NovelToon NovelToon
Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Sisi Yang Tak Ingin Ku Tunjukkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Teen
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Warning! Reverse Harem!!


Ratu Ahimsa Yunanda hanya ingin menjadi siswi SMA biasa. Di tahun ajaran barunya, Yuna sudah membuat satu keputusan sederhana:

Jangan mencolok.

Jangan sampai orang lain menyadari bahwa cara berpikirnya tidak seperti kebanyakan orang.

Bagi Yuna, menjadi terlalu berbeda hanya akan membuatnya sulit diterima. Maka ia belajar menahan diri.

Menahan analisis yang terlalu dalam.

Bahkan menahan komentar-komentar yang sebenarnya sudah berdesakan di kepalanya.

Ia hanya ingin menjalani masa SMA seperti remaja lainnya.

Namun ternyata, menyembunyikan dirinya sendiri jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Sebab tanpa disadari Yuna, justru sisi dirinya yang paling berusaha ia tutupi mulai menarik perhatian tiga orang pemuda. Dan terpaksa menghadapi satu masalah yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.

Bagaimana jika orang-orang yang selama ini ingin ia jauhi justru menjadi orang-orang yang paling memahami dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Poin Pertama

Ridho menatap Ega dengan tatapan siaga.

Ega menatap balik dengan tatapan menyeluruh disela larinya.

Memaku keduanya dalam momentum yang sama-sama beresiko jika salah dalam mengatur tindakan.

Melihat Ega mulai masuk dalam lingkup pertahanannya, Ridho pun menerjang. Tubuhnya melesat lurus.

Ega yang sudah membaca pergerakannya refleks mengerem.

SRET!

Rumput bergesekan keras di bawah sol sepatunya. Tubuhnya pun berhenti mendadak.

Hop!

Dalam jeda singkat, ia melompat mundur.

Ridho membelalak karena kehilangan target. Tubuhnya sampai terhuyung ke depan karena kehilangan tumpuan.

Melihat itu, Ega spontan menyeringai.

"Ketipu."

Tetapi—

"Masih belum!"

Dalam momentum yang hanya sepersekian detik itu, kaki Ridho yang hampir kehilangan pijakan justru menekan kuat permukaan rumput.

Kakinya mengerem mendadak. Tubuhnya berbalik dan melenting mundur. Memanfaatkan gerakan yang belum sempat berhenti bagaikan katak yang melompat dari tanah.

"Apa-apaan anjir?"

Mata Ega membelalak. Tubuhnya mengelak mencoba menghindari gerakan yang terlalu tiba-tiba itu.

Pada akhirnya—

PLAK!

Lutut Ega tersentuh telapak tangan Ridho tepat di tengah lompatan. Sekaligus menjadi tumpuan hingga membuatnya terdorong dan jatuh terduduk.

BRUK!

"Awhh!"

Ega mengerang sambil terduduk. Sedangkan Ridho justru tersungkur beberapa langkah di depannya.

Keduanya sama-sama terjatuh. Lapangan seolah membeku.

Wasit mengangkat peluit.

"Ega tawanan!"

Michel, Rio, dan Jevan yang masih menyusul langsung mempercepat langkahnya.

"Nggak ada gunanya buat balik!" seru Jevan dengan suara baritonnya yang menggelegar.

Rio dan Michel menajamkan alis. Rahang keduanya mengeras.

Di belakang base, Kadek bangkit dan melangkah beberapa meter ke depan untuk mengisi kekosongan penjaga. Tubuhnya langsung bersiap siaga.

Sedangkan di belakang, Rachel merangkap tugas menjadi pengamat. Sekaligus penjaga terakhir dari base IPS 1.

Namun sebelum suara itu terdengar, ada sesuatu yang terlupakan. Sesuatu yang tidak ada di dalam perhitungan siapa pun.

Melody masih berdiri di garis tawanan. Kedua tangannya terentang sambil menunggu seseorang datang menyentuh dan menyelamatkannya.

Ia berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Lalu matanya bergerak ke seluruh lapangan.

Angga tertawan.

Andito tertawan.

Rendy tertawan.

Ega jatuh.

Ridho juga jatuh.

Melody mengernyit.

"Loh?"

Ia menoleh ke arah Pak Firman.

"Aku... masih tawanan?"

Melody spontan membelalakkan mata.

"OH IYA!"

Tubuhnya langsung berbalik dan berlari menuju ke base Bahasa 2.

"WOI!"

Seorang tawanan yang berdiri di base kelas IPS yang menyadari gelagat itu langsung berteriak keras.

"TAHAN CEWE ITU WOI!"

Empat pengejar yang berada tidak jauh dari sana langsung berbalik berusaha mengejar Melody.

Mereka berlari.

Melody juga berlari.

"Loh! Loh! Loh!"

Langkahnya semakin cepat dengan ritme yang tidak stabil. Sepatu pinknya beradu dengan rumput.

Jaraknya masih jauh.

Terlalu jauh.

Empat pemain mengejarnya dari arah berbeda, tetapi tak satu pun benar-benar bisa mengambil jalur lurus. Sebagian masih harus menghindari tawanan mereka sendiri, sebagian lain baru saja kembali dari mengejar pemain IPS 1.

Untuk pertama kalinya sejak pertandingan dimulai, pertahanan 10 Bahasa 2 benar-benar kehilangan bentuk.

Salah seorang pengejar mulai mendekat.

"Jangan kasih masuk!"

Rahang Melody mengeras.

"Ishhh!"

Ia mempercepat langkah menuju base yang terasa mustahil untuk perbedaan kecepatan antara dirinya, dengan empat penjaga yang mencoba menghadang dari berbagai sisi.

"Please! Masa aku nggak bisa!"

Melody memejamkan mata.

Entah karena terlalu gugup.

Entah karena sudah pasrah.

Atau mungkin...

Karena dalam kepalanya, menutup mata membuatnya merasa sedang berlari lebih cepat.

"Ayo..."

"Ayo..."

"Dikit lagi..."

Ketika ia kembali membuka matanya, entah kenapa secara tiba-tiba siluet Bu Lastri kantin berjualan disana. Sembari membawa dua es teh jumbo favoritnya.

"Loh?"

Menara tongkat sudah sepenuhnya menghilang. Tergantikan oleh jajanan yang telah tersaji dan tersusun rapi pada nampan besi di dalam etalase kaca.

"Oh iya!"

Entah dapat kekuatan apa, alis Melody tiba-tiba menajam. Langkahnya semakin cepat seolah berhasil mendapatkan booster dari es teh jumbo yang Angga janjikan sebelumnya.

"Cewek itu makin dekat, Goblok!"

"Tahan dia!"

Base sudah berada di depan. Menara tongkat Pramuka itu berdiri hanya beberapa langkah lagi.

"BENTENG!"

Ia melompat sembari meneriakkan kalimat itu kuat-kuat. Tidak peduli dengan rambutnya yang sudah ia atur begitu rapi. Tidak peduli dengan make-up yang sudah ia poles dengan susah payah sebelum berangkat. Bahkan tidak peduli bagaimana cara ia akan mendarat.

Tubuhnya menerjang menara.

Kedua tangannya yang terjulur tak menyentuh apa-apa. Karena posisinya justru masuk diantara celah menara tongkat.

Tetapi—

Justru wajahnya yang berhasil menyentuh, menghantam salah satu kaki menara.

Dug!

"Aww!"

Bruk!

Tubuhnya jatuh ke rumput.

Pondasi menara tongkat sampak goyah beberapa saat.

PRIIIIIIT!!

Peluit panjang langsung menggema. Diikuti Pak Firman langsung mengangkat kedua tangannya.

Hampir seluruh tribun seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat.

Seorang gadis yang sejak awal pertandingan lebih banyak mengoceh, mengeluh, dan mengacaukan konsentrasi lawan...

Baru saja menjadi orang pertama yang menyentuh benteng.

Sorakan dari tribun 10 IPS 1 langsung meledak.

"WOAAAAAAAH!"

"MELODY!"

"SATU POIN!"

Teriakan itu bahkan merambat ke tribun sebelah. Beberapa siswa dari kelas lain yang sejak tadi hanya menonton akhirnya ikut bersorak. Entah karena kagum, terhibur, atau sekadar tidak menyangka kejadian barusan benar-benar terjadi.

Angel sampai berdiri dari tribun.

"Gokil, Melody! Dia nyetak skor, loh!"

Yohanna ikut menggoyangkan spanduk bertuliskan 10 IPS 1 dengan penuh semangat.

"Iya, anjir! Jago banget dia!"

Putri yang duduk di samping mereka justru terkekeh.

"Bakalan tekor sih si Angga."

Angel menoleh.

"Kenapa?"

"Harus traktir dua es teh jumbo demi memuaskan dahaganya..."

"Atau mungkin... tiga?"

"HAHAHA!"

Mereka bertiga langsung tertawa.

Di tengah lapangan, sorakan itu terdengar semakin jelas.

Melody yang masih tengkurap di atas rumput perlahan mengangkat kepalanya.

Ia mencoba bangkit meski tubuhnya terasa pegal-pegal. Bahkan cara berdirinya tampak sedikit sempoyongan akibat benturan yang ternyata cukup keras.

"Aduh..."

Tangannya menyentuh bagian kepala yang tadi menghantam tongkat. Matanya terasa berputar. Namun ia buru-buru kembali memfokuskan pandangannya pada menara di depannya.

Bendera Gugus Depan masih berkibar. Tangannya masih berada di celah tongkat.

Dan barusan...

Ia benar-benar berhasil menyentuhnya meski dengan pipinya.

"Oh iya?!"

Kesadaran itu perlahan masuk ke kepalanya. Matanya membulat. Bibirnya merekah lebar.

"Guys..."

Ia berjalan dengan sedikit oleng.

Kemudian tiba-tiba—

"GUA JAGO!"

Ia berlari begitu semangat.

Bukan lagi sempoyongan. Melainkan berlari penuh kegembiraan menuju teman-temannya.

"GILA! GUA JAGO!"

Angga yang masih mengatur napasnya terkekeh kecil. Sedangkan Andito yang berjalan dengan tertatih, langsung mendudukkan bokongnya diatas rumput dengan kasar.

"Nggak expect gua anjir!" gumamnya sembari memperhatikan Melody yang sudah membuka kedua lengannya.

Rio dan Michel yang baru sampai juga turut ikut merentangkan tangan. Bersiap untuk menyambut pelukan kemenangan dan penuh kegembiraan itu.

Tiba-tiba—

Srett...

Melody mengerem seolah baru saja tersadar akan sesuatu.

"T-tunggu?"

Kedua tangannya yang sebelumnya terentang langsung turun begitu saja. Kemudian menatap Rio dan Michel yang berjalan menghampirinya dengan tangan terentang juga. Dengan senyum yang entah mengapa terasa begitu menjengkelkan untuk dilihat lebih lama.

Alis Melody memicing.

"STOP!" serunya lantang sembari membuka kedua telapak tangannya seperti polisi yang mencegat kendaraan.

Rio berhenti.

Michel mengerjap heran.

"No."

Melody mengernyit.

"NO!"

Angga yang berjalan menghampiri Melody ikut tersendat langkahnya. Mencoba menelaah apa maksud dari perubahan sikap yang secara tiba-tiba itu.

"No! No! Nggak ada pelukan, please."

Michel menaikkan alis.

Melody tiba-tiba berkacak pinggang, menatap tajam ke rekan-rekannya.

"Kalian semua bau keringat. Nggak boleh meluk princess yang harum ini!" terangnya sembari menunjuk-nunjuk udara.

Alis Rio terangkat tak percaya.

Jevan dan Ega yang berdiri di belakang hanya saling pandang melihat ungkapan itu.

"Eleh... baru aja satu," cibir Michel.

"Yang penting aku nyetak skor!"

"Padahal kemarin pas pembagian tugas eli ogah-ogahan."

Melody memajukan tubuhnya sembari terus berkacak pinggang. Alisnya semakin menajam.

"YANG PENTING SEKARANG SIAPA YANG NYETAK SKOR?" ulangnya penuh penekanan di setiap katanya.

Kemudian Putri yang masih terdengar dari tribun berteriak dari kejauhan.

"JANGAN LUPA ES TEH JUMBO DUA!"

Melody langsung mengangkat dua jari.

"NAH!"

Ia menunjuk ke arah Angga seolah mengingatkan akan sebuah syarat yang disepakati bersama. Atau mungkin, disepakati oleh Melody seorang.

"Jangan lupa ya, Angga..."

Angga yang mendengar langsung menghela napas panjang.

"Kenapa gue yang kena dah?"

Andito menepuk pundaknya.

"Selamat, Kapten."

"Apanya?"

"Demi Melody join, kita telah janji buat beliin dia es teh jumbo. Dan kita harus mengingat janji itu."

Angga memejamkan mata.

Sementara Melody sudah melenggang kembali menuju formasi dengan dagu terangkat tinggi. Seolah baru saja memenangkan turnamen nasional.

1
xuer jinghao
lanjut semangat kak ☺️
Europa.
yuna mulai jatuh cinta
Europa.
yuna jdi cantik bett😭
Europa.
loh ada bikini bottom
Europa.
makanan mulu wehh
Europa.
wahh, my kalimantan
Mingyu gf😘
hayo nama tokoh kita smaa🤭
Mingyu gf😘
anak anak jeniuss
Mingyu gf😘
salahkan aja ketos kalian yang ajaib itu😭
Mingyu gf😘
Andai mereka tahu lomba apa yang akan mereka lakukan nanti😆😆😆
Europa.
masterpiece, yuna=ayanokoji+author
Europa.: muji loh aku kak
total 2 replies
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Pas classmeet nanti, gak ada yang nangkring di atas pohon kan thor🤣 bahaya kalau iya. Yang ada, yang sembunyi malah nyemil santai di atas sana🤭🤭
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
aku rindu sekolah 😭
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
paling kesel yang kayak gini apalagi gak ada konfirmasi sebelumnya
Europa.
finally yuna senyum sepenuhnya
Moon.: /Awkward//Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
Europa.
yunaku emg simbong, tpi sesuai kemampuan kok/Proud/
Europa.
diakalin yuna loh ya
Europa.
ada rizky pula😭
Moon.: Rizky perdana/Doge/
total 1 replies
Europa.
nazril😭 nama temenku
🦋Little Butterfly🦋
uuh jujur suka praktek, cuma males klo materi doang🙄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!