Angel Martinez dibesarkan untuk satu tujuan: menjadi istri yang sempurna dan penurut bagi pria pilihan ayahnya—seorang bos mafia Spanyol yang menganggap kekuasaan adalah segalanya. Yang ia impikan hanyalah kebebasan: sebuah perpustakaan, kuas dan kertas, dan satu perjalanan ke Italia sebelum hidupnya benar-benar bukan lagi miliknya.
Namun perjalanan itu ternyata sebuah jebakan manis. Di Roma, Angel mendapati dirinya telah dijanjikan kepada Dante Moretti—Don muda paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, arogan, dan terbiasa memiliki apa pun yang ia mau, Dante sama sekali tak berniat mengikat hidupnya pada seorang "putri manja". Sampai gadis bermata biru dan berambut merah api itu menatapnya tanpa gentar… dan meruntuhkan setiap tembok yang ia bangun.
Di dunia penuh darah, aliansi, dan senyum palsu, cinta adalah kelemahan paling berbahaya. Karena di balik pesta megah dan janji-janji setia, ada seseorang yang sudah lama menunggu—seseorang yang tahu persis bahwa cara termudah menghancurkan seorang Don adalah dengan merebut satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai.
Ketika pria yang tak pernah takut pada apa pun akhirnya menemukan sesuatu yang tak sanggup ia kehilangan, ia siap membakar seluruh dunia demi mempertahankannya.
"Tak ada yang boleh menyentuh hartaku dan pergi tanpa terluka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon franericá, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Percakapan — Don Moretti & Dante
POV Dante
Setelah aku meninggalkan kamar sang putri—yang meledak-ledak, keras kepala, dan lebih berbahaya bagi kewarasanku daripada musuh bersenjata mana pun—aku menuruni tangga dengan masih menciumkan aromanya di kulitku.
Sialan.
Ia berhasil membuatku jengkel dan terpikat sekaligus.
Ketika aku tiba di ruang kerja, lampunya menyala.
Ayahku menungguku, bersandar di meja, dengan segelas anggur di tangan.
Khas dia.
"Bagaimana pendapatmu tentang tunangan dan calon istrimu?"
Aku mendengus, menyisir rambut dengan tangan.
Aku berjalan ke bar lalu menuang wiski. Aku butuh itu.
Minuman itu membakar, tapi tak lebih dari pikiran-pikiran tentang Angel.
"Dia meledak begitu tahu. Dia sama sekali tak menyangka soal pernikahan itu."
Ayahku meletakkan gelasnya, tatapannya serius.
"Karena Javier ingin melindungi putrinya. Dan aku tak menyalahkannya. Angel itu… berbeda."
Aku memutar bola mata, jengkel dengan caranya membicarakan gadis itu.
"Berbeda bagaimana? Polos? Naif? Anak yang dibesarkan jauh dari kenyataan?"
Ia menatapku seperti hanya seorang Don yang bisa—tegas, tak tertembus.
"Berbeda dari semua wanita yang pernah kau miliki. Dan justru itulah yang kau butuhkan."
Aku terhenyak, tak percaya.
"Aku tak 'membutuhkan' siapa pun."
"Kau membutuhkannya. Untuk memimpin seperti yang kuharapkan… kau butuh keseimbangan. Seseorang yang menarikmu kembali ke porosmu saat kau kehilangan kendali."
Aku tertawa. Keras. Sarkastis.
"Dan Ayah pikir sang putri manja itu akan melakukannya?"
"Jangan meremehkannya, Dante. Gadis itu punya api di matanya. Dan kalau kau tak berhati-hati… kau akan terbakar."
Aku menyilangkan tangan.
"Dia membenciku."
"Pada awalnya, ya. Karena pilihannya direnggut. Tapi itu akan berubah."
Aku terdiam beberapa detik.
Wajahnya melintas di benakku: mata yang berkaca-kaca, suara yang bergetar, cara ia menghadapiku tanpa takut, meski ketakutan.
Kebanyakan wanita akan menundukkan kepala.
Ia tidak. Dan itu… itu menggangguku.
"Dia akan kabur kalau ada kesempatan."
Ayahku tersenyum miring, seolah sudah menanti pertanyaan itu.
"Kalau begitu kau harus meyakinkannya untuk tinggal. Dan bukan dengan kekerasan. Melainkan dengan sesuatu yang tak pernah harus kau pakai pada wanita mana pun."
Aku menyipitkan mata.
"Apa?"
"Kesabaran. Dan rasa hormat."
Aku melepaskan tawa rendah.
"Rasa hormat? Aku ini seorang Moretti."
Ia mendekat dan meletakkan tangannya dengan mantap di bahuku.
"Dan justru karena itulah kau akan memperlakukannya sebagai permata langka yang dipercayakan Javier ke tangan kita. Kalau kau gagal… kau kehilangan bukan hanya dia, tapi seluruh aliansi."
Hening.
Panjang. Berat.
Ayahku berbalik memunggungiku, tapi sebelum keluar, ia berkata, "Dante… jangan hancurkan gadis itu sebelum kau mengenalnya. Dia bisa menjadi kehancuranmu. Atau keselamatanmu."
Pintu tertutup.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku sendirian dengan sebuah kebenaran yang tak ingin kuakui: Angel Martinez sudah mulai menggangguku.
Dan itu… berbahaya.
Dan bahaya itulah yang pada akhirnya mungkin kunikmati.