Elara terjebak dalam novel–bukan sebagai pahlawan, bukan juga sebagai penjahat, melainkan selir yang bahkan namanya kerap terlupa.
Lebih dari itu, ia adalah orang yang hanya ingin hidup tenang, bermalas-malasan, bahkan terlalu malas untuk melafalkan dialog yang ditetapkan untuknya.
Oleh sebab itu, sebagai tokoh pendukung yang bangkit dari kematian, ia tak berniat menuntut balas? Ia memilih tak ikut campur sedikit pun.
Namun, bagaimana jika alur malah berbalik dan membuatnya menjadi tokoh utama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam harinya, Paviliun Matahari Terbit kembali tenang. Elara sedang berbaring di kasur bulu angsa generasi ketiganya, mengipas-ngipaskan dirinya dengan kipas merak putih, sambil memakan anggur yang disuapkan Nira.
“Yang Mulia,” ucap Nira pelan. “Ada kabar dari gerbang depan. Seorang utusan dari Perbatasan Utara baru tiba. Dia membawa surat dari… Duke Adrian dari Utara.”
Elara berhenti mengunyah anggurnya.
Duke Adrian.
Dalam novel Mahkota Duri dan Darah, Duke Adrian adalah Male Lead kedua. Dia adalah komandan perbatasan yang tampan, dingin, dan sangat setia.
Di Bab 15 novel asli, Duke Adrian seharusnya kembali ke ibukota untuk melaporkan krisis kelaparan, dan di sinilah dia pertama kali bertemu dengan Putri Mahkota Aurelia. Pertemuan mereka di bawah hujan di gerbang istana adalah salah satu adegan paling ikonik yang memicu rute romansa kedua di novel itu.
Tapi tunggu. Jika Duke Adrian kembali ke ibukota sekarang, itu berarti..
“Sistem,” gumam Elara pelan, menatap langit-langit kamarnya. “Kamu sedang mencoba memperbaiki plot, ya?”
Teks bercahaya merah samar muncul di penglihatannya, hanya untuk sepersekian detik.
[Plot Correction Initiated. Target: Duke Adrian. Destination: Imperial Capital.]
[Anomaly Interference: Minimal.]
Elara menghela napas panjang. Ia meletakkan kipas meraknya.
“Nira.”
“Y-Ya, Yang Mulia?”
“Suruh Duke Adrian menunggu di Paviliun Musim Semi. Katakan padanya Kaisar sedang sibuk. Dan yang paling penting..” Elara menarik selimutnya hingga ke dagu. “Jangan biarkan Putri Mahkota Aurelia masuk ke paviliun itu. Kalau dia bertemu Duke Adrian di bawah hujan seperti di novel.. eh, seperti di ramalan bintang, alur ceritanya akan kembali ke jalur asli.”
“R-Ramalan bintang, Yang Mulia?”
“Ya. Ramalan bintang. Sangat tidak ilmiah. Sekarang, matikan lilin. Saya mau tidur. Besok pagi saya harus memikirkan cara agar Duke Adrian tidak jatuh cinta pada Putri Mahkota. Itu akan membuat pekerjaan saya di masa depan dua kali lebih lipat.”
Nira membungkuk dan mematikan lilin, meninggalkan ruangan dalam kegelapan.
Di dalam kegelapan itu, Elara memejamkan matanya. Ia bisa merasakan bahwa Sistem itu tidak akan berhenti. Dunia ini sedang mencoba memaksakan ceritanya, dan Elara si figuran yang malas, kini secara tidak sadar telah menjadi satu-satunya benteng yang menahan runtuhnya alur cerita asli.
“Sial,” bisik Elara dalam gelap. “Besok aku harus minta kenaikan gaji. Atau setidaknya, minta kasur bulu angsa generasi keempat.”
***
Pagi itu, Elara berdiri di depan jendela kamarnya, menatap langit dengan tatapan penuh curiga.
Langit Aethelgard berwarna abu-abu gelap. Awan tebal menggantung rendah, seolah-olah siap menumpahkan seluruh isi perutnya ke atas ibukota kapan saja. Angin bertiup sejuk, membawa aroma tanah basah.
Pemandangan yang indah. Puitis. Sangat sempurna untuk... adegan romantis.
"Nira," panggil Elara tanpa menoleh.
"Y-Ya, Yang Mulia?"
"Kapan Duke Adrian dijadwalkan menghadap Kaisar?"
"Siang ini, Yang Mulia. Pukul dua belas. Beliau baru saja tiba dari Perbatasan Utara dan sedang beristirahat di Paviliun Tamu Agung."
Elara memejamkan mata. Pukul dua belas. Langit mendung. Duke Adrian adalah pria tampan, berotot, dan penuh luka pertempuran. Putri Mahkota Aurelia adalah wanita anggun yang selalu tampil sempurna.
Jika Aurelia kebetulan berjalan di halaman istana saat hujan turun, dan Duke Adrian 'kebetulan' ada di sana dan menawarkan payungnya...
Boom.. Rute romansa kedua novel ini akan aktif. Dan jika rute itu aktif, Kaisar Lucian yang mulai posesif akan cemburu, Aurelia akan mendapat simpati, dan Elara? Elara akan kehilangan status konsultan paruh waktu dan kembali menjadi figuran yang bisa dibunuh kapan saja.
Tidak, aku tidak akan membiarkan tropes novel sialan ini merusak jadwal tidur siangku.
"Nira. Panggil Kepala Pelayan. Suruh dia mengerahkan dua ratus pelayan istana ke halaman utama Paviliun Musim Semi."
"Untuk menyambut Duke Adrian, Yang Mulia?"
"Bukan. Suruh mereka mencuci halaman. Pakai sabun cuci lantai yang paling berbau menyengat. Dan pastikan selokannya disiram air sampai berlumpur. Oh, dan pasang tenda-tenda inspeksi logistik raksasa di tengah halaman. Kita akan melakukan simulasi pembongkaran gandum."
Nira ternganga. "Tapi Yang Mulia, Duke Adrian adalah pahlawan perang! Membiarkan beliau melihat halaman yang berlumpur dan berbau sabun keras itu... itu tidak sopan!"
"Itu namanya Hostile Environment Architecture," jawab Elara datar, berbalik dari jendela. "Sekarang, bantu aku melepas gaun tidurku. Cari gaun yang paling kusut dan warnanya paling pudar. Kita akan menyambut pahlawan kita."