“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Elara menoleh ke arahnya dengan senyum manis. "Bukankah kau bilang ingin membuatku bahagia? Ini membuatku bahagia."
Dreven tersenyum paksa, seolah telah menghabiskan ratusan dollar hanya untuk menyenangkan pelayannya daripada istrinya.
"Oh iya, untuk perhiasan kalung itu tinggalkan. Aku menyukainya," kata Elara saat melihat perhiasan kalung simple yang menggoda matanya.
Dreven langsung tersenyum penuh kemenangan dari kursi rodanya. "Akhirnya, ada sesuatu yang kau suka dari pemberianku."
Elara mengambil kotak perhiasan itu, membuka dan memperhatikan kalungnya dengan seksama. Desainnya sederhana namun elegan, dengan berlian kecil di tengah yang memancarkan kilauan halus. Dia memang bukan penggemar barang berlebihan, tetapi sesuatu yang klasik seperti ini masih bisa diterimanya.
"Setidaknya ini tidak berlebihan," gumamnya sambil menutup kotak itu.
Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat, menyandarkan satu tangan di sofa sambil menatapnya. "Haruskah aku yang memakaikannya untukmu?"
Elara menatapnya tanpa ekspresi. "Terima kasih atas tawarannya, tapi aku masih bisa melakukannya sendiri."
Dreven mendecak kesal. "Kau benar-benar tidak bisa diajak sedikit romantis, ya?"
Elara hanya terkekeh pelan. "Jika ingin romantis, carilah wanita lain. Aku hanya ingin menjalani pernikahan kontrak ini dengan damai."
Dreven ingin berdebat lagi, namun sebuah panggilan membuatnya menghentikan niatnya.
"Halo?"
"Tuan gawat! Proyek besar di Sandnes tiba-tiba batal dan digantikan oleh perusahaan lain!"
Ekspresi Dreven langsung berubah serius. "Apa? Perusahaan mana yang berani mengambil alih proyek itu?"
"Belum jelas, tapi dari informasi yang kami dapat, ada seseorang dengan koneksi kuat yang bermain di belakang layar," jawab suara di telepon dengan nada panik.
Dreven mengatupkan rahangnya. Sandnes adalah proyek bernilai miliaran dolar, dan kehilangan itu berarti pukulan besar bagi Dastan Group.
Elara yang mendengar percakapan itu hanya menyesap tehnya, tapi diam-diam dia merenung. Apakah ini efek dari pengkhianatan Leandro?
Tapi sebelum Elara berbicara, Dreven sudah pergi dengan terburu-buru—menggerakkan kursi rodanya dengan cepat meninggalkan ruangan.
Elara menghela nafas, dia tak ingin ikut campur tapi jika Dastan dihancurkan oleh pengkhianatan dan menjadi miskin, maka dia juga tak memiliki perlindungan yang kuat.
Dengan cepat dia menghubungi Leo, pria itu pasti bisa melakukan sesuatu dengan aman.
Leo menjawab panggilannya hanya dalam beberapa detik. "Elara? Jarang sekali kau menghubungiku pagi-pagi. Ada masalah?"
Elara menatap kosong cangkir tehnya. "Cari tahu tentang proyek Sandnes. Ada yang mengambilnya dari Dastan Group, dan aku ingin tahu apakah ada celah untuk menyelamatkan proyek itu."
Leo terdiam sejenak sebelum tertawa kecil. "Oh? Kau akhirnya mulai peduli pada bisnis suamimu?"
Elara mendecak. "Bukan urusanmu. Aku hanya tidak ingin berada di kapal yang tenggelam."
Leo mendesah. "Baiklah, beri aku beberapa jam. Aku akan menghubungimu kembali."
Elara kemudian mematikan teleponnya, tatapannya dalam ke arah foto keluarga besar Dastan yang terpampang di ruang keluarga itu.
"Kau berhutang padaku, Dastan," gumamnya dengan tenang.
---
PLAK!!
Suara tamparan keras mengenai wajah Dreven saat Raviel tahu bisnis besar yang dipegang oleh putranya telah bocor dan mengalami kerugian besar.
"Apa yang bisa kau lakukan selain bersenang-senang ha?!"
Dreven menahan rahangnya yang terasa panas akibat tamparan ayahnya. Napasnya memburu, tetapi dia tidak membantah. Dari kursi rodanya, dia hanya bisa menunduk menahan malu.
Raviel menatapnya dengan tajam, amarahnya jelas terpancar. "Aku mempercayakan Dastan Group padamu, dan dalam sekejap kau membiarkan proyek sebesar ini jatuh ke tangan orang lain?!"
Dreven mengepalkan tangannya di atas pangkuan. "Aku akan menyelesaikannya," katanya dengan suara dalam.
"Dengan apa ha?! Aku benar-benar malu mempunyai putra sepertimu!"
Dreven hanya diam, dia jelas tak peduli tapi dia benar-benar akan mempertanggung jawabkan apa yang telah dipercayakan padanya.
"Ayah, sudahlah. Adik akan tertekan jika terus kau marahi. Dia baru belajar satu tahun ini, wajar jika mengalami masalah," ucap Galileo dengan santai.
Dreven melirik ke arah kakaknya, pria itu selalu membelanya jika ayahnya bersikap keras padanya.
Raviel menghela napas panjang, menahan amarahnya. "Belajar satu tahun?! Itu bukan alasan untuk kehilangan proyek sebesar ini, Galileo."
Galileo tersenyum kecil, tetap tenang. "Benar, tapi kita juga harus ingat bahwa setiap pemimpin pernah gagal sebelum berhasil. Lagipula, aku yakin Dreven sudah memiliki rencana, bukan begitu?"
Dreven menatap kakaknya, lalu kembali menegakkan bahunya meskipun dari kursi roda. "Aku akan mendapatkan proyek itu kembali."
Raviel menatapnya tajam sebelum akhirnya berbalik. "Kau punya waktu satu minggu. Jika dalam waktu itu kau tak mendapatkan proyeknya kembali, kau tak akan mendapatkan apapun di Dastan kecuali margamu."
Dreven mengangguk lalu menggerakkan kursi rodanya pergi dari sana.
Galileo yang melihat itu tersenyum tipis, lalu menyesap kopinya dengan santai.
---
"Makan malamnya akan dingin jika anda tak segera makan, Nyonya," kata Emma dengan lembut.
"Dreven belum pulang juga?" tanyanya dengan datar.
Emma menggeleng, lalu Elara melirik ke arah ponselnya yang tak ada notif dari pria itu.
Sudah dua malam ini sejak masalah proyek itu Dreven tak kembali. Leo pun juga belum bisa memberitahu apa celah yang bisa merebut kembali proyek itu ke tangan Dreven.
"Benar-benar bodoh. Apa dia tak tahu jika temannya berkhianat. Dia menyebalkan tapi aku tak menyangka dia akan sepolos itu," gumamnya dengan kesal.
Emma tetap diam, sudah terbiasa dengan ocehan nyonyanya yang kadang seperti mencemooh, tapi entah kenapa tetap terdengar peduli.
Elara menatap makanan di depannya dengan bosan, lalu menghela napas panjang. "Siapkan mobil. Aku akan pergi."
Emma sedikit terkejut. "Malam-malam begini, Nyonya?"
Elara bangkit dari kursinya, mengambil mantel dan ponselnya, tak lupa dia memakai penutup kepala dan masker.
"Ya. Aku akan pergi ke suatu tempat."
Emma tidak bertanya lebih lanjut, hanya segera menyiapkan mobil seperti yang diperintahkan.
Elara duduk di kursi belakang dengan tenang, matanya menatap jalanan kota yang mulai sepi di luar jendela. "Kita pergi ke kediaman Ratore."
Sepertinya dia harus turun tangan sendiri, jika Ratore bisa bernegosiasi maka proyek itu bisa kembali ke tangan Dreven.
Elara menyandarkan kepalanya ke kursi, pikirannya sibuk menyusun strategi. Ratore adalah salah satu tokoh bisnis yang berpengaruh. Jika dia bisa diyakinkan untuk menarik dukungannya dari perusahaan saingan, maka peluang Dreven merebut kembali proyek itu akan jauh lebih besar.
Setibanya di kediaman Ratore, Elara turun dari mobil dengan elegan, mantel panjangnya berkibar tertiup angin malam. Dia menatap megahnya rumah itu sebelum melangkah masuk.
"Siapa Anda?" Salah satu penjaga menahannya di pintu gerbang.
Elara menurunkan maskernya sedikit, tersenyum tipis. "Elara Dastan. Katakan pada Tuan Ratore bahwa aku ingin berbicara dengannya. Ini urusan bisnis."
Penjaga itu tampak ragu sejenak, tapi kemudian mengangguk dan masuk ke dalam untuk menyampaikan pesan.
Elara menunggu dengan sabar, suara gemuruh terdengar dan kilatan sedikit memberikan hawa dingin.
"Sepertinya akan hujan," gumamnya.
Hingga penjaga kembali dengan langkah kaki lebar, "Maaf, nyonya. Tuan menolak tamu dari kediaman Dastan, kata beliau kami tak tertarik untuk membahas bisnis lagi."
Elara menyipitkan matanya, tak menunjukkan emosi apa pun. Namun dalam hatinya, dia tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Ratore bukan tipe orang yang menolak pertemuan begitu saja, terutama jika berhubungan dengan bisnis besar. Ini berarti seseorang telah mempengaruhinya atau menawarkan sesuatu yang lebih menguntungkan.
Elara menarik napas, lalu tersenyum kecil. Jika pihak lain bisa memberikan keuntungan besar, dia pun bisa.
Dengan tenang dia mengeluarkan plakat dari dalam tasnya, "Tunjukkan ini padanya."
Penjaga itu menatap plakat tersebut dengan kening berkerut, jelas terkejut. Namun, dia tetap mengambilnya dan kembali masuk ke dalam mansion Ratore tanpa berkata apa-apa.
Elara menyilangkan tangan, menunggu dengan sabar di bawah langit yang mulai diguyur gerimis tipis. Dia tahu betul nilai plakat itu—sesuatu yang tak akan bisa diabaikan oleh Ratore.
Beberapa menit kemudian, pintu gerbang terbuka lebih lebar, dan seorang pria berpakaian rapi melangkah keluar.
"Tuan Ratore akan menerima Anda sekarang," ucap pria itu dengan nada hormat.
Elara tersenyum tipis, lalu melangkah masuk dengan percaya diri. Permainan baru saja dimulai meskipun sedikit mengorbankan identitasnya.
Bersambung...
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/