NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: tamat
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Napas Kehidupan

Hening. Tidak ada suara ledakan, tidak ada deru badai yang mampu menembus kekosongan di dalam kepala Arthur Summers. Di atas lantai beton stasiun bawah tanah yang dingin, dunia sang dewa perang benar-benar runtuh.

Detak jantung di dalam dada mungil putrinya telah berhenti.

"Tidak... kumohon, tidak," suara Arthur pecah, berubah menjadi rintihan parau yang menyayat hati. Tangannya yang berlumuran darah gemetar hebat saat menyentuh pipi putrinya yang mulai memucat. Kepanikan yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kini mencekik lehernya.

Enam tahun yang lalu, Tragedi masa lalu itu telah memberikannya seorang malaikat kecil, dan kini, malaikat itu direnggut darinya tepat di depan matanya.

Di sudut ruangan, Gideon yang kehilangan satu lengannya tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar seperti parutan besi berkarat. "Kau kalah, Kakak! Kau memiliki segalanya, tapi kau tidak bisa menyelamatkan darah dagingmu sendiri!"

Arthur menundukkan kepalanya, air mata menetes dari pelupuk matanya dan jatuh ke atas pipi putrinya.

Namun, di tengah kegelapan yang menelan kewarasannya, sebuah suara yang sangat tegas menembus earpiece di telinganya.

"Arthur Summers! Lihat aku! Dengarkan suaraku!" jerit Mia dari markas logistik, suaranya bergetar hebat namun dipenuhi oleh penolakan mutlak terhadap keputusasaan.

Arthur tersentak.

"Kau adalah Jenderal Tertinggiku! Kau tidak pernah menyerah!" tangis Mia, menyalurkan seluruh kekuatannya melalui gelombang radio. "Itu adalah putri kita! Jangan biarkan dia pergi! Gunakan tenaga dalammu. Lakukan RJP sekarang juga, Arthur! Paksa jantungnya berdetak kembali!"

Kata-kata Mia bagaikan sambaran petir yang menghidupkan kembali nyala api di dalam jiwa Arthur. Gadis itu benar. Ia belum boleh menyerah. Selama tubuh putrinya masih hangat, masih ada harapan.

Sang Jenderal segera memosisikan dirinya. Ia meletakkan dua jarinya di atas dada mungil putrinya, tepat di atas jantung. Arthur memejamkan matanya dan memusatkan seluruh sisa energi (tenaga dalam) tingkat puncaknya. Ia tidak hanya melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) biasa secara mekanis; ia mengalirkan nyawanya sendiri, memompakan energi vital murni dari pusat dantian-nya langsung ke dalam sistem kardiovaskular putrinya.

Satu, dua, tiga...

Tekanan lembut diberikan seiring dengan aliran energi panas yang memaksa otot jantung yang kram itu untuk berelaksasi.

Empat, lima, enam...

Proses ini sangat berbahaya. Mentransfer energi murni secara brutal berarti Arthur sedang membakar esensi kehidupannya sendiri. Wajah sang Jenderal memucat seketika. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras. Luka bakar di lengan kirinya robek lebih lebar, meneteskan darah segar ke lantai, namun ia mengabaikannya.

"Bernapaslah, Sayang... kumohon, bernapaslah," isak Arthur, memaksakan gelombang energi terakhir yang paling besar hingga pembuluh darah di matanya memerah.

DHUG!

Sebuah denyut samar terasa di ujung jari Arthur.

Arthur menahan napasnya.

Dhug... Dhug... Dhug-dhug-dhug!

Tiba-tiba, dada gadis kecil itu terangkat. Ia menarik napas panjang dengan suara gasping yang sangat keras, lalu terbatuk-batuk mengeluarkan sedikit sisa cairan biru dari bibirnya. Urat-urat kebiruan di kulitnya benar-benar telah lenyap, digantikan oleh rona merah kehidupan. Matanya perlahan terbuka, menatap wajah Arthur yang berurai air mata.

"P-paman... hangat..." bisik gadis kecil itu lirih, menyentuh pipi Arthur dengan tangan mungilnya.

Arthur ambruk ke lantai, memeluk putrinya erat-erat. "Terima kasih, Tuhan... terima kasih, Mia," isak Arthur.

Di seberang komunikasi, terdengar suara Mia yang menangis lega hingga jatuh terduduk di kursi komandonya.

Tepat pada saat itu, atap beton stasiun bawah tanah tersebut meledak hancur berantakan. Debu dan puing-puing berjatuhan saat puluhan sosok berpakaian hitam melompat turun dari langit. Di barisan paling depan, berdiri Clifford Hann, pemimpin dari orang kelima raja. Mereka akhirnya berhasil menembus barikade darat dan tiba di titik nol.

"Amankan seluruh perimeter! Bunuh siapa pun yang bukan dari Istana!" perintah Clifford dengan suara menggelegar. Para jenderal elit Phantom segera menyebar, mengunci setiap akses stasiun dalam hitungan detik.

Clifford segera berlari mendekati Arthur, lalu berlutut dengan satu kaki. "Jenderal, kami terlambat. Mohon hukum kami."

Arthur menggeleng pelan, napasnya masih terengah-engah akibat kelelahan ekstrem dari transfer energi. Ia menyerahkan putrinya yang kembali tertidur pulas ke dalam pelukan Clifford dengan sangat hati-hati.

"Clifford, bawa dia ke fasilitas medis," perintah Arthur dengan suara serak.

"Siap, Jenderal! Kami akan menggunakan jalur evakuasi milik Drake Tucker. Dia adalah orang terkaya di Kota Khanh, Drake Tucker, pernah menjadi salah satu pengikut saya, dan dia telah menyiapkan seluruh fasilitas rumah sakit swastanya untuk kita."

Arthur mengangguk. Setelah memastikan putrinya berada di tangan yang aman, sang raja bawah tanah perlahan bangkit berdiri. Keringat dan darah membasahi wajahnya, namun saat ia berbalik menatap Gideon, tidak ada lagi kelelahan di matanya. Yang tersisa hanyalah murka murni dari kedalaman neraka.

Gideon, yang sedang mencoba merangkak kabur dengan satu tangan, membeku saat melihat bayangan Arthur jatuh menutupi tubuhnya.

"A-Arthur... j-jangan bunuh aku!" jerit Gideon histeris, nyalinya hancur lebur melihat Arthur berhasil membangkitkan putrinya dari kematian. "Ibu dan ayahku tidak akan melepaskanmu jika kau membunuhku!"

"Membunuhmu?" Arthur memiringkan kepalanya, senyum iblis terukir di wajahnya. "Kematian adalah hadiah yang terlalu indah untuk monster sepertimu, Gideon."

Arthur mengangkat kaki kanannya dan menginjak punggung Gideon dengan tekanan yang terukur.

KRAAAK!

"AAARRRGGGHHH!"

Tulang belakang Gideon remuk seketika. Namun, Arthur tidak berhenti di sana. Ia membungkuk, menggunakan dua jarinya yang dialiri Reiki untuk menusuk delapan titik meridian utama di tubuh Gideon. Dalam hitungan detik, Gideon kehilangan seluruh kendali motoriknya. Ia tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bahkan tidak bisa memalingkan wajahnya. Namun, sistem saraf sensoriknya justru diperkuat ribuan kali lipat. Setiap hembusan angin, setiap tetes darah, akan terasa seperti sayatan silet di kulitnya untuk seumur hidupnya.

"Kau akan hidup, Gideon," bisik Arthur tepat di telinga adik tirinya yang kini hanya bisa menangis mengeluarkan air liur tanpa bisa berbicara. "Kau akan hidup sebagai cacing lumpuh yang bisa merasakan setiap detik penderitaan. Dan aku akan menyeret tubuh cacatmu ini ke Summer Manor untuk dipertontonkan di depan ayah dan ibumu tercinta."

Arthur berdiri dan menendang tubuh Gideon ke arah pasukannya untuk diamankan. Ia lalu menyentuh earpiece-nya, berniat berbicara dengan Mia untuk merencanakan kepulangan mereka.

Namun, yang terdengar dari saluran komunikasi bukanlah suara Mia yang lega, melainkan suara alarm darurat dan tembakan senapan otomatis yang memekakkan telinga.

"J-Jenderal!" suara Silas Mercer berteriak panik di latar belakang. "Markas logistik kami di ibu kota diserang! Gideon... Gideon tidak hanya memancing Anda ke Kota Khanh! Dia diam-diam mengirimkan 'Blood Hounds' pasukan pembunuh pribadi ibu Anda untuk menghabisi Nona Mia selagi Anda pergi!"

Darah Arthur seketika membeku. Mata sang Jenderal membelalak ngeri saat suara ledakan besar memutuskan transmisi tersebut secara sepihak.

1
G Use
Cerita mana mata uang Rupiah 🤭🤭🤭🤭
sitanggang
trrnyata mcnya go block & ceritanya muter2 gitu saja memperlihagkan ke go block kannya🤣🤣
nanonano
yah kalah lagi arthur...
nanonano
akankah arthur kalah strategi lagi?
nanonano
kalah strategi terus arthur
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!