Cattleya tak menduga pesta kemenangan saat timnya menjuarai kejuaraan akan membuatnya meninggalkan dunianya. Ia terbangun di tubuh seorang antagonis dalam sebuah novel yang dibacanya.
Cattleya yang diketahui mengandung anak kaisar diangkat menjadi selir. Dia tak bisa menjadi permaisuri karena sudah ada Adelle seorang putri Duke yang memang digadangkan jadi calon permaisuri.
Namun bisikan-bisikan yang datang ke telinganya yang mengatakan bahwa dirinya lebih pantas menjadi permaisuri membuat gadis pemalu itu menjadi berambisi. Terlebih Kaisar juga tak pernah mengacuhkan dirinya. Hingga pada akhirnya Cattleya meracuni Adelle dan dirinya dieksekusi mati.
Mengetahui hal tersebut, Cattleya pun memilih jalur aman, dia kabur dan bersembunyi. Namun plot novel tersebut tetap saja membuat dirinya ditemukan.
"Plot novel sialaaaan!!!"
Akankah Cattleya bisa mengubah plot novel tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyarui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
One Night 34
"Panggikan penjahit terbaik di kekaisaran, berapapun harganya aku akan membayarnya."
Duke Ramos Mortain juga ikut memberikan perintah dan juga ikut berisik dalam persiapan pesta pembentukan negara.
Pesta itu akan jadi pembuktian bahwa keluarga Mortain benar-benar akan jadi anggota kekaisaran. Maka dari itu Duke pun ingin Adelle tampil sesempurna mungkin.
" Rose Atellier, aku mau itu Ayah," ucap Adelle. Dengan mata berbinar, ia menyebutkan sebuah rumah mode yang memegang pembuatan gaun khusus istana.
"Tapi, bukannya dia punya Istana. Dia hanya membuat pakaian untuk keluarga Kekaisaran," jawab Duke Ramos.
Adelle tersenyum, memang benar bahwa Rose Atellier hanya membuat pakaian untuk keluarga Kekaisaran, tapi bukankah dirinya juga sebentar lagi akan menjadi bagian dari mereka? maka dari itu tentu dia berhak membuat gaun di Rose Attelier.
"Bukankah aku calon permaisuri, Ayah? Jadi pasti dia mau membuatkan ku gaun."
Duke Ramos menganggukkan kepalanya
"Ya, kau benar putriku. Bawa orang itu kamari. Dia harus membuat gaun untuk putriku."
"Baik Tuan Duke."
Salah satu kesatria dari kediaman Duke Mortain langsung pamit untuk menjemput pemilik Rose Atelier. Rumah mode itu berada di jalan sekitar alun-alun ibu kota yang memang merupakan kawasan paling ramai. Di sana terdapat banyak toko dengan berbagai barang untuk diperjual belikan.
Setengah jam berlalu, kesatria tersbeut kembali dengan nafas yang terengah-engah. Dia kembali sendiri tanpa membawa siapapun.
"Mana Nyonya Rose?" tanya Adelle. Keningnya berkerut dan matanya melihat ke arah pintu.
"Maaf Tuan Putri, akan tetapi Nyonya Rose tidak ada di tempat. Beliau katanya berada di Istana untuk membuat pakaian."
Adelle dan Duke Mortain saling pandang. Sudah sekian lama mereka tak mendengar hal tersebut. Kaisar sendiri juga tak pernah menggunakan jasa Nyonya Rose karena dia enggan disentuh oleh wanita.
Lantas, mengapa tiba-tiba Nyonya Rose berada di istana?
Pertanyaan yang sama muncul dari kepala Adelle dan Duke Mortain.
"Apa mungkin Baginda akan memberiku gaun khusus sebagai kejutan. Ayah, haruskan kita ke istana?"
Duke Mortain terdiam sejenak saat mendengar ide dari putrinya. Dia sendiri sudah beberapa waktu tidak datang ke istana karena memang tidak ada urusan. Tapi kalau datang pun, Duke Ramos Mortain bingung mau melakukan apa. Dia harus punya alasan kuat.
"Yang Mulia."
Butler kediaman duke datang dengan membawa sebuah nampan yang di atasnya ada sepucuk surat. Simbol lilin pengunci surat itu jelas dari istana. Duke pun tersenyum lebar.
"Baiklah, mari kita datang ke Istana. Langit agaknya memang memihak kita. Ini adalah undangan rapat kenegaraan untuk membahas pesta perayaan pembentukan negara."
Adelle tersenyum lebar, dia pun bergegas mengganti pakaiannya sekarang dengan pakaian terbaiknya. Dan Adelle juga punya rencana untuk bisa menemui Lucien.
"Aku harus bertemu Baginda, aku sudah menantikan pertemuan ini dan tak akan kusia-siakan kesempatan ini."
Adelle sangat bersemangat. Dia meminta pelayannya untuk membuat tampilan dirinya sesempurna mungkin. Dari pakaian, riasan wajah dan juga rambut. Adelle benar-benar menumpahkan semua usahanya untuk hari ini.
"Apa sudah siap?" tanya Duke Mortain di depan pintu.
"Sudah Ayah, mari kita berangkat."
Adelle mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Adelle dan ayahnya naik ke kereta dan meminta kusir untuk melaju dengan lebih cepat.
Sepanjang perjalanan menuju ke istana, Adelle tak henti-hentinya tersenyum. bayangannya untuk bertemu Lucien sudah ada di depan mata.
Akan tetapi agaknya Adelle harus menelan kekecewaan. Di gerbang istana, seroang kesatria menhentikan kereta mereka. Ini merupakan hal baru. Sebelumnya tak ada yang pernah mencegat kereta milik bangsawan yang akan masuk ke istana untuk menghadari rapat.
"Ada apa?"
"Maaf Tuan Duke, wanita tidak diizinkan masuk ke istana."
"APA?"
TBC