SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: TERTANGKAP BASAH
Tap... tap... tap.
Suara derap langkah kaki yang makin mendekati area dapur bagaikan dentang lonceng kematian yang menyergap pendengaran Aluna. Refleks, seluruh otot di tubuh mungilnya menegak kaku. Dengan napas terengah dan mata yang membelalak panik dalam keremangan malam, kedua tangannya mendorong dada tegap Devan demi melepaskan pagutan bibir mereka yang baru saja terjadi.
Devan bereaksi secepat kilat dengan ketenangan yang luar biasa. Tanpa menimbulkan suara gesekan sekecil pun, kedua tangannya yang kuat menurunkan tubuh Aluna dari atas meja granit dapur. Jemari Devan mencengkeram lembut pergelangan tangan Aluna, menarik gadis itu masuk ke dalam celah sempit berdebu tipis yang terletak di antara lemari pendingin besar dan dinding pembatas pantry.
Srett.
Devan pasang badan tepat di depan Aluna, mengurung dan menyembunyikan seluruh tubuh mungil adiknya dengan perawakan tegapnya yang tinggi. Ia menempelkan satu jari telunjuk di bibirnya sendiri, memberikan tatapan mata yang amat dingin namun sarat akan intonasi perintah mutlak: jangan ada suara sedikit pun.
Lampu utama area dapur mendadak dinyalakan dari luar.
Cklek!
Cahaya lampu neon putih yang terang-benderang menyiram setiap sudut ruangan dalam sekejap. Aluna menahan napasnya rapat-rapat hingga dadanya terasa sakit dan sesak. Jantungnya berdegup begitu kencang dan liar, sampai-sampai ia ketakutan suara detak dadanya sanggup bergema keluar dari balik celah sempit itu. Di dalam ruangan kedap yang menghimpit tersebut, wajah Devan hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Tatapan iris mata cokelat gelap milik Devan tetap tenang tanpa sedikit pun menunjukkan riak panik atau gentar.
Ibu melangkah pelan memasuki dapur dengan gaun tidurnya. Ia berjalan mendekati kulkas—hanya berjarak tak sampai setengah meter dari posisi Devan dan Aluna bersembunyi. Ibu melepaskan pegangan pintu kulkas, meraih satu botol air mineral dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas kaca.
Namun, gerakan Ibu mendadak terhenti sejenak. Matanya melirik curiga ke sekeliling dapur yang tampak sepi, lalu tertuju pada dua buah gelas teh yang masih menyisakan sedikit cairan di dekat area wastafel.
"Devan? Aluna?" panggil Ibu pelan, suaranya bergema nyaring di dalam dapur yang hening.
Tidak ada jawaban dari siapa pun. Devan mempererat pelukannya di pinggang Aluna, menekan tubuh mungil gadis itu makin rapat dan menyatu pada dadanya agar tak sedikit pun bagian dari baju atau helai rambut Aluna dapat terlihat dari sudut pandang Ibu di luar. Jemari tangan Devan menyusup ke rambut bagian belakang Aluna, membelai halus kepalanya untuk menyalurkan rasa aman di tengah kepungan bahaya yang bisa menghancurkan masa depan mereka seketika.
Setelah beberapa detik yang terasa berjalan bagaikan keabadian yang membeku, Ibu menghela napas panjang seraya menggelengkan kepala. Menganggap itu hanya ilusi perasaannya saja, Ibu mematikan kembali sakelar lampu dapur.
Cklek.
Ruangan itu kembali tenggelam dalam kegelapan pekat. Suara langkah kaki Ibu terdengar makin menjauh melintasi lorong lantai bawah, disusul suara dentuman pintu kamar utama yang tertutup rapat.
Brak.
Situasi benar-benar kembali aman. Aluna menghembuskan napas lega yang sangat panjang, membuat seluruh persendian tubuhnya melumer lemas hingga ia hampir terjatuh jika saja Devan tidak menahan pinggulnya.
Namun, Devan tidak langsung melepaskan Aluna dari kungkungan celah sempit tersebut. Di dalam kegelapan pekat, Devan justru menunduk dan kembali mendaratkan ciuman yang sangat dalam, panas, dan menuntut di bibir Aluna—sebuah bentuk perayaan liar atas bahaya besar yang baru saja berhasil mereka lewati bersama.
"Kan sudah kubilang..." bisik Devan serak di sela-sela kecupannya yang memabukkan, mengusap lembut bibir Aluna yang merona basah. "Selama kamu tetap ada sama aku, kamu bakal aman."