Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Mata Pisau Kecurigaan
Gimnasium bawah tanah itu berbau karet, keringat, dan ketegangan yang terasa begitu pekat sampai seakan bisa diiris dengan pisau. Damian tak mempermudah keadaan untukku. Tak ada kelembutan, tak ada basa-basi kesopanan. Dia bergerak mengelilingiku seperti pemangsa yang menilai mangsa yang tiba-tiba memutuskan untuk memperlihatkan taringnya.
"Kalau kamu mau memegang senjata, pegang seolah nyawamu bergantung padanya, bukan seolah itu mainan Eithan," gertak Damian, mendekat dari belakang.
Aku merasakan panas tubuhnya sebelum merasakan sentuhannya. Dia menempel di punggungku untuk membetulkan posisiku, kedua tangannya yang besar dan kasar menyelimuti tanganku di atas gagang pistol. Kontrasnya begitu tajam, tubuhnya segumpal otot yang dikeraskan oleh perang, sementara aku, meski merasa lebih kuat dari sebelumnya, masih bisa merasakan gema hinaan-hinaannya di kulitku.
"Kamu tegang, Alessandra. Begitu, kamu cuma akan membuat hentakannya mematahkan pergelangan tanganmu," bisiknya dekat telingaku. Napasnya menyapu leherku dan getaran dingin yang tak ingin kuakui menjalari tulang punggungku.
"Aku tegang karena kamu terlalu dekat, Damian. Jangan salah paham, ini bukan dansa," jawabku sambil menggertakkan gigi. "Lepaskan aku dan biarkan aku melakukannya sendiri."
"Di dunia nyata, tak ada yang akan melepaskanmu. Bianca tak akan melepasmu saat sudah mencengkeram lehermu," Damian melepasku dengan kasar, membuatku terhuyung. "Adikmu sudah menggerakkan bidak-bidaknya. Dimitri bukan orang yang suka bertanya-tanya. Dia menembak lebih dulu, mengubur belakangan. Kalau kamu pikir bisa menghadapi mereka dengan sikap korban seperti itu, lebih baik pulang ke Queens dan lap meja lagi sana."
"Aku bukan korban!" teriakku, berputar dengan senjata masih di tangan, mengarahkannya ke ruang kosong tapi dengan tatapan terpaku pada mata gelapnya. "Berhenti bicara padaku seolah aku masih gadis gendut yang bersembunyi di pesta jamuan biar tak dibentak ayahku. Perempuan itu mati di hari kamu mengirimiku pesan itu. Yang berdiri di hadapanmu ini selamat dari kesepian, dari kelaparan, dan dari ketakutan. Jadi ajari aku menembak atau minggir dari jalanku."
Damian terpaku. Aku melihat percikan sesuatu yang menyerupai kekaguman di matanya, tapi lenyap secepat munculnya.
"Baik. Tembak."
Suara letusan tembakan memenuhi ruangan. Bahuku nyeri, telingaku ditulikan bising, tapi aku tak menurunkan senjata. Setiap peluru yang keluar adalah teriakan melawan Bianca, melawan ayahku, melawan takdir yang ditulis orang lain untukku.
"Lumayan juga untuk seekor 'merpati putih'," kata Damian, menatap sasaran tempat peluru-peluru menghantam dekat pusatnya. "Tapi Dimitri mengirim orang terbaiknya ke Italia. Igor baru saja menerima kabarnya. Kita punya waktu empat puluh delapan jam untuk menyerahkanmu dan anak itu, atau Bratva Rusia akan datang mengambil kepala kita."
Udara terasa berat. Dimitri, pria yang kini dikendalikan Bianca bagai boneka, telah menjatuhkan vonis.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan, Damian?" tanyaku, akhirnya menurunkan senjata. "Kamu mau menyelamatkan kulitmu sendiri dan menyerahkan kami? Atau kamu akan melawan bosmu sendiri demi 'kesalahan' yang begitu kamu hina?"
Damian mendekat perlahan, mempersempit jarak hingga hanya beberapa sentimeter memisahkan kami. Aku bisa melihat bekas luka yang menyilang alisnya, jejak penyergapan yang mengubah segalanya.
"Dimitri memberiku segala yang kupunya, tapi dia tak tahu kebenarannya. Bianca menjejali kepalanya dengan racun, bilang kamu pengkhianat dan anak itu bukan darahku." Damian menangkup wajahku dengan satu tangan, dan kali ini tak ada kekerasan, hanya sebuah janji yang menakutkan. "Tapi dia keliru. Tak ada yang boleh menyentuh apa yang jadi milikku. Bahkan Tsar Rusia sekalipun. Kalau Dimitri mau perang demi kebohongan adikmu, akan kuberi dia neraka yang tak akan pernah dilupakan St. Petersburg."
"Dia membenciku, Damian. Membenciku karena aku tak pernah bisa sesempurna dia. Karena aku selalu jadi 'si gendut' yang tak dianggap," kataku, dan untuk pertama kalinya suaraku sedikit retak. "Dia akan percaya semua ucapannya karena di matanya, Bianca itu merpati putih."
"Dia seekor ular, dan aku tahu cara memenggal kepala ular," Damian memutuskan. "Tapi sekarang, aku butuh kamu percaya kepadaku. Bukan sebagai pria, bukan sebagai ayah anakmu... tapi sebagai satu-satunya monster yang sanggup menghentikan Dimitri."
Tepat saat itu, ponsel Damian bergetar. Sebuah panggilan video terenkripsi dari Italia. Layar menampilkan seorang pria berwajah keras seperti batu dengan mata sedingin es, utusan Dimitri.
"Smirnov," kata pria itu dalam bahasa Rusia, dengan suara yang terdengar seperti dari liang kubur. "Ultimatum sudah kau terima. Dimitri tak akan menerima alasan. Serahkan perempuan Valente dan anak haram itu sebelum fajar lusa, atau anggap seluruh keluargamu sebagai musuh Negara."
Damian menatap layar lalu menatapku. Senyum kejam terukir di bibirnya sementara dia mencengkeram tanganku erat-erat.
"Katakan pada Dimitri, kalau dia menginginkan keluargaku, dia harus datang mengambilnya sendiri. Dan suruh dia bawa peti mati yang cukup, karena aku tak akan membiarkan satu pun anak buahnya berdiri."
Panggilan terputus. Kesunyian kembali menguasai, tapi itu kesunyian perang.
"Bianca pikir dia sudah menang," gumam Damian, berbalik ke arah samsak tinju. "Dia pikir dengan kecantikan dan kebohongannya, dia bisa menghancurkan apa yang kubangun. Dia tak tahu Alessandra Valente sudah bukan lagi mangsa, melainkan umpan yang akan menyeret mereka ke liang lahat."
Aku berdiri di sana, menatap kedua tanganku yang berbau mesiu. Bianca ingin aku mati karena iri. Ayahku ingin aku mati karena harga diri. Dan Dimitri ingin aku mati karena sebuah kebohongan. Tapi saat memandang Damian, aku tahu dendam itu harus menunggu. Kalau aku ingin Eithan punya hari esok, aku harus belajar bertarung bersama iblis hari ini.
"Besok kita latihan lagi," kataku sambil berjalan menuju pintu keluar. "Dan kali ini, aku tak mau kamu membetulkan posisiku. Aku mau kamu mengajariku di mana rasa sakit paling dalam saat pelatuk ditarik."
Damian tak menjawab, tapi kudengar bunyi tumpul kepalannya menghantam samsak, sebuah irama yang tetap dan penuh kekerasan, menandai awal dari kejatuhan keluarga Valente dan tantangan terbesar yang pernah dihadapi Bratva. Merpati hitam itu siap terbang, dan kali ini, sayapnya terbuat dari timah panas.