kecelakaan tunggal yang membuat nya tewas, di rencanakan oleh orang yang selama ini begitu dia sayangi. demi harta, mereka tega melenyapkan lili tanpa perasaan sedikit pun. hal itu membuat lili bukan nya mati, malah terjebak di tubuh sang Antagonis. lili tak menyangka harus menjalani hidup di sebuah wilayah kekaisaran kuno, bagaimana lili akan bertahan, apakah lili sanggup menjalani peran yang di dapatkan nya untuk bertahan hidup? saksikan terus cerita lili dalam menjelajahi wilayah kuno tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.13
Perlahan aroma bubur dengan campuran beberapa sayuran hijau membuat mereka benar benar sangat ingin mencicipi masakan sang ratu.
"Yang mulia, harum nya benar benar sangat enak." ucap Dwi yang berceloteh tanpa sadar.
"Kau benar Dwi, harum nya sangat enak. Masakan ku, benar benar tak pernah gagal." kekeh nya merasa beruntung bisa memasak di situasi yang seperti ini. Apalagi dulu saat masih tinggal bersama ibunya, lili suka sekali membantu ibu nya untuk menyiapkan makan malam keluarga.
"Yang mulia, sepertinya makanan ini sudah matang." ucap Roli yang melihat warna masakan sang ratu sudah berubah menjadi kecoklatan.
"Nah bagus sekali Roli, tolong pindahin ke dua wadah putih itu ya. Dan kalian bisa mengambil nya juga." ucap ratu yang menyuruh pelayan nya mencicipi masakan nya.
Tentu saja Roli dan Dwi kaget, sebab mana ada pelayan yang memakan makanan yang sama dengan bangsawan. Roli dan Dwi tampak beruntung kali ini.
beberapa koki yang mendengar ucapan ratu, merasa iri dengan Dwi dan juga Roli. sepertinya masakan ratu lili tampak begitu menggoda, mereka juga ingin sekali mencicipi masakan tersebut.
"Yang mulia, apakah kami boleh mencicipi nya juga?" tanya Dwi dengan tatapan ragu.
"Tentu saja, sebab kalian sudah membantu ku tadi,jadi sisa nya untuk kalian. Kalau tidak habis, berikan sedikit kepada para pelayan dapur juga. Terserah kalian membagi nya seperti apa."
tatapan nya menoleh ke arah Dwi, dan meminta Dwi membawakan dua wadah itu, ke dalam kamar nya.
"Dwi, tolong bantu aku bawakan wadah ini ya."
"Baik yang mulia."
Setelah sampai di kamar, ratu lili melihat pangeran kael yang tampak begitu ketakutan. Dia meringkuk di pojokan membuat sang ratu tampak kaget.
"Hei sayang, kenapa terlihat takut nak. Ini ibu, tenang lah."
"Dwi, kau sebaiknya sarapan saja dulu, aku bisa mengerjakan nya sendiri."
"Baik yang mulia."
"Sayang, kenapa masih takut sama ibu nak, ayo sini, ibu bawakan ada sarapan pagi untuk mu."
"Apa ibu baik. Apa ibu Ndak pukul kael lagi?"
"Tidak sayang, mana mungkin ibu memukul pangeran kecil ibu. ayo sini."
Perlahan tatapan nya yang tampak ragu, mencoba untuk percaya ucapan sang ibu.
"Hap..mata kael berbinar saat mencicipi bubur ayam tersebut."
"Enak sekali ibu."
"Wah, apakah pangeran kecil ini menyukai nya?"
"Hum, masakan ibu sangat enak!"
"Ayo dihabiskan." ucap lili dengan penuh kelembutan.
setelah selesai makan, kael juga dimandikan oleh lili. awalnya dia tampak ragu, sebab selama ini ibunya mana pernah memandikan, atau memberikan nya makanan yang lezat. Itulah sebab nya matanya berbinar saat ibunya mulai perduli dengan nya.
"Huft...sayang banget, di dunia ini ga ada parfum!" gumam nya dengan lesu karena parfum masih belum ada.
"Ibu mengatakan sesuatu?"
"Heh, tidak nak. Ayo kita berjalan jalan ke luar. Ibu ingin melihat kondisi istana ini!"
"Apa kael boleh ikut Bu?"
"Tentu saja sayang!"
Kedua nya bergandengan tangan, hal itu membuat beberapa prajurit yang melihat situasi itu, tampak kaget. biasanya ratu Mereka mana perduli dengan sang pangeran kecil. Tapi hari ini semua nya berbeda, ratu tampak begitu menyayangi sang pangeran kecil nya.
Saat melihat taman istana. Lili melihat beberapa bunga segar disana. tapi saat melihat ke area gerbang kecil, dia begitu penasaran.
"Wah, ternyata ada jalan lain di sini ya. Tapi kira kira itu tembus kemana ya?"
tak lama kemudian kedua pelayan setia nya menyusul. Mereka baru saja menyelesaikan sarapan pagi nya. Mereka benar benar tak menyangka masakan sang ratu benar benar begitu lezat.
"Salam yang mulia. Maafkan kami yang terlambat." ucap kedua nya sambil menunduk takut.
"Hei, kenapa kalian seperti itu, bagaimana dengan bubur ayam buatan ku, apakah kalian menyukai nya?"
"Yang mulia, terima kasih banyak. karena sudah mengizinkan kami, menikmati masakan yang mulia. Sungguh baru kali ini, rasa masakan yang mulia benar benar begitu lezat."
"Hahah, kalian terlalu memuji ku, tapi memang iya sih masakan ku itu sangat lezat tiada tanding."
Keduanya menyetujui ucapan lili, bahkan pangeran kael itu, tampak mengangguk setuju. Masakan ibunya benar benar lezat sekali.
"Yang mulia, apakah yang mulia ingin melihat bunga yang lainnnya?"
"Tidak, aku hanya ingin melihat sebentar saja. oh ya Dwi, gerbang kecil itu apa yang ada di balik nya?"
"Yang mulia, sebaiknya jangan kesana. Itu adalah hutan larangan."
"Wow, apakah disana masih ada hewan buas nya?"
"Benar yang mulia, gerbang itu sudah lama tak dibuka. karena beberapa bulan yang lalu, ada hewan buas yang menyelinap masuk ke pekarangan istana." ucap Dwi yang menjelaskan.
"Tapi aku ingin melihat hutan itu." ucap nya dengan santai tanpa beban.
Hal itu mengejutkan kedua pelayan nya. mereka tak menyangka sang ratu mengatakan hal tersebut.
"Yang mulia, tapi itu bahaya. Keselamatan anda akan terancam nanti nya."
"Aku bisa menjaga diri Roli, Dwi. Kalian tenang saja."
"Ibu, jangan pelgi(pergi)."
Deg.... melihat mata anak nya tampak berkaca kaca. Ratu lili merasa tak tega.
"Huft...yaudah, ibu tak akan pergi ke sana. Ayo kita kembali saja ke kamar!"
"Baik yang mulia."
"Aku benar benar penasaran dengan isi hutan larang itu!" gumam nya yang masih menatap penuh arti ke gerbang kecil itu.
Setelah sang pangeran kecil tidur, lili yang tampak bosen langsung menuju ke arah lemari pakaian milik nya. Kali ini dia akan menyamar menggunakan baju pelayan, untuk melihat situasi di hutan larangan tersebut.
tapi kali ini, dia hanya membawa Roli, sebab Dwi akan dia suruh untuk menjaga putra kecil nya.
"Yang mulia, apakah anda yakin?" tanya Roli yang tampak khawatir keselamatan mereka berdua.
"Tentu saja. Apakah situasi aman di luar?"
"aman yang mulia. Tapi bagiamana kalau nanti ketahuan."
"Tenang lah, jangan panik. Aku sudah mengurus hal tersebut. Ayo kita pergi!"
Dia memakai pakaian pelayan, agar para prajurit tidak mencurigai nya.
sepanjang jalan, Roli tampak cemas, sebab ratu nya begitu nekat sekali. Karena gerbang tersebut dilarang untuk dilewati oleh para penghuni istana. bagaimana kalau nanti ketahuan, dan dirinya akan dihukum.
"Suttt....selir Anabelle itu dimana?" bisik lili dengan tatapan penuh penasaran. Kalau selir itu berada di kamar nya, maka dia akan dipermudah untuk pergi ke gerbang.
"Sepertinya masih berada di kamar nya yang mulia. Sebab kehamilan selir ana , sudah terlalu besar."
"Oh seperti itu, bagus bagus. Ayo cepat sebelum ada yang menyadari kita ke sana.
Setelah sampai di depan gerbang kecil itu, Lili mencoba membuka gerbang nya, Karena gerbang tersebut di gembok begitu kuat.
"Roli, bawakan batu yang besar itu. Kita hancurkan saja gembok nya!"
"Baik yang mulia." ucap nya dengan gugup.
nah lo bang kai mulai.. mulai kepo sama ratu lili🤭🤭🤭