NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan

Arthur terdiam seribu bahasa. Ia memaku pandangannya pada gadis yang berdiri di hadapannya.

Di bawah temaram cahaya bulan yang redup, tertutup oleh ribuan salju yang jatuh. Arthur mencoba mencari celah, setitik keraguan, atau mungkin rasa menyerah yang tersembunyi di balik manik mata Aurelia.

Namun, nihil. Apa yang ia temukan di dalam sana bukanlah ambisi buta, melainkan sebuah tekad yang berkilat penuh keyakinan, layaknya sebilah pedang yang baru selesai ditempa.

Arthur mengembuskan napas panjang, membentuk kabut tipis di udara dingin. "Aku tidak meminta Anda untuk berhenti, Nona," suara Arthur terdengar berat. "Tapi tubuh Anda juga ada batasnya. Jika Anda terus memaksakan diri, fisik Anda akan tumbang sebelum Anda mendapatkan apa yang Anda inginkan."

Aurelia tertegun. Kata-kata Arthur menghantam dadanya lebih keras daripada benturan apapun. Logikanya berteriak agar ia tetap bertahan di sana, mencengkeram malam, dan terus mengayunkan senjata demi membalaskan seluruh ketidakadilan.

Namun, respons tubuhnya tidak bisa berbohong. Sepasang lututnya gemetar hebat, dan hawa menggigil yang ekstrem seolah menjadi jawaban nyata dari alam bawah sadarnya bahwa ia memang harus berhenti.

Detik berikutnya, dunia di sekitar Aurelia mulai berputar hebat. Penglihatannya mengabur, menyisakan siluet Arthur yang perlahan memudar.

Rasa pening yang sejak tadi bersarang di pelipisnya kini pecah menjadi rasa sakit yang tak terkendali, seolah-olah kepalanya sedang dihantam palu godam.

Ktang! Pedang berkarat yang menjadi satu-satunya sandaran jemarinya terlepas, menghantam lantai salju dengan suara berdenting yang pilu. Tubuh Aurelia oleng, limbung ke belakang siap dihantam gravitasi.

Namun, sebelum tubuh lemah itu menyentuh salju yang dingin, sebuah dekapan kokoh menahannya. Arthur, dengan refleks seorang pelindung sejati, telah bergerak secepat kilat dan menarik tubuh lemah itu ke dalam pelukannya.

"Bodoh..." gumam Arthur dengan suara yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan angin malam.

Matanya tidak bisa menyembunyikan kilatan kekhawatiran yang datang tiba-tiba. Tanpa membuang waktu, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Aurelia, mengangkat tubuh yang terasa seringan kapas itu, lalu melangkah lebar menuju paviliun gubuk yang pengap.

Arthur meletakkan Aurelia di atas ranjang kayu yang keras dan beralaskan kain kasar dengan perlahan dan hati-hati.

Pria itu mundur selangkah, lalu perlahan memejamkan matanya.

Seketika itu juga, udara sedingin es yang menyusup lewat celah-celah dinding kayu gubuk itu terusir paksa, digantikan oleh gelombang kehangatan sihir yang nyaman dan menenangkan.

Arthur kemudian mengangkat tangan kanannya, menempelkan telapak tangannya yang hangat di atas dahi Aurelia yang dipenuhi keringat dingin.

Perlahan tapi pasti, energi sihir penyembuh mengalir, menjinakkan suhu tubuh sang gadis yang tadinya bergejolak panas-dingin akibat demam tinggi, membawanya kembali ke titik normal yang stabil.

"Tidurlah yang nyenyak... setidaknya malam ini," gumam Arthur tersenyum tipis. Namun matanya memancarkan sesuatu yang tersembunyi.

Keesokan paginya, Aurelia mengerjapkan matanya berkali-kali, menghalau rasa silau dari seberkas cahaya fajar yang memaksa masuk melalui celah-celah dinding paviliun yang retak.

Kepalanya memang masih menyisakan sedikit denyutan tumpul, sisa dari kelelahan ekstrem semalam. Meski demikian, ia bisa merasakan dadanya bernapas dengan lebih lega; tubuhnya terasa jauh lebih segar dan bertenaga pagi itu.

Kesadaran penuhnya segera kembali. Mengabaikan rasa lemas yang tersisa, Aurelia turun dari ranjang kayu tersebut.

Langkah kaki telanjangnya yang tanpa alas menuntunnya keluar dari paviliun kecil itu, menyusuri lorong sempit menuju ke sebuah ruangan lain yang terletak di sudut bangunan. Sebuah kamar dengan kondisi yang sama memprihatinkan nya, atau bahkan mungkin lebih buruk.

Krek...

Pintu kayu yang lapuk itu terbuka dengan suara berderit panjang yang memecah keheningan pagi. Pemandangan di dalam ruangan itu seketika meremas hati Aurelia.

Di atas sebuah ranjang tua yang rapuh, tampak seorang wanita paruh baya dengan tubuh yang sangat kurus, dipenuhi oleh luka-luka memar dan sayatan yang mulai mengering. Wanita itu terbaring tak berdaya, napasnya terdengar pendek dan berat.

"Ibu..." gumam Aurelia dengan suara tercekat di tenggorokan. Air mata hampir saja menetes, namun ia menahannya dengan sekuat tenaga.

Dengan langkah bergetar, ia mendekati ranjang, lalu berlutut di sampingnya untuk memeriksa kondisi sang ibu—satu-satunya alasan mengapa ia rela menyiksa fisiknya sendiri dengan pedang berkarat, mencoba melawan takdir yang kejam. Karena ia ingin melindungi ibunya.

"Ini belum berakhir, bu... aku tidak akan menyerah sebelum berhasil." gumam Aurelia dengan mata yang kembali membara.

Sementara itu, kontras dengan keheningan di dalam paviliun, atmosfer di arena latihan luar justru terasa mendidih oleh ambisi. Udara dingin berhembus kencang, menerpa jubah milik semua orang yang telah berkumpul sejak fajar untuk latihan pagi.

Di tengah lapangan salju yang luas, berdirilah Enzo. Tubuhnya yang kemaren sempat terluka, kini telah kembali pulih sempurna tanpa cacat, berkat khasiat luar biasa dari ramuan ajaib kuno yang ia telan.

Senyum sombong terukir jelas di wajahnya yang angkuh saat ia menatap remeh puluhan kesatria sihir di hadapannya.

"Kalian semua... majulah dan serang aku bersamaan!" seru Enzo, suaranya menggema memantul di dinding-dinding batu arena, penuh dengan nada merendahkan.

Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Jika kalian bisa menjatuhkan ku walau hanya satu jengkal... aku bersumpah akan memberikan kalian hadiah apa pun yang kalian inginkan!" katanya lagi, memprovokasi.

Mendengar tantangan yang begitu meremehkan, semua orang di sana saling pandang satu sama lain. Detik berikutnya, bibir mereka menyeringai sinis, merasa terhina sekaligus tertantang oleh kesombongan pria itu.

Secara serempak, semua orang menggerakkan tangan mereka ke udara, memanggil seluruh kekuatan Es terbaik yang mereka miliki. Udara di sekitar arena langsung membeku seketika, menurunkan suhu hingga ke titik paling mematikan.

"Bangkitlah, Serigala Kristal Es!" seru salah satu kesatria senior di barisan depan saat formasi sihir melingkar berwarna biru menyala di bawah kakinya.

"Hancurkan dia, Beruang Es Besar!" timpal kesatria lain di sudut kanan, memukul tanah hingga retak.

Dalam sekejap mata, salju dan partikel es di udara memadat, membentuk fisik yang mengerikan. Sebanyak 30 ekor hewan Es peringkat tinggi berbentuk monster raksasa mulai mengaum dahsyat, menggetarkan fondasi arena.

Mata mereka yang seputih salju menatap Enzo dengan tatapan lapar dan haus darah, siap mencabik-cabik mangsanya.

"Serang!" teriak mereka semua memberikan komando akhir.

Gemuruh langkah kaki raksasa memecah kesunyian fajar. Semua hewan-hewan Es itu mulai berlari kencang, menerjang ke arah Enzo dari segala penjuru mata angin, menciptakan badai salju buatan yang membutakan mata.

Namun, Enzo tidak bergeming. Alih-alih menghindar, Enzo justru melompat tinggi ke udara, menentang gravitasi dengan seringai yang semakin lebar.

Wush!

Sebuah tombak panjang berlapis kristal Es murni yang memancarkan aura biru gelap tiba-tiba muncul dan mewujud di dalam genggaman erat tangannya.

Dari udara, Enzo menukik tajam. Dengan gerakan akrobatik yang brutal, ia menghantam keras tubuh hewan terbang berwujud elang es yang mencoba mengejarnya di langit, lalu memutar tubuhnya untuk melemparkan tombak-tombak es itu ke bawah dengan kecepatan kilat.

Crash!

Crash!

Tombak-tombak itu menghujam tepat ke jantung beberapa hewan es di darat hingga hancur berkeping-keping.

Bersamaan dengan hancurnya makhluk sihir itu, aliran balik energi magis menyerang balik para tuannya.

Tubuh para kesatria itu terdorong ke belakang dengan kasar, dada mereka sesak, hingga mereka berlutut dan mengeluarkan batuk darah segar yang menodai salju putih.

Melihat lawan nya mulai goyah, Enzo tertawa puas di udara. Ia merentangkan kedua telapak tangannya ke samping.

Di belakangnya, air kolam besar yang membeku mulai bergejolak hebat, retak, lalu terangkat seluruhnya ke udara membentuk gumpalan cairan besar.

"Rasakan ini! Pusaran Es!" teriak Enzo dengan suara menggelegar.

Atas perintahnya, air raksasa itu melesat badai, menyerang sisa-sisa hewan es yang masih berdiri melawannya.

Air itu menggulung mereka semua, berubah menjadi pusaran tornado air yang berputar sangat cepat, sebelum perlahan-lahan membeku kembali menjadi pilar es raksasa yang mengurung makhluk-makhluk tersebut di dalamnya.

Enzo mendarat dengan anggun, lalu perlahan menggerakkan kedua telapak tangannya, mengepalkan nya dengan kuat ke dalam.

Krak!

Prangggg!

Pilar air beku itu langsung hancur lebur menjadi serpihan debu es, bersamaan dengan seluruh hewan peringkat tinggi yang ada di dalamnya yang ikut hancur tanpa sisa.

Dampak kehancuran sihir berskala besar itu menciptakan gelombang kejut yang luar biasa kuat.

Semua orang yang tersisa di sana terdorong ke belakang hingga bergulingan di tanah, dada mereka seperti dihantam godam besar, membuat mereka mengeluarkan batuk darah yang semakin parah.

Di tengah-tengah rintihan kesakitan para kesatria, Enzo menurunkan pandangannya.

Ia merapikan jubahnya yang bahkan tidak terkena setitik debu pun, lalu tersenyum puas melihat kekuatan yang baru saja ia tunjukkan.

"Bagaimana? Kalian semua melihatnya sendiri, kan? Seberapa kuat kekuatan es milikku ini?" tanya Enzo dengan nada meremehkan, setiap kata sengaja ditekankan demi membangun kembali harga dirinya yang sempat hancur akibat insiden memalukan melawan kekuatan Harimau Es miliknya sendiri kemarin.

"Kemarin itu hanyalah ketidaksiapan sesaat," lanjut Enzo sembari membersihkan debu fiktif di jubah nya, "Jadi lupakan saja insiden kemaren!"

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!