NovelToon NovelToon
Keliru Mengenal Sang Kapten

Keliru Mengenal Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:518
Nilai: 5
Nama Author: Madelyn_Sa

Amira tidak pernah menyangka hari pertamanya di SMA Dirgantara akan mempertemukannya dengan Alfian—sang kapten basket arogan yang wajah dan suaranya sangat mirip dengan "Sky", teman masa kecil yang memberinya kalung bintang sebelum pergi meninggalkannya bertahun-tahun lalu.
Sayangnya, Alfian bersikap seolah tidak pernah mengenal Amira dan menganggapnya sebagai cewek aneh yang sengaja mencari perhatian, membuat hari-hari sekolah Amira penuh dengan perdebatan sengit dan emosi yang naik turun.
Di balik dingin dan marahnya sang kapten, tersimpan rahasia besar serta memori masa lalu yang terkunci rapat, memaksa Amira terjebak dalam dilema antara rasa rindu pada masa lalu atau membenci kenyataan pahit di hadapannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Ring Basket dan Penyelesaian Dua Saudara

Sinar matahari sore menembus celah-celah atap gedung olahraga indoor SMA Dirgantara.

Gedung itu sudah sepi dari kegiatan ekskul. Hanya terdengar suara pantulan bola basket yang berirama statis.

Bum. Bum. Bum.

Fino berdiri di tengah lapangan, mengenakan kaus oblong putih dan celana training.

Cowok itu men-dribble bola dengan gerakan yang sedikit kaku, lalu mencoba melakukan shoot dari garis three-point.

Brak.

Bolanya membentur pinggiran ring dan memantul keluar lapangan.

Fino menghela napas panjang, mengusap keringat di dahinya. Fisiknya yang belum seratus persen fit membuatnya cepat kelelahan.

Baru saja Fino hendak memungut bola itu, sebuah tangan besar lebih dulu menangkapnya dari udara.

Fino menoleh.

Alfian berdiri di pinggir lapangan. Masih dengan seragam OSIS-nya, sang kapten berjalan santai memasuki area lapangan.

"Postur lo terlalu kaku pas lompat," komentar Alfian datar, memutar-mutar bola basket itu di ujung jari telunjuknya.

Fino tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai matanya.

"Gue kan bukan kapten basket kayak lo. Gue udah lupa caranya main," balas Fino ringan, berjalan mendekati tribun pinggir lapangan untuk duduk.

Alfian tidak menjawab. Cowok itu mendribel bola beberapa kali, mengambil ancang-ancang dari posisi yang sama dengan Fino tadi, lalu melompat dengan sempurna.

Swish.

Bola masuk dengan mulus tanpa menyentuh ring besi.

Alfian menangkap kembali bolanya, lalu berjalan menghampiri Fino dan duduk di sebelahnya dengan jarak satu jengkal.

Keheningan melingkupi dua cowok berwajah sama itu.

Hanya terdengar suara napas mereka dan suara jangkrik dari luar gedung.

"Lo lihat semuanya kan di ruang OSIS kemarin," tembak Alfian memecah kesunyian, tanpa menoleh pada kembarnya.

Gerakan tangan Fino yang sedang membuka botol air mineral terhenti sejenak.

Namun cowok itu segera menguasai diri, meneguk airnya perlahan sebelum menjawab.

"Kelihatan jelas banget ya kalau gue ngintip?" kekeh Fino hambar, memutar-mutar botol di tangannya.

"Gue cuma mau mastiin keadaan Lily... eh, maksud gue Amira, setelah dia lari nyariin lo ke lantai dua."

Alfian menunduk, menatap bola basket di pangkuannya.

"Maaf," ucap Alfian tiba-tiba. Suaranya sangat pelan, tapi terdengar jelas memantul di dinding gedung olahraga.

Fino menoleh, menatap saudara kembarnya dengan kening berkerut.

"Buat apa? Karena lo berhasil bikin dia cinta sama lo?" tanya Fino dengan senyum getir.

"Buat semuanya," Alfian balas menatap Fino, sorot matanya menyiratkan rasa penyesalan yang selama ini menggunung.

"Maaf karena gue lupa sama lo. Maaf karena gue hidup normal di saat lo kesakitan di rumah sakit. Dan maaf... karena gue nggak bisa ngelepasin Amira buat lo."

Fino terdiam.

Mata teduhnya menatap lurus ke dalam manik mata hitam legam milik Alfian.

Untuk pertama kalinya sejak Fino kembali ke Indonesia, Alfian benar-benar menurunkan seluruh arogansi dan tembok gengsinya di hadapan saudara kembarnya.

Fino membuang napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi tribun.

"Lo nggak perlu minta maaf soal kecelakaan itu, Fian. Itu takdir," ucap Fino tenang, menerawang menatap atap gedung.

"Dan soal Amira... jujur aja, gue hancur pas lihat dia nangis sambil meluk lo di ruang OSIS."

Tangan Alfian yang memegang bola basket sedikit mengerat.

"Tapi di saat yang sama, gue juga sadar," lanjut Fino, menoleh dan tersenyum tulus ke arah Alfian.

"Dia nangis karena dia bahagia udah nemuin orang yang tepat. Dan gue nggak punya hak buat ngerebut kebahagiaan itu, sekalipun gue bawa-bawa janji masa lalu."

"Fino..." panggil Alfian tak percaya dengan kebesaran hati kembarannya itu.

"Tenang aja, gue bukan tipe cowok picik yang bakal misahin kalian," kekeh Fino, meninju pelan bahu Alfian.

"Tapi asal lo tahu, Fian. Kalau sampai lo berani bikin dia nangis karena ulah brengsek lo... gue nggak akan segan-segan ngambil dia dari lo saat itu juga."

Ancaman itu diucapkan dengan nada bercanda, namun kilatan di mata Fino membuktikan bahwa ia seratus persen serius.

Alfian tertegun sejenak, lalu mendengus pelan dan mengukir senyum miring andalannya.

"Gue nggak akan pernah ngasih lo kesempatan buat itu," balas Alfian penuh percaya diri.

Fino tertawa lepas. Beban berat yang selama ini mengganjal di dadanya seolah terangkat sebagian.

Ia mungkin kehilangan cinta pertamanya, tapi ia mendapatkan kembali saudara kembar yang selama ini hilang.

"Oh ya, satu lagi," ucap Fino tiba-tiba, menatap iseng ke arah Alfian.

"Lo kalau pacaran jangan kelihatan kulkas banget napa. Tadi pagi gue lihat lo jalan bareng Amira di koridor, jaraknya udah kayak lagi musuhan. Gandeng kek tangannya."

Cesss.

Wajah Alfian langsung memerah padam mendengar sindiran itu.

"B-bukan urusan lo! Gue cuma ngejaga wibawa sebagai koordinator OSIS!" kilah Alfian ngegas, gengsinya kembali meronta.

"Wibawa apanya. Bilang aja lo salting kalau deket-deket dia kan?" ledek Fino puas melihat reaksi panik kapten arogan itu.

"Diam lo. Mau gue lempar pakai bola ini?" ancam Alfian mengangkat bola basketnya tinggi-tinggi.

"Coba aja kalau berani. Gue aduin ke Mama kalau lo bullying anak baru," tantang Fino sambil berdiri dan mengambil posisi bertahan.

Dan sore itu, untuk pertama kalinya setelah belasan tahun, gedung olahraga indoor itu dipenuhi oleh suara tawa dua saudara kembar yang kembali menemukan ikatan mereka yang sempat terputus oleh tragedi.

...***...

Keesokan harinya, Amira berjalan menuju kantin dengan perasaan campur aduk.

Sebenarnya, ia masih merasa canggung jika harus berhadapan dengan Fino. Namun ia juga tidak bisa terus-terusan bersembunyi.

"Eh, Mir! Coba lihat deh ke arah meja tengah," bisik Rara heboh sambil menunjuk ke satu arah begitu mereka masuk ke kantin.

Amira mengikuti arah telunjuk Rara, dan matanya langsung membelalak tak percaya.

Di meja tengah yang biasanya menjadi wilayah eksklusif geng basket Alfian, kini pemandangannya sedikit berbeda.

Alfian dan Fino duduk berdampingan.

Meskipun Alfian masih dengan raut wajah datarnya dan Fino dengan senyum ramahnya, mereka terlihat sedang mengobrol santai dengan Rio dan teman-teman lainnya.

"Sumpah, gue berasa lagi lihat efek cermin tapi versi nyaring dan versi silent mode," gumam Maya takjub melihat dua pangeran sekolah itu akur.

Tepat saat itu, mata Alfian menangkap sosok Amira yang berdiri di ambang pintu kantin.

Alfian langsung mengangkat tangannya, memberikan gestur singkat namun mutlak agar gadis itu datang mendekat.

Amira menelan ludah. Dengan langkah ragu-ragu, ia berjalan menghampiri meja penuh cowok populer itu, diikuti Rara dan Maya di belakangnya.

"Duduk," perintah Alfian singkat, menggeser posisi duduknya agar ada ruang kosong di sebelahnya.

Amira duduk dengan kaku. Jantungnya berdebar kencang saat menyadari bahwa ia duduk di antara Alfian dan Fino.

Persis seperti visual cover novel!

Fino menoleh, menatap Amira dengan senyum manis yang sama seperti biasanya. Tidak ada lagi sorot terluka atau memelas di sana.

"Hai, Lily. Mau gue pesenin mi ayam sekalian? Kebetulan Rio lagi mau ke stan makanan," sapa Fino ramah.

Amira tertegun. Ia menatap Fino, mencari kebohongan di wajah cowok itu, namun tak menemukannya.

Fino telah merelakannya dengan ikhlas.

"E-eh, nggak usah, Fino. Aku bawa bekal dari rumah kok," jawab Amira membalas senyum itu dengan perasaan lega yang luar biasa.

Melihat interaksi akrab itu, rahang Alfian sedikit mengeras.

Mode posesif sang kapten mendadak aktif kembali.

Dengan gerakan cepat, Alfian menggeser duduknya hingga bahunya bersentuhan dengan bahu Amira, sengaja menciptakan jarak antara gadis itu dan saudara kembarnya.

"Nggak usah nawar-nawarin dia makanan. Dia bawa bekal," ketus Alfian pada Fino, persis seperti anak kecil yang takut mainannya direbut.

Fino hanya memutar bola matanya malas sambil tertawa kecil.

"Posesif banget sih, Kapten."

Amira yang merasa terjepit di antara dua cowok raksasa ini hanya bisa mendengus kesal.

"Bisa geser dikit nggak, Al? Sempit tahu!" omel Amira sambil menyikut pelan pinggang Alfian.

"Nggak," jawab Alfian keras kepala.

Alih-alih bergeser, tangan kanan Alfian justru merambat ke bawah meja, lalu dengan berani meraih tangan kiri Amira dan menggenggamnya erat-erat di atas paha gadis itu.

Deg.

Wajah Amira langsung memerah sempurna.

Ia membelalakkan matanya menatap Alfian, namun cowok itu hanya memasang wajah sok datar tanpa dosa, seolah tidak terjadi apa-apa di bawah meja sana.

Fino yang kebetulan melihat pergerakan tangan mereka dari sudut matanya, hanya tersenyum tipis dan kembali mengobrol dengan Rio.

Amira menunduk, menatap tautan tangan mereka di bawah meja.

Telapak tangan Alfian yang hangat dan sedikit kasar memberikan rasa aman yang tak tergantikan.

Perlahan, Amira membalas genggaman itu, menyusupkan jari-jarinya di sela-sela jari panjang Alfian.

Merasakan balasan itu, sudut bibir Alfian terangkat membentuk senyum tipis yang tulus.

Masa lalu mungkin telah memberikan banyak luka bagi mereka bertiga.

Namun hari ini, di bawah riuhnya suara kantin sekolah, Amira tahu bahwa ia telah membuat pilihan yang tepat.

Ia tidak lagi mencari bintang di masa lalu. Karena kini, ia telah memiliki matahari paginya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!