Menyamar sebagai pria miskin demi mencari cinta yang tulus, Andra menemukan seorang istri luar biasa yang tetap setia menemaninya dalam kesusahan. Di balik hidupnya yang pas-pasan, tak ada yang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang miliarder dan CEO raksasa. Ketika rahasia besar itu mulai terkuak, bagaimana kelanjutan kisah cinta mereka saat dunia tahu siapa suami miskin ini sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Goeston, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singa yang Keluar dari Sarang dan Jejak Darah di Hutan Menteng
Udara malam di kawasan Menteng terasa semakin pekat dan dingin.
Gerimis yang tadinya turun perlahan kini mulai berubah menjadi rintik hujan yang cukup rapat, membasahi halaman luas istana mewah yang berdiri megah di balik pagar besi tinggi.
Di bawah temaram lampu taman bergaya klasik, suasana di sekitar pelataran utama terasa begitu mencekam, jauh berbeda dari kesan hangat sebuah tempat tinggal.
Andra berdiri tegak di depan teras utama dengan mantel hitam panjang yang menjuntai nyaris menyentuh tanah.
Sorot matanya menatap tajam ke arah jejak air hujan yang mengalir di undakan marmer, sementara rahangnya mengeras sempurna.
Di sampingnya, Kirana baru saja dibawa masuk ke dalam gedung utama oleh dua pengawal wanita kepercayaan demi keamanan.
Meskipun Andra sempat berusaha menenangkan istrinya, tatapan cemas terakhir yang dilemparkan Kirana sebelum pintu tertutup rapat masih membekas di benak pria itu.
Kecemasan itu berubah menjadi bahan bakar amarah yang membakar dingin di dalam dada sang penguasa bayangan.
Handoko berdiri setengah langkah di belakang tuannya, memegang sebuah tablet taktis yang menampilkan peta digital bawah tanah istana serta titik-titik koordinat pelarian musuh.
"Penyusup utama yang mengenakan topeng venesia itu melarikan diri lewat terowongan pembuangan air tua di sektor barat, Tuan," lapor Handoko dengan suara tegas dan terukur.
"Dua orang pengawal kita sempat melakukan pengejaran, tapi mereka mendapati pintu terowongan telah dipasangi jebakan ranjau jarak dekat."
Andra menoleh perlahan ke arah asisten setianya.
Tidak ada kepanikan di wajah pria itu, yang ada hanyalah ketenangan mutlak sebelum badai besar menghantam.
"Berapa banyak orang yang tersisa dari kelompok mereka di dalam kompleks ini, Handoko?" tanya Andra dengan suara berat bernada rendah.
"Berdasarkan laporan pembersihan terakhir di ruang kendali dan lorong labirin, ada sekitar enam orang anggota Ordo Singa Kelam yang berhasil disusupkan," jawab Handoko cepat.
"Empat tewas dalam baku tembak, satu melarikan diri lewat terowongan, dan satu lagi... tertangkap hidup-hidup di pos pengamanan luar saat mencoba memotong jalur evakuasi."
Mendengar kata "tertangkap hidup-hidup", sudut bibir Andra terangkat membentuk senyuman tipis yang mengerikan.
Ia merapikan sarung tangan kulit hitam yang melekat sempurna di kedua tangannya.
"Bawa bajingan itu ke halaman belakang," perintah Andra tanpa ragu.
"Aku sendiri yang akan menanyakan siapa dalang di balik keberanian bodoh mereka untuk menginjakkan kaki di rumahku."
Beberapa menit kemudian, di area taman belakang istana yang dikelilingi pepohonan rimbun dan lampu sorot darurat...
Suasana terasa semakin sunyi, hanya ditemani suara rintik hujan yang menimpa daun-daun lebar.
Dua orang pengawal bertubuh kekar menyeret seorang pria berjas hitam dengan kondisi mengenaskan.
Topeng venesia milik pria itu sudah terlepas, menampakkan wajah penuh luka lebam, darah segar yang mengalir di sudut bibir, serta sepasang mata yang menyiratkan ketakutan luar biasa.
Mereka melemparkan tubuh pria itu tepat di hadapan kaki Andra.
Pria itu terhuyung, mencoba bangkit dengan napas tersengal-sengal, namun sebuah tendangan tegas dari sepatu bot Handoko langsung menekuk lututnya kembali ke tanah yang basah.
"Buka mulutmu," suara Andra terdengar dingin, mengiris keheningan malam bagaikanbilah pisau tajam.
"Siapa yang mengirim kalian ke istanaku? Dan dari faksi mana kalian mendapatkan akses masuk ke sistem enkripsi pusatku?"
Pria anggota Ordo Singa Kelam itu mendongakkan kepalanya perlahan.
Ia tersenyum sinis meskipun darah segar mengalir dari celah giginya.
Ia menatap lurus ke arah mata gelap Andra yang memancarkan aura kematian.
"Kau pikir... dengan membunuh Ki Darmo dan menguasai Buku Hitam di Surabaya, kau sudah menjadi penguasa mutlak di negeri ini, Tuan Muda Andra?" cibir pria itu dengan suara serak.
"Kau salah besar."
"Ordo Singa Kelam tidak pernah benar-benar musnah."
"Kami adalah bayangan yang melahirkan kekaisaran tempatmu berdiri sekarang."
"Dan apa yang terjadi hari ini... hanyalah sebuah peringatan kecil."
Andra tidak menunjukkan emosi apa pun mendengar provokasi itu.
Ia tidak berteriak, tidak pula marah.
Ia hanya melangkah maju mendekati tawanan tersebut dengan gerakan yang sangat tenang, lalu berjongkok sejajar dengan posisi pria yang terduduk di tanah basah.
"Peringatan?" gumam Andra pelan di depan telinga pria itu.
"Kalian memasuki rumahku, menaruh amplop kotor di meja kerjaku, dan mengganggu ketenangan istriku."
"Di kamusku, itu bukan peringatan."
"Itu adalah undangan resmi menuju kematian kalian sendiri."
Tanpa diduga, pria bertopeng itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak di tengah hujan.
Ia melototkan matanya menatap Andra.
"Bunuh aku kalau kau berani!" teriaknya histeris.
"Tapi ketahuilah, pemimpin kami sudah bergerak menuju target yang jauh lebih berharga di luar sana!"
"Hari ini, istana Menteng ini akan menjadi saksi kehancuranmu!"
Sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah gerakan kilat terjadi.
Andra tidak memberi kesempatan kedua.
Dengan satu gerakan tangan yang sangat cepat dan terlatih, ia mencabut pisau taktis dari sarung pinggangnya dan menyelesaikan tugas kotor itu dalam sepersekian detik.
Pria itu terhuyung ke samping, ambruk ke atas rumput basah yang perlahan berubah warna menjadi kemerahan oleh genangan darah.
Andra berdiri tegak kembali.
Ia mengambil sehelai kain bersih dari tangan Handoko untuk mengelap pisaunya, lalu melemparkan kain itu begitu saja ke atas jenazah di hadapannya.
"Handoko," panggil Andra tanpa menoleh.
"Siapkan seluruh unit pasukan taktis elit."
"Kita tidak akan menunggu mereka datang menyerang untuk kedua kalinya."
Handoko menegakkan tubuhnya, memberi hormat militer dengan penuh wibawa.
"Perintah diterima, Tuan. Ke mana kita akan bergerak?"
Andra menatap tajam ke arah langit malam Jakarta yang tertutup awan kelam.
Bayangan musuh lama telah kembali bangkit, dan kini giliran sang penguasa bayangan yang mendatangi sarang mereka untuk meratakan semuanya hingga menjadi abu.
"Kita ratakan markas persembunyian Ordo Singa Kelam malam ini juga," jawab Andra dingin.
Hujan di kawasan Menteng perlahan mulai mereda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang dan aroma tanah basah yang pekat.
Di halaman belakang istana, jenazah tawanan dari Ordo Singa Kelam telah disingkirkan dengan bersih oleh tim pembersihan.
Tidak ada jejak pertumpahan darah yang tersisa di atas rumput hijau, seolah kejadian mengerikan beberapa menit lalu tidak pernah terjadi.
Namun, suasana di dalam ruang komando bawah tanah istana justru berada dalam tingkat siaga tertinggi.
Layar-layar monitor besar yang tadinya sempat dikunci oleh sistem peretas kini sudah sepenuhnya pulih di bawah kendali penuh tim IT elit Andra.
Puluhan titik lampu merah berpendar terang di atas peta digital kota Jakarta, menandakan letak-letak fasilitas rahasia yang terhubung dengan jaringan Ordo Singa Kelam.
Andra berdiri tegap di depan meja konsol utama.
Ia mengenakan kembali mantel hitam panjangnya, sementara sarung tangan taktis kulit menempel sempurna di kedua tangannya.
Wajahnya dingin tanpa ekspresi, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat siapa pun di dalam ruangan itu tidak berani bernapas terlalu kencang.
Handoko berdiri di sampingnya sambil membentangkan sebuah peta taktis manual di atas meja, melengkapi data digital yang terpampang di layar.
"Berdasarkan hasil dekripsi dari gawai komunikasi yang disita dari tawanan tadi, Tuan," lapor Handoko dengan suara tegas dan terukur.
"Kami berhasil melacak sinyal transmisi utama yang terhubung langsung dengan markas komando bayangan mereka."
Andra menunduk, mengamati titik koordinat yang ditunjuk oleh asisten setianya.
"Di mana sarang mereka?" tanya Andra singkat.
"Di sebuah kawasan gudang logistik terbengkalai di pelabuhan lama Jakarta Utara, Tuan," jawab Handoko cepat.
"Tempat itu disamarkan sebagai gudang kargo ekspor-impor biasa, tapi di bawah tanahnya terdapat bunker beton bertulang yang dirancang khusus sebagai pusat operasi militer rahasia mereka."
Sudut bibir Andra terangkat membentuk senyuman dingin.
Sebuah kilatan amarah yang terkontrol bersarang di sepasang mata gelapnya.
Pelabuhan lama Jakarta Utara—tempat di mana ia pernah merintis sebagian kecil dari kekaisaran gelapnya di masa lalu, kini justru akan menjadi kuburan massal bagi musuh-musuh lama yang sombong.
"Tempat yang sangat klasik untuk sebuah kelompok bayangan yang merasa dirinya paling berkuasa," komentar Andra dengan nada mengejek.
"Berapa banyak pasukan taktis yang bisa kita kerahkan dalam waktu tiga puluh menit ke depan, Handoko?"
"Tiga plemen pasukan elit bayangan bersenjata lengkap sudah disiagakan di titik kumpul sektor utara dan barat, Tuan," lapor Handoko tegas.
"Kendaraan taktis lapis baja dan persenjataan berat sudah siap di dalam truk pengangkut tertutup. Tidak akan ada warga sipil yang menyadari operasi ini."
Andra mengangguk pelan.
Ia tahu betul bahwa membiarkan Ordo Singa Kelam hidup sehari lebih lama berarti membahayakan keselamatan orang-orang yang ada di sekitarnya, terutama Kirana.
Meskipun istrinya saat itu sedang beristirahat dengan aman di kamar pengaman tingkat tinggi di dalam istana, ancaman dari luar harus dipangkas sampai ke akar-akarnya malam ini juga.
Sebelum ia melangkah keluar menuju kendaraan penjemputan, Andra berhenti sejenak.
Ia menoleh ke arah Handoko dengan pandangan penuh penekanan.
"Pastikan pengamanan di dalam istana ini diperketat dua kali lipat selama aku pergi," pesan Andra dengan suara berat.
"Jangan biarkan ada satu pun celah sekecil apa pun yang bisa ditembus."
"Jika ada yang mencoba mendekati area kamar Nyonya Kirana tanpa izinku..."
Andra menghentikan kalimatnya sejenak, membuat udara di dalam ruangan terasa membeku seketika.
"...habisi di tempat tanpa banyak tanya."
"Baik, Tuan Muda! Saya sendiri yang akan memastikan keamanan Nyonya Kirana di sini," jawab Handoko dengan penuh keyakinan.
Andra memutar tubuhnya, melangkah keluar meninggalkan ruang komando dengan langkah yang mantap dan berwibawa.
Di halaman depan istana, tiga unit SUV hitam lapis baja sudah berbaris rapi menunggu aba-aba.
Puluhan pasukan elit berbalut perlengkapan taktis hitam berdiri tegak memberi hormat saat sang penguasa bayangan masuk ke dalam kendaraan utama.
Pintu mobil tertutup rapat.
Konvoi kendaraan itu melesat membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang di tengah malam, bergerak cepat menuju pelabuhan utara.
Malam ini, singa-singa palsu yang bersembunyi di dalam kegelapan akan segera belajar siapa pemilik sah dari singgasana sesungguhnya di negeri ini.
Konvoi tiga SUV hitam melesat tanpa suara di atas aspal basah Jakarta.
Lampu utamanya dimatikan.
Mereka bergerak dalam kegelapan malam menggunakan mode pengelihatan malam.
Di dalam mobil utama, Andra duduk dengan tenang.
Matanya menatap lurus ke depan.
Tangannya sibuk memasang magasen peluru ke dalam senapan serbu kompak miliknya.
Suara logam beradu terdengar tajam di dalam kabin yang senyap.
Di kursi kemudi, Handoko fokus memegang kemudi sambil memantau peta digital di layar dashboard.
"Kita tinggal berjarak dua kilometer dari titik target, Tuan," lapor Handoko tanpa mengalihkan pandangan.
"Bagus," jawab Andra singkat.
"Matikan mesin begitu kita memasuki area perimeter luar pelabuhan."
"Jangan buat suara sekecil apa pun."
"Siap, Tuan."
Tak lama kemudian, konvoi kendaraan itu melambat.
Mereka berbelok tajam memasuki kawasan gudang logistik tua di pelabuhan lama Jakarta Utara.
Suasana di sekitar pelabuhan tampak sangat sepi.
Hanya ada deru ombak kecil yang menabrak dinding dermaga dan tiang-tiang lampu jalan yang berkedip redup.
Mobil berhenti di balik bayangan tumpukan kontainer karatan.
Andra membuka pintu mobil perlahan.
Ia melangkah keluar, disambut oleh angin malam laut yang berbau amis dan asin.
Di belakangnya, puluhan pasukan bayangan elit turun secara senyap.
Gerakan mereka sangat terlatih dan tanpa suara.
Mereka langsung menyebar mengambil posisi kepungan melingkar.
Di hadapan mereka, berdiri sebuah gudang tua berukuran besar dengan cat dinding yang sudah mengelupas di mana-mana.
Dari luar, tempat itu tampak terbengkalai dan kosong.
Namun sensor panas di kacamata taktis Andra menunjukkan puluhan titik merah bernyawa di bawah tanah bangunan tersebut.
"Mereka ada di bunker bawah tanah," bisik Handoko sambil mendekat.
"Pintu masuk utamanya terkunci sistem sandi digital."
Andra menyeringai dingin.
Ia melangkah maju mendekati pintu besi tua gudang tersebut.
Ia tidak butuh sandi atau waktu lama untuk membukanya.
"Kita tidak perlu mengetuk," gumam Andra tajam.
Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada tim penjemput untuk memasang peledak senyap di sudut-sudut pintu.