Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: TAMPARAN PEDAS DAN LAMARAN PENUH TEKA-TEKI
Kantin sanggar tari sore itu agak sepi. Di sudut ruangan dekat jendela, Kamilah sedang duduk tenang menikmati porsi makan siangnya. Namun, ketenangan itu tak bertahan lama ketika derap langkah kasar berdegum mendekat.
Brak!
Tanpa peringatan sedikit pun, sebuah tas tebal dilemparkan dengan beringas tepat ke arah meja Kamilah. Benturan keras itu membuat nampan, mangkuk sup, dan piring makan siang Kamilah terlempar berantakan ke lantai. Cairan kuah panas bercampur sisa makanan melumuri pakaian serta lantai di sekeliling tempat duduknya.
Kamilah tersentak kaget, berdiri dari kursinya dengan napas memburu. Matanya menyipit tajam menatap sosok di depannya: Sanum Lin.
"Sanum! Kamu ini lupa minum obat atau salah minum obat, hah?!" bentak Kamilah dengan amarah yang membakar dadanya. "Kenapa tiba-tiba datang dan mengamuk tidak jelas seperti ini?!"
Wajah Sanum memerah padam, dadanya naik turun meluapkan emosi yang tak tertahankan. "Dasar wanita tak tahu malu! Aku sudah tahu semuanya, Kamilah! Bu Laila secara khusus memilih dan memintamu membawakan tarian Permaisuri Mabuk, kan?!"
Kamilah menyunggingkan senyum sinis yang sarat akan cemoohan. "Keluarga Lin milikmu itu punya koneksi dan pengaruh di mana-mana, Sanum. Tapi aku... aku tidak pernah menganggap kesempatan menari yang kudapatkan ini berasal dari koneksi atau jalur belakang!"
Kamilah melangkah maju satu langkah besar, menatap musuhnya lurus-lurus. "Kalau kamu tidak terima dengan keputusan Bu Laila, perjuangkan sendiri kemampuanmu di atas panggung! Kenapa harus berteriak-teriak histeris seperti orang gila di depanku?!"
"Dasar jalang sialan!" raung Sanum hilang kendali.
Dengan mata membabi buta, Sanum mengangkat telapak tangannya tinggi-tinggi ke udara, berniat menampar wajah Kamilah sekuat tenaga.
Namun, Kamilah bukan lagi gadis lemah yang bisa ditindas dengan mudah. Dengan refleks yang sangat cepat dan presisi, Kamilah menangkis dan mencengkeram erat pergelangan tangan Sanum di udara sebelum sentuhan itu mendarat di kulitnya.
Plak!
Sebelum Sanum sempat menyadari apa yang terjadi, Kamilah mengayunkan telapak tangannya sendiri dan menampar wajah Sanum dengan sangat keras! Suara tamparan nyaring itu bergema menembus sudut-sudut kantin.
Wajah Sanum terpaling ke samping, sudut bibirnya merona merah menahan rasa panas dan perih yang membakar pipinya.
"Kamu... kamu berani memukulku?!" jerit Sanum histeris, matanya membelalak lebar seolah tak percaya. "Dasar jalang brengsek! Kamu—"
Belum sempat Sanum menyelesaikan umpatannya, Kamilah membungkuk secepat kilat, menyambar sisa piring makanan yang tertumpah di meja, lalu melemparkan seluruh sisa makanan dan kuah yang kotor itu tepat ke atas kepala Sanum!
Splash!
"AAAGHHH! PANAS! KOTOR!" teriak Sanum melengking histeris sambil berusaha membersihkan sisa makanan yang menempel di rambut dan wajah cantiknya.
Kamilah tidak membuang waktu satu detik pun untuk melayani jeritan melengking itu. Dengan pandangan dingin, ia membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan kantin tanpa penyesalan sedikit pun.
"Aaargh! Dasar Kamilah jalang sialan! Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" teriakan Sanum membahana di belakangnya, namun Kamilah mengacuhkannya sepenuhnya.
Kamilah melangkah menyusuri lorong taman belakang sanggar yang remang-remang. Angin sore berhembus dingin menyapu helaian rambutnya. Ketika amarah dan rasa tertekan merayapi pikirannya, sebuah kebiasaan buruk yang sudah lama terpendam mendadak kambuh tanpa bisa ia kendalikan: Kamilah mulai menyiksa dan mencengkeram jemari tangannya sendiri sangat keras hingga melukai kulit mukanya.
Setiap kali ia merasa jengkel, kecewa, dan marah pada dirinya sendiri karena tak bisa mengendalikan situasi, rasa sakit fisik secara sadar ia ciptakan demi mengalihkan kepedihan batinnya.
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan kokoh menyambar pergelangan tangannya, menghentikan tindakan merusak diri yang sedang dilakukan Kamilah.
Kamilah tersentak kaget dan menengok. Di hadapannya berdiri sosok tegap nan rupawan berjas hitam yang sangat ia kenal—Rizky Syah.
Pria itu memandangnya dengan raut wajah yang sukar diartikan, lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebutir permen manis.
"Kenapa... kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Kamilah gagap dengan napas terengah pelan.
Rizky Syah menghela napas panjang, memasang raut wajah lelah yang dipaksakan. "Kakakmu—Roya Ye—benar-benar marah besar padaku. Dia mengejarku terus-menerus tanpa henti, membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak berhari-hari."
Rizky menyodorkan permen tersebut ke telapak tangan Kamilah, lalu menggenggam erat jemari halus gadis itu. "Jadi... aku datang kemari khusus untuk tidur bersamamu malam ini."
Mata Kamilah seketika melotot lebar. "A-apa?! Apa Kak Roya tahu kamu bicara menggoda dan tidak senonoh begini padaku?!"
Rizky Syah memiringkan kepalanya, menatap Kamilah dengan sorot mata lurus. "Aku sama sekali tidak tertarik pada kakakmu, Kamilah. Aku juga tidak menyukai sesama laki-laki. Berhentilah berbicara yang melantur."
Kamilah tersenyum kecut, membuang mukanya ke samping demi menyembunyikan rasa getir yang mengganjal di dadanya. Perasaan salah paham tentang rumor kedekatan Rizky dan kakaknya masih melekat erat di kepalanya.
"Aku mengerti dengan latar belakang keluarga besarmu, Kak Syah..." bisik Kamilah dengan nada simpatik buatan. "Banyak hal di dunia elit ini yang tidak diizinkan. Meskipun hukum dan norma masyarakat mungkin tidak mendukung hubungan kalian... tapi cinta bisa mengatasi segalanya."
Kamilah memajukan tubuhnya, menepuk dan memegang pundak Rizky Syah dengan raut wajah sangat dramatis dan penuh pengertian. "Jangan khawatir... kamu akan tetap menjadi satu-satunya 'Kakak Ipar' terbaik di dalam hatiku."
Rizky Syah membeku kaku di tempatnya. Senyuman tipis di bibirnya seketika menghilang total. Pria tegap itu menatap Kamilah dengan tatapan tak percaya bercampur jengkel.
Kenapa gadis ini sama sekali tidak bisa diajak berbicara baik-baik dan selalu berpikiran absurd seperti ini?! raung Rizky Syah frustrasi di dalam hatinya.
Rizky menarik napas dalam-dalam, mengikis habis jarak di antara mereka hingga aroma maskulin tubuhnya melingkupi seluruh indra penciuman Kamilah. Suasana sore yang tadinya canggung mendadak berubah menjadi teramat tegang dan intens.
"Sudahlah... tidak perlu dijelaskan lagi," bisik Rizky Syah dengan intonasi suara yang mendadak berubah menjadi teramat rendah, berat, dan seksi tepat di hadapan wajah Kamilah. "Aturan di dalam keluargaku sangat ketat. Mereka tidak mungkin setuju dengan pilihanku, dan ibuku terus-menerus mendesakku untuk segera menikah."
Rizky Syah menundukkan kepalanya sedikit, mengedipkan sebelah matanya dengan ukiran senyum menggoda yang sanggup meruntuhkan pertahanan wanita mana pun.
"Bagaimana kalau... kamu saja yang menikah denganku, Kamilah?" tantang Rizky Syah tiba-tiba.
DEG!
Jantung Kamilah seolah berhenti berdetak seketika. Binar mata tajam nan terpesona milik Rizky yang mengurungnya membuat napas Kamilah tertahan di tenggorokan.
"M-mana bisa?!" jerit Kamilah melotot lebar, berusaha mendorong dada bidang Rizky yang tak bergeming sedikit pun. "Mana bisa begitu?! Kamu kan calon Kakak Iparku!"
Rizky Syah justru menyunggingkan senyum miring yang teramat manis dan penuh pesona terlarang. Jemarinya naik mengusap lembut pipi mulus Kamilah yang kini memerah padam akibat kedekatan fisik mereka yang teramat intim.
"Kenapa tidak bisa?" bisik Rizky Syah dengan nada penuh teka-teki yang menghanyutkan. "Kalau kamu menikah denganku... bukankah kita semua akan menjadi satu keluarga yang utuh? Kita bertiga—aku, kamu, dan kakakmu—bisa hidup bersama dengan sangat baik dalam satu rumah."
Rizky Syah mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Kamilah, membisikkan kalimat terakhir yang membakar seluruh jiwa gadis itu dengan sensasi romantis yang mendebarkan.
"Itu jauh lebih penting dari apa pun di dunia ini... benar kan, Kamilah?"