

"Pekerjaan di sini berat, Pak tua. Tapi kalau mau, angkut sepuluh karung kentang itu ke mobil bak. Saya kasih lima puluh ribu," sahut pemilik kios tanpa beban.

Dengan napas memburu dan punggung yang terasa mau patah, Faris mengangkat karung demi karung yang membakar bahunya. Keringat bercucuran membasahi kemeja lusuhnya. Setiap kali rasa lelah dan sakit menghantam, bayangan Hadin di panti rehabilitasi membuat Faris memaksa kakinya tetap melangkah. Apalagi ia teringat kehidupan nya dulu sebelum menikah dengan ibunya Nina yang saat itu adalah bunga desa, anak perempuan satu-satunya orang kaya di desanya. Faris adalah pekerja yang mencari pakan untuk kambing-kambing calon mertuanya. Namun seiring berjalannya waktu, Fariz dan ibunya Nina saling jatuh cinta, akhirnya sebelum kakek dan neneknya Nina meninggal, Fariz menikahi ibunya Nina. padahal saat Juan , tidak setuju karena melihat Fariz yang mencurigakan .

____

Di sudut kota lain, Hazel berdiri di depan sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan utama. Dengan menelan bulat-bulat gengsi dan keangkuhannya di masa lalu, ia memberanikan diri melangkah masuk.

"Mbak... apa di sini terima karyawan lepas untuk cuci piring atau bersih-bersih?" cicit Hazel dengan suara bergetar.

Pemilik kedai yang mengenali wajah Hazel dari pergaulan anak muda Jakarta sempat terperanjat, namun melihat raut memohon yang amat sangat dari Hazel, ia menghela napas. "Bisa. Cuci seluruh piring kotor di dapur belakang sampai bersih. Gaji harian diserahin sore nanti."

Hazel mengangguk cepat. Di belakang meja cuci piring yang berbau amis dan berbusa, jemari Hazel yang dulu selalu berhias cat kuku mahal kini berinteraksi erat dengan spons sabun dan sisa-sisa makanan. Air mata sesekali menetes ke dalam bak cuci piring, namun Hazel terus menggosok tanpa mengeluh. Ini adalah harga dari keputusannya sendiri.

1
Sri Supriatin
Tks upnya thor 👍👍
Sri Supriatin
Nina juga g tau 🤭 pasti Jafar sdh naruh bayangan utk nguntitmu dr Jauh 😄😄
Sri Supriatin
Nah tuh semoga pd sadaar🙏🙏
Ayusha
dia sendiri belum sadar kalo dia juga di kawal 😄
Ayusha
awas Nina, hati² nanti kamu jatuh cinta 🤭
Ayusha
ini definisi kulit lupa sama daki nya 🤣🤣
Ayusha
mending kerja kupas bawang aja Faris, cepet kaya 🤭
Ayusha
"Minum ini kalau terbangun. jangan sakit, nanti aku khawatir."
gitu loh yg bener 🤣
Ayusha
lah dia yg ga sadar diri, dia sendiri yang muram malah ngomongin orang 🤣
Susi C
semoga bisa berubah baik sampai selamanya utk Hazel dan Faris
M⃟3💋AisyahRendra
Terlambat menyadari 🙄 alias sesal tiada guna 😏 karena Nina akan lebih bahagia tanpa adanya kalian semua keluarga brengsk 🫢😒
Ayusha
habis bakso terbit lah seblak 🤣🤣
@Mita🥰
semoga mereka bener bener bertobat
Ayusha
udah paling bener begitu, orang bebal susah sadar sebelum masuk liang kubur
@Mita🥰
bagus Nina
Ayusha
wis lah, ga usah di kasih hati orang begini
Ayusha
lagi dan lagi, hanya rasa sakit yg di dapat
Teh Qurrotha
🤣 faris2 lucu,mungkin karena uang hasil jual Nina blm kamu nikmati dan lupa utang dibayarin dengan jual Nina.
sungguh terlalu kamu Faris
Ayusha
gaada penyesalan kah di hati Faris, dulu menyia²kan istri dan mengorbankan anak kandung nya.
@Mita🥰
Faris ...faris
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!