Seorang pelayan yang dihina dan dikhianati bangkit sebagai CEO konglomerat misterius demi membalas dendam, namun takdir penyesalan dan pengorbanan mengubah rasa benci tersebut menjadi perjuangan cinta sejati yang mendewasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang atoom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Perjalanan ke Luar Negeri
Suasana di lantai 50 Menara Adhitama sejak pagi hari sudah diselimuti kesibukan yang intens. Berkas-berkas perjanjian internasional bernilai puluhan triliun rupiah ditata rapi oleh jajaran sekretaris senior, sementara beberapa pengawal pribadi bersetelan jas hitam tampak sigap memeriksa jalur evakuasi dan logistik perjalanan.
Hari ini adalah hari keberangkatan Rendy Adhitama ke Singapura untuk menghadiri acara penandatanganan proyek konsorsium megah yang akan mengukuhkan dominasi Adhitama Group di Asia Tenggara.
Siska berdiri kaku di balik meja kerjanya, memegang tumpukan dokumen yang sudah ia rapikan dengan sangat teliti sejak subuh. Matanya yang sembab menatap pintu kaca ruang kerja CEO yang terbuka lebar.
Di dalam sana, Rendy tampak begitu gagah mengenakan setelan jas tailor-made berwarna abu-abu gelap, sibuk memeriksa berkas terakhir seraya mendengarkan pengarahan singkat dari Pak Irwan.
Namun, tidak ada satu pun instruksi perjalanan yang ditujukan untuk Siska. Namanya sama sekali tidak tercantum dalam daftar manifes penerbangan jet pribadi maupun rombongan eksekutif yang akan berangkat.
Sebagai asisten pribadi, keberadaannya dalam perjalanan bisnis terpenting tahun ini sengaja ditiadakan—sebuah pengabaian halus namun sangat jelas bahwa Rendy tidak lagi membutuhkan atau menginginkan kehadirannya di sisinya.
Pintu lift khusus eksekutif berdenting nyaring, terbuka lebar memperlihatkan sosok Clara Vaneisha yang melangkah keluar dengan keanggunan mutlak.
Clara tampil sangat memukau dalam balutan gaun pencildress berwarna krem bermerek mahal, dipadu dengan kacamata hitam berbingkai emas dan perhiasan berlian yang berkilau di bawah lampu ruangan. Ia memancarkan aura seorang wanita kelas atas yang sempurna untuk berdiri di samping sang penguasa Adhitama.
Clara melangkah pasti melintasi area kerja Siska tanpa memperdulikannya terlebih dahulu, langsung menuju ke dalam ruangan Rendy.
"Semua persiapannya sudah selesai, Rendy?" suara Clara terdengar merdu dan akrab dari dalam ruangan.
"Jet pribadiku sudah siap di bandara. Para investor di Singapura sudah tidak sabar menyambut kita."
"Semua sudah siap, Clara," jawab Rendy datar namun diwarnai nada penghormatan yang setara. Ia menutup iPad-nya, berdiri dari kursi kebesarannya, lalu merapikan kancing jasnya dengan gerakan mantap.
Saat mereka berdua melangkah keluar dari ruangan CEO menuju area lift, langkah kaki Clara mendadak terhenti tepat di depan meja Siska. Rendy terus berjalan pelan menuju pintu lift tanpa menoleh, sementara Clara membalikkan badannya sedikit, menatap Siska dari atas sampai bawah dengan binar mata yang sarat akan kemenangan dan rasa superioritas murni.
Clara menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu halus, ramah, namun memiliki intonasi kata yang menusuk tepat ke dada Siska.
"Siska," panggil Clara dengan nada suara yang sangat lembut, seolah sedang berbicara pada seorang bawahan kecil.
"Kami harus berangkat ke Singapura sekarang untuk menyelesaikan urusan masa depan yang sangat besar. Tolong jaga ruangan Rendy dengan baik selama kami tidak ada, ya? Oh, dan tidak perlu repot-repot membuatkan kopi atau makanan lagi... Rendy menyukai hidangan fine dining yang sudah saya siapkan khusus di jet pribadi."
Kata-kata Clara mengalun begitu tenang, namun menegaskan dengan sangat teliti posisi masing-masing dari mereka.
Clara adalah wanita terpilih yang melangkah maju bersama Rendy menuju puncak dunia, sementara Siska hanyalah masa lalu yang tertinggal untuk membersihkan debu-debu ruangan.
Siska meremas jemarinya yang terbalut perban rapat-rapat di balik mejanya. Tenggorokannya serasa tersumbat batu besar, namun ia memaksa dirinya untuk menundukkan kepala dengan sopan.
"B-Baik, Nona Vaneisha... Selamat jalan."
Clara terkekeh pelan, membetulkan posisi kacamatanya, lalu berbalik dan berjalan cepat menyusul Rendy yang sudah menunggu di depan pintu lift. Pintu lift berlapis emas itu perlahan tertutup rapat, menyerap bayangan Rendy dan Clara dari pandangannya.
Sekali lagi, keheningan yang mencekam dan hampa menyelimuti seluruh lantai 50 Menara Adhitama.
Staf-staf lain telah pergi mengawal rombongan, meninggalkan lorong-lorong luas itu tanpa suara. Siska berdiri sendirian di tengah ruangan yang begitu megah dan kosong.
Cahaya matahari siang yang masuk melalui dinding kaca tebal terasa begitu dingin memulasi wajahnya yang pucat. Ia menarik napas panjang yang terasa sangat menyiksa dada, memandangi meja kerja Rendy yang kini kosong melompong.
Rasa kehilangan arah yang amat sangat menghantam jiwanya. Siska merasa seolah-olah ia sedang berdiri di tengah samudra luas tanpa kompas, meratapi kenyataan bahwa ia telah sepenuhnya kehilangan tempat di hati pria yang pernah menjadi satu-satunya tempatnya pulang.
Di dalam kantor yang hampa itu, Siska perlahan terduduk di kursinya, membiarkan air mata kesepian menetes tanpa suara, tanpa menyadari bahwa bahaya maut dari masa lalu sedang merayap mendekatinya dalam kegelapan.