Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Lorong Rahasia dan Pengkhianatan di Kedai Angin Malam
Cahaya lampu minyak di koridor lantai dua Kedai Angin Malam berpendar redup, memantulkan bayangan panjang pria tua bungkuk yang berdiri di ambang pintu kamar nomor empat. Udara di lorong itu mendadak terasa jauh lebih dingin, seolah kehadiran sang kakek membawa serta hawa es dari lembah kematian. Kaelen tidak langsung menurunkan tangan dari gagang pedang baja gelapnya. Tatapannya menghujam tajam ke arah mata katarak pria tua itu, membaca setiap perubahan mikro pada otot wajah sang tamu tak diundang.
"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa tahu bahwa kami sedang mencari rute menuju Pusaran Kabut Abadi?" suara Kaelen memecah keheningan, terdengar begitu berat, sarat akan niat membunuh yang terkendali dengan sempurna.
Pria tua itu tersenyum tipis, memperlihatkan deretan giginya yang sudah ompong di beberapa bagian. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar meskipun dihadapkan langsung pada tekanan spiritual tingkat tinggi milik seorang kultivator yang baru saja menyerap esensi Jiwa Artefak. Dengan gerakan lambat, ia mengangkat tongkat kayu berukir kepala serigala dan mengetuk-ketukkannya pelan ke lantai kayu.
Tok... tok... tok.
"Di Kota Kuno Lumina ini, anak muda, dinding-dinding batu pun memiliki telinga, apalagi angin yang berembus di lorong-lorong sempit," jawab pria tua itu dengan nada serak yang bergetar. "Nama tua ku sudah lama dilupakan orang. Panggil saja aku Kakek Mo. Mengenai tujuan kalian... yah, kabar tentang hancurnya kelompok Liliyana di Lembah Bintang Kelabu menyebar lebih cepat daripada kobaran api di padang rumput kering. Semua orang di pasar gelap tahu bahwa ada dua orang asing yang memegang kunci untuk membuka gerbang esensi purba."
Di dalam kamar, Lyra perlahan berdiri dari kursinya. Tangannya sudah menggenggam dua botol kecil cairan transparan yang siap dilemparkan kapan saja. Alis mata gadis itu berkerut dalam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Jika kau tahu siapa kami dan apa yang kami cari, lalu apa keuntunganmu mendatangi sarang pembunuh ini sendirian? Apakah kau utusan lain dari Faksi Sekte Kuno yang dikirim untuk membersihkan sisa-sisa pekerjaan Liliyana?"
Kakek Mo mendengus pelan, sebuah suara yang mirip desisan angin musim gugur. Ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Sekte Kuno? Sekumpulan anjing haus darah itu tidak lebih dari sekadar parasit yang menumpang hidup di atas reruntuhan sejarah. Aku bukan bagian dari mereka, Nona Alkemis. Justru sebaliknya... aku adalah musuh bubuyutan dari para petinggi faksi tersebut. Dan musuh dari musuh kita, bukankah seharusnya bisa menjadi kawan di atas meja perundingan?"
Kaelen melangkah sedikit ke samping, memberi ruang agar Kakek Mo bisa melihat ke dalam kamar, namun posisinya tetap siaga penuh untuk melakukan serangan kilat jika terjadi pengkhianatan. "Bicara padamu di ambang pintu seperti ini bukanlah pilihan yang bijak. Masuklah ke dalam, dan jelaskan apa yang kau ketahui. Tapi ingat, nyawamu adalah taruhannya jika kau mencoba mempermainkan kami."
Kakek Mo mengangguk maklum. Ia menyeret langkah kakinya yang pincang masuk ke dalam ruangan, lalu menutup pintu kamar rapat-rapat sebelum mengaktifkan segel kedap suara sederhana di sekitar kusen menggunakan gerakan tangan yang sangat cepat. Tindakan itu membuktikan bahwa di balik penampilan fisiknya yang renta dan rapuh, pria tua tersebut menyimpan basis kultivasi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Begitu ia duduk di salah satu kursi usang di hadapan meja bundar, Kakek Mo meletakkan tongkatnya secara melintang di atas pangkuan. Ia mengedarkan pandangan sekilas ke arah peralatan alkimia Lyra, lalu tersenyum tipis.
"Kalian sedang menuju ke Pusaran Kabut Abadi untuk merebut Jantung Bayangan, bukan?" Kakek Mo langsung membuka inti permasalahan tanpa basa-basi lagi. "Perjalanan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jalur darat utama saat ini telah ditutup total oleh aliansi tiga faksi besar daratan tengah yang bergabung di bawah panji Sekte Langit Palsu. Mereka mendirikan pos-pos pemeriksaan militer di setiap celah gunung. Bahkan burung merpati pos pun tidak akan bisa terbang melintasi perbatasan tanpa tertembak jatuh oleh panah spiritual."
Lyra mengerutkan kening semakin dalam. "Jika jalur darat ditutup total, bagaimana mungkin ada orang yang bisa mencapai tempat itu?"
"Itulah sebabnya aku ada di sini," Kakek Mo mencondongkan tubuhnya ke depan, merendahkan suaranya hingga nyaris berupa bisikan. "Di bawah fondasi Kota Lumina ini, membentang sebuah jaringan terowongan kuno peninggalan era sebelum perang besar terjadi. Orang-orang menyebutnya Gorong-Gorong Air Mata Naga. Jalur itu langsung menembus lambung gunung di utara, keluar tepat di bibir jurang yang mengarah langsung ke Pusaran Kabut Abadi. Tidak ada pos penjagaan di sana, karena pintu masuknya terkubur di balik reruntuhan gudang senjata bawah tanah yang dilindungi oleh formasi labirin laba-laba."
Kaelen menyipitkan mata, menatap lekat-lekat pria tua itu. "Jaringan terowongan kuno? Informasi semahal itu, yang bahkan bisa menyelamatkan nyawa kami dari kepungan ribuan pasukan musuh, tentu memiliki harga yang harus dibayar. Apa yang kau inginkan sebagai imbalan, Kakek Mo?"
Pria tua itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar parau dan menyayat hati. "Anak muda yang cerdas. Aku tidak butuh batu roh, aku tidak butuh ramuan pemurni darah, dan aku tentu saja tidak berminat pada emas kalian. Imbalannya sederhana: ketika kalian berhasil menembus Jantung Bayangan di Pusaran Kabut Abadi, hancurkan altar pemujaan utama mereka sampai menjadi debu. Jangan biarkan sisa-sisa darah leluhurku terus tersiksa di tempat terkutuk itu."
Sebelum Kaelen sempat memberikan jawaban atas penawaran tersebut, indra tajamnya mendadak menangkap perubahan drastis pada getaran Qi di luar dinding kayu kamar kedai. Suara bising dari para pemabuk di lantai bawah tiba-tiba lenyap seketika, digantikan oleh keheningan total yang sangat janggal. Bau amis belerang dan darah segar mulai merembes masuk melalui celah-celah papan lantai.
"Ada yang datang," geram Kaelen, tangannya langsung mencengkeram erat gagang pedang baja gelap.
Kakek Mo tidak tampak terkejut. Ia hanya menghela napas panjang, merapikan jubah kumalnya dengan tenang. "Sepertinya para anjing penjaga dari faksi Tangan Hitam bergerak lebih cepat dari perkiraanku. Kedai ini sudah dikepung dari segala penjuru."
Brak!
Pintu kamar di lantai dua itu hancur berkeping-keping dalam satu hantaman tenaga dalam yang luar biasa kuat. Pecahan kayu beterbangan ke segala arah, melukai udara dengan kecepatan tinggi. Dari balik awan debu yang mengepul, lima orang pembunuh berbadan kekar dengan topeng besi berbentuk tengkorak melompat masuk ke dalam ruangan. Mereka mengenakan jubah hitam bersulam benang emas di bagian kerah—ciri khas pasukan elit pembunuh bayaran di bawah komando langsung para tetua Faksi Sekte Kuno.
Pemimpin kelompok pembunuh itu melangkah maju paling depan. Ia membawa sebilah pedang besar bermata dua yang memancarkan aura kegelapan pekat. Matanya yang mengintip dari balik celah topeng menatap dingin ke arah Kaelen, Lyra, dan Kakek Mo secara bergantian.
"Kalian mengira bisa bersembunyi di sarang tikus ini selamanya, Kaelen?" suara pemimpin pembunuh itu menggema berat di dalam ruangan yang sempit. "Menyerahkan diri sekarang, atau kami akan memotong kepala wanita di sampingmu itu terlebih dahulu sebagai peringatan."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kaelen bangkit dari duduknya. Gelombang energi biru keperakan meledak dari dalam dantian-nya, menciptakan gelombang kejut dahsyat yang langsung mendorong kelima pembunuh itu mundur beberapa langkah ke arah koridor luar.
"Urusan kalian denganku, bukan dengan mereka," ucap Kaelen dingin, melangkah maju menyongsong musuh sambil menghunus pedang baja gelapnya. Bilah pedang itu berdesing pelan, memancarkan resonansi hampa yang membuat udara di sekitar ujung tajamnya bergetar hebat.
Lyra tidak tinggal diam. Di belakang Kaelen, gadis itu dengan sangat cekatan menumpumpahkan seluruh sisa tenaga spiritualnya ke telapak tangan, membentuk bola api hijau beracun berukuran besar yang siap dilepaskan ke kerumunan musuh. "Jangan biarkan mereka mengepung kita!" seru Lyra memperingatkan.
Pertempuran sengit langsung meletus di dalam ruang sempit Kedai Angin Malam. Pemimpin pembunuh ber topeng besi melompat menerjang Kaelen dengan tebasan vertikal yang membelah udara, menghasilkan suara desisan angin yang tajam. Kaelen menangkis serangan tersebut dengan mudah menggunakan sisi datar pedangnya. Benturan logam yang menghasilkan percikan api astral membakar suasana malam yang dingin.
Namun, di tengah baku hantam yang memekakkan telinga itu, Kakek Mo tetap duduk dengan tenang di kursinya, meneguk secangkir air dingin di atas meja seolah-olah pertempuran maut di sekitarnya hanyalah pertunjukan teater jalanan. Ia melirik sekilas ke arah Kaelen yang sedang bertarung melawan dua orang pembunuh sekaligus, lalu mengarahkan pandangannya ke sudut ruangan dekat jendela.
"Waktu kita tidak banyak," bisik Kakek Mo kepada Lyra yang sedang fokus menjaga pertahanan belakang. "Ikuti aku melalui lantai rahasia di bawah tempat tidur. Para bala bantuan musuh sedang dalam perjalanan menuju ke sini."
Lyra melirik ragu ke arah Kaelen. Pemuda itu sedang memutar tubuhnya dengan anggun, melepaskan tebasan kilat dari Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa yang berhasil memenggal kepala salah satu pembunuh bayaran dalam satu gerakan bersih. Darah segar muncrat membasahi dinding kayu kedai.
"Kaelen! Kita harus lewat jalur bawah!" seru Lyra di tengah hiruk-pikuk suara hantaman senjata.
Kaelen menendang dada pembunuh terakhir di hadapannya hingga menembus dinding luar lantai dua, membuat pria malang itu jatuh meluncur bebas ke halaman bawah kedai. Ia melirik Kakek Mo dan Lyra yang sudah bersiap di dekat sudut kamar.
"Jalan duluan!" perintah Kaelen singkat, kembali memasang kuda-kuda untuk menahan sisa pasukan musuh yang mulai mendesak naik dari tangga lantai bawah.
Kakek Mo menekan sebuah lempengan batu tersembunyi di lantai kayu. Suara mekanik berderit nyaring terdengar saat sebagian lantai bergeser membuka sebuah lubang gelap gulita, menyebarkan aroma tanah basah dan air mengalir dari dalam bumi. Tanpa ragu-ragu, Lyra melompat turun ke dalam kegelapan terowongan itu, diikuti oleh Kakek Mo yang bergerak cukup gesit untuk ukuran seorang pria tua renta.
Kaelen melayangkan satu tebasan terakhir yang menciptakan gelombang hampa horizontal, meruntuhkan tangga kayu penghubung lantai satu dan dua seketika, mengubur puluhan pembunuh bayaran di bawah reruntuhan puing-puing bangunan. Begitu melihat jalur belakang telah aman dari kejaran langsung, Kaelen melompat mundur dan terjun ke dalam lubang rahasia tersebut, menyusul Lyra dan Kakek Mo.
Pintu lantai rahasia itu tertutup rapat dengan sendirinya tepat saat gelombang pasukan bala bantuan musuh merangsek naik ke lantai dua. Di dalam kegelapan Gorong-Gorong Air Mata Naga, perjalanan baru yang dipenuhi marabahaya dan intrik pengkhianatan resmi dimulai, membawa mereka semakin dekat ke jantung misteri Pusaran Kabut Abadi.