Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Embun pagi di dataran tinggi Pangalengan masih menyisakan butiran-butiran jernih yang berkilauan di atas helaian daun teh ketika Alexander Ar-Rasyid melangkah keluar dari pintu utama vila peristirahatan. Ia mengenakan kemeja katun abu-abu muda dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, memancarkan aura ketenangan yang sangat berbeda dari atmosfer tegang ruang direksi korporasi di ibu kota.
Di beranda kayu yang menghadap langsung ke lembah hijau, Keisha telah duduk lebih dulu. Di hadapannya, sebuah meja kayu jati dipenuhi dengan hamparan kertas sketsa berskala besar, pensil warna, serta cetak biru (blueprint) rancangan arsitektur bangunan akademi mode yang baru saja dikirimkan oleh tim konsultan tata ruang dari Bandung semalam.
Alex berjalan mendekat tanpa suara, lalu meletakkan dua cangkir kopi hitam pekat beraroma harum di atas meja. Ia menarik kursi kayu di sebelah istrinya, lalu melirik sekilas ke arah deretan sketsa gambar bangunan yang tampak begitu detail.
"Kau sudah bangun sepagi ini, Nyonya Ar-Rasyid?" bisik Alex lembut, manik matanya menatap wajah sang istri dengan pendar penuh kekaguman. "Padahal udara di sini sangat dingin untuk mulai bekerja sebelum matahari benar-benar naik."
Keisha mendongak, tersenyum manis sambil merapikan sehelai rambut cokelatnya yang tertiup angin pagi. "Bagaimana aku bisa tidur nyenyak, Alexander, ketika di hadapanku ada sebuah proyek impian yang sudah lama kuidamkan? Akademi mode berkelanjutan ini... melihat rancangan studionya saja sudah membuatku tidak sabar ingin segera memulai pembangunannya."
Alex meraih cangkir kopi hitamnya, menyeruputnya perlahan sambil mengawasi garis-garis sketsa rancangan Keisha. "Tim konstruksi dari Ar-Rasyid Group cabang Bandung sudah bersiap di bawah. Hari ini kita bisa langsung melakukan survei tapak tanah pertama bersama para tokoh masyarakat dan perwakilan perajin lokal di desa sekitar."
Keisha melepaskan pensil di tangannya, lalu menatap suaminya lekat-lekat. "Kau benar-benar memikirkan setiap detail kecilnya, ya? Mulai dari pemilihan bahan bangunan ramah lingkungan, ruang tenun tradisional, hingga galeri terbuka untuk pameran seni lokal."
Alex meletakkan cangkirnya kembali, lalu meraih tangan lentik Keisha dan mengecup punggung tangan itu dengan penuh kelembutan. "Karena ini adalah mimpimu, Keisha. Dan apa pun yang menjadi impianmu, adalah kewajibanku untuk memastikan ia berdiri kokoh tanpa ada satu pun kekurangan."
Sementara itu, ratusan kilometer dari ketenangan alam Pangalengan, suasana di jantung perkantoran komersial kawasan Senayan, Jakarta Pusat, justru dipenuhi oleh bisik-bisik tegang dan riuh rendah spekulasi di kalangan para eksekutif muda serta media ekonomi nasional.
Di lantai dasar kafe eksekutif Ar-Rasyid Tower, beberapa direktur divisi investasi tengah membicarakan laporan keuangan kuartal terbaru yang baru saja dirilis ke publik. Kejatuhan total faksi Victor Ar-Rasyid dan pembekuan aset korporasi bayangan milik Julian Pramana serta Richard Vance ternyata memicu gelombang perombakan besar-besaran di lantai bursa saham domestik.
"Kau dengar berita pagi ini?" bisik salah seorang manajer senior kepada rekan kerjanya sambil menyeruput espresso. "Meskipun Ar-Rasyid Group baru saja memenangkan tender proyek energi hijau nasional, Alexander Ar-Rasyid dilaporkan sengaja mendelegasikan sebagian besar kendali harian operasional kantor pusat kepada dewan eksekutif selama beberapa pekan ke depan."
"Ke mana Tuan Alexander pergi?" tanya rekan kerjanya penasaran. "Bukankah biasanya beliau tidak pernah meninggalkan meja kerjanya bahkan saat akhir pekan?"
"Rumornya... beliau sedang berada di Jawa Barat, mendampingi istrinya, Nyonya Keisha, untuk merintis sebuah yayasan akademi mode dan seni alam terbuka," jawab sang manajer dengan nada takjub. "Bayangkan, seorang CEO korporasi raksasa bernilai triliunan rupiah rela meninggalkan sorotan lampu kota demi mendampingi proyek sosial istrinya di desa pegunungan."
Bisik-bisik kagum itu mencerminkan bagaimana figur Alexander dan Keisha kini bukan hanya dipandang sebagai ikon kekuatan bisnis yang tak terkalahkan, tetapi juga sebagai lambang harmoni keluarga modern yang paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Kembali di dataran tinggi Pangalengan, matahari kini telah naik sepenuhnya, memancarkan kehangatan ke seluruh penjuru lembah perkebunan teh.
Alex dan Keisha berjalan berdampingan menelusuri jalan setapak tanah merah menuju area lahan seluas lima puluh hektare yang akan menjadi lokasi pembangunan Azalea Sustainable Fashion Academy. Di belakang mereka, beberapa kepala desa setempat serta perwakilan kelompok perajin tenun tradisional Sunda berjalan mengikuti dengan senyuman ramah terkembang di wajah mereka.
"Selamat pagi, Tuan Alex, Nyonya Keisha," sapa Pak Karta, seorang tokoh masyarakat setempat yang mengenakan pakaian adat sederhana beriket kepala. "Warga desa kami sangat bersyukur dan bangga atas rencana pembangunan akademi ini. Selama ini, anak-anak muda di sini kesulitan mendapatkan pelatihan desain profesional tanpa harus pergi jauh ke kota besar."
Keisha berhenti berjalan, menoleh kepada Pak Karta dengan senyuman hangat yang menenangkan. "Justru kami yang harus berterima kasih, Pak Karta. Wilayah ini memiliki kekayaan tradisi tenun dan seni kriya yang luar biasa tinggi. Melalui akademi ini, kami ingin mengangkat karya para perajin lokal agar bisa menembus panggung mode dunia di Paris dan Milan."
Pak Karta mengangguk terharu, merasakan ketulusan yang terpancar nyata dari sorot mata wanita di hadapannya itu.
Alex berdiri di samping istrinya, mengawasi hamparan luas tanah hijau di hadapan mereka dengan tatapan tajam namun penuh kedamaian. Ia merangkul pinggang Keisha dengan erat, memberikan topangan fisik dan emosional yang selalu ia berikan di setiap langkah perjalanan hidup wanita itu.
"Bagaimana, Ratu-ku?" bisik Alex pelan di dekat telinga Keisha. "Apakah titik ini sudah cukup sempurna untuk meletakkan batu pertama akademi impianmu?"
Keisha mendongak, menatap manik mata hitam suaminya yang memancarkan cinta dan dukungan mutlak tanpa batas. Angin pegunungan berhembus pelan, menerbangkan ujung rambut cokelatnya.
"Ini jauh lebih sempurna dari apa pun yang pernah kubayangkan dalam mimpi terliarku, Alexander," jawab Keisha tulus, manik matanya berkaca-kaca karena rasa bahagia yang meluap di dadanya.
Alex tersenyum hangat, lalu mengeratkan rangkulannya. Di bawah naungan langit biru dataran tinggi Priangan yang cerah, jauh dari riuhnya intrik korporasi dan bayang-bayang musuh masa lalu, mereka berdua menatap masa depan bersama—membangun sebuah legasi abadi yang tidak hanya berakar pada kekayaan materi, tetapi juga pada karya, ketulusan, dan cinta sejati yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.