"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 — Ikuti Hati, Bagian Kedua
"Jelaskan harganya."
Surya berdiri di ruang isolasi yang telah dikosongkan. Di balik kaca, sembilan puluh delapan nama memenuhi papan komando insiden. Setiap nama terhubung dengan usia, kondisi, kontak keluarga, dan waktu prediksi kematian.
『Putuskan ikatan dengan Sistem Dokter Ilahi Super. Sebagai pertukaran, Inang menerima satu dosis Suntikan Super. Setelah diencerkan sesuai protokol, dosis itu cukup untuk seratus pasien.』
"Kalau ikatan putus?"
『Semua akses berhenti. Level Sembilan, Level Sepuluh, dan Penyembuhan Super untuk Anindya akan hilang.』
Kalimat terakhir tidak terdengar seperti suara mesin.
Surya memejamkan mata.
Dia melihat Anindya di Batu, mengatakan bahwa hidupnya tidak boleh menjadi beban. Dia melihat obat-obatan yang tersusun di laci rumah mereka. Dia mengingat angka dalam rekam medisnya, tujuh tahun SLE, risiko ginjal, dan satu-satunya kemungkinan kesembuhan penuh yang pernah ditawarkan.
Lalu dia membuka mata dan melihat papan berisi sembilan puluh delapan nama.
Ada Rizki di sana.
Bayu.
Bu Ratna.
Perawat yang baru melahirkan empat bulan lalu. Petugas kebersihan yang menabung untuk sekolah anaknya. Residen yang tadi malam membagi roti terakhir dengan pasien.
Bahkan tanpa nama-nama yang dia kenal, jumlahnya tetap sembilan puluh delapan manusia.
Anindya masuk melalui interkom dari zona terpisah. Hasil tesnya negatif, tetapi dia sudah membaca laporan.
"Kenapa kamu diam?"
Surya ingin menceritakan semuanya. Dia ingin meminta izin, seolah hidup sembilan puluh delapan orang dan masa depan Anindya dapat diselesaikan dengan persetujuan pasangan.
Namun rahasia sistem bukan beban yang boleh dia pindahkan kepadanya.
"Aku sedang memilih terapi," katanya.
Anindya menatapnya melalui layar. "Kalau ada pilihan yang benar tetapi menyakitkan, kamu selalu sudah tahu jawabannya sebelum bertanya."
"Bagaimana kalau jawaban itu mengambil masa depan kita?"
Anindya terdiam.
"Kalau masa depan kita dibangun dari membiarkan orang lain mati, itu bukan masa depan yang aku inginkan."
Surya menundukkan kepala.
Dia tidak tahu apakah Anindya memahami pertanyaan sebenarnya. Jawabannya tetap menembus tepat ke pusatnya.
"Putuskan ikatannya," kata Surya kepada sistem.
『Konfirmasi diperlukan.』
"Aku tidak bisa membiarkan sembilan puluh delapan orang mati."
『Setelah diputus, tidak ada jaminan sistem lain akan memilihmu. Anindya mungkin tidak pernah sembuh.』
"Saya dokter sebelum kamu datang. Saya akan tetap dokter setelah kamu pergi."
Dia meminta satu hal sebelum konfirmasi.
"Pastikan obatnya benar-benar untuk mereka. Jangan pindahkan harga ke orang lain. Jangan ambil umur Anindya, ibuku, atau siapa pun."
『Tidak ada harga tersembunyi. Ikatan sistem adalah seluruh pembayaran.』
"Lalu semua keahlian yang sudah kupelajari?"
『Pengetahuan yang benar-benar dipahami tetap menjadi milikmu. Benda, peningkatan, dan akses sistem hilang. Tanganmu tetap harus bekerja sendiri.』
Surya menerima itu. Sistem boleh mengambil jalan pintas, tetapi tidak dapat mengambil malam-malam belajar, kegagalan yang dia ingat, atau kebiasaan memeriksa ulang sebelum memotong.
Untuk pertama kalinya, Surya memakai saya kepada sistem. Keputusan profesional paling berat dalam hidupnya membuat suaranya resmi dan berjarak.
『Konfirmasi diterima.』
Panel Level Delapan padam.
Inventaris menghilang satu baris demi satu baris. Poin Atribut, Mata Tembus, Super Dopamin, semua menjadi gelap. Rasa kosong menghantam lebih keras daripada kelelahan setelah operasi dua belas jam.
Sebuah ampul bening muncul di telapak tangannya.
Tidak ada label ajaib. Hanya petunjuk dosis, pengenceran, stabilitas, dan jalur pemberian yang tertanam jelas dalam ingatan.
Surya tidak menyuntikkannya diam-diam.
Dia menyerahkan sampel mikro kepada farmasi isolasi, meminta verifikasi sterilitas cepat, pencatatan batch, pengawasan dua dokter, serta protokol persetujuan darurat. Tidak ada waktu untuk uji lengkap, tetapi setiap langkah yang masih mungkin tetap dilakukan.
Satu mililiter dilarutkan dalam seribu mililiter cairan pembawa khusus. Seratus dosis disiapkan. Dua disimpan sebagai sampel kontrol dan analisis.
Sembilan puluh delapan dosis masuk ke sembilan puluh delapan jalur intravena.
Lima menit pertama tidak terjadi apa-apa.
Pada menit ketujuh, demam seorang perawat turun setengah derajat.
Menit kesepuluh, saturasi Bayu naik tanpa penambahan oksigen.
Menit kedua belas, kejang pada seorang residen berhenti.
Surya berdiri di tengah ruang komando tanpa panel, tanpa tanda merah, tanpa kepastian. Sekarang dia hanya memiliki monitor, hasil gas darah, dan laporan manusia.
"Ulangi pemeriksaan setiap lima belas menit," perintahnya. "Jangan lepas isolasi hanya karena parameter membaik."
Empat jam kemudian, seluruh kurva peradangan turun. Kultur dan pemeriksaan molekuler lanjutan menunjukkan beban agen infeksi merosot drastis.
Surya tetap mempertahankan karantina. Tim melakukan penelusuran kontak tiga lapis, pemeriksaan lingkungan, dekontaminasi aliran udara, dan pengiriman sampel agen rekayasa kepada laboratorium pemerintah. Polisi serta unit keamanan hayati mengambil alih penyelidikan sumber tanpa memasuki zona klinis sembarangan.
Dua dosis kontrol tidak digunakan untuk orang sehat. Keduanya disegel agar ilmuwan dapat memahami mekanisme obat dan menyiapkan perlindungan jika muncul paparan lanjutan.
Setiap keputusan ditulis. Jika keajaiban itu dipertanyakan nanti, rumah sakit setidaknya memiliki jejak tindakan yang dapat diuji.
Tidak satu pun dari sembilan puluh delapan pasien meninggal.
Rizki membuka mata dan melihat Surya melalui kaca.
"Muka lo kayak habis ditinggal pacar."
Surya tersenyum lemah. "Lebih cerewet daripada pacar."
Saat fajar mendekat, dia duduk sendirian di tangga darurat. Untuk pertama kalinya sejak hari di McDonald's, kepalanya benar-benar sunyi.
Panel sistem tetap gelap. Jalan menuju Level Sepuluh ikut terputus.
Anindya menemukannya dan duduk satu anak tangga lebih rendah. Dia tidak bertanya apa yang hilang. Tangannya hanya mencari tangan Surya.
"Kalau penyakitku memburuk," katanya, "kita hadapi dengan ilmu yang ada. Jangan pernah membeli hidupku dengan kematian orang lain."
Surya menggenggam jarinya.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Karena sempat berharap ada jalan yang tidak meminta harga."
Cahaya pertama pagi masuk melalui jendela sempit.
Lalu suara yang sangat dikenalnya terdengar lagi.
『Ujian Sistem Ikuti Hati selesai.』
Surya berdiri terlalu cepat.
Panel biru muncul, lebih jernih daripada sebelumnya.
『Tujuan ujian bukan mencari dokter yang tidak mencintai satu orang. Tujuannya mencari Inang yang tetap memilih menyelamatkan banyak orang ketika cinta memberinya alasan untuk berpaling.』
"Kamu menipuku."
『Aku menguji. Istilahnya lebih elegan.』
Surya tertawa dan hampir menangis bersamaan.
Sosok seorang pemuda hanya tampak sebagai bayangan di cahaya fajar. Suaranya tidak lagi terdistorsi.
"Namaku Mimpi Kelima," katanya. "Kamu harus melupakannya setelah pagi ini."
Surya mengulang nama itu dalam hati, justru agar tidak hilang.
"Selamat tinggal, Mimpi Kelima."
Pemuda itu tersenyum.
"Lihat. Fajar sudah menyingsing."
Bayangannya lenyap, tetapi sistem tetap tinggal.
Panel terakhir terbuka.
『Jalur Level Sembilan aktif. Hitungan Penyelamatan: 98/10.000.』
Jalannya masih panjang.
Namun sekarang Surya tahu bahwa Level Sepuluh menuntut lebih dari peningkatan kekuatan.
Dia harus tetap menjadi dirinya sendiri sampai akhir.