NovelToon NovelToon
Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Dibuang Ke Danau, Aku Bangkit Dengan Sistem Memancing

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Brak!

Suara hantaman benda tumpul yang sangat keras terdengar menghantam pintu depan rumah Bu Rina tepat pada pukul enam pagi.

Siska yang tertidur di lantai ruang tamu karena kelelahan menangis semalaman langsung terbangun dengan kaget.

Bu Rina juga ikut terbangun dengan mata merah dan rambut yang sangat acak-acakan.

"Siska, suara apa itu di luar, apakah itu Rendy?"

Bu Rina bertanya dengan suara bergetar dan penuh harap bercampur ketakutan.

Siska segera berlari menuju pintu depan dan membukanya dengan tangan yang gemetar hebat.

Ceklek.

Begitu pintu terbuka, bau anyir darah segar langsung menyengat masuk ke dalam rongga hidung Siska.

Sebuah karung beras berukuran besar tergeletak di teras rumah mereka dengan noda merah yang merembes keluar.

"Kyaaa!"

Siska menjerit histeris dan mundur beberapa langkah hingga menabrak tubuh ibunya di belakang.

Karung beras itu tiba-tiba bergerak pelan dan rintihan kesakitan yang sangat memilukan terdengar dari dalamnya.

"I... Ibu... tolong Rendy Bu, sakit sekali..."

Mendengar suara itu, Bu Rina langsung menerjang maju dan merobek ikatan karung tersebut dengan panik.

Sosok Rendy keluar dari dalam karung dengan kondisi yang sangat mengerikan dan tidak menyerupai manusia lagi.

Wajahnya bengkak kebiruan hingga kedua matanya tidak bisa dibuka sama sekali.

Pakaiannya compang-camping dipenuhi noda darah dan lumpur kotor.

Tapi yang paling membuat Bu Rina menjerit hingga nyaris pingsan adalah kondisi tangan kanan anak kesayangannya itu.

Dua jari tangan kanan Rendy, yaitu jari telunjuk dan jari tengahnya, telah terpotong habis hingga menyisakan perban darah yang asal-asalan.

"Rendy anakku, ya ampun apa yang mereka lakukan padamu Nak!"

Bu Rina meraung-raung memeluk tubuh putranya yang kini cacat permanen itu.

Siska menutup mulutnya menahan rasa mual yang luar biasa melihat adiknya disiksa sekejam itu.

"Ini belum selesai Nyonya tua."

Sebuah suara serak terdengar dari arah luar pagar rumah mereka.

Bang Toyib berdiri di sana menghisap sebatang rokok dengan gaya arogan yang sangat menakutkan.

"Dua jari anak lu itu cuma buat bayar bunga utangnya yang telat semalam."

"Utang pokoknya yang tiga puluh juta masih utuh dan terus berjalan."

Bang Toyib membuang puntung rokoknya dan menginjaknya perlahan.

"Karena lu pada miskin dan gak bisa bayar tunai, rumah ini sekarang resmi jadi jaminan sitaan gue."

"Gue kasih waktu tiga hari buat kalian angkat kaki dari sini bawa baju kalian doang."

"Lebih dari tiga hari, gue bakar rumah ini sekalian sama kalian bertiga di dalamnya!"

Bang Toyib meludah ke tanah lalu berjalan pergi meninggalkan keluarga itu dalam kehancuran mutlak.

Bu Rina akhirnya benar-benar pingsan di tempat karena tidak kuat menahan kenyataan pahit tersebut.

Siska jatuh terduduk di lantai teras dengan tatapan kosong dan air mata yang terus mengalir deras.

Mantan suaminya telah pergi membawa kekayaan, tunangannya terbukti penipu, adiknya cacat seumur hidup, dan kini rumah mereka pun dirampas rentenir.

Kesombongan mereka selama tiga tahun menghina Amir kini dibayar lunas dengan penderitaan yang tak akan pernah berakhir.

Di saat yang bersamaan, di dalam istana mewah Bukit Permata.

Amir sedang duduk bersandar di kursi balkon kamarnya sambil menikmati secangkir kopi hitam hangat.

Sinar matahari pagi yang cerah menyinari wajahnya yang kini terlihat sangat segar dan berwibawa.

Sebastian datang menghampiri dengan nampan perak membawa sepotong roti panggang selai.

"Selamat pagi Tuan Besar Amir, sarapan Anda sudah siap."

"Terima kasih Sebastian, pelayanan kalian memang tidak pernah mengecewakan."

Amir mengambil roti itu dan menggigitnya pelan.

Ia sama sekali tidak memikirkan nasib keluarga Siska atau Rendy yang sedang menangis darah saat ini.

Bagi Amir, mereka hanyalah orang asing yang sudah ia hapus dari daftar kehidupannya.

"Hari ini aku ingin memancing di laut yang lebih ekstrem dari kemarin."

"Aku butuh tangkapan yang jauh lebih besar dan menantang."

Amir menghabiskan kopinya dan segera bersiap-siap dengan pakaian memancingnya.

Ia mengambil tas pancingnya yang berisi joran Poseidon Pro dan reel SeaMaster 9000.

Brmmm.

Amir mengemudikan mobil G-Class miliknya membelah jalanan kota menuju Pelabuhan Tanjung Karang.

Pelabuhan ini adalah pelabuhan terbesar di kota yang melayani kapal kargo dan juga kapal pesiar pribadi.

Sesampainya di sana, Amir berjalan menuju area penyewaan kapal pesiar dan yacht mewah.

Seorang agen penyewaan langsung menyambut Amir dengan sangat ramah melihat pakaian dan mobil yang dibawanya.

"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu hari ini?"

"Aku ingin menyewa sebuah yacht kecil yang paling tangguh menahan ombak laut dalam."

Amir langsung mengutarakan niatnya tanpa banyak basa-basi.

Agen itu membawa Amir melihat sebuah yacht berwarna putih bersih dengan mesin ganda yang terlihat sangat modern.

"Ini adalah yacht tipe SeaFalcon, kecepatannya sangat tinggi dan lambungnya terbuat dari baja ringan anti badai."

"Harga sewanya dua puluh juta rupiah untuk satu hari penuh, apakah Anda butuh kapten kapal juga?"

Agen itu menjelaskan sambil menunjukkan interior kapal yang sangat mewah.

"Aku bayar tunai sekarang juga, tapi aku tidak butuh kapten."

"Aku akan mengemudikannya sendiri karena aku suka privasi saat memancing."

Amir memberikan kartu debit hitamnya yang langsung digesek oleh agen tersebut tanpa banyak tanya.

Setelah urusan administrasi selesai, Amir naik ke atas yacht tersebut sendirian.

Tentu saja Amir tidak tahu cara mengemudikan kapal pesiar modern yang penuh dengan tombol rumit itu.

Tapi ia punya sistem yang bisa menyelesaikan segala masalah ketidaktahuannya.

"Sistem, apakah ada keterampilan mengemudi kapal pesiar di Toko Sistem?"

Amir bertanya sambil berdiri di depan ruang kemudi yang terlihat seperti kokpit pesawat kecil.

[Ada Tuan. Keahlian Mengemudi Kapal Tingkat Lanjut tersedia seharga 1.000 Poin]

"Beli sekarang juga dan salurkan ke otakku!"

[Terkonfirmasi, mengurangi 1.000 Poin. Sisa Poin Tuan saat ini adalah 59.350 Poin]

Dalam hitungan detik, arus informasi yang sangat padat mengalir masuk ke dalam ingatan Amir.

Ia tiba-tiba memahami fungsi setiap tombol, tuas gas, navigasi radar, hingga cara membaca arah angin laut.

Tangan Amir bergerak lincah menekan beberapa tombol dan menyalakan mesin ganda SeaFalcon tersebut.

Wuuung!

Suara mesin menderu halus dan kapal mulai bergerak mundur meninggalkan dermaga pelabuhan.

Amir mengarahkan kemudinya lurus menuju lautan lepas dengan kecepatan tinggi.

Tujuannya hari ini bukanlah zona biru biasa seperti kemarin, melainkan area yang ditandai merah di radar GPS kapalnya.

Area itu dikenal oleh para nelayan sebagai Zona Merah Laut Kematian.

Tempat bertemunya dua arus laut kuat yang sering menciptakan cuaca buruk tak terduga dan ombak setinggi gedung.

"Semakin berbahaya tempatnya, pasti semakin langka ikan atau harta karun yang bersembunyi di bawahnya."

Amir bergumam dengan senyum yang sangat menantang bahaya.

Satu jam perjalanan berlalu dengan sangat cepat.

Warna air laut di sekitar yacht Amir perlahan berubah dari biru menjadi biru sangat gelap, nyaris kehitaman.

Langit yang tadinya cerah mendadak tertutup oleh awan kumulonimbus yang sangat tebal dan gelap.

1
💫Penjelajah Novel💫
Thor. kolo bisa jangan 1× mancing 1× dapet langsung balik. kolo bisa banyakin mancingnya
kiyoe: terimakasih atas masukan nya kak
total 1 replies
Author Melda
Gilaak bab 1 nya langsung nyesek kak 😭 Amir yatim piatu jadi menantu gak dianggap, eh dibuang ke danau pula. Tapi pas bangkit sama sistem mancingnya itu keren banget plot twistnya! Semangat terus kak kiyoe, mancing mania mantap! 🎣
kiyoe: heheh terimakasih kak author Selpi atas dukungan nya
total 1 replies
Wega Luna
mir ,mancing ditempat ku ada danau ajaibnya,danau pasir putih yg keluar dari tanah seperti lumpur Lapindo,, dikelilingi bukit ular dan perumahan Citraland Surabaya, pemandangan keren,
kiyoe: wuih keren
total 3 replies
Wega Luna
banyakin saldo mancing nya terus ditukar dengan uang beli Bugatti ,,,direalita Buggati lebih mahal dari Lamborghini🤣🤣🤣🤣kalo perlu beli Ferrari yg konon belinya ribet banget tapi berkelas karena belum tentu setiap pengusaha bisa beli Ferrari,,,🤭🤭🤭🤭
Wega Luna
💪💪💪 semangat para mancing mania,🏃🏃🏃tau GK Thor aku baca novel mu ini sambil mancing di kolam pemancingan😄
kiyoe: nanti kalau udah Mateng kabarin othor yak kak 🤣🤣
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!