NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Memimpin dengan Hati

Pagi itu membawa suasana yang berbeda. Tak ada lagi kecemasan yang samar di udara, hanya semangat baru yang menyelimuti setiap sudut rumah dan hati mereka. Argan terbangun dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya, seolah janji yang diucapkan semalam telah memberinya kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Saat Aruna masuk membawa sarapan, ia disambut dengan tatapan yang begitu hangat dan menyambut—bukan lagi tatapan waspada atau penuh jarak seperti di awal pernikahan mereka.

“Selamat pagi, Aruna,” sapanya lembut. “Kau tahu, hari ini aku ingin melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan selama aku memimpin perusahaan ini.”

Aruna meletakkan nampan di meja, menatapnya penasaran. “Apa itu?”

“Aku ingin berkeliling ke lantai bawah, menyapa para karyawan di divisi yang jarang kusambangi,” jawab Argan dengan tekad yang teguh. “Bukan untuk memeriksa atau menegur, tapi untuk mendengarkan. Selama ini aku terlalu sibuk duduk di ruangan tertutup sambil berpikir bahwa keputusanku sudah paling benar. Padahal mereka yang bekerja di lapangan yang tahu persis di mana letak masalahnya.”

“Dan saya ingin ikut serta,” tambahnya pelan namun jelas. “Aku ingin mereka melihat bahwa aku tidak sendirian, dan bahwa pandanganmu juga didengar di sini.”

Aruna tersenyum lebar, hatinya terasa hangat dipenuhi rasa bangga. “Itu keputusan yang sangat bijaksana, Argan. Memimpin bukan hanya soal memberi perintah, tapi juga hadir di tengah mereka.”

Sesampainya di kantor, rencana itu dilaksanakan. Argan didorong perlahan menyusuri lorong-lorong yang biasanya hanya dilewati staf biasa. Di setiap ruangan, ia berhenti sejenak, menyapa, dan bertanya bukan tentang angka atau keuntungan, melainkan tentang kenyamanan bekerja, kesulitan yang dihadapi, serta harapan mereka terhadap perusahaan.

Para karyawan awalnya terkejut dan canggung. Mereka terbiasa melihat direktur utama hanya muncul saat rapat penting atau pembagian tugas yang berat. Namun hari ini, pria yang duduk di kursi roda itu justru bertanya dengan perhatian yang tulus.

“Jangan takut bicara,” ucap Argan dengan nada yang menenangkan saat seorang staf muda tampak ragu mengungkapkan pendapatnya. “Aku tidak datang untuk mencari siapa yang salah. Aku datang untuk mencari apa yang bisa kita perbaiki bersama.”

Aruna berdiri di sampingnya, sesekali menambahkan pertanyaan yang membuat suasana makin terbuka, atau tersenyum meyakinkan kepada mereka yang masih gugup. Di hadapan semua orang, Argan memperlakukan Aruna bukan sekadar pendamping biasa. Ia sering menoleh dan meminta pendapatnya, mendengarkan dengan saksama, lalu berkata: “Istriku benar. Kita harus melihat hal ini dari sisi yang lebih manusiawi.”

Kata-kata itu membuat banyak orang tersentuh. Selama ini mereka berpikir dunia bisnis hanya bicara soal keuntungan, kekuasaan, dan ketegasan. Namun hari ini mereka melihat bahwa di puncak kekuasaan, masih ada hati yang mampu melihat orang lain sebagai manusia, bukan sekadar alat untuk menghasilkan uang.

Saat sore tiba dan mereka kembali ke ruangan pribadi, Argan tampak lelah namun matanya berseri-seri. Ia membuka beberapa catatan yang baru saja ditulisnya.

“Ternyata banyak hal yang selama ini tak kulihat,” ucapnya pelan sambil menunjuk baris tulisannya. “Beban kerja yang tak seimbang, peralatan yang sudah tua, hingga pelatihan yang belum merata. Bukan karena tak mampu memperbaikinya, tapi karena aku tidak pernah turun dan bertanya langsung.”

“Memimpin dengan kepandaian itu penting,” kata Aruna lembut sambil berdiri di samping kursi rodanya. “Tapi memimpin dengan hati membuat orang rela berjuang sekuat tenaga untuk bersama-sama membangun apa yang Anda impikan. Mereka tidak bekerja karena takut, tapi karena merasa dihargai dan dipercaya.”

Argan menoleh, menatapnya penuh kekaguman. “Kau mengubah banyak hal, Aruna. Bukan hanya di rumah ini, tapi juga di dalam diriku sendiri. Dulu aku berpikir ketegasan berarti menjadi dingin dan jauh dari orang lain. Sekarang aku tahu... menjadi pemimpin yang kuat berarti mampu menjadi tempat yang aman bagi mereka yang dipimpinnya.”

Ia meraih tangan Aruna, menautkan jari-jarinya ke tangan gadis itu.

“Mulai hari ini, kau akan ikut dalam setiap rapat direksi. Pendapatmu akan didengar sama seperti pendapat siapa pun di sana. Karena pandanganmu membuatku menjadi pemimpin yang lebih baik, dan aku ingin semua orang tahu bahwa kesuksesan ke depannya adalah milik kita berdua.”

Malam itu, saat mereka pulang, suasana di dalam mobil terasa penuh harapan. Masih ada ancaman dari Dimas dan Aisyah yang belum hilang sepenuhnya, masih ada rintangan yang harus dilewati, namun Argan kini memegang kendali bukan dengan kekuasaan semata, melainkan dengan kebijaksanaan yang baru ia temukan—sebagian besar berkat kehadiran seseorang yang berdiri setia di sisinya.

“Terima kasih telah mengajarkanku hal ini,” bisik Argan pelan di sela perjalanan pulang. “Bahwa menjadi kuat tidak berarti harus keras.”

“Dan terima kasih telah mau belajar,” jawab Aruna lembut sambil tersenyum. “Kita akan membangun tempat ini menjadi lebih baik, untuk semua orang.”

 

Lanjut ke Bab 17?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!