Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Detik-Detik Genting
Waktu terasa berhenti. Kirana berdiri membeku di luar ruang ICU, menatap lewat jendela kaca ke arah tim medis yang bergerak cepat mengelilingi ranjang Bapak. Suara alarm masih menggema, berpadu dengan instruksi-instruksi tegas yang saling bersahutan dari dalam ruangan.
"Bapak akan baik-baik saja, kan?" suara Sari bergetar di sampingnya, cengkeramannya pada lengan Kirana semakin erat.
Kirana tidak bisa menjawab. Ia sendiri tidak yakin.
Ibu berdiri agak menjauh, kedua tangannya menutup mulut, tubuhnya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak Kirana pulang, ia melihat sosok ibunya yang biasa terlihat tegar kini benar-benar rapuh, seolah topeng ketegaran yang selama ini dikenakannya perlahan runtuh.
Denis berdiri di ujung lain lorong, terpisah dari mereka bertiga, namun matanya tak lepas dari jendela ruang ICU. Kirana menyadari betapa sendirinya pria itu—berdiri di ambang keluarga yang belum sepenuhnya menerimanya, sementara ayah yang sama mereka khawatirkan sedang berjuang antara hidup dan mati.
Menit-menit berikutnya terasa seperti berjam-jam. Kirana kehilangan hitungan waktu, hanya fokus pada gerakan-gerakan di balik kaca, mencoba membaca setiap ekspresi tim medis sebagai pertanda baik atau buruk.
Akhirnya, suara alarm berhenti.
Raka keluar dari ruangan beberapa saat kemudian, wajahnya masih tegang namun ada sedikit kelegaan yang tersirat. "Kondisinya sudah stabil kembali. Tadi ada gangguan ritme jantung, tapi kami berhasil mengatasinya."
Kirana merasakan tubuhnya melemas seketika, seperti seluruh ketegangan yang menumpuk sejak tadi akhirnya menemukan jalan keluar. Sari terisak di sampingnya, dan bahkan Ibu tak mampu menahan air mata yang akhirnya jatuh bebas.
"Tapi," Raka melanjutkan, nadanya lebih hati-hati, "kondisi beliau masih sangat rentan. Kami perlu mempertimbangkan tindakan operasi dalam waktu dekat untuk mengatasi penyumbatan itu secara permanen. Risikonya tidak kecil, tapi tanpa tindakan, kondisinya bisa memburuk kapan saja."
"Lakukan apa pun yang perlu," Ibu berkata cepat, suaranya penuh keputusasaan. "Apa pun, Dokter. Tolong selamatkan suami saya."
Raka mengangguk. "Kami akan jadwalkan pertemuan dengan tim bedah besok pagi untuk membahas detailnya. Untuk sekarang, yang terbaik adalah membiarkan beliau beristirahat. Kalian semua juga sebaiknya istirahat—malam ini akan panjang, dan besok kalian butuh tenaga untuk mendampinginya."
Satu per satu, ketegangan di lorong itu mulai mencair, meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang. Sari memeluk Ibu, keduanya menangis dalam diam, saling menguatkan dengan cara yang tak butuh kata-kata.
Kirana berdiri agak menjauh, matanya tanpa sadar mencari sosok Denis yang masih berdiri sendirian di ujung lorong. Ada sesuatu dalam dirinya—entah rasa iba, entah pengakuan tak terucap—yang mendorongnya melangkah mendekat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kirana, nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Denis menoleh, terkejut mendengar Kirana yang tiba-tiba bicara padanya dengan nada berbeda. "Aku... aku hanya merasa aneh. Berdiri di sini, mengkhawatirkan orang yang sama, tapi merasa seperti orang luar di tengah keluarga yang seharusnya juga jadi keluargaku."
Kirana terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. "Aku tidak bisa berpura-pura semuanya baik-baik saja hanya dalam semalam. Tapi... aku juga tidak bisa menyalahkanmu atas sesuatu yang bukan salahmu."
Itu bukan pernyataan damai sepenuhnya, tapi merupakan langkah kecil—pengakuan bahwa amarah yang ia rasakan seharusnya diarahkan pada situasi, bukan pada pria yang sama-sama menjadi korbannya.
"Terima kasih," ucap Denis pelan, matanya menunjukkan kelegaan yang tulus. "Itu lebih dari yang kuharapkan malam ini."
Dari kejauhan, Ibu memperhatikan interaksi kecil itu dengan tatapan yang sulit diartikan—sesuatu antara kelegaan dan ketakutan yang masih tersisa, seolah menyadari bahwa kebenaran yang selama ini ia sembunyikan kini mulai menemukan jalannya sendiri untuk terungkap sepenuhnya.