Bunga gadis belia berusia 20 tahun, seorang pelukis tunawicara akibat trauma tragedi pembunuhan orang tuanya belasan tahun yang lalu, sempat merasakan kebahagiaan bersama Azka Alexander, pria tulus yang mencintainya apa adanya. Namun, kebahagiaan itu begitu singkat. Menjelang wafat akibat sakit keras, Azka berwasiat agar kakak kandungnya, Keanu Alexander, menikahi Bunga.
Keanu pria dingin yang menyimpan trauma mendalam terhadap wanita terpaksa menerima pernikahan itu demi memenuhi permintaan terakhir sang adik. Kini, Bunga dan Keanu terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta. Di tengah dinginnya sikap Keanu, Bunga tetap berjuang mengungkap misteri di balik kematian orang tuanya demi menuntut keadilan.
Akankah pernikahan atas dasar keterpaksaan ini mampu menyembuhkan luka masa lalu mereka dan berubah menjadi cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Tak lama setelah percakapan berbisik itu, samar-samar terdengar langkah kaki pelan menuruni tangga batu yang dingin. Clarissa dan Tuan Alexander langsung terdiam, menahan napas dalam kegelapan.
Sesosok pria berjaket hitam dengan topi rendah melangkah tergesa-gesa mendekati sel. Dari balik temaram lilin, Clarissa mengenali postur tubuh itu.
"Seno...?" bisik Clarissa ragu.
Pria itu berlutut di luar jeruji, menghela napas lega saat melihat Clarissa masih bernapas. "Nona Clarissa! Untunglah Anda masih hidup. Saya melacak sinyal GPS terakhir dari ponsel Anda sebelum mati di area kediaman utama ini."
"Seno, syukurlah kamu datang..." rintih Clarissa, berusaha menggeser tubuhnya mendekati jeruji. "Cepat bantu kami keluar! Pria tua di sebelahku ini... dia adalah Tuan Alexander yang asli!"
Seno tersentak kaget. Matanya membelalak menatap sosok berjanggut tebal yang terkunci dengan rantai besi berat di sudut ruangan. Namun, melihat situasi yang semakin mendesak, Seno menepis rasa terkejutnya. Tanpa membuang waktu, ia mengeluarkan alat pemotong rantai dan pemetik kunci dari dalam tasnya.
"Kita tidak punya banyak waktu, Nona. Penjaga di luar hanya saya buat pingsan sementara," kata Seno seraya mengotak-atik gembok sel.
KLIK!
Pintu sel terbuka. Seno segera memotong rantai tebal yang mengikat kedua kaki Tuan Alexander. Meski tubuhnya sangat lemah dan ringkih, Alexander memaksa kakinya berdiri, bertumpu pada pundak Seno dan Clarissa.
"Terima kasih, Young Man," bisik Alexander serak namun tegas. "Sekarang, bawa kami ke tempat yang aman. Tempat di mana kita bisa menghubungi orang-orang terpercaya sebelum pesta lusa."
"Saya sudah menyiapkan mobil yang aman di luar pagar belakang, Tuan," sahut Seno mantap.
Mereka bertiga bergerak merayap menembus lorong bawah tanah yang remang-remang, menghindari kamera pengawas dan patroli anak buah Alexandro yang tersisa. Begitu berhasil keluar melewati pintu rahasia di area kebun belakang, udara malam yang dingin menyapa wajah mereka, menandakan kebebasan yang telah hilang belasan tahun bagi Alexander.
Di dalam mobil yang melaju membelah kegelapan malam, Tuan Alexander menatap telapak tangannya yang gemetar. Sorot matanya kini dipenuhi api keberanian yang telah lama padam.
"Clarissa," panggil Alexander pelan namun sarat ketegasan. "Besok, hubungi kembali anak buahmu. Kita harus mengumpulkan bukti dan mencegat Jordan serta Adrian sebelum Keanu dan Bunga melangkah masuk ke pesta kematian itu."
Clarissa mengangguk mantap, menggenggam jemarinya sendiri. "Baik, Om. Saya tidak akan biarkan iblis itu memenangkan permainan ini."
"Lima belas tahun aku mengalah dan menderita di dalam kegelapan..." gumam Alexander seraya menatap ke luar jendela mobil. "...tapi lusa malam, Alexandro akan tahu bagaimana rasanya neraka yang sesungguhnya."
*
*
Keadaan ruangan kerja rahasia milik Jordan terasa dingin dan mencekam saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Keanu dan Bunga, yang baru saja selesai menyusun strategi bersama Jordan dan Adrian, tersentak ketika sosok Seno yang asing bagi mereka telah memandu dua sosok berjubah hitam masuk melalui pintu belakang.
Saat tudung jubah itu diturunkan, Keanu terpaku. Matanya membelalak lebar, napasnya tertahan di tenggorokan. Di hadapannya berdiri sosok pria paruh baya yang sangat mirip dengan ayahnya, namun dengan tubuh yang jauh lebih kurus, kulit pucat, dan jenggot tebal tak terawat.
"P...Papah...?" suara Keanu bergetar hebat, dipenuhi kebingungan yang membuncah. "Bagaimana bisa... bukankah Papah baru saja..."
"Dia bukan pria yang kau temui tadi siang, Keanu," potong Clarissa yang berdiri di samping pria itu, melangkah maju dengan raut wajah penuh penyesalan.
Pria tua itu menatap Keanu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia melangkah gemetaran mendekati Keanu.
"Keanu... putraku..." suara pria itu terdengar amat parau, sarat akan kepedihan yang terpendam belasan tahun.
"Pria yang kau panggil ayah selama lima belas tahun terakhir ini... bukanlah Papahmu. Dia Alexandro... adik kembar Papahmu." ucap Clarisa tegas.
Deg!
Keanu melangkah mundur satu pijakan, menggelengkan kepalanya seolah menolak menerima kenyataan gila tersebut. "Palsu...? Kembaran...? Ini... ini tidak masuk akal! Jangan main-main, Clarisa!"
"Dia tidak berbohong, Keanu!" sela Tuan Alexander asli dengan nada memohon. "Lima belas tahun lalu Alexandro menjebakku dan mengurungku di penjara bawah tanah. Dia merebut posisiku, hartaku, bahkan peranku sebagai ayahmu! Selama belasan tahun di dalam sel gelap itu, dia selalu datang hanya untuk menyiksaku secara mental... Dia menceritakan setiap detail pertumbuhanmu dan Azka, kematian Azka, pernikahanmu, hingga kisah hidupmu bersama Bunga, hanya untuk menunjukkan bahwa dialah yang memegang kendali atas hidup kalian!"
Keanu berdiri kaku, jemarinya gemetar hebat. Kenyataan bahwa sosok ayah yang selama ini dipatuhinya ternyata adalah seorang penipu kejam yang menumbalkan ayahnya yang asli, sehingga membuat dadanya terasa dihantam batu besar.
Pandangan Tuan Alexander asli kemudian beralih ke arah Bunga yang berdiri di samping Keanu. Bunga menatap pria tua itu dengan mata berair, jemarinya bergerak tergesa-gesa membentuk bahasa isyarat:
“Siapa Anda sebenarnya? Apakah Anda benar-benar ayah kandung Kak Keanu?”
Tuan Alexander tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang sangat jujur dan penuh kasih sayang. Tanpa diduga, Alexander membalas gerakan tangan Bunga dengan bahasa isyarat yang lambat namun sangat jelas:
“Ya, Nak. Aku Alexander yang asli. Ini pertemuan kedua kita, Bunga.”
Bunga tersentak, menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Keanu pun terkejut melihat sang ayah asli ternyata menguasai bahasa isyarat.
"Saat kau masih anak-anak, aku pernah bertemu denganmu dan orang tuamu, Bunga," tutur Alexander dengan air mata yang menetes melintasi pipinya yang tirus. "Dan aku tahu... alasan mengapa kau tidak bisa bicara hari ini."
Bunga mendongak, menatap Alexander dengan pandangan bertanya-tanya dan dada yang bergemuruh.
"Alexandro menceritakan semuanya padaku di dalam sel untuk memamerkan kejahatannya," lanjut Alexander, suaranya terdengar bergetar menahan amarah. "Malam pembantaian orang tuamu belasan tahun lalu... kau tidak hanya menyaksikan tragedi itu. Orang suruhan Alexandro sengaja mencekik lehermu dengan sangat kuat untuk membungkammu. Cekikan kejam itulah yang merusak pita suaramu hingga kau kehilangan suaramu sampai sekarang."
Isakan Bunga pecah seketika. Bayangan malam berdarah yang selama ini samar dalam ingatannya seolah berputar kembali, rasa sakit, sesak, dan cengkeraman dingin di lehernya saat ia masih kecil. Bunga tersungkur, namun Keanu dengan cepat menangkap tubuh istrinya dan merengkuhnya erat.
"Biadab..." geram Keanu dengan tatapan matanya yang mendadak berubah sangat pekat dan memerah karena amarah yang memuncak. "Iblis itu benar-benar harus mati!"
Tuan Alexander memegang bahunya Keanu, menatap putranya dengan tegas. "Itulah sebabnya aku di sini, Keanu. Kalian tidak boleh masuk ke jamuan pesta lusa tanpa persiapan. Alexandro berniat menjadikan kalian berdua sebagai tumbal puncak ritual Dewa Dedun. Tapi kali ini... kita yang akan mengakhiri sandiwaranya."
Bersambung...
ini novel paling best seller
untuk iblis bermuka dua seharusnya kamu saja yang menjadi tumbal ritual dewa darun itu
ma saudara pun saling menikung ,, tikung kanan ,, tikung kiri ,, main tikung ooh ,, ooh ,,
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
aq padamu pokokny😉😉😉
makiin penasaran tiap bab ny ,,
aq fikir cerita kak eli cuma seputar perjodohan pengganti ,, trnyata di balik ny ad sekte yg tersembunyi ,,
😱😱😱😱
dr awal emnk udh curiga aq ma tuan Alexander ,,
tegang aku bacanya