NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 UANG YANG BERPUTAR KEMBALI

Kaluna membaca pesan Arsen sekali lagi sebelum meneleponnya.

Tangannya masih memegang ponsel ketika panggilan tersambung.

“Kamu mendapatkan laporan itu dari mana?”

“Arsip audit lama.”

“Kenapa baru ditemukan sekarang?”

“Salinannya tidak masuk folder perkara utama. Disimpan sebagai laporan pemeriksaan awal.”

“Siapa yang memindahkannya?”

“Tidak ada catatan.”

Kaluna menarik napas pelan. Jawaban itu membuat dadanya semakin sesak, bukan lebih lega.

Ia berdiri dekat jendela ruang kerja Salindri. Di belakangnya, Naren masih memeriksa jejak tiket, sementara Salindri mengumpulkan dokumen yang dapat dipakai untuk membantah cerita pelarian.

“Aku ingin melihat laporan aslinya,” kata Kaluna.

“Aku tidak bisa mengirim seluruh arsip perusahaan tanpa persetujuan.”

“Kamu sudah mengirim halaman pertama.”

“Itu salinan internal.”

“Arsen, namaku dihancurkan menggunakan laporan itu.”

“Aku tahu.”

“Nggak.” Suara Kaluna naik sedikit. “Kalau kamu benar-benar tahu, kamu nggak akan masih ngomong soal persetujuan.”

Di seberang terdengar diam beberapa detik.

Suara Arsen kemudian lebih berat. “Aku lagi cari cara buka akses tanpa bikin dewan langsung menutup semuanya.”

“Selama kamu cari cara, mereka punya waktu menghapus dokumen lain.”

“Aku nggak bisa menyerbu kantor dan membawa seluruh arsip.”

“Kamu itu direktur utama.”

“Masalahnya, laporan itu terkait sengketa perusahaan.”

Kaluna menekan bibirnya. Tiga tahun hidupnya dirusak oleh orang-orang yang bersembunyi di balik jabatan, prosedur, dan tanda tangan. Sekarang Arsen masih bicara soal izin.

Jabatan itu seharusnya membuat lelaki itu bisa membuka pintu.

Nyatanya, Kaluna masih harus mengetuk.

“Apa yang bisa kamu berikan?” tanyanya akhirnya.

“Dokumen kontrak Sentra Arunika dan salinan laporan awal. Hanya untuk diperiksa di kantor.”

“Kapan?”

“Siang ini.”

“Aku datang.”

Kaluna menutup panggilan.

Salindri mengangkat wajah. “Kita perlu surat yang menjelaskan akses diberikan secara resmi.”

“Aku akan meminta Arsen menandatanganinya.”

“Dan jangan membawa dokumen asli keluar.”

“Aku tahu.”

Naren menutup laptop. “Kita sebaiknya fokus pada aliran dana, bukan hanya laporan Fadli.”

“Bukankah itu bagian yang sama?”

“Berkaitan, tetapi tidak sama. Laporan bisa dibuat untuk mengarah pada kesimpulan tertentu. Aliran dana menunjukkan apa yang benar-benar terjadi.”

Kaluna mengambil tas.

“Kalau begitu kita lihat keduanya.”

Arsen menunggu di ruang rapat kecil di lantai delapan Mahardika Medika. Tidak ada Bramasta. Tidak ada anggota dewan. Hanya Arsen, seorang staf legal, dan dua kardus arsip yang diletakkan di ujung meja.

Kamera kecil di sudut ruangan membuat Kaluna berhenti sesaat.

“Pertemuan ini direkam?”

“Buat keamanan dokumen,” jawab Arsen.

“Atau buat memastikan aku nggak mengambil sesuatu?”

“Dua-duanya.”

Kaluna menahan tatapannya beberapa detik sebelum duduk.

Staf legal menyerahkan surat akses pemeriksaan. Salindri membacanya lebih dulu, lalu meminta satu bagian diubah agar Kaluna diperbolehkan membuat salinan dokumen yang berhubungan langsung dengan rekening atas namanya.

Arsen menyetujui.

Baru setelah itu kardus pertama dibuka.

Di dalamnya terdapat kontrak antara Mahardika Medika dan Sentra Arunika Logistik. Perusahaan tersebut ditunjuk sebagai penyedia distribusi peralatan medis ke beberapa cabang. Nilai kontrak awal tidak terlalu besar, tetapi bertambah melalui perubahan berkala.

“Siapa yang menyetujui perubahan kontrak?” tanya Kaluna.

Arsen membalik halaman.

“Sebagian disetujui bagian operasional. Dua perubahan terakhir masuk melalui persetujuan direksi.”

“Namaku?”

“Namamu tercantum pada salah satunya.”

“Tanggal?”

Arsen menunjukkan bagian bawah dokumen.

Persetujuan itu dibuat sehari sebelum kecelakaan.

Kaluna memeriksa tanda tangannya. Bentuknya terlihat benar.

Terlalu benar.

“Tinta ini rata,” gumamnya.

“Salinan pindai,” kata Naren.

“Dokumen elektronik,” jawab staf legal. “Tanda tangan diambil dari sertifikat persetujuan.”

Kaluna mengusap ujung jarinya ke kertas, lalu menarik tangannya kembali.

“Persetujuan dilakukan melalui akun siapa?”

“Direktur utama.”

“Akun itu milikku.”

“Benar.”

“Perangkatnya?”

Staf legal membuka riwayat yang menyertai dokumen. Persetujuan dilakukan melalui jaringan internal perusahaan. Tidak ada nama perangkat.

Kaluna menoleh ke Naren.

“Bisa dilakukan dari perangkat yang dipakai untuk akun perjalanan?”

“Bisa. Tapi kita belum punya bukti.”

Kaluna mengangguk kecil.

Satu lagi.

Namanya lagi.

Tanda tangannya lagi.

Seseorang terus mengambil bagian hidupnya sedikit demi sedikit, lalu meninggalkan semuanya seolah-olah ia sendiri yang melakukannya.

Mereka melanjutkan.

Kontrak menunjukkan Sentra Arunika menerima pembayaran dalam beberapa tahap. Nominalnya selalu berada sedikit di bawah batas yang mewajibkan pemeriksaan tambahan oleh komite.

“Dipecah sengaja,” kata Kaluna.

Arsen melihat daftar pembayaran. “Bisa saja memang sesuai tahap pengiriman.”

“Mana laporan pengirimannya?”

Staf legal membuka kardus kedua. Ada lembar penerimaan barang, tanda terima gudang, dan laporan perjalanan kendaraan.

Semuanya terlihat lengkap.

Sampai Kaluna membandingkan tanggal.

“Truk ini berada di dua kota pada hari yang sama.”

Arsen mendekat. Satu nomor kendaraan tercatat mengirim peralatan ke Bekasi pagi hari, lalu menerima barang di Semarang hanya tiga jam kemudian.

“Itu nggak mungkin,” kata Kaluna.

“Bisa salah tulis,” ujar staf legal.

“Satu kesalahan mungkin.” Kaluna menunjuk halaman berikutnya. “Ini ada empat.”

Naren menandai nomor kendaraan lain.

“Nomor ini tidak terdaftar sebagai kendaraan angkut.”

Arsen memeriksa melalui sistem perusahaan.

Kendaraan tersebut ternyata mobil penumpang.

Kaluna menarik napas pendek.

Pola itu terasa akrab. Ia pernah menemukan laporan seperti ini sebelum kecelakaan. Semuanya tampak lengkap dari jauh. Begitu tanggal dan nomor dicocokkan, isinya mulai runtuh.

Itulah sebabnya ia pernah membawa map merah ke hotel.

Dan mereka masih menggunakan cara yang sama.

“Sentra Arunika tidak mengirim seluruh barang yang mereka tagihkan,” katanya.

“Belum tentu tidak mengirim,” jawab Arsen. “Bisa memakai kendaraan mitra.”

“Kalau memang pakai kendaraan lain, nomor di laporan harusnya beda.”

Kaluna mengambil dokumen pembayaran.

Dana Mahardika dikirim ke Sentra Arunika. Sebagian digunakan untuk pembayaran operasional. Beberapa hari kemudian, jumlah yang hampir sama dikirim keluar dengan keterangan jasa konsultasi.

Penerimanya dua perusahaan kecil.

Salah satunya sudah tidak aktif.

Yang lain memiliki alamat sama dengan perusahaan konsultasi yang pernah terhubung dengan Fadli.

“Jadi uangnya keluar dari Mahardika, lewat rekeningku, lalu balik lagi ke jaringan vendor.”

Kalimat itu keluar pelan.

Kaluna tidak mengalihkan pandangan dari dokumen.

Salindri membandingkan tanggal transaksi.

Dana masuk ke rekening Singapura sehari sebelum kecelakaan. Setelah Kaluna menghilang, uang tersebut dipecah ke beberapa rekening luar negeri.

Ada satu aliran yang berbeda.

Sebagian dana justru kembali ke Indonesia.

“Ke mana?” tanya Kaluna.

Naren menunjuk nama perusahaan penerima.

“Nusantara Medika Persada.”

Kaluna mengerutkan kening. “Aku pernah dengar.”

“Vendor lama,” kata Arsen. “Mereka menyediakan perlengkapan klinik.”

“Masih bekerja dengan Mahardika?”

“Tidak langsung.”

Staf legal memeriksa sistem.

“Nusantara Medika Persada menjadi pemasok untuk salah satu vendor kita.”

“Vendor yang mana?”

Jawabannya muncul beberapa detik kemudian.

Sentra Arunika Logistik.

Kaluna terdiam.

Ia membaca susunan transaksi itu lagi.

Mahardika membayar Sentra Arunika.

Sentra mengirim sebagian dana ke rekening Singapura atas namanya.

Dana itu dipindahkan ke perusahaan luar negeri.

Sebagian kembali ke Nusantara Medika Persada.

Lalu uang itu kembali masuk ke jaringan Sentra Arunika.

“Jadi uangnya muter di sini,” kata Kaluna.

Naren mengangguk. “Keluar lewat rekening Kaluna, lalu balik lagi lewat vendor lain.”

“Biar alirannya kelihatan kayak pembayaran biasa.”

Staf legal terlihat tidak nyaman.

“Ini masih dugaan.”

Kaluna langsung menoleh.

“Buka dokumen pemilik Nusantara Medika.”

“Kita tidak punya di ruangan ini.”

“Cari.”

Arsen meminta staf legal menghubungi bagian pengadaan.

Sambil menunggu, Kaluna membuka laporan audit awal Fadli.

Halaman pertama dibuat enam hari setelah kecelakaan.

Judulnya menyebut indikasi penyalahgunaan dana oleh Direktur Utama Kaluna Adiswara.

Dasar kesimpulannya:

- rekening luar negeri atas nama Kaluna;

- pembayaran Sentra Arunika;

- tiket menuju Singapura;

- ketidakhadiran Kaluna setelah kecelakaan.

Kaluna berhenti pada poin terakhir.

“Ketidakhadiran?”

Ia mengangkat wajah ke arah Arsen.

“Aku dianggap bersalah cuma karena nggak datang ke kantor setelah mobilku jatuh ke sungai?”

Arsen menunduk membaca kalimat tersebut.

“Mereka menganggap kamu masih hidup dan kabur.”

“Tubuhku bahkan belum ditemukan.”

“Mereka mengatakan kecelakaan mungkin direkayasa.”

“Berdasarkan apa?”

“Rekening dan tiket.”

Kaluna menatapnya lama.

“Dua bukti yang sekarang kita tahu dibuat melalui sistem perusahaan.”

Arsen tidak menjawab.

Kaluna kembali membaca.

Fadli menulis bahwa Kaluna diduga mengarahkan dana melalui Sentra Arunika untuk menerima keuntungan pribadi.

Lampiran rekening baru dimasukkan tiga hari setelah laporan awal dibuat.

Kaluna membalik halaman.

“Bagaimana dia menyimpulkan ada rekening sebelum lampirannya diterima?”

Naren memeriksa daftar tanggal.

“Mungkin Fadli sudah mengetahui rekening dari sumber lain.”

“Siapa yang memberi tahu?”

Tidak tertulis.

Pada catatan kaki hanya disebut informasi internal terpercaya.

“Fadli tahu rekening itu sebelum bank menyerahkan dokumen,” kata Kaluna.

“Bisa saja seseorang menunjukkan salinan tidak resmi,” ujar Salindri.

“Orang yang mengendalikan rekening.”

“Bisa.”

Arsen membaca ulang bagian tersebut.

“Laporan ini seharusnya nggak dipakai sebagai hasil akhir.”

“Tapi dipakai,” kata Kaluna.

Napasnya terdengar lebih berat.

“Media ngutip. Dewan baca. Kamu percaya.”

“Aku nggak pernah lihat versi awalnya.”

“Kamu lihat versi akhirnya.” Suara Kaluna melemah, tetapi justru terdengar lebih sakit. “Kamu nggak tanya dari mana semua kesimpulan itu datang.”

Arsen menutup halaman perlahan.

“Aku salah.”

Kaluna diam.

Ia sudah membayangkan Arsen membela diri. Menjelaskan prosedur. Menyalahkan orang lain.

Ia tidak menyangka lelaki itu justru mengaku.

Tetap saja, pengakuan itu tidak membuat dadanya ringan.

Tiga tahun tidak bisa dikembalikan dengan dua kata.

Staf legal kembali membawa dokumen digital Nusantara Medika Persada.

Pemilik perusahaan tercatat seorang pria bernama Heru Santosa. Tidak ada hubungan langsung dengan keluarga Mahardika. Alamat kantornya sebuah ruko di Jakarta Barat.

“Periksa direkturnya,” kata Naren.

Nama direktur berbeda. Komisaris juga berbeda.

Awalnya semuanya terlihat biasa.

Lalu Salindri membandingkan alamat korespondensi.

Alamat itu sama dengan alamat yang pernah dipakai salah satu perusahaan penerima dana dari rekening Singapura.

“Perusahaan-perusahaan ini memakai alamat kantor yang sama,” katanya.

“Bisa layanan alamat bisnis,” ujar staf legal.

“Siapa penyedianya?”

Mereka mencari data registrasi lama.

Nama perusahaan layanan muncul.

Asteria Corporate Services Indonesia.

Kaluna menoleh ke Naren.

Asteria tercatat dalam dokumen pembukaan rekening Singapura. Nama perusahaan yang sama juga muncul dalam data yang berkaitan dengan surel palsu.

“Berarti perusahaan-perusahaan ini masih pakai layanan yang sama,” kata Kaluna.

Arsen berdiri dari kursinya dan berjalan ke ujung meja.

“Berapa banyak kontrak Mahardika yang memakai alamat dari Asteria?”

Staf legal membuka sistem pengadaan. Pencarian memerlukan waktu beberapa menit.

Hasilnya lebih banyak dari yang mereka perkirakan.

Tujuh vendor pernah memakai alamat layanan Asteria.

Tiga masih aktif.

Empat sudah ditutup.

Sebagian besar mulai bekerja dengan Mahardika dalam dua tahun sebelum kecelakaan Kaluna.

“Siapa yang merekomendasikan vendor-vendor ini?” tanya Kaluna.

Data rekomendasi tidak lengkap. Beberapa berasal dari pengadaan, beberapa dari operasional, dan dua melalui jalur khusus dewan.

Sentra Arunika termasuk salah satunya.

“Sekretariat dewan lagi,” kata Kaluna.

Salindri langsung menyela.

“Jalur khusus dewan belum berarti ketua dewan yang kasih perintah.”

“Aku tidak bilang begitu.”

Kaluna terdiam.

Ia sudah belajar menahan nama Bramasta sampai bukti benar-benar menyentuhnya.

Teleponnya bergetar.

Elara mengirim pesan singkat.

Besok tetap datang?

Kaluna melihat waktu.

Anak itu sudah bertanya hal yang sama dua kali dalam dua hari.

Tetap. Aku tidak lupa.

Bawa stiker bintang.

Untuk apa?

Pasiennya sembuh kalau dapat bintang.

Kaluna tersenyum kecil.

Baik, Dokter Elara.

Senyum itu hanya bertahan beberapa detik.

Ia menyimpan telepon, lalu kembali melihat tumpukan dokumen.

Di kepalanya bercampur janji membawa stiker dan aliran uang yang terus berputar lewat perusahaan-perusahaan itu.

Satu terasa kecil.

Yang lain mengancam seluruh hidupnya.

Keduanya tetap tidak bisa ia abaikan.

Naren menarik satu lembar persetujuan pembayaran.

“Ini perlu kamu lihat.”

Transaksi terakhir Mahardika kepada Sentra Arunika dilakukan empat hari setelah kecelakaan.

Jumlahnya cukup besar.

Persetujuan memakai akun Kaluna.

“Tanggal ini aku sudah hilang,” katanya.

“Statusmu belum dinyatakan meninggal,” jawab staf legal.

“Aku juga tidak berada di kantor.”

Arsen memeriksa waktu persetujuan.

Akun Kaluna digunakan pukul delapan lewat tujuh belas pagi.

Perangkat yang dipakai tidak tercatat, tetapi jaringan asalnya berasal dari kantor pusat.

“Siapa yang masih punya akses ke akun Kaluna setelah kecelakaan?” tanya Arsen.

Staf legal menjawab, “Seharusnya tidak ada. Akun baru dinonaktifkan tujuh hari setelah kejadian.”

“Kenapa begitu lama?”

“Kami menunggu kepastian status.”

Kaluna memandang tanda persetujuannya.

Dadanya terasa kosong.

Seseorang memakai namanya ketika ia bahkan tidak tahu di mana dirinya berada.

Menggunakan akunnya.

Mengikat tanda tangannya pada uang yang tidak pernah disentuhnya.

“Dokumen ini harus disalin,” katanya.

Salindri mengangguk.

“Ini penting. Waktu persetujuan itu dibuat, keberadaanmu belum diketahui. Dan dari data ini, kamu nggak mengakses kantor.”

Arsen meminta staf legal menyiapkan salinan resmi.

Sebelum dokumen dipindai, layar sistem berubah.

Muncul pemberitahuan bahwa berkas asli sedang dikunci karena pemeriksaan internal dewan.

“Apa maksudnya?”

Suara Kaluna nyaris berbisik.

Staf legal mencoba membuka ulang.

Akses ditolak.

“Siapa yang mengunci?” tanya Arsen.

Nama pengguna tidak muncul.

Yang tercantum hanya unit peminta:

Kantor Ketua Dewan.

Kaluna memandang Arsen.

Tidak ada satu pun dari mereka yang langsung bicara.

Beberapa menit setelah bukti itu ditemukan, akses ke berkas tersebut ditutup.

Kaluna menarik napas.

Untuk sesaat, ia merasa tiga tahun lalu kembali ke hadapannya.

Ada orang lain yang masih memegang namanya.

Dan orang itu tahu mereka sedang mencari.

1
Adinda
kaluna cerai aja sama Arsen buat apa sama pria penghianat istrinya belum ditemukan malah nikah lagi sama naren aja kaluna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!