Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Lania
7 Tahun kemudian...
"Lania... cepatlah...!!!" teriak Amel, "haisssss anak ini lama sekali," gerutunya.
"Sabar mah, mungkin ia masih bersiap-siap," sahut Juanda.
"Lania... pesawat Daley sudah mau mendarat, kita harus menyambut kepulangannya, cepatlah...!!!" teriak Amel lagi.
"Haisssss... berisik sekali sih mah... aku benar-benar tidak bisa tidur lagi," gerutu Lisa sambil menuruni anak tangga.
Dengan wajah yang berantakan akibat ia tidak membersihkan sisa make-up nya, Lisa mendekati kedua orang tuanya. Rambut wanita itu bahkan terlihat kusut.
"Kau pulang mabuk lagi?" tanya Juanda.
Lisa menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia kembali memejamkan matanya dengan malas.
"Mau bagaimana lagi pah, semalam acara perayaan episode ke 100 drama yang aku mainkan. Semuanya minum dengan gembira," jawab Lisa tanpa membuka matanya.
"Beginilah jika kau terlalu memanjakan Lisa mah, anak gadis macam apa yang terus saja mabuk," gerutu Juanda.
"Papa kan sudah dengar, itu bagian dari pekerjaannya. Berhentilah mengomel, ia juga tidak menginginkan ini," jawab Amel.
"Siapa suruh menjadi artis?"
Lisa membuka matanya, "inilah yang membuatku tidak betah di rumah. Papa terus saja mengomeliku, sedangkan pada Lania... haisssss... sudahlah... lebih baik aku pergi saja."
Lisa beranjak dari tempat duduknya.
"Kau tidak bisa keluar rumah," kata Amel, "tetaplah di dalam rumah nak," imbuhnya.
Lisa membelalakkan matanya, "mama mulai melarangku?"
Amel menghela nafas panjang seraya mendekati putri kesayangannya, "bukan begitu sayang, apa kau lupa... hari ini pertama kalinya tugas Lania menjadi Lisa sebagai calon istri Daley Jamiko."
"Mulai bersandiwara dan membuat dosa, kalian memang sudah gila," celetuk Juanda, "Lisa... apakah kau masih tetap ingin Lania menggantikanmu untuk menikah dengan Daley?" tanyanya.
"Tentu saja, aku tidak ingin menikah apalagi dengan pria lumpuh itu," jawab Lisa.
Juanda menggeleng-gelengkan kepalanya, "bagaimana jika Daley sudah bisa berjalan lagi?"
"Aku tetap tidak mau menikah, aku tidak ingin terikat dengan siapapun. Kenapa papa mulai membahas ini lagi? bukankah Lania tetap bersedia sampai sekarang untuk menggantikan aku? biarkan saja ia mengurus pria yang belum tentu sembuh itu. Bahkan selama 7 tahun, keluarga Jamiko tetap merahasiakan keadaannya. Aku rasa pengobatannya benar-benar gagal," celetuk Lisa.
"Oh ya Tuhan, kenapa sikapmu semakin sulit aku pahami Lis?"
"Jika papa masih memaksaku, maka aku akan bunuh diri. Agar seluruh dunia tahu jika artis terkenal bernama Lisa Furhet mati bunuh diri karena dipaksa menikah dengan pria cacat," teriak Lisa.
Juanda tak bisa lagi menahan emosinya, pria itu mendekati Lisa dan suara tamparan keras mendarat di pipi putrinya.
"Papa...!!!" teriak Amel, "apa yang kau lakukan pada putriku? jika kau menyakitinya lagi, aku akan pergi dari sini," ancamnya.
"Oh ya ampun, aku semakin sakit kepala menghadapi kalian berdua," ujar Juanda seraya keluar dari rumahnya.
Lisa menangis dengan keras di pelukan ibunya.
"Jangan menangis sayang," ujar Amel.
"Sejak kehadiran Lania di rumah ini, papa memang tidak sayang lagi padaku," ucap Lisa disela isakannya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak nak, papa takut kehilanganmu jadi ia sangat marah saat kau bilang ingin bunuh diri. Hentikan sekarang, kau bebas melakukan apapun karena masih ada Lania yang bisa kita manfaatkan."
Lisa menganggukkan kepalanya, "anak haram itu membuatku semakin marah, aku ingin ia segera tinggal di rumah pria cacat itu."
"Tentu saja, setelah kepulangan Daley, pernikahan mereka akan segera dilaksanakan. Lania akan pergi dari rumah ini untuk menggantikanmu. Sedangkan kita hanya bisa memanfaatkannya untuk menguras semua harta Jamiko," kata Amel sambil tersenyum licik.
"Sialan... sedang apa sebenarnya Lania? kenapa lama sekali. Lania...!!!" teriak Amel lagi.
"Iya mah..." jawab Lania seraya menuruni tangga dengan cepat.
Amel membelalakkan matanya melihat penampilan anak tirinya tersebut. Lania benar-benar sangat mirip dengan Lisa. Keduanya seperti anak kembar yang dilahirkan dari rahim yang berbeda. Usia Lania yang lebih muda sama sekali tidak terlihat.
Lisa menatap Lania dengan rasa jijik, "wanita jal*ng, seharusnya kau mati saja. Kenapa kau justru tumbuh sehat dan mengikuti wajahku?"
Lania menelan saliva-nya karena takut, namun tentu saja Lisa tidak mungkin memukulnya karena ada Juanda sekarang.
"Kau lama sekali," kata Amel setelah membuyarkan lamunannya.
"Maaf mah, bajunya robek. Aku menjahitnya terlebih dahulu," jawab Lania.
"Robek? bukankah itu gaun baru yang aku belikan?"
Lania menganggukkan kepalanya.
"Kenapa bisa robek?" tanya Amel lagi.
"Lihatlah lemak yang ada di payu daranya. Ia seperti wanita murahan," celetuk Lisa.
Amel menatap dada Lania lalu beralih ke Lisa. Ia menyadari bentuk tubuh Lania lebih berisi dari putri kandungnya.
"Kau harus diet, tubuhmu tidak boleh berbeda dengan Lisa," kata Amel.
"Mama... tubuhnya sudah sama denganku, tapi payu daranya yang besar. Mungkin beberapa pria sudah menyentuhnya," celetuk Lisa lagi.
Lania terbelalak lebar mendapat tuduhan seperti itu, "aku sama sekali tidak pernah disentuh siapapun."
"Benarkah? aku tidak percaya, kau pasti sudah tidur dengan banyak pria saat menggantikan aku kan?"
"Sama sekali tidak kak, aku masih..."
"Amel... lama sekali... kita bisa terlambat ke bandara...!!!" teriak Juanda di luar rumah.
"Iya pah sebentar," jawab Amel, "Lisa hentikan, kami harus pergi sekarang. Ingatlah, jangan keluar rumah sampai kami kembali. Jika kau tidak menurut, rencana kita bisa gagal," imbuhnya.
Lisa berdecak kesal, wanita itu segera melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Namun saat melewati tubuh Lania, ia justru mencubit tangan adiknya dengan kuat.
"Aaawww... sakit kak," teriak Lania sambil meringis kesakitan.
"Dasar jal*ng," ucap Lisa seraya meninggalkan mereka.
Amel menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. Ia menatap tangan Lania yang langsung membiru akibat cubitan Lisa.
"Ayo berangkat," ajak Amel.
Lania menganggukkan kepalanya sambil mengikuti langkah Amel. Ini adalah hari dimana Lania akan berubah menjadi Lisa sepenuhnya. Meninggalkan nama Lania selamanya dan akan membuat dosa dengan kebohongan besar mereka.
Selama kurang lebih tujuh tahun, Lania sebenarnya berharap Lisa berubah pikiran. Namun ternyata tetap saja kakak tirinya itu memintanya untuk menggantikannya. Menikah dengan tunangan kakaknya sungguh sangat ironis. Ia bahkan harus melupakan identitas yang sebenarnya.
"Tersenyumlah, sudah saatnya kau membuktikan bahwa pengorbananku selama ini untuk mengurusmu tidak sia-sia," bisik Amel.
"Iya mah," jawab Lania.
"Lania... oh tidak, sekarang aku harus terbiasa memanggilmu Lisa. Lisa, gunakan semua yang kau pelajari tentang Lisa selama ini. Berhentilah bersikap penurut seperti Lania sebelumnya," kata Amel.
Lania menganggukkan kepalanya.
"Jawablah seperti Lisa," pinta Amel.
"Iya mah, aku akan mengikuti semua keinginan kalian," ujar Lania.
"Bagus... tetaplah seperti ini," kata Amel.
Juanda melihat keduanya mendekatinya, "dimana Lania?" tanyanya.
Sontak Amel melepaskan tawanya, "memangnya ini siapa pah? baguslah, kau bahkan tidak bisa membedakan mereka."
Juanda membelalakkan matanya, ia menarik Lania lalu memutar tubuh putrinya.
"Ini benar-benar Lania?" tanya Juanda tak percaya.
"Iya pah, ini Lania."
"Oh ya Tuhan, pakaianmu kenapa seperti ini. Mama, walaupun ia menggantikan Lisa, bukan berarti pakaiannya harus..."
"Harus," sergah Amel, "semuanya harus mirip dengan Lisa tanpa terkecuali. Berhentilah menganggapnya Lania, kita hanya punya satu putri yaitu Lisa," imbuhnya.
Juanda menarik nafasnya dalam-dalam, "ini benar-benar gila, kenapa aku harus mengikuti permintaan kalian?"
"Papa... tolong jangan ragu lagi. Lania ingin keluar dari rumah ini," pikir Lania.
"Aku ingin bicara dengan Lania terlebih dahulu," pinta Juanda.
"Jika kau berani mempengaruhi Lania, lihat saja Juan," ancam Amel seraya masuk ke dalam mobilnya.
Juanda menghela nafas panjang seraya menatap Lania dengan sedih.
"Nak... kau yakin ingin melakukan ini? apa kau ingin kabur saja? papa akan membantumu," ucap Juanda pelan.
"Jika aku kabur, papa akan dalam bahaya. Lania tidak bisa meninggalkan papa. Hanya ini yang bisa Lania lakukan untuk berterima kasih pada papa," pikir Lania.
"Lania... sayang... jawab papa nak."
"Lania yakin pah, mulai hari ini tidak ada lagi Lania, hanya Lisa yang hidup dalam keluarga ini," jawab Lania.
Sontak Juanda menarik Lania ke dalam pelukannya.
"Maafkan papa yang tidak bisa berbuat apa-apa, papa seharusnya bisa melindungimu nak."
"Papa sudah cukup berbuat banyak pada Lania selama ini, aku selalu bersyukur bisa berada di tengah-tengah keluarga Furhet. Pah, jangan ragu lagi, Lania ingin membalas budi mama Amel. Tolong, yakinlah... Lania akan baik-baik saja."
Juanda menganggukkan kepalanya lalu mengecup puncak kepala putrinya, "kau memang putriku yang paling baik."
"Katanya kita akan terlambat, mau sampai kapan kalian berpelukan seperti itu," teriak Amel.
Juanda menghela nafas lagi, ia pun melepaskan pelukannya.
"Ayo..." ajak Juanda sambil menggandeng tangan putrinya menuju mobil mereka.
...****************...
Ilustrasi Lania/Lisa Furhet👇🏻👇🏻👇🏻
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣