NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : DSKKR

"Cukup, May!" Fandi memotong membentak. Dia melempar ponselku ke atas meja kaca hingga berdentang keras. "Jangan selalu ungkit masa lalu! Aku capek dengarnya! Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang!"

"Fandi, udah. Jangan dilayani orang kayak begini," sela Ibu Ratna sambil mengusap pundak Fandi. "Kamu lihat sendiri kan betapa kasar dan kekanak-kanakannya dia? Orang stres gampang cemburuan ya begitu. Enggak berkaca dia itu"

"Iya nih, Mas Fandi," timpal Intan menyiram bensin. "Padahal Mbak Siska tuh baik banget, anggun lagi. Enggak suka bentak-bentak kayak Mbak Maya."

Aku menatap ketiga orang di hadapanku ini. Orang-orang yang selama bertahun-tahun ini kuberi seluruh hidup dan pengorbananku. Tapi saat ini, mereka menatapku seolah aku adalah sampah yang mengganggu pemandangan rumah mewah ini.

"Jadi..." Aku mengusap sudut mataku yang basah dengan ujung daster. "Kamu emang udah ada hubungan sama dia, kan?"

Fandi memalingkan wajah, menghela napas panjang seolah-olah pertanyaanku adalah beban yang sangat berat.

"Aku ini seniman, May. Aku butuh inspirasi," jawabnya tanpa rasa bersalah. "Di rumah, aku cuma lihat kamu yang ngeluh capek, dasteran, bau minyak angin. Mana ada energi seni yang bisa lahir dari suasana kayak gini?"

"Jadi fisikku yang berubah ini jadi alasan kamu selingkuh?" suaraku merendah, tapi justru makin menusuk. "Tiga anak yang aku lahirkan itu anak siapa, Mas? Tubuhku rusak gara-gara siapa?!"

"Enggak usah dramatis!" Fandi mengibaskan tangannya kasar. "Banyak kok ibu-ibu anak tiga yang tetap bisa jaga badan! Kamu aja yang malas dan enggak punya niat!"

Kata-kata itu jadi pukulan terakhir. Rasanya seperti ada sesuatu yang patah secara permanen di dalam daku. Aku tidak lagi menangis. Tatapanku membeku, menatap Fandi lurus-lurus.

"Oke," kataku pelan. Begitu pelan hingga ruangan itu kembali hening.

Fandi mengerutkan dahi. "Maksud kamu apa?"

"Aku paham sekarang," kataku seraya mundur satu langkah. "Kalian bertiga... memang udah enggak butuh aku di sini."

"Maksudmu apa ngomong kayak gitu, May?" Fandi melipat dadanya, matanya menatapku curiga. "Jangan mulai drama baru lagi deh."

"Gak ada drama, Mas. Aku cuma sadar posisi," balasku dingin. Keheningan aneh mendadak menguasai kepalaku. Rasa panas dan emosi yang tadi membakar dada perlahan menguap, berganti jadi rasa hampa yang tajam.

"Bagus kalau sadar!" sela Ibu Ratna cepat. Beliau berdiri sambil merapikan tas mewahnya. "Istri tuh kalau udah gak bisa nyenangin suami dan gak bisa jaga harga diri keluarga, ya tahu diri. Jangan malah ngamuk-ngamuk gak jelas."

Intan cuma terkekeh pelan di belakang ibunya, lalu berbisik, "Paling juga gertak doang, Bu. Mana berani Mbak Maya pergi? Mau makan apa dia? Duit aja masih numpang Mas Fandi."

Kata-kata Intan mampir di telingaku, tapi anehnya gak bikin aku sakit hati lagi. Aku cuma menatap mereka bertiga bergantian. Fandi yang berdiri tegap dengan keangkuhannya, Ibu Ratna yang penuh rasa bangga, dan Intan yang meremehkan.

"Mas," panggilku, menatap Fandi lurus. "Malam ini kamu tidur di mana?"

Fandi mendesis pelan, tampak terkejut dengan perubahan nadaku yang mendadak tenang. "Aku balik ke studio. Ada deadline yang harus dikejar."

"Sama Siska?" tanyaku datar.

"May! Kan udah kubilang dia rekan kerja!" bentak Fandi, suaranya meninggi lagi. "Terserah kamu mau mikir apa. Aku capek!"

Dia berbalik, mengabaikan aku, lalu menuntun ibunya dan Intan menuju pintu keluar. "Bu, Intan, yuk aku antar pulang dulu. Rumah ini lagi gak kondusif."

"Iya, Fandi. Kasihan kamu, capek kerja malah disuguhi bentakan," ujar Ibu Ratna sengaja dengan suara keras saat melewati ambang pintu.

Pintu depan tertutup lagi. Suara deru mobil Fandi terdengar menjauh untuk kedua kalinya malam ini.

Aku berdiri mematung di tengah ruang tamu yang luas dan sepi. Mataku tertuju pada meja kaca, tempat ponselku tergeletak dengan layar yang retak tipis di sudutnya akibat dilempar Fandi tadi. Aku melangkah pelan, meraihkannya, lalu membuka kembali foto Siska dan Fandi.

Gadis itu muda, cantik, dengan kulit kencang dan riasan sempurna. Sangat kontras denganku yang berdiri di sini dengan daster melar dan bau minyak telon.

Tahu diri, ya?

Aku berjalan menuju kamar mandi di lantai bawah, menyalakan lampu, dan berdiri di depan cermin besar. Kutatap wajahku sendiri baik-baik. Garis-garis halus di sudut mata, kulit kusam, dan leher yang tampak lelah. Kulepas jepitan badak yang menahan rambutku hingga terurai berantakan.

Lalu tanganku turun mengusap perutku yang tak lagi rata. Tiga anak. Tiga kali taruhan nyawa. Dan semua pengorbanan itu diartikan Fandi sebagai "kemalasan" dan "hilangnya estetika".

"Lucu ya, May," bisikku pada pantulan cermin. "Kamu yang bantu dia bangun panggung, tapi kamu yang ditendang saat panggungnya udah megah."

Dari lantai atas, suara tangisan kecil anak kembar ku kembali terdengar. Aku menyapu air mata yang sempat menetes di pipi dengan kasar.

"Cukup may. Kamu sudah tidak ada lagi di hati suami mu sendiri. Suami mu sudah di gondol rubah berekor sembilan. Pokoknya, aku tak akan lagi menempatkan mu di prioritas ku mas." guman ku. Aku putuskan, Malam ini terakhir kalinya aku menangisi pria itu.

Aku pun melangkah ke kamar anak-anak, menggendong si bungsuku yang terbangun, lalu memeluknya erat. Di dalam kegelapan kamar anak-anak, sebuah keputusan mantap perlahan terbentuk di kepalaku.

Kalau Fandi menganggapku cuma beban dan sampah yang gak bernilai, maka aku bakal pastikan dia ingat... siapa sebenarnya yang menciptakan nama Fandi di industri ini.

Bersambung...

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!