NovelToon NovelToon
Takdir Kedua: Balas Dendam Ophelia

Takdir Kedua: Balas Dendam Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Kepala keluarga Maharaja sekaligus selingkuhannya Yelena. 

Dia pasti datang untuk membicarakan masalah Ophelia dan Reine. Kalau sampai membuat masalah baru karena hal ini, apa ia akan dihukum lagi? 

Mari berharap punggungnya sudah sembuh sebelum itu.

“Bunda sudah bicara dengan Ayahmu, kamu diizinkan menginap katanya.” 

Ophelia yang masih setengah bangun hanya mengedipkan mata pelan—mencoba mencerna kalimat itu. 

Setelah bicara dengan Chelsea entah kenapa dia tergiur untuk tidur seperti Airin dan terbangun ketika langit sudah gelap. Tiba-tiba saja ini sudah waktunya makan malam. 

“Dia mengizinkan ya?” gumamnya. 

“Sekalipun tidak diizinkan aku yang bakal nahan kamu supaya nggak pulang.” 

Ophelia duduk dari tidurnya dan mengelus kepala Airin. “Terima kasih.” 

“Lukamu gimana sekarang?” tanya Airin pelan. “Masih sakit?” 

“Masih, tapi udah jauh mendingan daripada tadi pagi.” 

“Kamu nggak boleh mandi. Kata kakakku juga salepnya harus dipakai lagi waktu mau tidur,” tegas Airin. 

Ah ya, kedua kakak Airin juga tahu tentang ini.

“Mereka… tahu seberapa banyak?” tanya Ophelia. “Maksudku, kamu menjelaskan apa saja?” 

“Mereka cuma tau kalau kamu lagi terluka, aku nggak bilang soal keluargamu atau seberapa parah lukanya.” 

Itu melegakan. 

Tapi jangan mandi ya? Kemarin tubuhnya terlalu sakit untuk digerakkan. Kalau hari ini tidak juga—“Seenggaknya aku mau mandi pakai handuk basah. Badanku nggak nyaman.” 

“Aku bisa bantu!” ujar temannya cepat. “Pasti susah kalau sendiri ‘kan ya?” 

Ophelia meringis, “Kalau urusan ini aku nggak perlu dibantu.” 

Airin langsung murung. 

“Tapi waktu pakai salepnya lagi aku bakal minta tolong ke kamu.” 

Mata gadis itu langsung berbinar. “Oke.”

Anak ini mudah sekali untuk dibaca. 

“Kamu mau kubawakan makan malamnya kesini?” tanya Airin. “Takutnya punggungmu terlalu sakit kalau dipakai jalan.”

Ophelia jalan dengan kaki.

Dan lagi setidaknya ia harus membantu memasak atau merapikan meja, rasanya tidak sopan jika dia terus dimanja.  

“Rasa sakitnya tidak separah itu, aku ikut makan di meja saja.” 

Tapi tunggu dulu.

“Kamu punya parfum?” Ophelia melirik punggungnya. “Kayaknya orang-orang di rumah ini tahu jelas bau salep yang kupakai.” 

Kalau orang tua Airin yang bertanya mungkin ia tidak akan bisa mengelak. 

“Punya, sebentar.” 

Airin memberinya parfum yang biasa ia pakai dengan wangi lembut seperti bunga.

Hm? Ia jadi teringat sesuatu. 

Ketika hendak pingsan tadi Ophelia mencium aroma teh(?) atau mungkin padang rumput. Cologne apa yang Aidoneus pakai sampai bisa sewangi itu? 

Tenggelam dalam aromanya terasa menenangkan. 

Ketika sampai di ruang makan, Ophelia tidak melihat Aidoneus di sana. Sudah pulang ya? Ia harap pria itu tidak bilang siapa-siapa soal lukanya.

“Baru aja kakak akan menjemput kalian.” Arjuna yang terlihat membaca sebuah buku di meja makan tersenyum. “Arga sebentar lagi selesai.” 

“Kak Arga?”

Airin mempersilahkan Ophelia duduk. “Kakakku punya restoran lho, dia jago banget pakai pisau jadi biasanya ikut bantu Bunda masak.” 

Entah kenapa Ophelia langsung merinding mendengar itu. Restoran makanan ‘kan ya? Bukan yang macam-macam?

“Demam kamu udah sembuh?” Ibunda Airin terlihat keluar dari dapur membawa piring besar berisi ikan bakar. Wangi sekali.

“Udah Tante,” senyum Ophelia. “Maaf ya Lia datang kesini tapi malah ‘ngerepotin.” 

“Nggak apa-apa, lagian jarang ada teman perempuan Airin yang datang ke rumah. Kamu harusnya main kesini lebih sering.” 

Ophelia berterima kasih untuk itu. 

Makan malam di rumah ini mengingatkannya ketika masih ada di panti asuhan dulu. Terasa hangat, berbeda sekali dengan suasana dingin di kediaman Pratama. 

“Oh, aku bisa bantu beresin.” Ophelia berdiri dan ikut membantu membereskan meja walau akhirnya ditolak—terutama oleh Airin jadi mereka kembali ke kamar.

Ophelia mengangkat alis. “Kesini lagi? Bukannya kita mesti belajar di kamarmu?” 

“Kamu mesti istirahat.” 

“Aku kesini buat bantu kamu belajar.” 

“Nggak dalam kondisi begini juga.” Airin terlihat memastikan segala yang Ophelia butuhkan di kamar mandi tersedia. “Pakai lagi salepnya, minum lagi obatnya terus kamu tidur.” 

Ophelia menghela napas. Rasanya ia seperti punya suster pribadi kalau Airin terus begini. 

...****************...

Ia kembali ke kediaman Pratama pagi harinya, diantarkan oleh Kak Arga. Airin bilang dia akan menutup mulut asalkan Ophelia tidak mendapat luka baru. 

Itu akan sedikit sulit. 

“Terima kasih,” ucap Ophelia ketika mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan gerbang Pratama. Hm? Pintu mobilnya masih dikunci. 

Arga terlihat membuka jendela dan menyalakan rokoknya. “Airin terlihat tidak rela kamu pulang kemari.” 

“Yah, terkadang dia bisa agak dramatis.” Ophelia meringis. “Padahal besok kami masih akan bertemu di sekolah.” 

“Bukan, responnya berbeda.” 

Ophelia langsung mematung. Orang di sebelahnya ini entah kenapa terasa lebih berbahaya sekarang. 

Insting Ophelia bilang untuk pergi sejauh mungkin tapi mobilnya masih dikunci. 

“Salep yang kamu pakai tidak sedikit,” ujarnya. “Kamu juga membeli obat yang sama, seakan tahu kalau kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti.”

“Aku ‘kan, ikut taekwondo. Dapat memar itu biasa.” Ophelia mencoba untuk tersenyum. 

Arga mengetuk rokoknya ke luar mobil. “Bohong lagi.” 

Hm. 

Rasanya ia sedang diinterogasi. 

“Kamu pernah menyelamatkan Airin sekali. Kalau kamu tidak ada di sana entah apa yang terjadi padanya sekarang.”

Dia akan koma dan tidak akan pernah bangun. batin Ophelia pelan.

“Makanya.” Kunci mobilnya dibuka. “Jika kamu butuh bantuan—apapun, bahkan jika untuk melawan ayah angkatmu itu bilang saja.” 

Ophelia mengangguk. “Aku akan ingat itu.” 

Ketika melihat mobil hitam yang dinaiki Arga menjauh dari kediaman Pratama, Ophelia akhirnya bernapas lega. Serius sebenarnya apa pekerjaan orang itu? 

Benar-benar tidak bisa ditebak. 

“Oh, kamu pulang juga akhirnya.” 

Orang pertama yang menyambutnya adalah Yelena.

“Ada hal yang ingin Ayahmu bicarakan setelah ini. Lebih baik jangan langsung pergi ke kamar.”

Soal masalahnya dengan Reine ya? 

Rasa sakit di punggungnya kembali berdenyut tapi Ophelia tetap melangkahkan kakinya ke ruang kerja orang itu. 

“Kenapa malah ke sana? Kita berkumpul di ruang keluarga.” 

Ophelia menyipitkan mata. Kalau di ruang keluarga berarti masalahnya bukan cuma dia sendiri? Apa kedatangan kepala keluarga Maharaja kemarin membuat masalah sebesar itu?

di sana sudah ada Chelsea yang terlihat menunduk dengan Randi yang membaca sesuatu. Dari ekspresi pria itu, dia sepertinya sedang senang. 

“Kalian berdua duduklah.” 

Ophelia duduk di samping Chelsea dan langsung merasakan kalau tangannya digenggam diam-diam. 

Apa yang terjadi selama dia pergi?

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!