....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mogok
Cheyrin masih menatap kartu nama di tangannya. Nama "Evan Pratama" tercetak rapi dengan tinta emas.
Evan memperhatikan ekspresinya dari balik meja. Sorot mata Cheyrin gugup, tapi rahangnya tegas. Kaku. Sama seperti caranya menunduk tadi di lantai restoran.
Evan bersandar ke kursinya. "Kamu sudah makan malam, Cheyrin?"
Pertanyaan itu membuat Cheyrin mendongak cepat. "Hah?"
"Jam segini shift kamu belum selesai kan," lanjut Evan. Ia melirik jam di dinding. "Pelayan juga manusia. Nggak makan dari jam 5 sore?"
Cheyrin langsung salah tingkah. "Saya... saya makan nanti, Pak. Setelah shift selesai."
Evan tidak menjawab. Ia langsung menekan interkom di mejanya. "Sinta, tolong bawakan satu porsi beef wellington dan air mineral ke ruangan saya."
"Iya, Tuan," jawab suara dari interkom.
Cheyrin panik. Wajahnya langsung memerah. "Pak, nggak usah. Saya bisa makan di pantry nanti. Ini nggak pantas. Saya karyawan, masa makan di ruangan owner."
"Alasannya?" Evan mengangkat alis. "Kamu pingsan gara-gara kelaparan, yang rugi saya. Tamu komplain pelayan pingsan di depan mereka."
"Te-tapi..."
"Cheyrin," Evan memotong pelan. Nadanya berubah lebih lembut, tapi tetap tegas. "Saya bilang ini perintah atasan. Duduk. Makan. Setelah itu kembali kerja. Tidak ada negosiasi."
Cheyrin membeku. Ditawarin makan sama owner? Di ruangan pribadi? Rasanya seperti mimpi buruk dan mimpi indah jadi satu.
Ia duduk kaku di kursi. Jantungnya berdetak terlalu kencang.
Begitu Sinta menaruh piring dan pergi menutup pintu, Cheyrin langsung berdiri. "Ma-maaf, Pak Evan. Saya... saya nggak terlalu lapar. Saya kembali kerja dulu. Terima kasih atas tawarannya."
Ia membungkuk cepat 90 derajat, kartu nama masih tergenggam di tangannya.
Evan tidak menahan. Ia hanya menatap. "Kamu lari dari ruangan saya karena takut kegeeran, ya?"
Cheyrin tertegun di depan pintu. Punggungnya kaku.
"Tenang," Evan bersuara lagi, kali ini pelan sambil membuka laptopnya. "Makanannya saya simpan di pantry. Kalau lapar, ambil aja. Bilang ke Sinta. Atas nama saya."
Cheyrin tidak berani menoleh. Ia hanya mengangguk kecil. "Baik, Pak. Permisi."
Klik. Pintu tertutup.
Di dalam ruangan, Evan menatap pintu itu lama. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
Di luar, Cheyrin bersandar di dinding lorong. Tangannya memegang dada. Napasnya berantakan.
FLASHBACK - seminggu yang lalu
Westhaven Estate. Kediaman keluarga Pratama.
Meja makan panjang dari kayu mahoni mengilap di bawah chandelier kristal. Uap makanan masih mengepul dari piring-piring porselen.
Jayden duduk di sisi kanan, menyuap steaknya cepat seperti biasa. Di ujung meja, Mama Jayden menatapnya dengan senyum lembut sambil menuangkan teh.
Di seberang Jayden, duduk seorang pria. Jas abu-abu sudah dilepas, lengan kemejanya digulung sampai siku. Rambutnya rapi disisir ke belakang. Wajahnya tegas, dagunya tajam. Mirip Jayden, tapi lebih dewasa. Auranya lebih... berwibawa.
Evan.
Mama Jayden meletakkan teko teh, lalu menatap Evan. "Abang, restoran L'Evanne kamu itu gimana? Karyawannya masih pada betah kan? Denger-denger kamu rekrut staf baru lagi."
Evan mengangguk pelan sambil menyeruput air putih. "Ada, Ma. Beberapa minggu lalu. Lumayan, disiplin. Jarang ngomong, tapi kerjanya rapi."
Jayden yang tadinya sedang memainkan garpu langsung berhenti. Telinganya tegak. "Staf baru? Cewek?"
Evan melirik adiknya. "Iya. Kenapa?"
Jayden menyengir, menyender ke kursi. "Namanya Cheyrin, kan Bang? Temen gue di kampus."
Sendok di tangan Mama Jayden berhenti di udara. Evan juga ikut mendongak dari gelasnya. Alisnya naik tipis.
"Temen lo?" tanya Evan. Nadanya datar, tapi matanya menyelidik. "Dia kerja sambil kuliah?"
"Iya Bang," Jayden mengangguk serius. Ini pertama kalinya dia berbicara serius di meja makan. "Dia anaknya mandiri banget. Kuliah pagi, kerja malam di tempat lo. Kasian. Bang... baik-baikin ya dia. Kalo bisa kasih bonusan juga. Dia pantas dapet."
Ruangan hening 2 detik.
Mama Jayden menurunkan sendoknya pelan. Ia menatap Jayden lama, lalu senyumnya mengembang. Senyum yang tulus. "Anak Mama udah dewasa ya sekarang... Mirip almarhum Papa. Sama-sama suka ngebelain orang tanpa diminta."
Evan tidak langsung menjawab. Ia menatap Jayden dalam. Sorot matanya berubah. Dari datar, jadi... menimbang.
Akhirnya Evan bersandar, menyilangkan tangan di dada. "Hm. Jadi dia temen lo."
Ia jeda, lalu senyum tipis muncul di ujung bibirnya. "Baik. Gue akan 'baik-baikin' dia. Tenang aja."
Depan L'Evanne, pukul 23.30
Lampu neon restoran sudah dimatikan. Hanya lampu jalan yang temaram menerangi trotoar.
Cheyrin memeluk kedua lengannya. Angin malam menusuk hingga ke tulang. Rok seragamnya tipis, dan cardigan-nya tidak cukup mengusir dingin.
Ia menoleh ke ujung jalan lagi. Jalanan kosong.
"Jayden... kenapa lama banget sih..."
Ponsel di saku cardigannya mati total. Daya 0%. Ia tidak dapat memesan ojek online, tidak pula menelepon. Shiftnya selesai pukul 23.00. Kini sudah lewat setengah jam.
Jalanan Westhaven malam itu sunyi. Hanya suara jangkrik dan angin yang menyapu dedaunan. Bulu kuduk Cheyrin berdiri.
Perasaan tidak enak itu muncul kembali. Seolah ada sepasang mata yang mengawasinya dari balik gelap gedung di seberang.
Cheyrin melangkah mundur hingga punggungnya menempel pada dinding restoran. Napasnya mulai tidak beraturan.
"Cheyrin."
Suara berat dari belakang membuatnya terlonjak kaget. Jantungnya serasa akan lepas.
Ia menoleh cepat. Evan. Jasnya sudah dilepas, tinggal kemeja hitam dengan lengan digulung. Tangannya masuk ke saku celana. Mobil Bentley hitamnya berhenti pelan di depan restoran.
Cheyrin langsung menunduk, gugup. "Pak Evan."
Evan melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Cheyrin dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Kamu belum pulang?" tanyanya. Suaranya rendah, tetapi jelas. "Jam segini jalanan sudah sepi."
Cheyrin meremas ujung cardigannya. "I-itu... yang jemput saya belum datang, Pak. saya tunggu sebentar lagi."
Evan tidak bertanya "yang jemput siapa". Ia hanya menatap mata Cheyrin selama dua detik, lalu beralih ke jalanan gelap di belakangnya.
"Naik," kata Evan singkat. Ia membuka pintu penumpang mobilnya. "Saya antar."
Cheyrin langsung menggeleng cepat. Pipinya memanas, bukan hanya karena dingin. "N-nggak usah, Pak. Makasih. Saya... saya tunggu sebentar lagi aja. Beneran."
Evan diam. Matanya masih tertuju pada Cheyrin. Tidak memaksa, tetapi juga tidak beranjak pergi.
Angin malam berhembus lagi. Cheyrin menggigil.
Evan akhirnya bersuara, pelan. "Kamu yakin? Jalanan sini rawan jam segini."
Cheyrin mengangguk kaku. "Saya yakin. Makasih atas tawarannya."
Evan tidak menjawab. Ia hanya menutup pintu mobilnya pelan. Klik.
Lampu belakang mobil Bentley Evan menghilang di tikungan. Tidak lama kemudian suara knalpot motor Ninja hitam meraung dari ujung jalan.
Cheyrin masih berdiri mematung. Tubuhnya gemetar karena dingin dan gugup.
Motor itu berhenti tepat di depannya. Jayden melepas helmnya cepat-cepat. Begitu melihat wajah Cheyrin, senyumnya langsung luntur.
Wajah Cheyrin datar. Matanya menatap Jayden tajam. Jelas kesal.
Jayden langsung turun dari motor, tangannya terangkat pasrah. "Wah, Chey... Sorry banget. Sumpah."
Cheyrin menyilangkan tangan di dada. "Sorry? Udah hampir sejam, Jayden. Ponsel gue mati. Jalanan sepi. Gue kira lo lupa."
"Iya gue tau keliatannya gue brengsek banget," Jayden menggaruk belakang kepalanya, panik. "Tapi ban motor gue bocor, Chey. Di tengah jalan. Gue udah chat lo dari tadi, tapi nggak dibales-bales. Gue pikir lo masih di dalam."
Cheyrin menghela napas panjang. Ia menatap ponselnya yang mati di genggaman. "Hp gue lowbat..."
"Ya itu dia!" Jayden langsung menyengir kecil, walau matanya masih khawatir. "Tuh kan, salah paham. Udah ah, jangan jutek gitu dong. Gue nuntun motor 2 kilo loh demi nyamperin lo. Pahalanya mana?"
Cheyrin mendengus, tapi bahunya yang tadinya tegang mulai turun. "Pahala? Lo yang buat gue nunggu di tempat serem gini. Dosa yang ada"
Jayden mendekat selangkah, lalu melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Cheyrin. Jaket itu masih hangat dan berbau parfum khas Jayden.
"Ya udah, sebagai ganti rugi..." Jayden menyengir, kedua tangannya membentuk bingkai di wajah Cheyrin. "Besok gue traktir cilok 10 tusuk. Deal?"
Cheyrin menepis tangan Jayden pelan. "Nggak. 20 tusuk."
"Nego sadis banget," Jayden terkekeh, lalu menepuk stang motornya. "Udah, naik. Gue anter pulang. Sumpah nggak bakal telat lagi."
Cheyrin melirik jaket di bahunya, lalu melirik Jayden yang masih berdiri dengan ekspresi bersalah tapi menyebalkan itu.
Ia akhirnya naik ke boncengan tanpa bicara.
Jayden menyalakan mesin. Sebelum tancap gas, ia melirik ke arah tikungan tempat mobil Evan tadi menghilang. Alisnya berkerut tipis, tapi senyumnya tidak pudar.
Dari balik gedung kosong, tanpa mereka sadari Evan duduk di mobilnya. Ia tidak langsung pergi.
Melalui kaca depan, ia melihat Jayden menyampirkan jaketnya ke bahu Cheyrin, lalu Cheyrin naik ke boncengan motor Jayden.
Evan menyandarkan punggungnya di kursi. Sudut bibirnya terangkat tipis.
Ia bergumam pelan, menatap helm Jayden yang miring. "Nuntun motor 2 kilo demi cewek... Sampe helm miring gitu ya. Dasar adik gue."
Matanya beralih ke Cheyrin yang memeluk jaket itu erat.
"Temen kuliah," gumamnya lagi, setengah mengejek. Lalu ia menyalakan mesin dan pergi.