Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab_18
"Hubungi semua orang kita sekarang juga." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegasan, sementara sorot matanya berubah tajam menatap Nathan.
"Baik, Tuan." jawab Nathan sigap. Wajahnya dipenuhi keseriusan, sementara jemarinya langsung bergerak cepat menekan beberapa nomor di ponselnya.
"Pastikan posisi terakhir Leonard terlacak." perintah Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang berusaha ia sembunyikan.
"Saya akan menghubungi tim lapangan." jawab Nathan mantap. Wajahnya dipenuhi tekad.
"Tidak." sahut Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi pertimbangan. "Aku sendiri yang akan turun jika diperlukan."
Nathan terdiam sesaat.
"Tuan, keselamatan Anda juga penting." ucap Nathan hati-hati. Wajahnya dipenuhi rasa khawatir.
"Aku tidak akan membiarkan orang yang bekerja untukku menghadapi semuanya sendirian." jawab Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi rasa tanggung jawab.
Nathan hanya menganggukkan kepala.
"Saya mengerti, Tuan." ucap Nathan hormat. Wajahnya dipenuhi rasa kagum.
Belum sempat keduanya melangkah keluar, ponsel Adrian kembali berdering. Nathan langsung melihat nama yang muncul di layar.
"Tuan... ini Leonard." ucap Nathan lega. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.
"Angkat." perintah Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi harapan.
Nathan segera mengaktifkan pengeras suara.
"Tuan..." terdengar suara Leonard yang terengah-engah. Napasnya masih memburu.
"Leonard, di mana kau?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
"Saya aman, Tuan." jawab Leonard lelah. Wajahnya dipenuhi kelegaan. "Tadi saya sengaja mematikan ponsel setelah merasa dibuntuti."
"Apa kau terluka?" tanya Nathan cemas. Wajahnya dipenuhi kepanikan.
"Tidak." jawab Leonard pelan. "Saya berhasil mengelabui mereka."
Adrian mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah." ucap Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi rasa lega.
"Namun mereka berhasil mengambil sebagian barang bukti dari rumah mantan guru SD itu." lanjut Leonard serius. Wajahnya dipenuhi penyesalan.
"Apa masih ada yang berhasil kau selamatkan?" tanya Adrian.
"Ada." jawab Leonard mantap. Wajahnya kembali dipenuhi keyakinan. "Saya berhasil memotret halaman album kelulusan sebelum semuanya berantakan."
"Apakah itu penting?" tanya Nathan penasaran. Wajahnya dipenuhi rasa ingin tahu.
"Karena di halaman itu terdapat daftar nama seluruh murid." jelas Leonard serius. "Dan nama Bu Rani berada tepat di samping seorang anak laki-laki yang identitasnya sengaja dihapus menggunakan tinta hitam."
Adrian mengernyit.
"Berarti seseorang memang berusaha menghilangkan identitas anak itu." ucap Adrian dingin. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.
"Benar, Tuan." jawab Leonard mantap. "Saya akan membawa seluruh bukti yang tersisa."
"Baik. Kembali ke rumah sekarang." perintah Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi kewibawaan.
"Siap, Tuan." jawab Leonard cepat.
Sambungan telepon pun terputus.
Nathan memandang Adrian.
"Tuan, apakah penyelidikan tetap dilanjutkan?" tanya Nathan serius. Wajahnya dipenuhi kehati-hatian.
"Tentu." jawab Adrian mantap. Wajahnya dipenuhi tekad. "Tetapi ada satu urusan lain yang juga tidak boleh ditunda."
Nathan terlihat bingung.
"Urusan apa, Tuan?" tanyanya heran. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Perceraian Rani." jawab Adrian singkat. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.
Nathan sedikit terkejut.
"Tuan ingin membantu Bu Rani?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa hormat.
Adrian mengangguk perlahan.
"Selama ini dia terlalu banyak menderita." ucap Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi rasa iba.
"Jika dia ingin memulai hidup baru, maka aku akan membantunya sampai selesai."
Nathan tersenyum tipis.
"Bu Rani beruntung bertemu dengan Tuan." ucap Nathan tulus. Wajahnya dipenuhi rasa kagum.
Adrian menggeleng pelan.
"Bukan soal keberuntungan." ucap Adrian tenang. "Ini soal keadilan."
Keesokan paginya...
"Bi Sari, apakah Bu Rani sudah selesai menyiapkan sarapan?" tanya Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketenangan.
"Sudah, Tuan." jawab Bibi Sari ramah. Wajahnya dipenuhi senyum hangat. "Beliau sedang merapikan meja makan."
"Baik. Tolong panggilkan." perintah Adrian.
"Baik, Tuan." jawab Bi Sari cepat.
Tak lama kemudian...
"Pak Adrian, Anda memanggil saya?" tanya Rani sopan. Wajahnya dipenuhi rasa hormat.
"Iya, Rani." jawab Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi ketulusan. "Silakan duduk."
Rani perlahan duduk.
"Ada yang bisa saya kerjakan?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan." jawab Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi keseriusan.
Rani tampak bingung.
"Memperkenalkan saya?" tanyanya heran. Wajahnya dipenuhi kebingungan.
Saat itu terdengar suara langkah kaki mendekat.
"Selamat pagi, Pak Adrian." sapa seorang pria paruh baya ramah. Wajahnya dipenuhi senyum profesional.
"Silakan masuk, Pak." jawab Adrian sopan. Wajahnya dipenuhi penghormatan.
Rani memandang pria asing itu.
"Beliau adalah Pak Surya." jelas Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Seorang pengacara yang sudah lama bekerja sama denganku."
Pak Surya menganggukkan kepala.
"Selamat pagi, Bu Rani." ucap Pak Surya ramah. Wajahnya dipenuhi kesopanan.
"Selamat pagi." jawab Rani pelan. Wajahnya dipenuhi rasa canggung.
Rani lalu menoleh kepada Adrian.
"Maaf, Pak Adrian... untuk apa Bapak memperkenalkan saya kepada beliau?" tanyanya bingung. Wajahnya dipenuhi tanda tanya.
Adrian menatap Rani dengan lembut.
"Karena aku ingin membantumu mengurus proses perceraianmu." ucap Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketulusan.
Rani langsung membelalak.
"Perceraian saya?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.
Adrian mengangguk.
"Kau berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik." ucap Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi kepedulian. "Dan aku tidak ingin hakmu diabaikan."
Mata Rani mulai berkaca-kaca.
"Pak Adrian... saya..." ucapnya terbata-bata. Wajahnya dipenuhi rasa haru.
"Tidak perlu merasa sungkan." sahut Adrian tenang. Wajahnya dipenuhi ketulusan."Anggap saja ini bantuan dari seorang teman."
Pak Surya membuka map yang dibawanya.
"Bu Rani, saya sudah mempelajari garis besar persoalan yang disampaikan Pak Adrian." ucap Pak Surya profesional. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Namun saya tetap membutuhkan cerita langsung dari Ibu agar proses hukumnya berjalan lebih kuat."
Rani menundukkan kepala.
"Saya belum pernah berurusan dengan pengadilan." ucap Rani pelan. Wajahnya dipenuhi kegelisahan. "Saya takut."
Pak Surya tersenyum menenangkan.
"Jangan khawatir." ucap Pak Surya lembut. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Saya akan mendampingi Ibu dari awal sampai putusan selesai."
Nathan yang berdiri tidak jauh dari sana ikut tersenyum lega.
"Tuan benar." ucap Nathan pelan. Wajahnya dipenuhi rasa syukur. "Setidaknya sekarang Bu Rani tidak lagi sendirian."
Adrian memandang Rani yang masih berusaha menahan air matanya.
"Dengarkan aku baik-baik." ucap Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Mulai hari ini, jangan pernah merasa menghadapi semuanya seorang diri. Selama kau berada di rumah ini, tidak akan ada seorang pun yang bisa menekan atau mengancammu."
Air mata Rani akhirnya jatuh tanpa mampu ia bendung.
"Terima kasih, Pak Adrian." ucap Rani lirih. Wajahnya dipenuhi rasa haru dan syukur."Saya tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan ini."
Adrian hanya tersenyum tipis.
"Kau tidak perlu membalas apa pun." ucap Adrian lembut. Wajahnya dipenuhi ketulusan."Yang kuinginkan hanya satu."
Rani menatap Adrian.
"Apa itu?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.
"Beranilah memperjuangkan hakmu." jawab Adrian mantap. Wajahnya dipenuhi keyakinan.
Di balik pintu ruang tamu, tanpa seorang pun menyadarinya, sepasang mata sedang mengintip ke arah mereka. Sosok misterius itu menggenggam sebuah ponsel, diam-diam memotret pertemuan antara Rani, Adrian, Nathan, dan Pak Surya.
"Jadi... mereka benar-benar mulai bergerak." bisik sosok itu pelan. Senyum licik terukir di wajahnya, sementara jarinya segera mengirimkan foto tersebut kepada seseorang yang belum diketahui identitasnya.
Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk di layar ponselnya.
"Jangan biarkan Rani resmi bercerai. Lakukan apa pun sebelum sidang pertama dimulai." ucap sosok itu penuh perintah.
Sosok misterius itu tersenyum semakin lebar.
"Perintah diterima." ucapnya pelan. Wajahnya dipenuhi niat jahat, sementara langkahnya perlahan menghilang meninggalkan halaman rumah Adrian tanpa diketahui siapa pun.